BUMI MANUSIA: Pramoedya dan Polemik Sejarah Bangsa

MATAMEDIA- RI.com – “Seorang terpelajar harus adil dari dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Menilas sejarah bangsa yang sarat dengan propaganda rezim otoritarian orde baru hingga kini membuat cetak biru sejarah perjuangan revolusi indonesia lenyap dari tanahnya sendiri, penyusunan ulang landskap perjuangan bangsa yang sampai hari ini belum juga menemui maknanya adalah tugas bijaksana yang dimandatkan bagi manusia yang haus akan kebenaran.

Pada tahun 1980, lahirlah seorang anak dari kandungan seorang penullis spiritual  individualis merdeka, anti kompromi yang bebal Pramoedya Ananta Toer. “Bung Pram” biasa orang – orang menyebutnya. Anak itu dia berikan nama “Bumi Manusia”, sebuah novel realisme sosial yang habis terjual 5000 eksemplar dari 12 hari penerbitannya, namun setahun dari kelahirannya anak itu sudah dijegal dan mendapati dirinya sendiri koma dalam pengeroyokan rezim pemerintahan orde baru yang sewenang – wenang, dan baru pada tahun 2005 karya besar sejarah bangsa ini mampu bangun dan kembali bernafas lega.

“Bumi Manusia” adalah suatu karya berbentuk roman sejarah yang lahir paling awal dari adik – adiknya. Dalam renungan pengasingan pulau buru. Hasil dari gairah dan hasrat birahi bercinta seorang Pramoedya Ananta Toer pada kesunyian, yang berhasil menggodok realita dan fiksi kedalam suatu karya luar biasa yang berada diantara kita kini. Novel beraliran realisme sosial ini adalah karya  pertama Pram selepas dari pegasingannya.

Kemampuan Pram dalam menggambarkan situasi dan kondisi di akhir abad 18 yang kita gadang – gadang sebagai era  kebangkitan nasional itu,  memang suatu prestasi yang tak bisa kita elak. Pram mampu membawa kita ke dalam konflik kehidupan sosial di era kolonial, dengan menjadikan sosok Minke alias “Raden Mas Tirto Adi Suryo” sebagai tokoh utama alur cerita, kepribadiannya yang sangat tergila – gila dengan peradaban eropa, nafsu nya untuk menulis  dan  intrik percintaannya kepada Noni bernama Annelies Mellema seorang belanda campuran Jawa yang lugu manis dan polos, juga semangat membara dari Nyai Ontosoroh atau Sanikem seorang perempuan jawa hasil dari produk patriarki yang sangat membenci penjajahan dan kesewenang – wenangan datang memberi kita  semangat kemanusiaan di tiap kata bijaknya.

1898 Raden Mas Tirto Adi Suryo alias Minke adalah seorang siswa H.B.S di era kolonial belanda yang sangat jatuh cinta kepada ilmu pengetahuan dan kebebasan yang di berikan bangsa kolonial belanda kepadanya. dimulai dengan keadaannya sebagai salah satu siswa H.B.S di Surabaya ini membuatnya tampak lebih maju dari orang – orang pribumi sebangsanya, karena untuk memasuki H.B.S sendiri setidaknya haruslah seorang berwangsa totok ataupun indo (sebutan untuk orang asli belanda dan campuran pada waktu itu), posisinya sebagai pribumi yang bisa bersekolah di H.B.S disebabkan dari kedudukan tinggi ayahnya sebagai pribumi pada waktu itu, setidak – tidaknya. Minke adalah seorang anak bupati yang memiliki posisi tawar yang dominan pada zamannya, walaupun  ia sendiri sangat membenci predikatnya sebagai seorang anak bupati jawa itu, karena baginya orang – orang seperti ayahnya hanyalah momok memalukan yang suka bersandar kepada nama dan takhayul sebagai alat legitimasi sosial di masyarakatnya. sementara dari itu membuat kemampuan akal dan keindahan berfikir terkungkung bersama mitos – mitos yang dibuat para leluhurnya. Kecintaannya kepada peradaban maju, kebebasan dan ajaran – ajaran sastra dari belanda membawanya berhadapan dengan konflik cinta, kemanusiaan, ketidakadilan dan penjajahan bangsa belanda yang sewenang – wenang. Diawali dengan perjalanannya ke suatu pabrik di daaerah Wonokromo, kejadian itu akhirnya menyeret minke berjumpa dengan keluarga Mellema.

Wonokromo yang damai, Annelies yang polos, lugu dan kekanak – kanakan Sanikem  atau Nyai Ontosoroh  yang penuh dengan petuah – petuah bijaksana, kritik sosial dan perlawanan mati – matian terhadap kesewenang – wenangan pada totok belanda. pada akhirnya menyeret Minke kepada konflik – konflik tak terduga yang akan merubah takdir hidupnya, pertemuannya singkat nya dengan keluarga De La Croix, persahabatannya dengan seorang seniman perancis Jean Marais, seorang eropa yang mencintai peradaban pribumi yang akhirnya membuat kesempurnaan diri seorang Minke menjadi pribadi yang gemar menulis. Pada era ini digambarkan bagaimana kekuatan dari kata – kata dan tulisan, mengutip istilah dari Marcos bahwa “Kata suara adalah senjata”. Kemampuan tulisan – tulisan Minke yang provokatif dan sastrawi dapat mengguncang peradaban era kolonial  pada waktu itu dan pada akhirnya membuat dirinya berhadapan dengan hukum kolonial yang jauh dari kata kemanusiaan.

Adanya roman “Bumi Manusia” adalah suatu pencerahan dibalik  kekosongan dan kekeringan sistem pendidikan formal Indonesia. Novel yang dapat menjadi referensi dalam memahami sejarah bangsa ini, bukan saja mampu menjadi literasi tekstual dalam  memahami sejarah. Pram juga mengajak kita menjadi bangsa yang utuh, bangsa yang cerdas, bangsa yang bebas, bangsa yang merdeka dari segala penindasan.

Edo Asrianur FIKOMM 2015 Mercu Buana Yogyakarta

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan