Senja Mentari

Seramai sunyi yang tersembunyi,

Kegundahan ini hanyalah milik sang hati

Saat peluk senja tak lagi sehangat aromanya

Hanyalah ada hati yang menggigil memeluk semesta

 

Sebising ini ramai mengitari

Namun hanyalah sunyi yang bersedia membersamai

Berdialog dengan asyiknya, dengan segala perjalanan imajinasi

 

Melayangkan harapan-harapan kecil

Pada langit malam bergandeng gerimis

Untuk semua rinduku yang tak berdamai

Yang mulai mengkoyak kalbu beramai-ramai

 

Teruntuk tempat rebah paling indah

Beraroma sunyi hangat mentari

Pelipur kalbu duka seribu

Ia lah surga duniaku, Ibu.

Karya: Indra Fajriah

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

Yogyakarta, 09 September 2017

Tinggalkan Balasan