Nafas Panjang Teater ESKA

MATAMEDIA- RI.com – Dalam rangka pertunjukan karya ke-33 sanggar Teater Eska UIN Sunan Kalijaga mengelar hajatan besar yakni sebuah pementasan produksi XXXIII yang berjudul “KHULDI” di 4 kota besar berturut-turut.

Sebuah naskah pagelaran karya pertunjukan ini di pentaskan di empat kota berturut-turut yakni kota Purwokerto, Senin (12/12) di GSC IAIN Purwokerto, lalu kota Bandung, Rabu (14/12) di Rumentang siang, kemudian di kota Bogor, Jumat (16/12) di Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Ekologi dan Manusia IPB Darmaga, dan terakhir di kota Yogyakarta, Rabu (4/1) 2017 di Concer Hall Taman Budaya Yogyakarta. Seluruh rangkaian pentas berjudul “KHULDI”, yang disutradarai oleh Zuhdi Sang sekaligus penulis naskah dan Ghoz TE bersama tim kreatif dimulai pada pukul 19.30 WIB di setiap tempat.

Sekilas perjalanan produktif proses penciptaan karya teater Eska UIN sebelumnya, telah menciptakan karya-karyanya yang tak lepas dari kajian keislaman seperti filsafat islam, sejarah, dan kritikan ideologi dari fenomena sosial. Penciptaan proses kreatif teater Eska tersebut dengan di dukung ruang ekspresi dalam menggarap setiap pementasan yang akan di pentaskan sebelumnya, seperti pentas tiga bayangan, pentas sastra, tadarus puisi, dan sebagainya.

Begitu pengalan naskah yang berjudul khuldi ini dibacakan oleh pembawa acara dalam mengawali pentas tersebut mulai dibacakan, Sebuah dunia, nama dari pengetahuan dan kekuasaan yang korup, tegak di atas mantra ideologi akumulasi. Melahirkan prahara kemanusiaan, melahirkan serdadu permainan hasrat. Berkibar di langit bersama kata-kata bijak para iblis berbahasa manusia, aku beriman pada apa yang kuciptakan sendiri. Aku ada, karena benda-benda ciptaanku ada.”

Dalam perlahan setiap aktor masuk sesuai sesi adegan, diperkuat dengan narasi sekaligus improvisasi setiap aktor didalamnya. Pementasan Khuldi yang diperkuat dengan adanya tiga aktor yang berperan sebagai Ewa, Edah dan Ega yang dikenal dengan Hawa, Adam, Iblis.

Ditemui seusai pementasan di Concer Hall Taman Budaya Yogyakarta, Maya selaku Aktor perempuan yang berperan sebagai Ewa mengungkapkan unsur kenabatiannya yang pasif dan produktif untuk menampilkan bagaimana menjiwai dialog ketika bersinggungan dengan kemarahan-kemarahan terhadap unsur-unsur alam yang dirusak oleh perbuatan manusia, tetapi memberikan kehidupan. Kemudian ia membayangkan sifat sebagai manusia dimana ia selalu memberikan kepada seseorang, tetapi ia selalu di campakkan. Secara garis besar, peran Ewa memiliki unsur alam yang tak bisa terbahasakan.

Ia menjelaskan lebih lanjut, bahwa keberadaan manusia tidak bisa terlepas oleh unsur alam yang membentuk satu kesatuan yang dimiliki manusia pada keadaan diri sendiri yakni perilaku dan tindakan. “Oleh karena itu saya berperan sebagai Ewa harus mengontrol emosi dengan berimanjinasi mengkaitkan kondisi yang ada,” ungkap Maya.

Maya yang memerankan EWA alias Hawa di naskah Khuldi ini menggunakan kostum yang penuh dengan isyarat alam,  menggambarkan kondisi yang ada seperti ketakutan, kesedihan, dan kebimbangan yang tak tertahankan melihat kondisi dengan kepentingan pribadinya dengan agama, etnis, komunitas kelompok bahkan kepentingan politik yang menggambarkan Khuldi.

Ia menambahkan, peranan sebagai aktor di pementasan produksi XXXIII, membutuhkan persiapan sejak bulan September sampai November untuk semua aktor dalam mendalami peranan masing-masing sebagai aktor, “seperti halnya kami harus memahami blocking, improvisasi, dan teknis yang berorientasi pada tatanan panggung, dialog, Bahkan pada gerakan tubuh dan membangunnya emosi masing-masing aktor,” jelas Maya yang mengambil jurusan psikologi di Universitas UIN Sunan Kalijaga.

Ia mengungkapkan hadir sebagai peran Ewa tersendiri mengalami kendala dalam membangun beberapa emosi sekaligus karena sesi adegan awal bersikap marah, akan tetapi tidak terluapkan sehingga menjadi amarah terpendam beribuan tahun yang tak terungkapkan. “Itulah yang menjadikan saya harus mengontrol beberapa emosi  dengan berimajinasi kemudian mengkaitkan keadaan yang begitu sedih.” ujar Maya yang mengaku sangat tertantang dalam memerankan Hawa.

Zuhdi Sang selaku sutradara mengungkapkan produksi karya ke-33 ini menggambarkan kerangka penafsiran dalam merefleksikan kondisi ontologis dari perjalanan sosial dan politik bangsa Indonesia sekarang ini. Ia merekam dalam fenomena kekerasan dan terpecahaan yang terjadi di negeri ini, tak perdulikan atas nama apapun. Dengan penafsiran konteks wacana ilmu sosial kemanusiaan yang menjadikan alat baca kita terhadap fenomena sosial-politik. Oleh karenanya, dalam konteks pertunjukan ini selalu ada ruang bebas dan terbuka untuk mengapresiasi dan memaknai apa itu “khuldi”.

“Bagi saya, pemaknaan ini menghasilkan sebuah pandangan bahwa teks khuldi ini sesungguhnya telah jauh lebih dulu mengantisipasi apa yang secara sosial-politik kita alami hari ini. Untuk sampai pada apa yang kita bayangkan dan yakini sebagai kebenaran, kita mau tidak mau harus menciptakan khuldi-khuldi kita sendiri. Objektifitas sosial kita menghendaki agar hukum dan aturan kebenaran pun harus dilembagakan bahkan diformalisasi, menjadi objek yang kita bayangkan bisa menampung semangat kebenaran yang kita yakini. Hingga hari ini sudah tak terhitung seberapa banyak objek-objek formal sosial-politik yang kita (orang Indonesia) ciptakan. Semua objek itu pastinya adalah wujud dari dorongan hasrat/nafsu sosial kita yang pada dasarnya selalu mengandung nilai kebenaran dan kemanusiaan. Akan tetapi, ketika semua itu juga melahirkan kekerasan dan kesakitan (atas nama apapun), maka bukankah semua khuldi atau objek-objek yang kita ciptakan dan imani itu tak lain adalah simtom dari kegagalan sosial-politik kita. Meminjam istilahnya Marx, maka inilah fenomena fetisisme komoditi dalam bentuknya yang lebih kontemporer, yaitu ketika hasrat sosial kita terbutakan oleh formalitas/materialitas objek yang kita cipta dan bayangkan sendiri sebagai representasi dari nilai kemanusiaan yang kita inginkan,” jelas Zuhdi.

Salah satu fantasi itu digambarkan pada adegan dimana terdapat tiga buah pintu yang berada di posisi yang berbeda. Di setiap pintu, terdapat dua orang yang saling menubrukan diri ke dalam pintu tersebut. Keduanya berbicara mengungkapkan tentang kesedihan. Akan tetapi, keduanya berbicara pada kekosongan.

Hadirnya tokoh Hawa dan Iblis ini yang mengungkapkan pemaknaan yang tanpa bermaksud menyinggung masalah kepercayaan. Keberadaan ketiga mahluk dalam kisah khuldi ini sebagai satu kesatuan gagasan tentang manusia yang seluruh kesadaran dan perilaku hidupnya didorong oleh hasrat/nafsu. Zuhdi mengungkapkan, keberadaan ketiga makhluk  dalam kisah “khuldi” ini dengan pandangan Al Ghazali. Pandangan tersebut mengungkapkan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur nafsu (kenabatian, kebinatangan dan kemanusiaan), yang bermakna secara singkat bisa kita bayangkan bahwa tumbuhan (nabati) bersifat pasif tapi produktif; binatang memiliki akal dan rasa tapi juga agresif, dan manusia memiliki semua yang dimiliki oleh tumbuhan dan binatang serta ditambah dengan pikiran dan imajinasi, seperti Adam dalam dirinya tersimpan unsur kenabatiaan dan kebinatangan.

“Gagasan sebuah esensi manusia Ghazalian ini, dengan demikian hasrat feminin dan maskulin dalam konsep seksuasi struktur subjek Lacanian. Subjek keduanya yang tak bisa dilepaskan dari diri manusia, sebagaimana juga Hawa dan Iblis adalah bagian dari kedirian Adam ketika ia berhadapan dengan objek dari kebenaran absolut (ilahiyah) yang bernama khuldi. Dengan demikian, Iblis tak lain represensi dari hasrat kebinatangan Adam,” tambah Zuhdi.

Sementara itu Ramadan MZ selaku pimpinan produksi menyatakan terkait isu sekarang yang terjadi hari ini marak terjadi konflik horizontal di tubuh masyarakat sekarang ini. Baik konflik beda keyakinan, beda paham politik atau suku maupun konflik yang disebabkan kepentingan ekonomi, bahkan juga perbedaan klub sepak bola yang di dukung. Karena itu pementasan KHULDI menjadikan penting dalam ketajaman membaca fakta-fakta sosial. Selain itu, mengisyaratkan ketidakberdayaan manusia dalam mengendalikan hasrat dalam konflik yang terjadi pada bangsa saat ini.

Selain itu Ramadan MZ menambahkan “Secara fakta dalam kondisi yang menjangkit bangsa saat ini, masyarakat terpecah-pecah karena partikularitas kelompok dan partikularitas nilai yang dianutnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa keragaman partikular ini adalah syarat terbentuknya masyarakat, seperti memahami keberagaman, keterpecahan tak lagi terelakkan lagi,” ujar Ramadan.

Pementasan produksi setelah sukses dipentaskan di tiga kota dan terakhir pementasan Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta diselenggarakan di Concert Hall TBY Yogyakarta. Sebuah pertunjukan naskah realis yang mengungkapkan permasalahan yang terjadi di Indonesia seperti permasalahan sosial, ekonomi, budaya, politik, keagamanan, yang belum tuntas. Sepanjang cerita, Penonton mungkin sedikit kebingungan dengan adegan yang di tampilkan. Akan tetapi, penonton secara ide dan gagasan pementasan tersebut berupaya kreatif dalam pementasan akan ruang kritik dan bebas untuk menciptakan sesuatu yang mengapresiasikan penonton menjadi pembaca situasi sosial, dan penegasannya penonton di berikan booklet Pertunjukan XXXIII 2016-2017 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul “Khuldi”.

Zuhdi Sang, Ghoz TE penulis naskah “Khuldi” mengungkapkan bahwa sosialitas dan politik kita kini hanya sedang mengulang-ulang keterjebakan yang telah dialami oleh Adam, terjebak dalam identitas ke-khuldi-an yang kita ciptakan sendiri. Sebagai objek formal sosial-politik, lembaga, instansi, ormas, partai, undang-undang. Akan tetapi pada kenyataannya sarana tersebut seringkali justru menjadi tujuan itu sendiri. Lahirnya segala kekerasan sosial-politik adalah karena pemujaan berlebihan pada khuldi-khuldi kontemporer tersebut, hingga menciptakan kebutaan dan ketidakmampuan untuk melihat lagi landasan universalnya.

“Seperti anak kecil yang nakal dan selalu kembali kepada kepada sang ibu setiap menangis atau terjatuh,mungkin tidak ada jawaban dari kemelut selain hanya Hawa, feminitas hasrat yang kita miliki.” Tambah Zuhdi yang menamatkan pendidikan terakhirnya di Sanata Dharma, Magister Ilmu Relegi dan Budaya.

Dalam pertunjukan pementasan produksi Teater merupakan “Hajatan besar Teater Eska”, persiapannya hampir mencapai 5 bulanan. “Kita membagi-bagi konsep seperti penekunan adegan sekitar 3 bulan, juga membagi tim kreatif dalam mengasahan kemampuan membentuk gagasan dan mengerjakan naskah, menyutradarai dan aktor. Artinya, kami membentuk tim tersebut untuk melatih proses kreatif seperti pentingnya menggunakan metode improvisasi dalam mengeksplorasi bentuk di panggung bagi setiap adegan para aktor sehingga kami bahu-membahu dengan sutradara.” ujar Ahmad Kurniawan selaku Lurah sanggar Teater Eska.

Jumlahnya orang yang dilibatkan dalam pementasan Khuldi berjumlah 21 orang, dari mulai aktor, pemain musik, tim setting tim kostum dan lampu. Untuk pementasan di empat kota diisi juga oleh tim panitia di luar gedung untuk publikasi dan lain-lainnya. “kami membentuk tim kecil di dalam Eska untuk mengakomodir tim yang ada di empat kota” lanjut Ramadan.

Ramadan MZ mengungkapkan kesulitan di divisi keproduksian yang dialami adalah kerjasama pencarian dana dan pemasaran. “Kita kan notabenenya teater, bahwa hanya beberapa orang  saja yang tau  karena tidak semua orang tahu otomatis berpengaruh di pemasaran ketika pemasaran teater atas nama teater susah karna gak semua orang tau, ketika kami memasarkan orang-orang masih menanyakan teater itu apa? Apalagi yang notabenenya teater seperti UIN yang harus sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ada, tidak seperti teater pada umumnya,” jelas Ramadan.

Kendati demikian pementasan teater Eska di empat kota berjalan lancar dan sukses. Kursi-kursi di Concer Hall Taman Budaya Yogyakarta pada pementasan terakhir terisi penuh oleh penonton yang berasal dari beberapa kalangan masyarakat. Rizka seorang mahasiswa dari salah kampus di Jogja yang menyaksikan pementasan mengungkapkan bahwa Khuldi sangat sesuai dengan fenomena-fenomena yang ada pada masyarakat saat ini.

Ramadan MZ selaku presider teater kampus Seyogyakarta memberikan motivasi untuk pegiat teater-teater kampus yang lainnya “jangan pernah berhenti berproses, jangan pernah patah semangat untuk berproses karena soalnya setiap kesulitan itu pasti ada tapi pasti ada jalan keluarnya.”

Editor:  *R★.V.★N*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *