Yulia Dwi Kustari dan Muftihah Rahmawati: Kartini Muda Yang Berprestasi

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan itu dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.” R.A Kartini.

Pagi menyinari sawah dan pepohonan di pinggir jalan yang asri, udara pagi masih sangat segar untuk dihirup kedua paru-paru. Desa Sidomulyo, Bambang Lipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta para siswa-siswi bersepeda menuju Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bambanglipuro untuk menggali ilmu. Senyum riang mereka memasuki kelas, bersemangat menyambut guru di dalam sebuah kelas.

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta berdiri pada tahun 1979. Sederet prestasi telah terukir baik akademik maupun non akademik sejak berdirinya. Bebebrapa prestasi berasal dari kartini-kartini muda yang memang diharapkan sejak dulu oleh Raden Ajeng Kartini untuk dapat merasakan pendidikan yang sama rata dengan kaum laki-laki.

Pada tahun 2016 silam, Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bambanglipuro, Bantul meraih medali emas pada Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) bidang Ilmu Teknologi dan Rekayasa yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Emas diraih oleh Yulia Dwi Kustari dan Muftihah Rahmawati yang masih duduk di kursi kelas 8, melalui inovasi teknologi yang mereka beri nama Kacamata Abaca.

Pada tanggal 26 September 2016 perlombaan Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) / LPIR SMP tingkat Nasional resmi dibuka di ballroom Horisonton Jakarta oleh Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Dikdasmen Kemdikbud Dr. Supriano, M.Ed. Dalam sambutannya beliau menyatakan agar siswa-siswi yang berprestasi dapat mengikuti lomba penelitian ke tingkat Internasional maka dari itu pada tahun 2016 silam LPIR resmi di ubah namanya menjadi LPSN (Lomba Penelitian Siswa Nasional).

Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) salah satu upaya bagi untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia terutama memotivasi siswa-siswi, guru dan sekolah agar berperan aktif dalam mengikuti setiap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan kesadaran siswa SMP secara dini terhadap peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan, menumbuhkembangakan suasana kompetitif yang sehat di bidang penelitian dan mengembangkan iklim akademis untuk meningkatkan kreativitas siswa. Selama 3 hari (26-27 September) diselenggarakan. Dibagi menjadi 3 bidang perlombaan, IPS, IPA, dan Teknologi. Setiap peserta harus melewati tahap penilaian meliputi presentasi karya dan melakukan praktek untuk bidang teknologi. 102 kelompok yang mengikuti, terdiri dari Bidang Teknologi 34 kelompok, Bidang IPA 34 kelompok, dan sisanya Bidang IPS. Para peserta akan  bersaing memperebutkan 5 medali Emas, 7 perak, dan 9 Perunggu.

Yulia Dwi Kustari dan Muftihah Rahmawati yang mewakili Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta berhasil meraih emas dan membuat harum kota pelajar. melalui inovasi teknelogi yang mereka beri nama Kacamata Abaca.

 

Kacamata Abaca Inovasi Bermanfaat Membuahkan Prestasi

Gangguan pada mata semakin marak terjadi pada kalangan masyarakat, terutama pada anak-anak. Keluhan gangguan mata ini sangat bervariasi, dari gatal-gatal pada mata, pengelihatan kabur, hingga mata yang sering lelah dan terasa sakit. Gangguan pada mata sering menjadi pemicu gangguan mata lainnya.

Menurut buku Terapi Mata yang di keluarkan oleh AVI (American Vision Instute) “Problem pengelihatan mata yang paling umum bukan karena faktor keturunan, namun yang menjadi penyebabnya adalah developmental visual problem yang biasanya membentuk diri menjadi gerakan mata yang buruk, kesulitan korvergen, ketiadaan persepsi kedalaman, dan mata malas dan juling” (2001:39). Gangguan penglihatan mata sangat bergantung pada cara perlakuan terhadap alat indra itu sendiri. Perlakuan yang tidak baik menjadi kebiasaan yang buruk dan menjadi faktor pendorong gangguan mata yang mengakibatkan kerusakan mata. Pada dasarnya, banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan mata, terutama gangguan minus atau silinder.

Faktor genetika tidak menjadi penyebab terjadinya gangguan pengelihatan, namuan gangguan penglihatan disebabkan oleh developmental visual problem yang ada keterkaitannya dengan kebiasaan tidak baik yang sering dilakukan sehingga berpengaruh terhadap indera pengelihatan. Kebiasaan tidak baik yang menjadi salah satu penyebab yang dominan dari masalah gangguan mata adalah proses membaca yang tidak ideal, penerangan cahaya yang kurang, jarak membaca yang terlalu dekat (<30–25cm), dan posisi tubuh yang tidak sesuai. 54 % anak-anak usia sekolah tidak menerapkan kondisi dan posisi membaca yang baik.

Lahirlah sebuah inovasi untuk memberikan solusi dari masalah gangguan mata, yaitu kacamata Abaca yang merupakan integrasi dari rangkaian elektronika dan kacamata. Kacamata Abaca, sebuah teknologi yang dapat membantu anda bersikap dengan ideal pada anggota tubuh ketika akan membaca sehingga membuat anda terhindar dari gangguan dan kerusakan mata.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari penggunaan kacamata Abaca, seperti menarik minat masyarakat untuk kembali senang membaca karena minat membaca kita sudah sangat memprihatinkan. Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara menurut Studi Most Littered Nation In The World 2016 terkait minat baca.

Meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari kondisi dan posisi mambaca yang kurang tepat. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang membaca dengan posisi tubuh asal-asalan (asal nyaman) seperti tiduran/berbaring, tengkurep, membungkuk, dan membaca di ruang gelap.

Meminimalisir penggunaan kacamata minus atau silinder dan meminimalisir miopia. Kita sudah diberi mata dengan penglihatan yang sehat dan normal, lalu kenapa kita harus merusak dan memberikan gangguan pada mata dengan posisi tidak deal ketika membaca?

Lebih membuat nyaman seseorang dalam membaca dengan tetap memperhatikan dan menerapkan kondisi dan posisi membaca yang ideal nan anggun. Paulo Coelho pernah berkata-kata dalam tulisannya “Sikap anggun biasanya disalahartikan sebagai “dangkal” dan sok gaya. Ini salah besar. Orang harus anggun dalam tindak-tanduk dan postur mereka, sebab kata itu sinonim dengan cita rasa yang bagus, keluwesan, keseimbangan dan keselarasan”. Ketika tubuh telah bersikap ideal nan anggun maka kita akan mendapatkan citra rasa yang bagus, keluwesan luar dalam menjalani hari pada hidup kita, seimbang seperti adanya malam dan siang, dan keselaran hidup akan kita dapatkan.

Kacamata Abaca menggunakan cara kerja otomatis dengan menggunakan berbagai sensor (sensor cahaya LDR, gyroscope, dan sensor ultrasonik). Membaca dengan jarak dekat dapat diatasi dengan penerapan sensor ultrasonik pada kacamata yang diprogram dengan arduino dan akan menghasilkan keluaran berupa suara dari buzzer. Gangguan mata yang disebabkan oleh penerangan yang kurang saat membaca dapat diminimalisir dengan menerapkan sensor cahaya LDR yang akan bekerja secara otomatis untuk menghidupkan LED yang diprogram dengan arduino dan secara otomatis akan menerapkan kondisi membaca dengan penerangan yang baik. Posisi membaca lainnya yang perlu ditingkalkan adalah posisi tubuh yang salah dalam membaca. Posisi tubuh yang salah dalam membaca dapat teratasi dengan gyroscope yang terprogram oleh arduino dan menghasilkan keluaran berupa bunyi oleh buzzer. Suara dari buzzer tersebut adalah alarm yang memberikan peringatan bahwa posisi membaca kita tidak ideal.

Ada 1 implementasi langsung (cahaya/penerangan) dan 3 peringatan yang ada pada kacamata Abaca. Ketika kita memakai kacamata ini di dalam sebuah ruangan dengan penerangan yang kurang, sensor cahaya (LDR) akan bekerja secara otomatis untuk menghidupkan LED yang sudah terprogram oleh mitrokontroler sederhana (arduino) dan memberikan penerangan untuk kita membaca, jika cahaya cukup terang, LED pun akan padam dengan sendirinya. Saat membaca dengan jarak yang terlalu dekat (<30–25 cm) sensor ultrasonik akan mengeluarkan gelombang kedepan dan jika buku terlalu dekat akan memantul dan diterima kembali oleh sensor ultrasonik lalu buzzer akan berbunyi (tetttttt) dengan rentang bunyi yang panjang. Gyroscope yang sudah diprogram oleh arduino untuk mengatur kemiringan, posisi dan sikap tubuh pada saat membaca seharusnya adalah duduk dengan lurus, posisi tubuh tidak lurus (membungkuk, tiduran/baringan), gyroscope  yang terprogram oleh arduino akan menghasilkan keluaran berupa bunyi patah-patah (tet-tet-tet) oleh buzzer. Kalau sikap tubuh seperti membungkuk, tiduran/berbaring dan dengan jarak kurang dari <30–25 cm buzzer akan berbunyi seperti sirine pada ambulan (tettt-net

Gambar  1 Sensor Ultrasonik

Gambar  2 Sensor Cahaya (LDR)

Gambar  3 Sensor Gyroscope

Gambar  4 Arduino Nano

Gambar  5 Buzzer

 

Yulia Dwi Kustari dan Muftihah Rahmawati mawati

Gambar : Yulia Dwi Kustari (kanan) dan Muftihah Rahmawati (kiri)

Berawal dari keprihatinan melihat teman-teman dan tetangganya yang ketika membaca dengan posisi yang tidak benar dan tidak baik untuk kesehatan seperti membaca terlalu dekat atau kurang dari <30–25cm, membungkuk, sambil tiduran/baringan bahkan membaca di tempat gelap, Yulia Dwi Kustari menemukan ide untuk memberikan sebuah solusi dari permasalahan sikap tubuh ketika membaca yakni kacamata Abaca yang merupakan integrasi dari rangkaian elektronika dan kacamata.

“Waktu tadarus di masjid pas bulan puasa tahun kemaren, tetangga sama kerabat saya, dia tu pas baca Al Quran udah matanya minus tapi deket banget, bungkuk dan saya sendiri pun sering kayak begitu. Matanya pun sering lelah sama gatel. Pas tak ceritain ke kakak saya, katanya itu bukan sikap baca yang baik dan bisa mengganggu dan merusak kesehatan mata,” ungkap Yulia Dwi Kustari yang mempunyai nama panggilan Yulia.

Hasil dari keprihatinan yang Yulia lihat akhirnya memberikan sebuah ide dan solusi pada permasalahan sikap membaca. Dari ide tersebut dia mengembangkan lebih jauh lagi agar orang tidak merasakan dampak yang tidak baik dari sikap tubuh yang salah sewaktu membaca dan terhindar dari gangguan dan kerusakan mata.

Pujuk dicinta ulam pun tiba. Kakak Yulia yang lulusan dari Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Elektro memberikan respon positif dan ikut memberikan bimbingan untuk merealisasikan ide tersebut. Setelah pulang dari sekolah mulailah Yulia mengumpulkan segala informasi yang berhubungan dengan idenya. Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, Yulia mulai mengumpulkan alat-alat yang yang diperlukan untuk merangkai. Peralatan elektronik yang dibeli terdiri dari, Sensor Ultrasonik, Sensor Cahaya (LDR), Sensor Gyroscope, Arduino Nano, dan Buzzer. Sisanya beberapa alat yang berasal dari barang yang sudah tidak terpakai. Biaya yang dikeluarkan secara keselurahan untuk merangkai Kacamata Abaca kurang dari Rp 300.000.

Dalam merangkai komponen-komponen tersebut Yulia terus diawasi dan dibimbing oleh sang kakak tapi pengerjaannya tetap dilakukan oleh Yulia. Selama 3 bulan dimulai dari bulan Juli kacamata Abaca terangkai.

Pemasangan Arduino Pada Breadboard
Memasukkan Program arduino
Pemrograman Sensor
Pemasangan Komponen Dengan Menyoldir
Pemotongan Kabel
Pengemasan Komponen Pada Box
Pemasangan Baterai
Penutupan Box
Pemasangan Rangkaian Komponen Pada Kacamata
Testing Kacamata

Setelah kacamata Abaca terangkai Yulia dan Muftihah seorang partner yang mambantunya dalam mencari dan mendata responden untuk melakukan pembuktian produk kacamata Abaca dan dilakukan dengan percobaan. Adapun percobaan yang dilakukan terhadap 19 siswa dari SD N Tulasan dan 6 siswa usia SMP.

 

Uji Responden Pra Eksperimen (SD)
Uji Responden Pra Eksperimen (SMP)
Uji Coba  Kacamata (SD)
Uji Coba Kacamata (SMP)
Responden Pasca Eksperimen (SD)
Uji Responden Pasca Eksperimen (SMP)

Muftihah yang mempunyai keahlian di bidang desain menyiapkan pamflet dan banner ketika tahu bawa kacamata akan diikutsertakan pada Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat Nasional. Materi prensentasi untuk lomba mereka berdua siapkan dengan sepenuh hati. Perjuangan Yulia dan Muftihah dari mulai merealisasikan idenya tentang kacamata Abaca sampai menyusun karya tulis ilmiah dan mengirimkannya ke Jakarta tidaklah mudah. Ada beberapa proses yang harus dilewati seperti seleksi dari provinsi.

“Pertamanya tu sebenarnya kita udah buat makalah tapi belum benar-benar jadi, masih setengah mateng gitu dan kita baru dapat bimbingannya sedikit. Ngirim makalah ada seleksinya dulu dari provinsi karena dari kabupaten udah lewat, dari provinsi ada pelatihan di hotel university itu programnya, disitu disaring mana yang lolos mana yang enggak dan yang lolos itu bisa ngirim dan ternyata pengirimannya itu ndak dibatasin setiap daerah berapa, kita tambah semangat karena lawan-lawan yang lain tambah banyak. Terus kita buat lagi makalahnya pas deadlinenya banget, senin udah hari terakhir pengumpulan. Sabtu baru selesai semuanya dan itu belum dijilid, terus buru-buru ke nyari fotocopyan dihari sabtu. Pengiriman makalahnya mepet banget dan rasanya lega banget pas dikirim,” jelas Yulia.

Nama mereka berdua telah tertulis sebagai peraih medali emas Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) Bidang Teknologi tahun 2016. “kayak mimpi sih sebenarnya, dari pas pengerjaan makalah sampai gak tidur malam, sampai nangis dan frustasi karena itu pertama kali buat makalah,” terang Yulia.

Kacamata Abaca adalah sebuah Inovasi yang sangat bermanfaat bagi dunia membaca, tidak hanya itu Abaca bisa menjaga kesehatan mata, memalui sikap tubuh kita ketika sedang membaca buku. Sebelum mengikuti Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat Nasional kacamata Abaca sudah mengejutkan banyak pihak dan diliput oleh TVRI Yogyakarta dan beberapa media nasional.

Yulia Dwi Kustari lahir pada tanggal 1 Juli 2002, Bantul bercita-cita menjadi seorang guru dan penulis. Sedangkan Muftihah Rahmawati lahir pada tanggal 11 uni 2003, Bantul, mempunyai cita-cita menjadi dosen. Kedua-duanya mempunyai cita-cita yang begitu mulia yaitu ingin menjadi seorang pendidik di masa depan. Mendidik para generasi penerus sekaligus penopang bangsa adalah sesuatu yang mulia, karena pada pada generasi peneruslah bangsa ini bisa hidup dan berbicara, baik dengan prestasi melalui inovasi yang bermanfaat bagi sesama. Sejalan dengan apa yang pernah dituliskan R.A Kartini tuliskan “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan itu dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.” R.A Kartini.

Melalui inovasi yang memberikan solusi untuk menjaga kesehatan mata mereka berdua membuahkan prestasi, mendapatkan medali emas dari Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat Nasional di usia yang masih sangat muda. Mereka berdua adalah salah satu dari beberapa Kartini muda yang membuahkan prestasi melalui sebuah inovasi teknologi. “Sebenarnya tujuan hidup saya sangat bermanfaat bagi orang lain dan dengan kacamata Abaca ini semoga bisa dikembangkan lagi entah oleh saya atau orang lain yang penting bisa bermanfaat untuk hidup orang banyak. Jadilah orang yang berguna bagi orang lain dan jangan pernah takut mencoba sesuatu yang baru dalam mengembangkan dan meningkatkan diri biar bisa berprestasi dan teruslah berusaha jangan pernah berhenti; man jadda wa jadda.” Yulia Dwi Kustari dan Muftihah Rahmawati.

 

Tinggalkan Balasan