Dongeng Cinta Pantai Utara  

Gelar Karya Malam Puncak DIES Natalis ke-55 PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menjadi ruang kolektif untuk belajar bagi seniman-seniman muda.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Teater INGSUN kembali menjadi fasilitator bagi mahasiwa-mahasiswi untuk belajar dan menuangkan kreativitasnya di seni pertunjukan yakni pada sebuah pementasan drama musikal  “Dongen Cinta Pantai Utara” dalam rangka Gelar Karya Malam Puncak DIES Natalis ke-55 Program Studi Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. “Dongen Cinta Pantai Utara” diadaptasi dari sebuah novel Roro Mendut karya Y.B Mangunwijaya. Drama musikal ini menceritakan seorang gadis nelayan, Roro Mendut yang memiliki kekasih bernama Pranacitra. Dan akan di pentaskan pada hari ini tanggal 7 November 2017 di Auditorium Driyarkara, Sanata Dharma Yogyakarta.

Penyelengaraan pementasan drama musikal sebagai puncak dari peringatan DIES Natalis PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pertama kali diselenggarakan pada tahun 2017, tepatnya diperingatan DIES Natalis yang ke-54 dan masih bernama “Malam Puncak”. Angsoka menjadi judul pertama yang dipentaskan, diadaptasi dari kisah Ramayana, dari novel anak Bajang Menggiring Angin karya G.P Sindunita dan disutadarai Johanes Baptis Judha Jiwangga. Pada pementasan pertama sukses terbangun relasi dengan mahasiswa-mahasiswi lintas angkatan PBSI, lintas prodi, dan lintas Universitas.

Di tahun 2018 ini penambahan nama menjadi “Gelar Karya Malam Puncak DIES Natalis ke 55 PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta”. Penambahan kata “Gelar Karya” agar menjadi sebuah seri dari tahun ke tahun berikutnya untuk diselenggarakan. Gelar Karya tak lepas dari serangkaian acara yang berhubungan dengan bahasa dan sastra secara beriringan, dan di malam puncak mempunyai plot sendiri yaitu sebuah pertunjukkan drama musikal.

Tujuan dari digelarnya malam puncak pada tahun ini dan pada tahun sebelumnya adalah mengenalkan kembali cerita-cerita Nusantara yang mungkin pada hari ini sudah banyak dilupakan atau bahkan tidak tahu bahwasanya bangsa kita mempunyai banyak legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok.

Pada bulan Juni Prodi Prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada Teater INGSUN sebagai fasilitator untuk menyelenggarakan “Gelar Karya Malam Puncak”. Kebebasan ini berupa menentukan naskah dan kebebasan dalam menentukan pertunjukan. Johanes Baptis Judha Jiwangga terpilih menjadi Sutradara dan Kristina Karismawati terpilih sebagai Pimpinan Produksi. Pada perjalanan tim tiap divisi yang sudah terbentuk lengkap hanya melakukan 3 kali pleno lalu tiap divisi melakukan rapat rutin untuk mengetahui progres antar divisi dan mengatasi hambatan yang ada.

Pada bulan Agustus sudah diadakan casting untuk setiap peran yang ada pada naskah. Pada tanggal 20 dimulailah pengenalan pada seluruh pemain, latihan pemanasan, bedah naskah. Sebanyak 10 orang dari beberapa divisi di karentina selama tiga hari di daerah Kulon Progo di salah satu rumah anggota dari tim produksi. Selama di karentina kesepuluh orang tersebut sama sekali tidak dibolehkan menyentuh smartphone. Lalu  terciptalah 15 aransemen lagu murni yang akan dibawakan sesuai dengan naskah yang akan dipentaskan. Selama di karentina ini juga proses pembuatan video klip untuk soundtrek “Dongeng Cinta Pantai Utara” dilakukan oleh tim dari divisi video klip dan musik bersatu membuat konsep. Terpilihlah lagu yang berjudul “Bersama”.

Teater INGSUN merupakan Unit Kegiatan Prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Teater ini didirikan pada tanggal 14 September 2014. Teater INGSUN memiliki motto yang menjadi nilai dasar dalam setiap proses dinamika untuk mengembangkan tiap individu yang ada di dalamnya baik secara personal maupun komunal. Motto tersebut tertulis “Biarkan aku menjadi aku, bagi diriku, sesama dan dunia”. Dalam proses keseniannya teater INGSUN sering menggandeng beberapa kolega baik dari kalangan SMA, teater kampus, lain dan komunitas-komunitas kesenian lainnya sehingga membangun relasi yang dapat memberikan warna positif bagi masyarakat.

Pimpinan Produksi Kristina Karismawati mengungkapkan selain dari dari mahasiswa-mahasiswi PBSI, Teknik Elektro, Sikologi, PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mahasiswa-mahasiswi dari kampus MMTC, UNY, ISI, dan Atma Jaya, dan UGM ikut bersinergi dalam “Gelar Karya Malam Puncak DIES Natalis ke-55 PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,”.

“Kita melihat di lingkungan Sanata Dharma Yogyakarta belum ada yang membuat acara drama musikal dengan benar-benar, dengan serius dengan pertunjukan orkestra yang live belum ada, jadi kita ingin memberikan sesuatu yang baru dilingkungan Sanata Dharma. Kalau diluar memang mungkin banyaklah ya apalagi di TBY sering, tapi kalau di Sanata Dharma untuk yang emang drama musikal pure drama musikal sangat jarang, paling bisa diitung jari paling dua lah” jelas Kristina Karismawati ihwal drama musikal yang di pilih.

Kristina Karismawati yang juga bagian dari teater INGSUN sudah sering berproses didalam dunia seni pertunjukan baik sebagai aktris, menajer, line produser, casting director dan lighting untuk film pendek mengatakan, tantangan drama musikal lebih berat, karena aktor dan aktris harus berbicara dan  pada saat yang sama juga harus bernyanyi secara langsung.

“Tantangan dari diri pemainnya sendiri bakal lebih menantang, terus tiap prosesnya juga lebih menantang,” kata Kristina Karismawati yang sering disapa Emma.

Pertalian antara serangkaian kegiatan yang ada pada DIES Natalis ke-55 PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berhubungan dengan bahasa, sastra, dan di malam puncak dengan naskah Roro Mendut untuk memperlihatkan kembali sastra Indonesia di kalangan anak muda generasi milenial.

Diantara Tradisi Dan Kekinian

“Entah ada atau gak ada, itu sejarahnya juga ada, tapi sering dikisahkan sebagai cerita rakyat dari mulut ke mulut makanya saya memilih istilah dongeng, dan kenapa cinta dua pandangan ini diidentikkan dengan proses kesetiaan, keabadian cinta dan paling jelas bagaimana orang itu harus memperjuangkan kemerdekaan cintanya dan pantai utara dimana seluruh cikal bakal dimulai sebagai kelahiran Mendut, maka saya memilih “Dongeng Cinta Pantai Utara”” jelas Johanes Baptis Judha Jiwangga Sutradara.

Pemilihan judul “Dongeng Cinta Pantai Utara” diharapkan lebih dekat dengan kawula muda generasi milenial. Itensi pembuatan drama musikal dengan basic cerita-cerita rakyat diakui oleh Johanes Baptis Judha Jiwangga hanya ingin mengakrabkan lagi ke anak muda hari ini bahwa Indonesia mempunyai cerita yang mungkin lebih romantis dari pada cerita-cerita cinta hari ini, cerita-cerita rakyat yang memiliki nilai-nilai kebangsaan lebih ada.

Bagi Johanes Baptis Judha Jiwangga yang akrab di sapa Jeje cerita-cerita rakyat lebih ada nilai dari pada kita-kisah yang pada hari ini kelihatan bagus tapi receh tidak ada nilainya. Itulah itensi yang ingin dibawa oleh Jeje sebagai penulis naskah sekaligus sutradara supaya bisa memberikan sesuatu yang berkualitas tetapi tetap memiliki sebuah esensi bagi masyarakat.

Selama tiga bulan Jeje melakukan riset dari bahan utama sebuah Trilogi karya Romo Mangun Wijaya yang berjudul Roro Mendut, dilanjutkan Genduk Duku, dan diakhiri dengan Lusi Lindri. Untuk menambah data Jeje juga memakai tulisan Ayu Prosidi, Kisah Roro Mendut Di Tanah Babat Jawa, juga beberapa tulisan-tulisan skripsi dan tesis yang dikumpulkan, juga beberapa literatur history tentang Roro Mendut baik yang ada di Kraton maupun dibuku sejarah dan tidak ketinggalan dari sebuah film Roro Mendut tahun 80-an yang juga diangkat dari novel Romo Mangun. Proses pembacaan yang dilakukan Jeje selama 3 bulan dari Januari sampai Maret lalu membuat storyline. Bulan April penulisan lirik selesai dan finishing dialog di bulan mei.

Poin yang ingin diambil oleh Jeje dari Trilogi Roro Mendut karya Romo Mangun tentang seorang manusia bisa memperjuangkan seluruh prinsip, kebahagiaannya dan mengupayakan seluruh daya hidupnya untuk memperjuangkan apa yang menurut dia itu bahagia.

“Karena menurut saya hari ini banyak sekali orang tidak tahu konsep kebahagiaan dirinya, berbicara dirinya saja tidak bisa apalagi mau berbicara tentang kebahagian dirinya, karena masih banyak ilusi-ilusi yang kita tahulah banyak iklan, banyak sterotipe- sterotipe kebudayaan yang akhirnya membentuk manusia hari ini untuk tidak sadar dengan dirinya, maka saya membawa kisah ini sebagai cermin,” kata Jeje.

Jeje yang sudah malang melintang di dunia pertunjukan bersama teater INGSUN mengalama tantangan dimana harus berpijak diantara tradisi dan kekinian dan mengambil jalan tengah menyebutnya sebagai seni kreasi. “Saya membawa lebih ke gaya pemanggungan broadway, musikal broadway dengan musik-musik jazz, blues dengan konten-konten yang berbau tradisi jawa supaya dekat dengan anak muda,” ungkap Jeje.

Sebagai sebuah karya eksperimen ada beberapa yang mencibir tetapi juga ada yang mengapresiasi karena apa yang dilakukan Jeje bersama seluruh tim yang terlibat dalam “Dongeng Cinta Pantai Utara” adalah sebuah keberanian bisa membuat sebuah cerita rakyat yang kuno menjadi lebih enak dibaca dan disaksiakan dalam sebuah drama musikal.

Tantangan yang dihadapi oleh Jeje Sebagai sutradara untuk pementasan “Dongeng Cinta Pantai Utara” adalah kebanyakan pemain yang bermain memulai dari nol, bukan orang-orang yang mahir dalam arti memiliki jam tinggi dalam sebuah pementasan teater, dan “Dongeng Cinta Pantai Utara” juga sebuah pertunjukan klosal yang di atas panggung akan diisi oleh 30 orang lebih. Menjadi tantangan dan kendala tersendiri unruk mengkoordinir orang sabanyak itu diatas panggung. Di tambah dengan pemusik yang berjumlah 50 orang dan crew lain yang berjumlah 50 orang. 130 lebih orang yang akan dikoordinir oleh Jeje dalam pertunjukan.

“Bagaimana cerita yang punya sterotipe besar di masyarakat dibuat sedemikian rupa yang mendekati kekinian dan harus memasarkan itu pada masyarakat hari ini, apalagi aktor-aktor dan aktrisnya masih banyak yang belajar, dan ini kelompok kolektif dari beberapa kampus bahkan ada beberapa SMA ikut gabung jadi lebih ke kolektif untuk mengumpulkan jadi satu visi,” terang Jeje.

Lirik yang diciptakan Jeje untuk drama musikal “Dongeng Cinta Pantai Utara” akan terdengar puitik tapi menyembunyikan sesuatu. Untuk musik isntrumen konsep full orkes barat minus timpani. Untuk gaya musik yang akan dibawakan musikal broadway genre Punk Jazz, Sweet Jazz, Pop Jazz dan Blues.

“Semua orang sebenarnya punya potensi untuk berkesenian, karena saya ingin menunjukkan aktor hebat itu tidak datang dengan instan tapi aktor hebat, kreator hebat, seniman hebat itu datang dari proses dan contohnya adalah anak-anak yang mereka tidak tahu dan tidak belajar kesenian intens tapi mereka punya niat mau belajar mereka bisa berkesenian, dan yang kedua dengan kisah ini saya ingin bercerita ke semua orang yang melihat dan seluruh orang yang berproses bahwa yang tahu kebahagiaanmu itu dirimu sendiri maka perjuangkanlah itu dengan daya hidupmu untuk kebahagiaanmu sendiri dengan contoh Roro Mendut,” pesan Jeje sebagai sutradara yang ingin dia sampaikan pada pementasan “Dongeng Cinta Pantai Utara”.

Makna pribadi bagi Jeje ialah “Dongeng Cinta Pantai Utara” menjadi pembelajaran karena belajar tidak akan ada habisnya. Kegelisahan yang dirasakan Jeje karena tidak ada ruang yang begitu terbuka untuk seniman-seniman muda terutama seniman-seniman muda terutama di kampus-kampus non seni maka Gelar Karya Malam Puncak DIES Natalis ke-55 PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bisa menjadi ruang kolektif bagi teman-teman seniman muda untuk merintis bersama karya keseniannya.

“Harus beradaptasi dengan zaman den jangan pernah menyerah dengan tantangan bahwa kita kalah dengan industri seni yang ada, gak! Kita bisa merintis pasar itu bisa kita ciptakan dan kita bangun,” psean Johanes Baptis Judha Jiwangga kepada para pegiat teater muda.

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

 

Tinggalkan Balasan