Payung Lukis Tradisional

MATAMEDIA- RI.com – NGUNDI RAHAYU JUWIRINGWah wah mungkin semuanya bertanya – Tanya ini payung asalnya dari mana yaa… kok berwarna banget, indah, dan penuh lukisan bunga – bunga yang sangat cantik..

Mungkin semua beranggapan bahwa payung ini berasal dari Cina, Belanda, atau Jepang?

Semua anggapan masyarakat tentang payung ini tergolong salah, kalau ditanya sejarah payung ini pasti pada bingung, pasti banyak masyarakat dan remaja kita saat ini menganggap bahwa payung ini bukan berasal dari negara kita, bukan kekayaan negara kita, apalagi warisan budaya kita, ternyata semua persepsi itu salah, daripada bingung sendiri memikirkan asal si payung cantik ini mending kita tengok sejarah dari payung ini yukkk…

Payung tradisional ini berasal dari Juwiring merupakan payung tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Payung tradisional Juwiring tersebut bentuknya masih sangat sederhana, hanya berfungsi sebagai payung pelindung dari panas dan hujan. Setelah berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, payung-payung tradisional Juwiring mulai digunakan di kalangan keraton. Selain itu, minat masyarakat terhadap payung juga mulai meningkat. Hal ini membuat proses produksi payung meningkat dan akhirnya banyak dari warga Juwiring menjadi perajin payung untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Waktu terus berjalan hingga kurang lebih pada tahun 1960 sebuah Pabrik payung berdiri di daerah Juwiring. Dalam kegiatannya, pabrik ini tidak memproduksi payung kemudian menjualnya. Namun, pabrik ini bersifat sebagai pengepul payung hasil produksi warga sekitar lalu melalui pabrik inilah payung-payung tersebut di salurkan dan dijual kepada para konsumen.

Beberapa tahun setelah berdiri, pabrik ini menerima kunjungan dari Jepang. Dalam kunjungan ini terdapat workshop tentang proses pembuatan payung tradisional. Setelah adanya kunjungan serta workshop proses pembuatan payung tradisional tadi, tidak lama kemudian muncullah payung modern atau yang orang dalu menyebutnya dengan istilah payung kalong. Keberadaan payung kalong ini sedikit mulai sedikit menggeser keberadaan payung tradisional Juwiring.

Dalam perkembangannya, pabrik ini tidak berdiri lama. Kurang lebih sepuluh tahun kemudian, pabrik ini di tutup. Adanya payung kalong yang mulai bermunculan dan beredar luas di masyarakat menjadikan payung tradisional semakin tersisih keberadaannya. Selain itu, model sistem kerja yang diterapkan pada pabrik ini dirasa tidak menguntungkan dan cenderung merugikan perajin maka hal-hal ini lah yang memicu di tutupnya pabrik tersebut. Di sisi lain, tutupnya pabrik payung ini menguntungkan bagi para perajin karena para perajin dapat dengan leluasa memasarkan sendiri hasil produksinya.

Pada tahun 1970, kerajinan payung tradisional mengalami masa keemasannya. Para perajin banyak memproduksi berbagai macam payung dan berhasil memasarkan banyak payung kepada para konsumen. Selanjutnya, dari tahun ke tahun perkembangan payung tradisional mengalami pasang surut mulai dari para perajin maupun para konsumen payung. Para perajin yang awalnya menjamur di banyak desa di Juwiring, satu persatu mulai meninggalkan kegiatan produksinya. Tidak banyak perajin yang bertahan ditengah pasang surut perkembangan payung tradisional Juwiring. Selain itu, minimnya generasi penerus juga menyebabkan jumlah perajin payung semakin berkurang.

Pada tahun 2015, tercatat masih ada lima perajin yang hingga kini masih memproduksi payung. Hal ini mendapat respon yang baik dari berbagai pihak yang peduli akan keberadaan para perajin payung. Melalui berbagai kegiatan dan bantuan, akhirnya hingga kini para perajin dapat mempertahankan dan terus memproduksi payung dibawah naungan Industri Kreatif Rumah Tangga.

Akhirnya, pada saat ini para perajin payung yang masih tersisa di Juwiring terus memproduksi payung mengikuti perkembangan jaman dimana payung yang di produksi tidak hanya sebagai pelindung dari panas maupun hujan saja tetapi juga ada yang di produksi untuk keperluan-keperluan lain yaitu seperti payung tari, payung upacara adat, dan juga payung estetika.

Nah, sudah pada tahu kan bahwa payung juwiring atau yang kita kenal payung lukis Juwiring tersebut merupakan payung warisan dari budaya kita, dari sejarah payung yang telah kita ketahui dapat kita simpulkan bahwa kaum muda kita saat ini kurang tertarik dengan perkembangan payung indah tersebut, bahkan lebih parahnya lagi ketika ditanya dari mana asal payung tersebut mereka menganggap bahwa payung tersebut berasal dari kebudayaan luar, dan bukan budaya asli kita. Wahai generasi muda terlebih dahulu kita harus mengetahui sejarah dan keseniaan apa saja yang ada pada bangsa kita bukan sejarah dan kesiniaan negara tetangga. dari pada kita menyesal dikemudian hari karena tidak mengetahui sejarah kebudayaan bangsa sendiri.

 

Festival Payung Lukis Tradisional

 

Dari permasalahan anak muda zaman sekarang yang semakin tidak peduli dengan kesenian sendiri, para pemuda yang tergabung dalam Sorgum Consultant ini beda loh, mereka peduli dengan kesinian bangsa kita, menggali semua yang berkaitan dengan sejarah terutama sejarah payung Juwiring ini.

PR Sorgum Consultant, kelompok mahasiswa public relations Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mencoba mengangkat kembali eksistensi payung lukis tradisional dengan mengadakan Festival Payung Tradisional. Acara digelar pada 13-14 Mei 2017 pukul 09.00 hingga 21.00 WIB yang bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta, Jalan Brigjen Katamso, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta.

Kegiatan ini dilaksanakan guna mendukung pemberdayaan masyarakat daerah melalui produk-produk lokal unggulan yang memiliki nilai seni. Payung lukis tradisional merupakan produksi lokal asal Desa Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Berbagai pihak dilibatkan dalam acara ini, di antaranya CAMP Foundation, Komunitas Rumah Pohon, seniman lukis muda Yogyakarta – Serunai, Denny Ariandhy dan Wulang Sunu.

Awal februari ikut ketempat pembuatan payung Ngudi Rahayu,

“Awalnya itu bingung dari melihat keadaan pengrajin payung, nah setelah awal maret kita mulai menerawang dan mangambil ide tentang festival, soalnya kemaren kan pernah juga ada festival disolo pada tahun 2016, dan bapak ngadi Yakur (48 tahun) selaku pendiri usaha usaha Payung lukis Ngudi Rahayu, beranggapan bahwa festival payung yang kemaren di Solo itu sangat bagus dan menarik dan itu ide kami untuk membuat dan mengembangkan festival payung itu di Yogyakarta karena untuk festival payung sendiri itu belum ada.” Tutur Saras selaku Humas dalam kegiatan ini

April awal mereka sudah mencari – cari tempat dimana yang tepat untuk festival payung tersebut, dan menginginkan tempat festival yag terbuka serta memilki galeri yang menarik dengan konsep tradisional. Dengan suguhan tema yang menarik yaitu “Mengenalkan seni dan budaya tentang payung lukis Juwiring” sebelumnya juga mereka melakukan riset tentang asal payung juwiring itu sendiri, banyak beranggapan bahwa payung tersebut berasal dari Bali, Cina, Jawa Tengah, Jawa Barat dan ini membuktikan bahwa anak muda sekarang ini tidak mengetahui kebudayaan payung lukis dan mereka berkomitmen untuk berusaha mengenalkan kembali tentang payung lukis Ngudi Rahayu ini melalui event ini.

Adapaun Kendala dalam mengadakan festival payung ini seperti saingan dengan festival – festival kesenian lain seperti Arcok, menurut tanggapan mereka “Sorgum Consultant” mereka hanya kalah di sounding, dan juga kadang ada yang miskomunikasi dan juga masalah dana, karena mereka pure dari kampus. “Awalnya tugas kuliah tapi seru dan bentuk keseriusan kami, dan awalnya juga teman kami melakukan cuman 1 hari dan kami niatnya berkelanjutan, dan ini loh budaya kita.” Tutur Sinta selaku koordinator kegiatan festival payung Juwiring

Jenis jenis payung Juwiring yaitu Payung jenazah hijau transparan, payung Tari, payung dekorasi, payung pengantin, dengan ukuran diameter  30 cm, 35 cm, 50 cm , 70 cm, payung ini memang pure dari masyarakat, kelompok Ngudi Rahayu, yaitu kelompok masyarakat yang tetap mempertahankan keberadaan payung tersebut dan pengrajinnya pun sudah cukup tua 80’an tahun keatas.

Ngadi Yakur (48 tahun) adalah pendiri usaha payung lukis Ngudi Rahayu, Ngadi mengawali membuat payung pada tahun 1999. Hal ini diawali dari pengalaman Ngadi menjadi pengrajin payung. Simbah (kakek, nenek), bapak – ibu (orang tua) juga pengrajin payung di Desa Juwiring. Payung ini kemudian dinamai payung tradisional, hal ini dikarenakan ada produk payung pabrikan yang diproduksi secara massal.

Nama payung Lukis Ngudi Rahayu memilki arti unik. Payung lukis ini unik karena jenis payung unggulan ada pada produk lukisnya, sedangkan Ngudi berasal dari anam Ngadi (dalam bahasa jawa artinya mencari ) dan Rahayu ( dalam bahasa jawa artinya selamat) adalah nama istri dari bapak Ngadi, romantiss ya generasi muda.

Payung ini juga pernah dibawa ke Berlin, berawal dari kegiatan pameran dari Indonesia hingga dibawa keluar negeri, pembuatannya itu rumit bahkan untuk memasukan benang sekali hanya dihargai Rp. 500 dan sistem penjualan payung Ngudi Rahayu menggunakan sistem Reseller sehingga merugikan pengrajinnya,

“Seharusnya itu langsung saja kalau mau beli ya langsung beli makanya kemaren kami mau membuatkan instagram media pemasaran, karena sekarang juga banyak media yang bisa digunakan untuk membantu para pengrajin tersebut dalam memasarkan produk mereka, agar tidak ada sistem reseller yang justru membuat mereka tidak untung, untung – untung kalau dibayar misalnya dihutangkan kasian pengrajinnya.” Tutur Saras

Yang melatar belakangi pembuatan payung tersebut adalah ekonomi, dan kegiatan pembuatannya itu bertahap. Tidak semudah yang dipikirkan, dari awal pembuatan sampai akhir tergolong susah, sampai proses finishing yaitu melukisnya pun harus benar – benar teliti karena payung Ngudi Rahayu dibuat dengan Handmade dan ketelitian yang tinggi harusnya kita sebagai anak muda ikut mengapresiasi kerja keras para pengrajin tersebut dengan berbagai hal melalui kegiatan yang mendukung dan membantu menambah nilai seni yang mereka ciptakan seperti kegiatan festival payung ini.

“Banyak Pengunjung datang ke Raminten karena  pemasaran dengan kegiatannya festival tersebut, adapun prinsip awal kami dalam membuat kegiatan ini adalah untuk menaikkan posisi pengrajin setelah itu baru mengenalkan nama Juwiring itu sendiri bahwa sebagai pegarajin besar payung agar para pemuda sendiri biar lebih tahu, dan eventnya pun dibikin kekinian agar para remaja tertarik datang walaupun hanya sekedar foto – foto dan bertanya – Tanya. Payung pinjem pak Ngadi Yakur, dan tempatnya festivalnya Free dan kami juga tidak mengeluarkan uang,” jelas Saras.

Ngudi Rahayu juga menyedikan jasa pembelajaran pembuatan payung bagi masyarakat yang tertarik misalnya anak – anak ataupun remaja yang tertarik dengan cara pembuatannya yang perlu kesabaran dan ketelitian yang tinggi.

Festival Payung Lukis Tradisional Juwiring ini selain memamerkan hasil karya pengrajin payung di Juwiring Klaten, juga terdapat photo story yang memamerkan foto-foto aktivitas pembuatan payung tradisional.

“Dengan Visi kami yakni mengenalkan payung juwiring ke dunia Internasional, dengan cara mengenalkan dulu ke Indonesia, dan kalau memang mau go internasional sendiri pun juga mudah soalnya sudah dikenal oleh masyarakat kita sendiri dan kembali juga kediri kita kalau kita kepengin maju ya kita juga harus mengenal nilainya sendiri.” Tutur Sorgum Consultant

Meskipun mereka dari jurusan komunikasi tidak ada sejalan sama sekali sama dengan seni tapi tugas mereka memaknai komunikasi disini adalah yang terpenting dapat mengarahkan nilai suatu barang, prosesnya dan ketika orang suka sama seseorang harus mengetahui prosesnya ini, produk yang bagus prosesnya sulit namun harganya murah itulah yang terajadi saat ini dengan para pengrajin payung Ngudi Rahayu.

Harapan dari adanya event ini adalah lebih ke arah anak muda agar lebih peduli dan membantu mempertahankan kesenian payung indah ini jangan sampai dilupakan ataupun di hiraukan tanpa apresiasi sama sekali, ini payung kebanggan kita, milik kita dan juga identitas keseniaan kita yang harus dijaga.

Penulis: Rubainah

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan