The Uncensored of BUNG KARNO

MATAMEDIA-RI.com

Sebelum mendekati bulan Juli aku sudah berputar-putar keliling Jogja untuk mencari buku Di Bawah Bendera Revolusi; buah pikir pikiran dan perasaan bung Karno baik sebelum Indonesia mardeka maupun setelah Indonesia mardeka. Harga bukunya sangat mahal untuk ukuran kantong mahasiswa-mahasiswi yakni Rp 600.000. tapi aku tak keberatan karena setelah kulkulasi tabunganku cukup untuk membelinya dan cukup untuk beberapa anggaran kegiatan organisasi dalam cakupan skala kecil. Setelah berkeliling kesana-kemari belum juga ketemu titik temu di toko buku mana yang masih ada. Aku pulang dengan tangan hampa tetapi tetap hasrat untuk merubahkan buku Bung Karno tetap terjaga.

Tiga hari menjelang puasa aku kembali bergerak kesana-kemari ­untuk mencari buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Sebulan lebih telah berlalu waktu pertama mencari, pikirku waktu itu siapa tau di toko-toko buku sudah kembali terisi di rak-rak bersanding dengan buku-buku tentang Bung Karno yang lain. Setelah 3 toko buku tidak ada, di toko ke-4 akhirnya setitik titik temu akhirnya menyapaku. Setelah di cek di CS Gramedia buku “Di Bawah Bendera Revolusi” hanya menyisakan 2 lagi dan berada di Malioboro Mall.

Hari pertama puasa aku bergerak menuju kesana untuk membeli buku idamanku itu. Bukan tanpa sebab kenapa aku ingin membeli buku tersebut, iklim politik di Indonesia semakin membuat takut dan menggelikan mendekati konstelasi politik 2019. Politik identitas dimainkan. Agama digunakan sebagai kendaraan untuk menyerang, lalu dijadikan kendaraan duniawi untuk mengantar seseorang yang tidak bertanggung jawab menuju posisi tertinggi.  Realitas sekarang para elite politik semakin tercela menggunakan segala cara tanpa mempedulikan keutuhan akan berbangsa dan bernegara.

Sebagai seorang yang tidak mempunyai gairah untuk membaca buku-buku teori politik namun melihat keadaan yang semakin menakutkan maka akhirnya terpilihlah buku Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi” untuk di beli. Buku itu sangat penting untuk dirumahkan dan dipatrikan di dalam alam pikiran dan nurani. Karena Democracy semakin Crazy. Para politkus mempertontonkan sikap yang sangat tidak elegan sebagai aktor politik dalam berbangsa dan bernegara. Aktor politik zaman now terlihat seperti pemain sinetron. Bung Karno sebagai founding father bangsa Indonesia yang sangat paham akan bangsa dan negaranya untuk suatu masa depan yang gemilang cemerlang tentu buah pikir dan perasaan beliau yang tertuang dalam “Di Bawah Bendera Revolusi” masih sangat relevan sebagai sebuah bacaan yang sangat patut dibaca. Apalagi Bung Karno telah banyak membidani landasan-landasan bangsa dan negara Republik indonesia.

Sesampai di Malioboro Mall aku langsung menuju Custumers Service Gramedia, “saya cari buku “Di Bawah Bendera Revolusi” apakah masih ada mba?” tanyaku langsung. Seminit tak sampai salah karyawan membewa buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Setelah meminta izin untuk memeriksa keadaan fisik buku seharga Rp 600.000 itu aku menemukan di jilidan hardcover dan halaman pertama buku tersebut sudah ada yang sobek. Aku kembali bertanya “ini sudah ada sobekan mba, apkah ada yang lain?”. Dengan ramah mbanya menjawab “kemarren tinggal dua lagi mas, tapi sudah laku satu tinggal satu lagi yang mas periksa itu,”.

Bagi seorang yang mempunyai gairah pada buku-buku berkualitas menemukan buku yang berkualitas dengan kondisi yang bagus adalah sebuah kepuasan dan kebahagian tersendiri. Hari itu pas hari pertama puasa dengan ingin melewati bulan puasa 2018 dengan buah pikiran dan perassan Bung Karno tidak jadi di beli. Aku memutuskan untuk menunggu sampai buku “Di Bawah Bendera Revolusi” kembali terisi di rak-rak buku.

Dalam perjalanan pulang aku berpikir kok bisa buku yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa dan negara Indonesia dihargai dengan sangat mahal. Padahal tidak semua mahasiswa-mahasiwi yang ada di seluruh Indonesia berkantong tebal. Bagiku yang memang menyisihkan uang untuk membeli buku jika ada buku dari sastrawan favorit yang diterbitkan dan beberapa untuk ditabung sebagai bahan bakar untuk menggerakkan roda organisasi. Aku harus berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk membeli. Mungkin para penyelenggara negara menganggap Bung Karno hanya sebuah sejarah yang telah berlalu. Buah pikiran dan perasaan Bung Karno baik sewaktu masih memperjuangkan kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan dianggap tidak penting dan tidak bermanfaat untuk diketahui oeh generasi penerus bangsa dan negara dari Republik Indonesia sehingga buku “Di Bawah Bendera Revolusi” pun dihargai begitu tinggi. Tidak semua orang bisa membeli buku “Di Bawah Bendera Revolusi” di tengah belum meratanya kesejahteraan rakyat Indonesia. Sepertinya para penyelenggara tidak terlalu peduli tentang literasi untuk para generasi penerus bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buku Karno sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia yang di hormati oleh seluruh pemimpin dunia kala itu, yang juga memberikan kontribusi dan inspirasi bagi dunia ketiga yang masih di jajah oleh Neoklom barat sehingga mampu menjadi seperti Indonesia; sebagai sebuah negara yang merdeka dari penjajahan bangsa asing. Bung Karno sang Nasionalis sejati bangsa sangat penting buah pikiran dan perasaan yang terkandung dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” untuk dibaca oleh para generasi muda, sebagai generasi penerus bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah politik yang sangat-sangat praktis, para politikus-politikus rakus, tidak bertanggung jawab akan kewajiban yang di amanati oleh Undang-Undang  dan sangat tidak mencerminkan sebagai sebuah pejabat yang luhur sebagai penyelenggara negara.

Kasus OTT KPK selalu menjadi headline dari media-media meinstream seolah tak ada jeda bagi para penyelenggara negara untuk melakukan korupsi. Belum lagi aktor-aktor yang berasal dari elite politik yang tercela penuh dosa dengan membuat sebuah skema untuk melakukan serangan kepada para petugas KPK dimulai dengan Antasari Azhar yang dituduh melakukan pembunuhan kepada seorang yang juga teman beliau bahkan teman beliau yang malang nasibnya tersebut tergolong seorang yang bersih, seorang yang tahu bahwasanya korupsi adalah bentuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsanya sendiri. Terakhir penyerangan Novel Baswedan dengan air keras yang sampai sekarang belum ketemu batang hitung siapa otak penyerangan dan yang melakukan penyerangan.

Semakin banyak kebusukan yang terkuak, lagi dan lagi penjara menjadi sebuah tempat tinggal mewah nan sangat nyaman bagi pesakitan-pesakitan pejabat pelaku korupsi, pelaku suap yang berkantong tebal tidak akan pernah merasakan sesuatu yang memicu pikiran bahwasanya tindakan yang membuat mereka dijembloskan kedalam penjara adalah sebuah tindakan tercela penuh dosa bahkan sama dengan melakukan penjajahan bagi bangsanya sendiri.

Begitulah keadaan kita sekarang. Seperti kata Prof Mahfud MD “Malaikat Masuk ke Sistem Indonesia pun Bisa Jadi Iblis”. Apalagi hanya manusia biasa yang kurang baca kemudian baik sengaja atau pun tidak sengaja masuk kedalam sistem lingkaran setan tersebut. Maka dari itu membaca buah pikiran dan perasaan para faounding fathers Republik Indonesia sangat penting. Dari memahami nawacipta yang ada pada bapak-bapak bangsa dan negara ini dapat menjadi sebuah perisai dan tombak untuk membawa bangsa dan negara kita menuju peradapan yang semakin maju kedepan seperti tulisan Bung Karno dalam Pancasila sebagai dasar negara hlm 115 yang berkata-kata: Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial ialah suatu masyarakat yang adil dan makmur, dengan menggunakan alat-alat industri, alat-lalat teknelogi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sitem kapitalisme.

Lalu dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945: Apakah kita mau Indonesia MARDEKA, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?

Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak? Kenapa tidak? Coba pikirkan!

  1. Kekayaan alam kita yang sudah digali dan yang belum digali, adlah melimpah-limpah, dimana kita berjiwa 100 juta manusia.
  2. Rakyat Indonesia sangat rajin, dan memiliki keterampilan yang sangat besar, ini diakui oleh semua orang di luar negeri.
  3. Rakyat memiliki jiwa bergotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan Founds dan Forces.
  4. Ambisi daya cipta Bangsa Indonesia, dibidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi, tentunya juga dibidang ekonomi dan perdagangan.
  5. Tradisi bangsa Indonesia bukan tradisi “tempe”. Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

Kita bangsa besar, bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembeli-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi mardeka, dari pada makan bestik tetapi budak. (Pidato  HUT PROKLAMASI 1963).

Teks pidato diatas saya dapatkan dari sebuah buku yang berjudul The Uncensored of BUNG KARNO yang di bawah judul tersebut bertuliskan Misteri Kehidupan Sang Presiden. Aku akhirnya memutuskan membeli tersebut yang diterbitkan oleh ROEMAH SOEKARNO SEHARGA  Rp. 49.500 dengan diskon 15% di Togomas tepat diawal bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan kita yang dulu diperjuangkan oleh segenap bangsa.

Di dalam buku “The Uncensored of BUNG KARNO” terdapat kisah-kisah yang menarik sebanyak 28 kisah yang dirangkum oleh author Abraham Panumbangan. Dari mulai kisah “Masa Kecil Bung Karno” sampai ke kisah terakhir “Misteri Wafatnya Soekarno” Buku ini tidak terlalu tebal dengan jumlah halaman 268. Sangat cocok untuk dibaca bagi mahasiswa-mahasiswi yang mengidolakan Bung Karno di sela kesibukan akademik.

Bagi saya pribadi setiap kisah yang ada pada buku The Uncensored of BUNG KARNO semuanya kisah sangat menarik meski tidak terlalu comprehensive kisah yang diuraikan. Luar dalam Bung Karno di bahas di dalam buku ini. Yang paling menarik bagi saya kisah ke-16 yang berjudul “Karisma Cinta Sang Presiden”. Pada kisah ini kita akan menemukan pembahasan tentang wanita-wanita dan kisah percintaan Bung Karno. Haru, pilu, bahagia dan duka akan kita temukan pada tiap lembaran.

Kisah yang paling menarik yang kedua yang ditulis di buku ini sebagai Kisah ke-22 yang berjudul “Seokarno, The Untold Stories” memperlihatkan beberapa peristiwa yang membuat orang yang membaca akan cekikikan karena Bung Karno seorang Nasionalis sejati pemimpin seluruh kalangan dan para jelata seluruh Indonesia juga mempunyai peristiwa-peristiwa yang lucu selama Bung Karno menjadi presiden yang dicintai  oleh seluruh elemen yang ada pada saat itu.

The Uncensored of BUNG KARNO yang diterbitkan oleh ROEMAH SOEKARNO sebagai bacaan pembuka sebelum memasuki kisah-kisah Bung Karno yang ada pada buku-buku lain sangat pas uutuk dibaca oleh seluruh generasi muda.

MARDEKA!!!

Penulis : *R★.V.★N*

Editor : *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan