Bulan di Langit, Bukan di Anumu.

MATAMEDIA- RI.com –

Selepas maghrib.

Aku belum sholat.

Bukan lupa, tapi sengaja.

Sekitar satu jam aku berkelakar dengan teman lama, yang sudah tiga tahun tak terlihat bulu hidungnya.

Balik ke tempat persembunyian butuh waktu lima puluh jam, berlebihan cuk!

Lima belas menit.

Di tengah jalan, ku ditelanjangi langit.

Tertangkap di retina, ada seulas senyum di atas sana.

Bukan tentang aku yang lagi merindu siapapun, atau kenangan yang mencuat.

Senyum itu, bulan.

Sungguh! Aku sedang tidak mengada – ada. Dia senyum kepadaku.

Manis sekali.

Alam bawah sadar teriak “nyanyiin lagu marcel woy yang firasat”

“bulan sabit melengkungkan senyummu, tabur bintang serupa kilau auramu”

Membatin, hanya bibir senyum. Matanya tak nampak.

“coba saja ada bintang untuk kedua matanya”.

Lalu, bersenandung kembali sambil berkhayal.

Ada saja untuk merasakan video klip ala ala, mukaku tersapu angin.

Rambut hidung yang berterbangan, menari – nari seenaknya.

Sempat menetes, sebentar saja. Segera aku berbahagia.

Sebab, sepanjang hari aku ditimpakan pada kejadian tak terduga.

Kecurigaan. Kepanikan. Kesendirian.

Tapi, aku pernah didikte oleh bapak. “sabar nak”

Berujung diam, dan agak kesal. Aku harus senang hari ini juga!

Nona cantik pernah bilang padaku “segalanya akan diganti sama Tuhan, berbuat baik atas sekelilingmu”

Lelah, aku tertidur. Melayang, dan bersyukur. Rohku masih tahu tuannya.

Dan, selepas maghrib.

Aku dipeluk bulan. Dikuatkan melalui perantara Tuhan.

Senyum bulan manis, tapi agak culas.

Sebab seolah dia berbisik padaku setelah banyak kepelikan yang terjadi hari ini

“selaw aja, Tuhan asik kok”

TUHAN, KAU CURANG!

Pasti aku candid saat difoto oleh – Mu, kan?

Aku senyum sendiri saat mata penikmat ketelanjangan ini dilempar senyum oleh bulan.

Lagi – lagi ulah bulan.

Tunggu pembalasanku, bila nanti aku bertemu si bulan saat tersenyum.

Aku foto, biar bisa kupamerkan pada khayalak.

Bahwa Tuhan, berteman baik denganku. Meski aku bukan nabi. Bukan wanita berkain syar’i.

Besok lagi ya, malam ini aku mau merampungkan urusan sistem perbudakan yang hakiki.

Yang deras, bagai air untuk menyiram kencingku di toilet sekali pencet.

 

Hana Marlina

Yogyakarta, 22 September 2017.

Pelajaran tentang bulan dan sistem keTuhanan di Jum’at petang.

Tinggalkan Balasan