Rosalia Prismani Nurdiarti “Kartini Muda Yang Multifungsi”

MATAMEDIA- RI.com – “Anda” atau “Saudara” (bisa juga kamu). Saya merasa, saya tahu dan saya mengerti bahwa kalian itu bisa dengan mudah jika hanya ingin menyandang gelar sekalipun gelar Doktor. Jika hanya prestisius semata yang kalian agung-agungkan maka disinilah awal kejatuhan moral Pendidikan Nasional ini. Sudah seberapa dahsyat ketimpangan yang kalian sumbangkan? Kita itu punya barang (pendidikan nasional) berharga dan seharusnya digunakan untuk menambah wawasan, untuk memperbaiki diri dan untuk memperbanyak belajar tapi kenapa hanya prestise semata dan kalian merasa kagum (waww)?”

“Begitulah kritik beliau terhadap Pendidikan Nasional”

Lahir di Blitar, Jawa Timur 33 tahun silam tepatnya pada 13 Desember 1983. Pada tahun 2002 setelah menyelesaikan pendidikan TK, SD, SMP dan SMA nya di Blitar, beliau memutuskan untuk mengemban pendidikan yang lebih tinggi di Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan pada 2017 juga sudah menyelesaikan pendidikan Magister nya di  Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Berada di dekat pemilik nama Rosalia Prismani Nurdiarti ini penulis seakan-akan tenggelam ke dalam ritme dunia pendidikan yang notabene masih banyak kekurangan dan ketimpangan dan juga merupakan sebuah bidang yang beliau tekuni sejak 2010 dengan menjadi pendidik di Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).

Sebagai seorang yang berkomitmen memutuskan untuk menjadi pendidik di perguruan tinggi ada yang namanya Tri Dharma Pendidikan Tinggi, selain mengajar kita juga di wajibkan melakukan penelitian dan pengabdian. Untuk penelitian beliau saat ini yaitu meneliti tentang Pilwali Jogja dan untuk pengabdiannya sedang mendampingi pembuuatan media sekolah (SD) di Semarang, selain itu juga aktif di Asosiasi Prodi ilmu komunikasi (ASDIKOM).

Sebagai individu yang mempunyai banyak peran ataupun multifungsi tentunya banyak tantangan yang di emban oleh beliau, baik itu perasaan, tenaga dan juga pikiran, tetapi penulis merasa sangat terkesan dengan prinsip hidup beliau. Dosen yang kerap di panggil Mbak Rosa oleh mahasiswa nya ini mengatakan “Hiduplah Hari Ini dan Saat Ini”. Kadang raga kita di sini tetapi jiwa kita kemana-mana dan kebanyakan orang seperti itu. Pada akhir-akhir ini dan pada akhirnya mencoba saya untuk menjadikan prinsip bahwa hiduplah hari ini dan saat ini, karena perihal besok ataupun lusa itu ada tugas ataupun ada pekerjaan yang harus di emban itu kan masih nanti dan juga misalkan kita merasa kelelahan karena kemarin itu kan sudah berlalu. Jadi fokus lah terhadap hari ini dan saat ini karena dengan kesadaran seperti itu seseorang akan membangun komitmen untuk bekerja dengan passion yang dimiliki, tutur Rosalia Prismani Nurdiarti ketika di wawancarai.

“Setiap tulisan saya di akhir masa studi pasti selalu berkesan bagi saya. Bukan karena baik ataupun buruknya atau juga bukan karena kualitasnya tetapi karena proses untuk menulisnya itu yang panjang, maka saya bisa mengatakan masterpiece nya disitu”, ucap perempuan kelahiran Blitar ini. “Hal lain yang juga berkesan adalah ketika memutuskan untuk bekerja di dunia pendidikan, ada satu ritme yang berubah karena dahulu yang memotivasi saya masuk Prodi Ilmu Komunikasi itu adalah karena saya ingin menjadi Penyiar atupun Reporter di suatu Media tetapi ketika di akhir-akhir masa studi terutama setelah magang  saya menjadi tahu bahwa dunia media yang dahulu dalam bayangan saya sangat idealis ternyata ketika nyemplung kesana sangat jauh perbedaan dan akhirnya saya  memutuskan kejalan yang lain untuk berkarya. Pada saat itu dan posisinya saya masih S1 kemudian di rekrut dan di percayai untuk menjadi salah satu Dosen di Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), mungkin orang lain belum bisa mendapatkan kesempatan yang sama”, dengan bergembira beliau menyampaikan.

Kebanyakan orang yang berdiri hebat saat ini tentu mempunyai sosok ataupun tokoh pun yang hebat pula, tetapi jika melihat dari perspektif beliau, beliau mengatakan semua founding father dan founding mother nya Indonesia menjadi inspirasi bagi saya, lalu tidak ada yang secara spesifik kemudian mengidolakan siapa. Yang paling penting adalah pada spirit apa yang mereka lakukan dan kemudian menginspirasi terhadap apa yang saya kerjakan saat ini”.

Seseorang itu pasti mempunya harapan ataupun impian di dalam hidupnya, tentu juga tidak luput dari pemilik nama rosalia prismani nurdiarti ini. “Sepanjang pengalaman saya terkait dengan Tri Dharma itu, ada beberapa teman Dosen yang mengejar karir akademiknya itu sangat berorientasi pada jabatan. Bagi saya harapannya itu lebih pada bagaimana teman-teman saya dan juga saya sendiri lebih bisa menyelaraskan dengan apa yang menjadi kewajiban Tri Dharma itu. Terkadang seseorang itu lebih mudah mentransfer gagasan ataupun juga ilmu pengetahuan daripada melakukan pendampingan terhadap anak didik nya. Untuk guru-guru TK, SD, SMP dan SMA, mereka memang mempunyai konstribusi yang sangat besar terhadap siswanya. Tetapi ketika sudah berada di Perguruan Tinggi, ataupun mendidik mahasiswa seharusnya melakukan pendampingan yang lebih (wais) lagi terhadap mhasiswa yang saat ini urgin”, ujar perempuan yang sering di sapa Mbak Rosa oleh mahasiswa nya ini.

Beliau juga menambahkan “Ada satu prinsip atau satu pandangan yang harus dipegang bahwa mendidik atupun mendampingi itu sejatinya sepanjang masa, kalaupun suatu  saat saya pensiun ataupun tidak lagi ada di lingkungan pendidikan secara sistem, saya akan berkomitmen untuk merawat dan mengembangkan spirit dalam mendidik dan mendapingi itu, dan saya juga akan sangat mengapresiasi teman-teman yang ingin bekerja dalam bentuk apapun dengan saya”, dengan rasa semangat beliau menyampaikan.

“Di Indonesia khususnya, orang-orang sangat senang dengan hal-hal yang sifatnya seremonial, misalnya merayakan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Tetapi barangkali yang perlu diingat adalah bahwa negara ini sebagai bagian dari sistem yang menopang masyarakatnya, saya memaknai pendidikan ini seperti jantung dari suatu negara dan ketika negara tidak ataupun belum bertanggung jawab terhadap apa yang namanya PENDIDIKAN maka saya bisa mengatakan bahwa negara itu tidak hanya gagal tetapi juga sudah bangkrut, karena sudah meninggalkan jantungnya dari sistem yang besar,” ucap beliau ketika di tanyakan tentang makna Hari Pendidikan Nasional.

“seharusnya pada momen inilah digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang belum tercapai dan seolah-olah momentum untuk menampar orang-orang yang berwenang ataupun siapa saja mereka yang ada di dunia pendidikan itu bahwa jangan berbangga diri dengan hal-hal yang ternyata masih banyak kekurangan dan momen ini seharusnya juga di isi dengan sedemikian rupa supaya menjadi bagian dari perbaikan itu”, tegas beliau menyampaikan.

Berbicara tentang refleksi Hari Pendidikan Nasional saat ini beliau lebih mengkaitkan dengan  bagaimana pendidikan itu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi, masih banyak ketimpangan yang sampai hari ini hanya di reproduksi tanpa  kemudian memberikan solusi atau gagasan atas ketimpangan itu. Misalnya, disuatu daerah orang bisa sangat mudah mendapatkan pendidikan yang tinggi tetapi di daerah lain membaca saja pun susah dan pendidikan saat ini rasa-rasanya seperti barang yang berharga dan itu hanya prestise semata, bukan dari bagian bahwa pendidikan itu sebagai sarana untuk menambah wawasan, untuk memperbaiki diri dan untuk lebih memperbanyak belajar tetapi kemudian maknanya bergeser hanya sekedar prestisius semata. Orang bisa dengan mudah menyelesaikan S1, S2 dan S3 dan merasa kagum (waww), inilah refleksi beliau selain ketimpangan dan makna pendidikan yang bergeser saat ini.

“Tentang semakin terdegradasinya moral dan karakter bangsa saat ini dan juga seperti apa gambaran pendidikan yang ideal itu”. Beliau juga memberikan pemahaman yang sejatinya membuat penulis merasa makin terkesan dalam arti bangga berada berlama-lama di dekat pemilik nama Rosalia Prismani Nurdiarti ini. Ia mengatakan, “barangkali mindsed yang perlu diarahkan lagi atau  di ubah bahwa pendidkan itu tidak harus formal, harus datang dan duduk di bangku sekolah, tapi justru harus berangkat dari keluarga. Ketika misalnya dikeluarga itu tidak atau belum mendampingi sedemikian rupa maka ketika dia (anak) keluar dari lingkungan keluarga, kemungkinan besar mudah terpengaruh ke hal yang baik maupun buruk”.

Sebenarnya spirit pendidikan dan rohnya pendidikan itu adalah pendampingan, jika menggunakan kaca matanya Paulo Freire bahwa kita tidak lagi menganggap anak didik yang kita hadapi itu sebagai objek yang harus di kasih A B C-Z, semua di jejalin. Tapi lebih pada kesetaraan, yang penting adalah tidak menganggap anak didik sebagai objek yang harus di kenai sesuatu atau yang harus di berikan sesuatu tetapi lebih kepada subjek yang sama-sama ingin berkembang. Tapi kenyatannya pendidikan di Indonesia selalu berganti sistem ketika pemimpinnya berganti dan apakah seperti itu kemudian akan linier dengan memperbaiki moral dan karakter tadi? Jadi, selain soal pendampingan dan menjadikan subjek itu juga perlu sistem yang kuat yang di inisiasi oleh negara. Karena mau tidak mau negara juga harus bertanggung jawab atas kesejahteraan itu.

Berbicara tentang Kapitalisme Pendidikan, beliau mengatakan “kapitalisme pendidikan itu bukan ketika biaya pendidikan mahal itu adalah kapitlisme, melainkan ketika dunia pendidikan tidak lagi berorientasi pada fitrahnya sebagai dari pengembangan pengetahuan dan pengabdian terhadap masyarakat. Apabila pendidikan sudah berorientasi pada industri dan mengesampingkan nilai-nilai etis maka kita baru bisa mempersepsi bahwa pendidikan itu menjadi salah satu hamba kapital”.

Tidak juga lupa beliau menyoroti  perihal feminisme, “akhir-akhir ini ada kajian yang namanya Maskulin yang Feminis, feminnis artinya dia benar-benar paham apa yang menjadi hak dan kewajiban seorang perempuan dan dia memahami dan mengahargai bahwa perempuan itu sama, bukan lagi second sex tetapi sama-sama manusia sama-sama orang yang membedakan hanya secara biologis tapi di dalam peran-peran sosial itu sama. Maka ketika ada seorang laki-laki yang berpikiran seperti itu sebenarnya dia mempunyai jiwa yang feminis”, ucap beliau.

“Banyak perempuan yang hari ini sudah bekerja tapi kita belum tau perempuan-perempuan disana ataupun didaerah lain seperti apa? Wacana yang selalu di reproduksi adalah bahwa perempuan itu lemah, bahwa perempuan itu bukan teruntuk menjadi patner atau di dalam bahasa jawanya adalah konco wingking. Justru ketika pandangan-pandangan itu di reproduksi tentunya malah akan semakin membuat perempuan semakin minder dan membuat perempuan semakin rendah diri. Maka kedepan dan juga dalam proses perkembangannya susah untuk menghilangkan pemikiran seperti itu, tetapi paling tidak masing-masing dari kami perempuan-perempuan Indonesia meyakini bahwa akan selalu ada yang dikerjakan dan akan membuahkan karya apapun itu. Kadang orang menganggap saya cuma sebagai ibu rumah tangga, justru ibu rumah tangga itu dia bekerja 24 jam dan itu linier dengan yang saya katakan tadi. Mengapa kerjanya 24 jam? Karena salah satu yang dia kerjakan adalah suatu tanggung jawab yang besar yaitu mendidik anak-anaknya terkait dengan moral dan karakter tadi dan justru menjadi bagian vital yang nanti berelasi dengan pendidikan Indonesia kedepannya.”, tutup beliau pemilik nama Rosalia Prismani Nurdiarti ini.

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan