SKIZOFRENIA

MATAMEDIA- RI.com –Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memakian

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar menyesali diri

Dan jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan  belajar menemukan cinta.

(Ungkapan Dorothy Law Nolte ( Alizabert B. Hurlock, 1978; Jalaludin Rakhmat, 1985)

Ini adalah hari pertama dan pengalaman pertamaku menjalani Praktek Kerja Profesi Psikologi di Rumah Sakit Jiwa. Bersama tiga teman kelompokku, Uum, Lulun dan Umi bertolak dari Jogja menuju Klaten, tempat di mana rumah sakit itu berada. Pagi-pagi buta kami sudah mempersiapkan segala keperluan untuk satu bulan ke depan. Kami berangkat dari jogja tepat pukul 05.30am menggunakan kendaraan roda dua dengan harapan bisa sampai di Klaten sebelum jam 07.00am. kami berempat membawa dua motor. Temanku Lulun memboncengi Uum dan aku diboncengi oleh Umi.

Setelah semua persiapan selesai, kami menyegerakan untuk berangkat melewati jalan ringroad utara menuju jalan raya solo. Belum lima menit perjalanan, tiba-tiba motor yang kami kendarai terasa “oleng” tepat di depan Rumah Sakit JIH Yogyakarta.

“mi…stop! stop….!” teriakku pada Umi. Umi langsung menekan pelan rem di kakinya dan meminggirkan motor yang kami kendarai. Aku dan Umi langsung turun dan melihat ke arah bawah.

“Astaghfirullahaladzim… Ban nya mi” keluhku pada Umi. Umi langsung mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Lulun untuk mengabari kondisi motor yang kami kendarai. Beberapa kali panggilan dilakukan, namun lulun tidak juga menjawabnya.

“Nel, apa kita hubungi Bang Nata?” tanya Umi padaku.

“O iya… ide bangus mi” jawabku pada Umi. Umi langsung menghubungi Bang Nata dan menjelaskan tentang kondisi motor kami. Alhamdulillah, tidak lebih dari lima menit bang nata datang dengan sepeda motornya menghampiri kami.

“Ya sudah, kalian berdua pakai saja motor ini, motor yang bannya bocor nanti kubawakan ke tukang tambal ban”

“Benar nih bang? ” Sahutku dengan wajah riang

“Iya Nel, tidak apa-apa” jawab Bang Nata padaku sambil melirik kearah Umi. Bang Nata adalah ‘Teman dekat’nya umi. Segalanyalah dikorbankan untuk pujaan hatinya. Hehe…

Akhirnya kami berdua bisa melanjutkan kembali perjalanan menuju Klaten. Jalan menuju Klaten tidak begitu ekstrim, tidak ada tanjakan ataupun jalan yang berlubang. Kami bisa melewati jalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Alhamdulillah sesuai target, kami bisa sampai di RSJ Klaten pukul 06.30am. Sebelum mengikuti apel pagi di sana, kami terlebih dahulu menuju ke asrama tempat kami akan menginap untuk meletakkan barang-barang.

“Buruan yok… nanti keburu telat. Ini hari pertama lho… malu dong kalau sampai kita telat. ” Ujar lulun pada kami yang masih santai membereskan beberapa barang bawaan.

YokyokCus kita, emak sudah marah nih” candaku pada lulun, sambil mencolek pipinya yang tembem.

Yok….” Spontan uum dan umi mengiyakan gurauanku pada lulun sambil melirikkan mata mereka kearahku dengan gaya genitnya. Bergegas kami memakai blezer ungu kebanggaan dan langsung menuju ke Rumah Sakit. Jarak Asrama dan Rumah Sakit kira-kira 50 Meter. Kami berempat berjalan kaki menuju ke Rumah Sakit dan langsung mengikuti apel pagi.

Setelah apel pagi dibubarkan, kami berempat menuju ke ruang Poli Psikologi untuk menemui Bu Sukar salah seorang Psikolog di sana. Sebelumnya kami sudah menemui bu Sukar membicarakan mengenai administrasi dan aturan selama praktek di sana, sehingga Bu Sukar sudah mengenali kami semua tanpa harus memperkenalkan diri satu persatu.

“Hari ini kita orientasi ke Bangsal ya, supaya kalian paham dulu mengenai kondisi bangsal di sini” jelas Bu Sukar pada kami.

“Iya, bu… kita ngikut ibu saja” Jawabku.

Selanjutnya, kami menuju ke bangsal-bangsal yang ada di Rumah Sakit tersebut. Satu persatu kami memasuki bangsal hanya sekedar untuk melihat-lihat kondisi pasien bangsal secara umum.

“Sekarang, kalian sudah tahukan kondisi bangsal di sini? ” Tanya Bu Sukar pada kami

“Iya bu” Jawab kami berempat

“Sekarang, silalahkan kalian kembali mengobservasi pasien atau jika membutuhkan informasi dari Perawat juga bisa untuk lebih lanjut mengetahui lebih dalam kondisi pasien bangsal secara individual”

“Oh, baiklah bu”

Entah aku tidak mengerti tiba-tiba teringat dengan salah seorang pasien di Bangsal D yang sudah kami kunjungi satu persatu bersama Bu Sukar tadi. Sebelum keluar dari Bangsal D, aku melihat seorang perempuan berambut pendek, berkulit sawo matang dan terlihat masih muda sekali. Perempuan itu sedang duduk sendiri di sebuah bangku panjang sambil memegang sebuah tongkat di depan kamar yang ada di bangsal. Ia terlihat sedang menunjuk-nunjukkan sesuatu ke arah atas sambil bergumam dan sedikit cekikikan “Itu…itu… ah, iya ha ha ha, sini! ” seperti memanggil seseorang.

“Aku ke Bangsal D ya” ucapku pada lulun, umi dan uum.

“O, iya. Silahkan Nel, aku ke Bangsal C saja, Lulun dan Umi pilih saja antara Bangsal A, B atau E ya…”Sahut uum.

Kamipun mulai menuju ke masing-masing Bangsal yang sudah ditentukan. Lulun ke bangsal B, umi kebangsal A, Uum ke bangsal C dan aku ke bangsal D.

Perempuan itu bernama Sisi (nama samaran). Sisi berusia 16 tahun. Seorang Perawat memberi tahuku tentang informasi itu. Perawat juga menjelaskan padaku bahwa Sisi menjalani rawat inap di RSJ sudah sekitar tiga minggu. Kondisinya sekarang sudah lumayan membaik. Berbeda dengan kondisi Sisi saat pertama kali dibawa ke RSJ. Saat itu Sisi mengamuk dan memukul setiap orang yang ada di dekatnya, siapapun itu.

“Siapa yang mengantar Sisi ke sini Mbak? “Tanyaku pada Perawat

“Waktu itu yang membawa Sisi ke sini adalah Ayah dan pembantunya”

“Ibunya?”

“Ibunya tidak ikut mengantar. Selama tiga minggu inipun yang menjenguk hanya pembantunya.   Pembantunya sering cerita tentang kondisi keluarga Sisi. ” jelas Perawat.

Ternyata selama Sisi berada di RSJ kedua orang tuanya tak pernah menjenguk. Orangtuanya hanya menyuruh pembantu untuk menjenguk Sisi.

Informasi yang kudapatkan dari Perawat, bahwa Sisi adalah seorang anak dari pasangan yang cukup berada. Ayahnya merupakan seorang pemilik usaha properti yang terkenal di Klaten. Saat sedang mengandung anak pertama, ayah dan ibu sisi sangat mengharapkan seorang anak laki-laki. Di usia kandungan delapan bulan terakhir mereka melakukan USG dan diprediksi anak mereka seorang laki-laki. Namun harapan dan impian mereka untuk memiliki seorang anak laki-laki ternyata berbeda dengan kenyataan. Sisi, seorang bayi perempuan mungil lahir ke dunia.

Saat bayi, Sisi diberi ASI oleh ibunya hanya sampai pada usia tiga bulan. Usia selanjutnya Sisi diserahkan pada pembantu untuk mengurus dan memberikannya susu Formula. Ibunya sangat tidak menginginkan Sisi. Masa bayi Sisi sangatlah jauh dari belaian hangat ibunya, apalagi ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya. Sungguh kasihan Si Sisi kecil, anak yang tak berdosa harus merasakan gersangnya hidup. Kehampaan, kekosongan, ketidak pedulian orang tuanya membuat ia seperti berselimut di dalam api.

Oe’,,,,oe’,,, oe’,,,

“Bik, lihat Sisi, beri dia susu, ” Teriak ibunya

“Bu, susunya habis, kemaren Bibi lupa membelinya” jawab Bibi

“Ya sudahlah beri saja ia air gula, yang penting  dia bisa diam bik, saya pusing mendengar anak jelek itu. ” suruh ibu

“Baik bu” jawab Bibi

Sejenak tangisan itu meredah, ketika air gula yang disendokkan Bibi ke mulut Sisi, tapi redanya tangisan hanya sebentar, tangisan kembali terdengar dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Bu, Sisi tidak mau air gulanya?” teriak Bibi

“Dasar anak sial” gerutu ibu sembari berjalan menuju ke arah Sisi dan Bibi (Pembantunya), tanpa basa-basi, ibunya langsung mencubit kedua paha mungil Sisi, hingga membuat teriakan Sisi semakin menjadi.

“Bu, jangan dicubit” kata bibi

“Bik, saya sudah tidak tahan dengan perilaku anak ini. Sekarang Bibi urus, dan saya ingin pergi”

“Kemana bu? ” tanya Bibi

“Ke suatu tempat yang bisa membuat saya lebih tenang, saya pusing dirumah” jawab ibu seraya menuju ke kamarnya dan mengambil tas.

Begitulah suasana dikeluarganya. Sisi memang punya ibu, tapi tidak dengan jiwanya. Jiwanya hampa sesosok ibu, jiwanya rapuh kasih sayang, jiwanya penuh dengan tekanan, begitulah masa kecil Sisi. Sosok ibu menjadi begitu menakutkan. Sosok ibu yang sama sekali tidak memperdulikannya.

Saat Sisi berusia dua tahun, Sisi masih saja belum bisa berjalan, itu yng membuat ibunya semakin membenci ketidaknormalan perkembangan fisik Sisi.

“Bikk,,, ” teriak ibunya

“Ada apa bu? ” balas Bibi

“Cepat bawa Sisi dari sini, ajarkan ia bagaimana cara berjalan. Paksa saja bik, kalau ia tetap tidak bisa, jangan beri ia susu pagi ini” ujar ibunya. Sisipun langsung dibawa kehalaman depan oleh Bibi. Di halaman depan Sisi terus saja menangis dan berteriak-teriak, Bibi pun kebingungan bagaimana cara meredakan tangisan itu. Seketika Bibi memegang tangan dan memeluknya. Sisi terdiam dan tersenyum.

“Sisi suka kalau bibi peluk? ”

“he eh” jawab Sisi sambil menganggukkan kepalanya

“Sisi jangan nmenangis lagi ya? nanti Bibi belikan permen untuk Sisi ? “Rayu Bibi

“Sisi  mengembangkan senyumnya sambil kembali menganggukkan kepalanya.

Hari demi hari terus Sisi lewati dengan kehampaan, kekurangan kasih sayang, kekurangan cinta, dan kekurangan perhatian orang tuanya. Saat usia 6 tahun Sisi bisa berjalan, tapi tidak senormal anak-anak yang lain, setiap pergi kemana-mana Sisi memakai tongkatnya. Sisi dibanjiri oleh hinaan, cacian, makian, dilingkungan sekolahnya. Sisi bahkan sering menangis saat di sekolah, karena sering di olok-olok oleh teman-teman sekelasnya. Tidak hanya itu, saat Sisi berada dibangku SMA Sisi sering tidak masuk sekolah. Sisi menceritakan pada Bibinya bahwa sudah dua minggu ini ada sosok orang tua yang selalu mengintipnya dari depan pintu kelas. Sosok itu selalu memandanginya dan mengawasinya. Sisi juga ketakutan dan menganggap sosok orang tua itu akan mencelakainya. Setiap malam Sisi juga sering terbangun dan berteriak. Sisi berteriak karena mendengar suara-suara di telinganya. Suara itu semakin lama semakin mengeras saat Sisi berusaha kembali memejamkan mata.

“Sisi!” teriak ibunya

“Bu, Sisi takut..”

“Takut apa? Semakin lama kamu semakin aneh saja. Tidak ada yang harus kamu takuti di sini. Semuanya baik-baik saja”

“Bu, ada suara itu…Bu”

“Suara apa?”

“Bu Sisi Takut” Sisi langsung memeluk ibunya sambil menangis.

“Suara Nenek yang ada di Sekolah Bu” jawab Sisi sambil terisak. Kemudian Ibunya langsung melepaskan pelukan Sisi dan memarahi Sisi.

” Sudah, sekarang teruskan tidurmu dan lupakan Nenek khayalanmu itu. Segera tidur dan jangan mengganggu tidur ibu.”

Sisi masih saja menangis terisak-isak sambil berkata “Takut…takut…”. Ibunya kemudian menarik Sisi dari tempat tidur membawanya ke kamar mandi. Di sana Sisi di ikat dan disiksa, puluhan cambuk rotan menempel ditubuhnya. Sisi terus merontak kesakitan, tapi ibunya terus saja mengayunkan cambuk rotannya ke tubuh Sisi.

“Ampun Bu…”

“Sebelum kamu diam, Ibu tidak akan berhenti” ancam ibu pada Sisi

“Iya Bu, Sisi akan diam” Jawaban Sisi membuat Ibunya berhenti menyiksa Sisi.

“Bi, Bawa Sisi ke kamar” perintah ibunya pada Bibi. Bibi langsung mengangkat Sisa yang duduk dilantai kamar mandi dan membawanya kembali ke kamar.

“Bibi akan menemani Sisi tidur mala mini, jadi Sisi tidak perlu takut lagi ya?”

“Iya Bi.” Jawab Sisi lirih

Setelah kejadian malam itu, keesokan harinya Sisi tidak mau keluar kamar. Ia hanya membaringkan badannya di tempat tidur dan menutupi semua badannya dengan selimut. Setiap ada orang yang mengajaknya bicara, Sisi tidak pernah menjawab dan seperti ketakutan. Saat Ibunya masuk ke kamar Sisi melempar Ibunya dengan bantal dan benda-benda yang ada di dekatnya.

“Keluar!” Bentak Sisi saat Ibunya masuk ke dalam kamar

“Sisi, kamu kenapa?” Tanya ibunya pada Sisi. Sisi langsung melempar bantal yang ada di sebelahnya tepat mengenai tubuh ibunya. Ibunya kemudian keluar dari kamar dan memanggil Ayah Sisi dan memberitahu tentang kondisi Sisi. Ayahnya langsung menuju ke kamar Sisi dan melihatnya. Baru saja berada di depan pintu, terdengar keras suara Vas bunga yang pecah dilempar oleh Sisi.

“Semua… keluar dari sini!, di depan sedang ada yang ingin membunuhku. Nenek tua sedang ada di teras rumah kita dan akan membunuhku” Teriak Sisi sambil melempar beberapa benda kearah Ibu dan Ayahnya. Ayah dan Ibu Sisi menjadi bingung melihat keanehan Sisi. Sisi seolah menampilkan sosok lain dalam dirinya. Sisi yang biasanya pendiam, penurut, bertutur lembut dan tidak pernah membantah ayah dan ibunya, apalagi membentak-bentak ayah dan ibunya. Kini Sisi menjadi sosok yang keras, memberontak, berbicara kasar dan menampilkan perilaku yang sangat agresif.

Setelah kejadian itu, Sisi kemudian dibawa oleh Ayahnya ke Rumah Sakit Jiwa atas saran dari tetangganya. Melihat kondisi Sisi yang semakin memburuk, sukar untuk berkomunikasi dan semakin agresif dengan orang lain, ayahnya tidak memiliki pilihan lain. Awalnya Sisi berontak dan berteriak-teriak tidak mau dibawa keluar rumah dengan alasan akan ada orang yang akan membunuhnya di luar sana, lalu Sisi tak mampu memberontak saat ayahnya kemudian membawa paksa dengan dibantu beberapa orang tetangganya. Skizofrenia, salah satu gangguan jiwa berat yang di alami Sisi diketahui setelah dilakukan Asesmen oleh Psikiater dan Psikolog di Rumah Sakit Jiwa tersebut.

“Sungguh kasihan melihat Sisi ya Mbak?” tanyaku pada Perawat itu sambil memandang kearahnya

“Iya, beginilah kondisi para pasien di sini, berbagai macam latarbelakang masalah.” Jawab Perawat itu padaku.

“Luar biasa sekali pengalaman yang aku dapatkan hari ini Mbak. Sampai rasanya aku menjadi sadar bahwa selama ini sangat kurang bersyukur.” Balasku pada Perawat

“Iya, inilah hidup, kadang kita butuh belajar dari kehidupan orang lain”

“Terima kasih banyak Mbak sudah meluangkan waktu untuk bercerita dan membagi pengalamannya. Besok saya akan kembali ke sini lagi untuk menemui Sisi”

“oh… iya sama-sama. Silahkan. Jika ada yang ingin ditanyakan atau yang dibutuhkan silahkan menghubungi saya”

“Baik Mbak, terimah kasih banyak. Saya pamit dulu dan kembali ke Poli Psikologi.”

“Iya, silahkan.”

Luar biasa hari ini. Ini hari pertamaku menjalani Praktek Kerja Profesi. Aku tak bisa membayangkan selama satu bulan di sini. Sungguh banyak hal yang akan kupelajari lagi. Mempelajari hidup orang lain, membuat kita sadar bahwa hidup adalah sebuah misteri. Kita harus siap dengan segala keadaan, siap dengan segala ketidaksukaan, siap dengan segala penolakan dan siap dengan segala ketetapan yang sudah di takdirkan oleh Allah.

 

Nelly Tridinanti lahir di Desa Lubuk-Ngin, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera-Selatan, 06 November 1991. Berdomisili di Yogyakarta. Sedang menjalani Pendidikan Strata-2 di Fakultas Psikologi (Magister Profesi Psikologi Klinis), Universitas Mercubuana Yogyakarta. Email: [email protected]  (Fb Nelly tridinanti ) IG. Nelly_tridinanti. No Hp. 081226832519

Editor:  *R★.V.★N*

3 Comments on “SKIZOFRENIA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *