Roman Berselimut Halimun

MATAMEDIA- RI.com – 

Kadang aku sangat takut, manakala tidak bisa merasa takut

Tak peduli hijaunya Bumi Ibu Pertiwi akan berakhir kiamat

Tak peduli soal kemarahan yang kata mereka berasal dari langit.

Apa kau tahu, dalam perjalanan di kehidupan yang fana ini aku telah beberapa kali sekarat?

Sampai mereka menjuluki lelaki berwajah pucat, dan di langit awan selalu bersatu membentuk kesatuan mendung-Nya, menutup cahaya-Nya yang hangat

Segala yang nikmat sekejap menjadi pahit.

 

Dekap dalam gelap

Di dalam lubuk hati senyumanmu telah kokoh tertancap

Izinkan aku terus berharap, sampai bisa berdiri utuh nan tegap.

 

Dalam gelap hidupku hampir seutuhnya layu

Dalam hujan tubuhku membatu, beku

Tapi angin dua musim tetap menyapaku, Sang Semesta belum mengizinkanku berlalu.

Disinilah aku terus berjalan

Membuat sebuah pilihan dari 2 panggilan

Yang ku inginkan hanya kembali berdiri di atas kaki sendiri, selaras nan seimbang tak menyia-nyiakan nafas kehidupan.

 

Lalu dalam sebuah tugas aku bertemu denganmu yang tersenyum lembut,

Membuat suhu tubuhku kembali hangat

Kala kedua tangan kita bersalaman dengan saling menjabat telapak tangan dengan cukup kuat,

Lipat demi lipat, rasa penuh nan hangat

Membuatku semakin bersemangat

Aku terus berpikir untuk terus hidup menjadi pion dan di panggil dengan nama julukan: pion sang prajurit rakyat.

 

Dekap dalam gelap

Di dalam lubuk hati senyumanmu telah kokoh tertancap

Izinkan aku terus berharap, sampai bisa berdiri utuh nan tegap

Dekap dengan sangat erat

Jangan biarkan aku kembali tersesat, tersesat di lembah yang membuat sekarat

Dekap dengan sangat erat sampai jiwa kita kembali melekat; bersatu-padu hidup penuh senyuman di dunia yang fana dan penuh gairah menanti kekal di akhirat.

 

Tinggalkan Balasan