Semangat Menjaga Tradisi di Tengah Gerusan Modernisasi

Tradisi membuat wayang kulit di Dukuh Butuh ini sudah ada sejak 1965, cukup terbilang lama. Namun, saat ini kebiasaan membuat wayang kulit tersebut hanya digeluti sebagian orang saja, dari 300 (tiga ratus) kepala keluarga yang ada di Dukuh Butuh, hanya 70 (tujuh puluh) orang yang masih tetap melestarikan tradisi membuat wayang kulit tersebut.


INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com – Berjuta desas-desus angin di jalan terlewati, dan akhirnya sampai juga di tempat ini, yaitu Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jawa Tengah. Penat badan dalam menempuh perjalanan selama tiga jam langsung terbayar dengan pemandangan indah persawahan, apalagi ketika baru beberapa menit menginjakkan kaki dan bergabung dengan masyarakat. Suasana desa yang asri dan masyarakat yang sangat ramah menambah semangat untuk berlama-lama di sini.

Desa yang terletak di pinggiran aliran air sungai Bengawan Solo, dikelilingi hamparan sawah yang luas, dan ditambah dengan masyarakat yang sangat ramah membuat saya terkesima dan menjadikannya sebagai ajang pencucian mata yang telah bosan dengan hiruk-pikuk di kota.

Sesampainya di lokasi tempat berkumpul para pengrajin wayang kulit, saya langsung disambut baik oleh mas Pendi. Pendi Istakanudin atau yang lebih akrab dipanggil mas Pendi merupakan pemuda yang mempunyai gagasan luar biasa dan mulia dalam memajukan daerah tempat tinggalnya.

“Berbekal ijazah strata 1, tak sedikitpun menggiurkannya untuk bekerja sebagaimana karib-karibnya yang lain yang berkerja dikantoran dengan penghasilan yang tetap dan masa depan yang terjamin. Namun, ia lebih memilih berkecimpung dengan masyarakat-masyarakat yang ada di kampungnya. Ia ingin membangun kampung, apalagi di kampung ini sudah ada tradisi membuat wayang kulit, ia ingin mengembangkan tradisi itu.” Ungkap orang tua Pendi.

Semangat Membangun Regenerasi

Tradisi membuat wayang kulit di Dukuh Butuh ini sudah ada sejak 1965, cukup terbilang lama. Namun, saat ini kebiasaan membuat wayang kulit tersebut hanya digeluti sebagian orang saja, dari 300 (tiga ratus) kepala keluarga yang ada di Dukuh Butuh, hanya 70 (tujuh puluh) orang yang masih tetap melestarikan tradisi membuat wayang kulit tersebut.

Banyak faktor yang mempengaruhi kurangnya minat pemuda yang ada di Dukuh Butuh dalam membuat wayang kulit. Antara lain mindset orang tua kepada anaknya bahwa pekerjaan membuat wayang itu tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup. Artinya ada sebagian orang tua yang ingin supaya anaknya bekerja di kantoran, dan mempunyai penghasilan yang tetap.

“Maklum kalo pemikiran orang di kampung ya begitu, baginya pekerjaan yang ideal itu yang kerjanya delapan jam, penghasilan tetap, dan bekerja dengan pakaian yang rapi.” Ungkap Pendi.

Pendi Istakanudin ketika sedang membuat wayang kulit.

Para pengrajin wayang kulit yang ada di Dukuh Butuh ini juga mempunyai kelompok sosial, yaitu dinamai dengan nama Kelompok Usaha Bersama (KUBE). “KUBE inipun juga sudah lama adanya di Dukuh Butuh ini, yaitu merupakan sarana untuk saling berinteraksi antara pengrajin wayang kulit.” Tutur Pendi.

Walaupun sebagian dari pemuda yang ada di Dukuh Butuh ini memilih bekerja di luar kota, dan masuk ke pabrik-pabrik besar. Hal itu tidak menyurutkan semangat para pengrajin yang tergabung di dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam melestarikan tradisi membuat wayang kulit. Begitupun juga dengan Pendi Istakanudin, ia merupakan pengrajin wayang kulit professional paling muda diantara pengrajin lain yang ada di Dukuh Butuh.

Di lingkungan Dukuh Butuh, tepatnya di rumah mas Pendi yang dijadikan tempat berkumpulnya para pengrajin wayang kulit tidak hanya dijadikan sebagai tempat pembuatan wayang, namun juga dibuka untuk orang yang ingin belajar membuat wayang, dan tidak jarang juga ada dari luar daerah yang datang ke situ untuk belajar.

Tatahan, penggaris besi, pena, palu dari kayu adalah alat utama pembuatan wayang.

“Kemarin juga ada dari beberapa mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang datang kesini, kalangan SMA juga ada.” Ungkap Pendi. Hal ini bertujuan agar pengrajin wayang kulit tidak punah, agar ada regenerasinya.

“Simbiosismutualismenya harus ada, agar tradisi membuat wayang kulit ini tidak punah. Kalau kesibukan kami hanya membuat wayang kulit tanpa memberikan pengetahuan dalam membuat wayang kulit kepada yang muda-muda tentu tradisi ini akan punah.” Imbuhnya lagi.

Proses tranformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat, atau yang lebih kita kenal sebagai modernisasi ini juga berdampak pada lingkungan Dukuh Butuh. Banyak pemuda yang sudah tidak lagi melestarikan tradisi membuat wayang kulit, dan memilih bekerja di luar kota. Sebagian orang tua pun juga ikut berpikiran demikian.

“Saya juga menyayangkan para pemuda lain yang lebih memilih bekerja di luar kota, sedangkan penghasilan para pengrajin wayang kulit di sini melebihi upah minimum regional (merupakan standar minimum yang digunakan oleh pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya).” Tutur Pendi.

Dukuh Butuh ini sudah lama dikenal sebagai kampung pengrajin wayang kulit, sangat disayangkan jika minat pemuda dalam membuat wayang kulit itu sudah berkurang. Maka dari itu, bersamaan dengan semangat Pendi Istakanudin untuk membangun kampungnya tersebut, dan dengan memanfaatkan tradisi membuat wayang kulit yang telah lama ada di kampungnya itu ia ingin menumbuhkan kembali minat dan semangat pemuda-pemudi yang ada di Dukuh Butuh dalam melestarikan tradisi membuat wayang kulit.

Proses Pembuatan Wayang Kulit

Proses pembuatan wayang kulit ini cukup terbilang lama, dari mulai proses pengeringan kulit, pembentukan pola, penatahan (ukir), gapit, dan juga pewarnaan. Kurang lebih satu bulan untuk proses membuat satu wayang kulit.

“Yang namanya pekerja seni itu mesti harus hati-hati dalam membuat sebuah karya, makanya diperlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tapi, hasilnya nanti juga akan memuaskan, dan setiap pekerjaan itu tentunya juga harus dijalankan dengan rasa cinta, begitupun juga dalam membuat wayang kulit ini. Ketika kita menjalankannya dengan rasa cinta maka kita akan mudah dalam menjalakannya, bagaikan tanpa beban.” Tutur Pendi.

Pendi Istakanudin beserta keluarga tetap setia menjaga tradisi membuat wayang kulit di Dukuh Butuh.

70 orang dari 300 kepala keluarga yang ada di Dukuh Butuh ini memfokuskan hari-harinya sebagai pengrajin wayang kulit, tak terkecuali juga mas Pendi. Banyaknya pesanan wayang kulit dari berbagai daerah membuat para pengrajin kewalahan dalam memenuhi permintaan.

Pada saat proses penjualan wayang kulit yang telah jadi tidak dipatok dengan harga yang telah ditentukan oleh pembuat wayang (pengrajin), melainkan dari kesangupan si pembeli, dalam arti, si pembeli sanggupnya membayar dengan harga berapa. Nanti jika si pembuat merasa pas dengan biaya bahan pembuatan, waktu yang digunakan, dan tenaga yang terbuang, barulah proses alih kepemilikan terjadi.

Penghasilan yang Menjanjikan

Adapun waktu yang pas untuk belajar membuat wayang kulit yaitu dimulai pada usia anak-anak. “Sebab pada usia seperti itu tangan-tangan kita ini masih lentur, dan itu sangat mudah untuk diaplikasikan dalam membuat wayang kulit.” Tutur Pendi.

Hanya perlu belajar selama kurang lebih 3 (tiga) tahun untuk menjadi pengrajin wayang kulit yang handal. Ibaratnya waktu 3 (tiga) tahun itu yaitu untuk investasi, dan selanjutnya penghasilan dalam membuat wayang kulit ini jauh melebihi dari upah minimum regional (UMR).

“Sulitnya itu telaten dan sabar dalam membuat wayang kulit, sebab proses demi proses dalam penyelesaian wayang kulit ini memang terbilang rumit. Hal inilah yang menjadikan pemula kurang meminatinya, kebanyakan maunya yang instan saja.” Ungkap mas Pendi.

Dalam perjalanannya, wayang kulit sudah menunjukkan eksistensinya dalam dunia hiburan modern ini. Wayang kulit yang dibuat oleh Pendi Istakanudin beserta keluarga telah terkenal di pedalangan pulau Jawa, bahkan reputasi sebagai pengrajin wayang kulit wayang kelas wahid sudah sampai ke pulau Sumatra tepatnya Lampung, dan Medan.

Tetapi sangat disayangkan karena jumlah pengrajin wayang kulit semakin berkurang. Complicated problem inilah yang ingin dipecahkan Pendi Istakanudin agar tradisi membuat  wayang kulit di kampungnya tidak hilang. Ia ingin menumbuhkan kembali minat dan semangat pemuda-pemudi dalam menjaga tradisi membuat wayang kulit.

“Karena ketika kita sudah mampu make awarness kepada orang lain apapun bisa kita lakukan.” Tutup Pendi.

Penulis: M. Syarif

Editor: *R★.V.★N*

 

Tinggalkan Balasan