Komunitas Kandang Kebo: Blusukan Pelestari Warisan Budaya

Komunitas Kandang Kebo saat blusukan ke Candi Borobudor, Minggu (18/11/2018)

Komunitas Kandang Kebo didirikan dengan didasari keinginan memberikan wadah bagi para pecinta budaya dan khususnya warisan budaya.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Selama ini tidak ada kepengurusan dalam pengelolaan komunitas, karena dikelola secara bersama-sama. Secara nyata member Kandang Kebo sering berkumpul di basecamp Komunitas Kandang Kebo sebuah rumah di pinggir jalan sebagai beralamat Ngalian RT 02/ RW 21 Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Bertuliskan kalimat berbunyi “Komunitas Kandang Kebo”. Secara Maya, tergabung dalam Group FB  KANDANG KEBO MENAPAK JEJAK LELUHUR NUSANTARA.

Seperti yang kita ketahui, kebo atau kerbau sering dianggap sebagai binatang bodoh. Di sisi lain, kerbau juga binatang yang disiplin. Ketika menggembala kerbau jika sudah waktunya pulang maka kerbau itu akan pulang sendiri. Tidak seperti sapi yang harus digiring untuk pulang. Zaman Majapahit dulu, kebo atau kerbau ini digunakan sebagai nama kebanggaan yang disematkan di depan nama orang. Kebo Iwa, Kebo Marcuet, Kebo Anabrang, Kebo Kenanga semua berada dalam catatan sejarah.

Komunitas Kandang Kebo adalah sekelompok orang dengan berbagai latar belakang yang bergabung karena mempunyai kesamaan yaitu menyukai dan bahkan mencintai segala hal yang berbau Kebudayaan, terutama warisan budaya. Keanggotaan Kandang Kebo bebas terkoordinasi dalam arti siapapun boleh langsung bergabung tanpa prosedur pendaftaran.

Dalam setiap kegiatannya, Komunitas Kandang Kebo mendanai kegiatan tersebut secara mandiri. Kandang Kebo adalah sebuah Komunitas yang bersifat independen, tidak terikat oleh lembaga atau suatu instansi dan tidak terkait dengan kegiatan politik praktis. Saat ini Komunitas Kandang Kebo sedang mempersiapkan Badan Hukum untuk legalitas komunitas.

Kini banyak situs kebudayaan yang tidak terawat dan belum terdaftarkan dalam Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Hal itu menjadi salah satu tujuan didirikannya komunitas ini. “Mulanya berasal dari grup facebook yang memiliki kesamaan hobi yaitu pecinta cagar budaya. Dulu grup kami bernama The Lost History of Kandang Kebo kemudian kami menyebutnya Komunitas Kandang Kebo,” ungkap Dr. Maria Tri Widayati, SS , M.Pd selaku pendiri Komunitas Kandang Kebo terkait cikal bakal terbentuknya Komunitas.

Maria yang juga dosen Politeknik Akademi Pariwisata Indonesia (API) ini menuturkan lebih jauh jika Komunitas Kandang Kebo mulai digagas tahun 2014 dan mulai aktif pada tahun 2015. Memiliki anggota dari berbagai kalangan. Komunitas ini bersifat nonformal. Siapa pun bisa bergabung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatannya. Bukan hanya kalangan tua saja, namun remaja maupun mahasiswa menjadi partisipan.

Kegiatan Komunitas Kandang Kebo antara lain:

  • Diskusi dan blusukan akbar 3 bulanan dengan mengundang komunitas2 lain se Jawa
  • Bedah Buku karya Dr. Dani Irwanto ttg Atlantis Kota Yang Hilang di Laut Jawa ( 3x dilaksanakan )
  • Diskusi Pemanfaatan Cagar Budaya (Narasumber dari BPCB Jawa Tengah dan Program S3 Kajian Pariwisata UGM)
  • Workshop Peran Komunitas Dalam Penyelamatan Warisan Budaya (Fasilitator: Transpiosa Riomanda, M.Hum)
  • Sarasehan Budaya “Pelestarian Warisan Cagar Budaya Dari Perspektif Negara Dan Masyarakat” (Narasumber: Drs. Marsis Sutopo, M.Si.; BPCB Jawa Tengah; BPCB DIY
  • Sarasehan Budaya“Motif Batik pada Relief dan Arca-arca Candi, serta Penggunaannya pada masa kini” (Narasumber: Marsis Sutopo, M.Si.; Kepala Dinas Kebudayaan kabupaten Sleman; Ketua Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara (APBTN) Cabang Bantul, dan Sekretaris APBTN DIY)
  • Berpartisipasi secara aktif dalam Borobudur Youth Forum 28-30 Oktober 2018
  • Berpartisipasi secara aktif dalam Kongres Nasional Komunitas Sejarah pada tanggal 26-28 Oktober 2018 di Kediri
  • Blusukan bersama Komunitas Kandang Kebo dilakukan minimal 1 bulan sekali
  • Blusukan masing-masing member setiap ada kesempatan
  • Kegiatan blusukan tidak sekedar menapaki jejak-jejak nenek moyang, namun juga berusaha untuk edukasi kepada masyarakat untuk menjaga warisan budaya.
  • Bersih bersih lingkungan Situs dari semak belukar namun tetap menjaga situs dalam kondisi apa adanya.
  • Memberi masukan dan informasi kepada instansi terkait tentang keberadaan suatu temuan.
  • Komunitas Kandang Kebo mengedepankan hubungan Paseduluran di antara komunitas (baik yang sudah nyata maupun masih maya). Komunitas Kandang Kebo mempunyai slogan Paseduluran Saklawase.
  • Tidak ada kepengurusan Formal dalam berkembangnya Kandang Kebo, namun segala sesuatu dilakukan melalui musyawarah dan koordinasi.

Kegiatan yang diadakan bulan November ini adalah mengadakan sarasehan dan blusukan untuk mengenalkan kembali motif-motif batik yang ada di relief maupun arca-arca di Candi,  pemaknaannya pada masa kini, dan kiprah pemerintah dalam membina para seniman batik di Basecamp Komunitas Kandang Kebo.

Seperti yang kita ketahui batik sebagai warisan budaya tak benda dunia, semakin hari semakin umum dipakai oleh masyarakat. Namun apabila kita perhatikan, jarang para pemakai batik tersebut memahami makna dan filosofi motif yang mereka pakai. Selain itu Batik sebagai produk asli Indonesia sudah di kenal sejak masa Indonesia kuna, yaitu terlihat pada relief dan arca arca di candi yang menggunakan kain bermotif. Namun kekayaan motif kain batik pada relief maupun arca tersebut masih sangat jarang diangkat oleh para seniman ataupun produsen kain batik.

Komunitas  Dolanan Pinter

Adapun narasumber yang diundang oleh Komunitas Kandang Kebo yaitu Drs. Marsis Sutopo, M.Si (Arkeolog Senior), HY. Aji Wulantara, SH., M.Hum (Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman), dan Krisni Kuntari (Ketua Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara  (APBTN) Cabang Bantul, dan Sekretaris APBTN DIY). Ada pula tutorial memakai udeng/iket/destar yang akan dipandu oleh Pakdjo.

 

Menurut Drs. Marsis Sutopo, M.Si (Arkeolog Senior) yang menjadi tantangan batik indonesia jaman sekarang antara lain, generasi muda yang umumnya belum mencintai batik, kalah dalam persaingan budaya global (budaya asing). Maka perlu adanya kampanye di kalangan generasi muda.

Maria Tri Widayati selaku koordinator pelaksana dan pendiri Komunitas Kandang Kebo mengatakan bahwa alasan mengangkat tema batik dikarenakan batik sebagai warisan budaya tak benda dunia, semakin hari semakin umum dipakai oleh masyarakat. Namun apabila diperhatikan, jarang para pemakai batik memahami makna dan filosofi motif yang mereka pakai. Harapannya untuk memberikan edukasi pada masyarakat berkaitan dengan cagar budaya dan pelestariannya.

Ibu Maria yang memiliki dua putra ini menyampaikan, kadang masyarakat bingung untuk menemukan situs peninggalan dan mencari solusi sehingga tidak ada tindak lanjut. “Kami memiliki program untuk memberikan edukasi pada masyarakat berkaitan dengan cagar budaya. Memberi pengertian agar tidak merusak dan mengambil serta mengkomunikasikan pada Balai Pelestarian Cagar Budaya pada situs yang ditemukan,” jelasnya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya dan berusaha ingin mencontoh untuk menurunkan perilaku baik tentang alam baik yang memberikan kehidupan. Melalui sarasehan blusukan berharap dapat memberikan inspirasi bagi para pengusaha batik agar lebih berpotensi pada kebudayaan batik yang bisa diangkat bagi masyarakat sekarang untuk memberikan nilai ekonomi yang baik,” ungkap HY. Aji Wulantara, SH., M.Hum (Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman).

Salah seorang partisipan yang baru pertama kali meramaikan kegiatan mengatakan bahwa dirinya bisa menambah wawasan dan pengalaman. “Selain untuk menambah pengetahuan, kegiatan ini juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Kita diharuskan menjaga peninggalan leluhur dan sebagaimana mestinya generasi muda yang umumnya harus memiliki kesadaran untuk mulai mencintai batik. Komunitas Kandang Kebo mengajak kita untuk melestarikan warisan budaya dengan cara yang asyik dan tidak membosakan yaitu dengan blusukan,” ungkap Marlina yang ikut berpartisipasi kegiatan Sarasehan Budaya “Motif Batik pada Relief dan Arca-arca Candi, serta Penggunaannya pada masa kini”.

Penulis: Cicilia Rosa

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan