Digitus Renaisans

MATAMEDIA-RI.com

Di dalam dunianya yang ideal, aku hanya menjadi seorang yang konyol

Di dalam dunianya yang ideal,  hari-harinya di penuhi elaborasi dari 4 sisi

Sedang aku hanya menjadi pejalan yang di buru oleh cap gagal, karena melewati jalanan yang tak banyak dilewati manusia; jalanan terjal,

Hanya menjalani hari dari daya yang diberikan matahari, tapi mampu membuatku hangat dan menjadi pemberani.

Di dalam dunianya yang ideal, dia begitu indah, ku temukan diriku berada di antah-berantah

Di dalam dunianya yang ideal, dia begitu penuh, di kantongku hanya terisi receh.

 

Di dalam dunianya yang ideal, dia begitu intelektual, aku hanya seorang yang tolol

Di dalam dunianya yang ideal,  dia begitu luhur dalam membaur, aku bahagia bergelut dengan lumpur

Bahasa tubuhnya begitu metodelogis, di dalam dekepan tubuhnya berkata kepada tubuhku: “Pikiranmu tak pernah logis, akan ku bentuk kau menjadi seorang praxis yang tak mudah dikikis!”

Di dunianya yang ideal, aku hanya menjadi seorang yang konyol nan tolol.

Di atas lantai bumi yang berkilau-kilau dia menari-nari, tubuhnya menghentak-hentak sampai tubuhku terlempar ke kerak bumi

Hingga kedua duniaku tercecer, hampir hancur lebur.

Tinggalkan Balasan