Mahasiswa Antara Ada Dan Ketiadaan

MATAMEDIA- RI.com –  Sejarah dunia adalah sejarah kaum muda, apa bila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa” _Pramoedya Ananta Toer

Dewasa ini, terlihat bagimana tugas mahasiswa sebagai agen of change, agen of control dan moral force seakan hanya tinggal sejarah. Kenapa?, karna gaya hidup yang menjadi penyebab cairnya gerakan mahasiswa. Kehidupan mahasiswa yang di kelilingi oleh budaya-budaya konsumtif bisa mengurangi perhatian mereka pada rakyat yang dilanggar hak-haknya. Mahasiswa terjebak pada dramaturgi pameran seperti di katakan David Chaney dalam bukunya, Lifestyle (1996). Mereka seakan –akan bertindak di atas panggung tetrikal yang kemudian teritualkan, dan apa pun kondisinya, lingkungan seakan menuntut mereka untuk selalu tampil ahli mode untuk menarik perhatian masyarakat luas. Mahasiswa menjadi salah satu penikmat produk-produk kapitalis. Ada pun berbagai macam kehidupan mahasiswa yang cenderung mengkonsumsi minuman-minuman keras (miras), penyalahgunaan obat-obat terlarang, hedonisme dan pelacuran ataupun budaya-budaya pop modernisme. Hedonisme sebenarnya hal yang di anggap bertanggung jawab terhadap memudarnya semangat gerakan kaum muda pada saat ini.

Budaya-budaya life style secara langusng atau tidak langsung, hal tersebut sangat mempengaruhi budaya pola hidup mahasiwa sekarang ini. Seperti halnya fenomena hidup banyak mahasiswa yang membeli barang-barang mewah semisal telfon seluler, fashion, dengan berbagai macam tipe yang begitu mahal harganya hanya karena trend, dan bukan karena kebutuhan hidup. Dalam hal ini mereka tidak pernah menyadari bahwa telah berada dalam kesadaran palsu, yang di hegemonikan dari politik tanda media massa demi menopang  dan mengkokohkan produk kapitalisme. Dengan kemajuan teknologi dalam bidang teknologi informasi mendesak munculnya produk-produk kebudayaan baru dalam kehidupan mahasiswa. Dan tidak bisa dinafikan budaya-budaya ini telah menjelma kebiasaan untuk bersenang-senang, ekonomi kapitalis dan budaya konsumerisme seakan telah menjadi ritualnya mahasiswa. Sebab setiap hari yang selalu dibicarakan adalah merek produk-produk yang mendukung kehidupan borjuis mereka, tidak ada hal yang lain dalam melakukan suatu kajian-kajian kontemporer terkait realitas yang ada, apa lagi diskusi-diskusi ilmiah guna memperdalam khasanah intelektual/ kedisiplinan intelektual. Kampus seakan hanya sekedar wadah yang kosong dalam tulisan albana, ia memberikan salah satu istilah seperti itu.

Mahasiswa sebagai interpretasi pemuda seakan tinggal menunggu waktu menuju kematiannya. Hedonisme yang hadir berbarengan dengan budaya-budaya pop modernis berangsur tapi pasti mengikis semangat nasionalisme dan mematikan sikap kritis yang dimiliki oleh mahasiswa. Hegemoni budaya-budaya populer telah menjalar dan menjadi sebuah kebudayaan baru yang dipraktikkan oleh sebagian besar mahasiswa. Bukan hal yang lumrah ketika hal-hal seperti ini tidak dilepaskan dengan perlahan-lahan.

Ada pun terdapat banyaknya mahasiswa yang terjebak pada politik praktis diwilayah kampus harus segera mengevaluasi diri dan keluar dari hal tersebut. Mereka yang terlelap dalam menara gading ilmu harus bangun dan membantu masyarakat yang termarjinalkan oleh para pemangku kepentingan kekuasaan. Mahasiswa yang haus kebenaran seharusnya tidak tertarik dan tidak memiliki kepentingan terhadap popularitas, uang dan kekuasaan, kalau tidak, tugas utama mahasiswa sebagai agen of change, sosial control dan moral force seakan hanya tinggal sejarah. Sampai pada satu titik semua ini benar. Pentingnya upaya untuk menyadari kondisi mahasiswa kekinian. Seperti apa yang dikatakan sosiolog kontemporer pierre bourdieu, “bahwa mahasiswa harus menciptakan habitus baru, yaitu intelektual kolektif, dan habitus ini untuk menjaga dan membela dirinya dari keterlibatan pada praktik politik praktis yang mencederai keadilan serta dapat mengarahkan gerakan mahasiswa pada gerakan kritis terhadap kebijakan yang meminggirkan kaum minoritas.”

 

Mahasiswa: Harapan masa depan bangsa

Apa pun perbedaannya, tumpuaan masa depan tetap pada mahasiswa. Memang mahasiswa menjadi komunal yang berbeda karena mereka berada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari masyarakat. Akan tetapi mahasiswa harus berani menyiapakan dirinya dengan proses belajar yang baik agar bisa memiliki kemampuan untuk bisa menjadi pelopor-pelopor terdepan, untuk bisa berkontribusi besar terhadap bangsa secara aksiologis. Apa lagi bangsa yang berada ditengah-tengah badai dekadensi moral akibat dari korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sangat memprihatinkan sekarang ini.

Adalah melelahkan memilah kaum tua yang benar-benar berdedikasih untuk bangsa ditengah kebiasaan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Oleh karena itu,mahasiswa menjadi harapan akan masa depan baru yang lebih bersih dan berani berkata tidak pada kaum tua yang telah gagal. Untuk itu, mungkin sudah saatnya spirit movemen gerakan mahasiswa masa lalu menjadi cambuk bagi generasi mahasiswa masa kini, agar tak ada lagi istilah pepesan kosong bagi mahasiswa, sudah saatnya mahasiswa kembali pada tugas utamanya dan tujuan keberadaannya, mahasiswa sebagai sosial control,agen of change dan moral force, saatnya mahasiswa kembali bergerak menunjukan eksistensinya dan membuktikan bahwa mahasiswa masih layak disebut sebagai tumpuan dan harapan bangsa. Tumpuan utamanya hanyalah mahasiswa.

Oleh: Andy Azka

Editor: *R★.V.★N*

One Comment on “Mahasiswa Antara Ada Dan Ketiadaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *