“Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah”

Srawung Tetulung yang dihadiri organisasi mahasiswa di DIY (IMKP, IMG, KMB, IMABA, IMAYO) menyatukan seluruh elemen di jogja khususnya mahasiswa Yogyakarta untuk memperkuat nilai-nilai toleransi pada mahasiswa dan juga masyarakat Yogyakarta.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Jogja yang terkenal dengan kota plural dan toleran kini mulai memudar. Contohnya awal 2019 ini  saat Slamet yang ditolak tinggal di dusun Karet, Pleret, Bantul karena berbeda keyakinan. Tidak hanya itu pada akhir 2018 kemarin ada kasus pemotongan nisan Salib di Makam Purbayan, Kotagede dan juga penolakan acara sedekah laut di Pantai Baru, Srandakan, Bantul. Padahal acara tersebut sudah rutin dilaksanakan tiap tahun bagi masyarakat jawa dan juga acara tersebut berpotensi mendongkrak jumlah kunjugan wisata yang akan berimplikasi pada pendapatan warga sekitar.

Pada dasarnya tujuan toleransi adalah untuk menciptakan suasana yang harmonis di dalam masyarakat yang majemuk. Sikap toleransi dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik meskipun dalam masyarakat terdiri dari beragam agama, ras, suku, dan golongan. Namun saat ini  mulai berkurangnya rasa toleransi di Daerah Istimewa Yogyakarta, baik kepada sesamanya mahasiswa maupun kepada masyarakat sekitar. Sehingga bermunculan kasus kasus kriminal yang bertolak belakang pada nilai toleransi. Kegiatan Srawung Tetulung diselenggarakan oleh Organisasi Mahasiswa Daerah (ORMADA) DIY,  peserta dari setiap ORMADA mengirim 15 orang delegasi, dan dilaksanakan di Balai Dikmen Kulonprogo, Sabtu (07/09/2019).

Kegiatan Srawung Tetulung merupakan kegiatan yang dilatarbelakangi oleh keresahan Organisasi Mahasiswa di DIY IMKP (Ikatan Mahasiswa Kulonprogo), IMG (Ikatan Mahasiswa Gunungkidul), KMB (Keluarga Mahasiswa Bantul), IMABA (Ikatan Mahasiswa Bantul), dan IMAYO (Ikatan Mahasiswa Yogyakarta) terhadap nilai nilai toleransi yang harusnya begitu melekat pada jiwa, namun mulai terkikis.

Mengusung tema besar yaitu “Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah”, dimana toleransi adalah suatu sikap yang saling menghargai dan menghormati antar individu atau kelompok di dalam masyarakat meskipun terdapat perbedaan di dalamnya, baik itu perbedaan pendapat, pandangan, agama, ras, budaya, dan perbedaan lainnya.

Acara dimulai dengan perkenalan setiap ORMADA, ice breaking, dan diskusi kasus intoleransi di Yogyakarta secara berkelompok. Setelah berdiskusi, setiap kelompok memilih satu perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi. Dengan diskusi ini, mahasiswa ORMADA Yogyakarta semakin sadar, mampu membuka hati dan pikiran untuk bisa menganalisa apa penyebab dari kasus-kasus intoleransi tersebut, dan mampu untuk memberikan solusi, seperti mengikuti kegiatan-kegiatan lintas iman untuk meningkatan rasa toleransi terhadap sesama, mulai untuk terbuka dan bersahabat tanpa pandang bulu, dan membuat kampanye kedamaian antar agama.

Melalui acara Srawung Tetulung yang dihadiri organisasi mahasiswa di DIY (IMKP, IMG, KMB, IMABA, IMAYO) menyatukan seluruh elemen di jogja khususnya mahasiswa Yogyakarta untuk memperkuat nilai-nilai toleransi pada mahasiswa dan juga masyarakat Yogyakarta. Tujuan diadakan kegiatan yaitu untuk memperkuat nilai-nilai toleransi pada mahasiswa, sebagai saling sharing antara mahasiswa perguruan tinggi dengan berbagai pihak yang terlibat dengan toleransi, membantu menyelesaikan permasalahan di lapangan terkait toleransi, menemukan Isu global dalam toleransi, membantu menyelesaikan masalah berkaitan dengan nilai toleransi

Ketua Panitia Hediantoro (20) mengaku merasa resah pada mahasiswa khususnya ORMADA di Yogyakarta menyikapi intoleran yang sekarang marak di Yogyakarta. “Saya harap dengan kegiatan srawung seperti ini, kita sebagai ORMADA di Yogyakarta bisa bersinergi untuk mengajak masyarakat luas bertoleransi, dan bisa dimulai dari hal kecil,” tutup Hedi.

Penulis: Cicilia Rosa

Editor: *R.V.N*

Tinggalkan Balasan