Rasa

9 puisi tentang “Rasa” karya penyair Pujilestari…


SURAKARTA, MATAMEDIA-RI.com

Prolog

Kau ciptakan berbagai macam manifestasi rasa. Bahagia saat aku mencintaimu, waktu itu Semesta terasa begitu baik kepadaku. Aku melambung begitu jauh, di atas sana. Sampai suatu saat ketika kau meninggalkanku, aku hancur sehancur hancurnya. Kau pergi tanpa sabab. Menghilang begitu saja, tanpa sempat berpamitan barang sepatah dua patah kata. Dan, sejak saat itu, aku sadar bahwa bahagia tidak akan selamanya. Lara akan tiba tepat pada waktunya. Sejak kepergianmu, rindu-rindu selalu berisik memanggil namamu. Asal kamu tahu, tak sekalipun aku melupkanmu. Bayang rupamu 24/7 menghampiriku. Terima kasih sudah bersedia menjadi teman hidup selama beberapa tahun terakhir ini. Semoga Semesta menjaga baik dirimu. Aku mencintaimu, selalu…


 

Senyummu Yang Memabukkan

 

Pada keningku kau bersandar,

menatapku dengan binar,

Bulu matamu padang ilalang,

bola matamu belantara kata, tempat aku sembuhkan luka.

Kenapa senyummu begitu memabukkan tuan,

oh melayang aku sampai konstelansi bintang.

 


 

Teduh

 

Debarmu sayup terdengar,

Seperti melantunkan syair-syair rindu.

Aku seolah dibawa ke lembah-lembah panjang yang rimbun penuh pepohonan,

berujung pada samudra, “Itu bola matamu!” kataku.

Setelahnya aku rebah di bawah cuping telinga kananmu. Teduh sekali.

 


 

Terbukanya Kenangan Lama

 

Minggu lalu kamu datang,

seolah tak pernah buat luka.

Dengan rasa percaya yang tinggi, kamu duduk tanpa permisi.

Mendobrak isi kepala,

kenangan muncrat begitu saja, sial.

Susah payah aku usaha untuk lupa,

tapi semua luluh lantah begitu begitu saja.

Kenapa aku mencintaimu dengan sebegitu terlalu,

rela jatuh meski berulang kali.

Oh aku bodoh atau bagaimana?

 


 

Cintaku Tak Berani Unjuk Rasa

 

Cintaku tak berani unjuk rasa, sebab akan banyak yang tak menduga,

tapi bagaimana?

Terkadang aku tak sanggup lawan rasa yang semakin hati tumbuhnya semakin lebat di banding pohon mangga depan rumah.

Aku juga tak berani di musuhi sehabat sejati

Teruntuk kau lelaki, semoga segera sadar aku di sini menanti.

 


 

Rinduku Harap Temu

 

Aku menyambut pagi dengan meramu rindu,

berharap ditemukanmu, di ruang temu.

Sudah sewindu aku menunggu, asal kau tahu

bayang rupamu tak pernah alpha menyapaku.

 

Dan harapanku untuk minggu-minggu yang akan datang,

semoga kau segera pulang.

 

Sini, akan kutunjukkan arah jalan.

 


 

#Rindu Yang Nyaman Bersemayam

 

Malam ini hujan turun,

ah, jadi teringat dirimu.

Hangat dan tenang, yang kurasakan,

saat dekap eratmu kala itu.

Debar jantung yang melompat riang gembira,

rupamu yang menari dalam jemala.

Oh, tuan!

Sungguh aku tak sanggup.

Rinduku ini ingin pulang.

 


 

#Menunggumu #Kembali

 

Suara angin yang saling bertubrukkan,

langit malam yang seolah nyaman berlapis

warna abu-abu sedikit #terang,

#Bulan dan #Bintang yang bersembunyi

ketakutan dibalik gerimis.

 

Nyatanya aku masih disini,

menunggumu kembali.

Meski selama ini aku adalah

#rumah yang tak kau #kenali.

 


 

Perihal #Rasa

 

Perihal rasa; derita, luka, air mata, tawa, bahagia.

Kau sudah akrab bukan?

Setiap bahagia akan menggiring kita pada derita, begitu juga sebaliknya.

 

Lalu rasa; jatuh cinta, rindu, dan patah.

Kau sudah akrab bukan?

Setiap jatuh akan selalu membuat kita patah, tentu saja.

Dan ketika kita patah, kita akan belajar untuk menjadi tangguh, itu cara Semesta menguatkanmu.

 

Mungkin rasa-rasa itu hadir supaya kita mau menghargai setiap rasa.

Menjadikan kita menusia.

 


 

Di Dalam Hatiku

 

Tapi jauh di sana, di dalam hatiku.

Ia merindukanmu, sungguh.

Sampai, mungkin tak dapat digambarkan seperti apa riuhnya.

Aku selalu mendoakanmu, semoga semesta selalu mendekapmu dengan kebaikan.

Baik-baik ya, walaupun aku tak lagi melihatmu, sejak saat itu.

Saat kita berpisah.

Tapi aku percaya, kamu sekarang sudah lebih bahagia.

Tinggalkan Balasan