Duka pertiwi

MATAMEDIA-RI.com

 

Pecandu paham radikalisme kembali

Membawa ribuan tangis

Bersamaan jiwa teriris yang berselimut asap tragis.

 

Mereka pulang

Membawa pengkhianatan

Lalu,

Siapa yang salah?

Siapa yang mengajarkan?

Ulama?

Bhiksu?

Biarawati?

Pendeta?

Pandita?

Wen shi?

 

Salahkan mereka penggenggam derita

Bukan pimpinan terkemuka

Bukan jubah atau sandangnya

Pastilah bukan Tuhan.

 

Tuhan kami, dari berbagai belahan bumi, sama sebutannya

Tuhan kami

Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan yang mengajarkan damai bukan cerai

Tuhan Maha Adil

Tuhan Maha sempurna.

 

Leburkan saja sepuasmu

Semakin lebur

Maka kami anggap kepala kalian semakin siap kami penggal.

 

Kami bersatu dengan nama Tuhan

Kami berdamai atas rahmat Tuhan.

 

Ataukah pimpinanmu justru mengaku sebagai Tuhan?

Seret!

Bawa kemari

Kami siapkan peti mati.

 

Dunia ini di ciptakan untuk saling melindungi

Bukan saling menghantui.

 

Kepulanganmu jadi sengatan hati

Anak suci korban pelayat yang benci.

 

Ketika anak suci selamat

Bukan lagi dewa dewi yang menyelamatkan buah hati.

 

Maaf, bukan dewa dewi lagi bagimu

Kau hanya ekor pengkhianat negri.

 

Anak sucimu selamat karena tokoh gagah nan sigap

Tergopoh bawa hati tersayat.

 

Siapa yang waras?

Kau?

Masih mengaku waras?

 

Kalau kau waras mengapa kau hancurkan damai ini?

 

Kau gerah di usir?

Atau?

Memang amanat dari atasanmu yang keji

Untuk memberi martir hati?

Kemudian bangga menghancurkan pertiwi?

 

Otakmu di mabuk harta

Hatimu jelas buta agama

Jiwamu tiada rasa

Apa lagi?

 

Kau puas menjadi budak?

Kau bangga?

Perempuan yang hangus perawannya

Laki laki yang haus darah perang hancurnya.

 

Sudahlah, tak lagi kami kuat berdiri

Membicarai hati yang mati

Kami hanya menjalankan amanat menjaga pertiwi.

 

Sudahlah, hati sekelompokmu itu abu

Otak kalian adalah api.

 

Pergilah

Kembali ke tempat yang membuatmu bangga akan hal keji

Atau kau pilih satu hal lagi

Bawa kemari DIA

Dia yang mengaku utusan untuk memerangi

Iya, memerangi manusia damai hati

Dunia yang berseri

Juga

Anak suci yang mulai merakit hati.

 

Penyair: Apriliani Intan Pertiwi

Yogyakarta, 18 Mei 2018

Tinggalkan Balasan