Pandangan Pelajar terhadap Perkembangan Kondisi Nasional

Penulis:  Potrika Potrika Vitanka, Pelajar di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta.


SURAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Pelajar, sebagai pemegang posisi generasi penerus bangsa banyak diharapkan dapat memberikan lompatan kemajuan di masa yang akan datang. Secara tak langsung pelajar diharap mengenal bangsanya sendiri terlebih dahulu, agar dapat menyumbang lompatan kemajuan untuk bangsanya. Lantas, apakah pendidikan yang diberikan di sekolah telah mencukupi kebutuhan pelajar untuk mengenal bangsanya? Apa yang kira-kira dapat terjadi jika pelajar tak kenal bangsanya sendiri? Dari sinilah nasionalisme mulai berperan sebagai tolak ukurnya. Melalui tulisan ini saya akan berusaha membawakan pendapat-pendapat mereka para pelajar yang belum tersuarakan.

Dalam mengenal bangsa, terdapat beberapa unsur yang harus diperhatikan. Unsur yang dapat membuat mengenal bangsa yaitu: budaya, sikap hidup, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan ideologi yang melingkupi seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia sendiri. Namun nyatanya pelajaran yang ada di dalam sekolah tidak membuat kami mengenal apalagi memahami unsur-unsur tersebut. Selama ini seluruh pengetahuan hanya berasal dari buku teks.

Seringkali guru tidak berusaha mengembangkan materi pelajaran dengan wawasan terkini yang menggunakan nalar, sehingga informasi yang didapatkan hanya sekadar yang tertulis dalam teks. Padahal problematika bangsa begitu luas. Karena itu, yang sekarang kami butuhkan adalah pengetahuan yang nantinya dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa edukasi di sekolah masih belum bisa mencukupi kebutuhan pengetahuan para pelajar dalam mengenal bangsa.

Problematika bangsa yang luas seperti disintegrasi dan korupsi adalah peristiwa yang baru-baru ini meletus. Korupsi sebenarnya adalah tradisi yang bibit-bibitnya tanpa sadar disemai langsung oleh masyarakat dalam sistem pendidikan kita yang tidak mengajarkan transparansi. Maka titik fokus penyelesaian masalah korupsi sebenarnya terletak pada pengajaran transparansi dalam sistem edukasi. Kalau begitu, untuk apa para pelajar dan mahasiswa mengadakan demonstrasi?

Demonstrasi tak mungkin lahir tanpa alasan. Demonstrasi adalah tanda bahwa rakyat telah mendeteksi kejanggalan pada sistem pemerintahan. Demonstrasi adalah jalan dan pilihan terakhir kami untuk menyuarakan opini yang telah lama terpendam. Sayangnya diakibatkan oleh perkembangan globalisasi yang sangat cepat, tak sedikit pelajar yang aktif turun hanya untuk ‘panjat sosial’ tanpa ikut merasakan adanya hal yang memang harus diperjuangkan secara nyata. Esensi demonstrasi mulai kabur, yang kemudian menjadi sarana unjuk keberanian. Seperti munculnya pihak yang mengobarkan slogan ‘ora demo, ora Indonesia’ yang justru salah fokus memandang fenomena ini.

Nasionalisme singkatnya adalah rasa cinta pada bangsa dan negara. Hal yang akan terjadi jika pelajar tak dapat mengenal bangsanya sendiri tentu tak akan bisa memaklumi kekurangan bangsanya, apalagi mencintai tanah airnya. Saat mereka semakin terpelajar kelak mereka akan lebih memilih merantau ke tanah bangsa lain dan mengabdi disana, bukannya kembali ke tanah airnya mengabdi.

Namun adanya demonstrasi besar-besaran menunjukkan kepedulian dari sudut pandang pelajar dalam skala besar. Seperti dalam masalah RUU KPK, banyak pelajar yang mendukung gerakan protes tersebut. Dukungan mereka terhadap demonstrasi tersebut karena mereka memandang independensi KPK yang sekarang melemah karena berganti statusnya menjadi termasuk rumpun lembaga eksekutif. Padahal hal itu bertentangan dengan empat Putusan Mahkamah Konstitusi, yaitu tahun 2006, 2007, 2010, 2011.

Mereka juga bertanya, apa maksud dan tujuan diadakannya Badan Pengawas KPK secara eksternal? Bukankah kemunculannya justru malah akan membuat lingkup internal KPK tidak transparan untuk suatu sistem pemerintahan yang katanya dari rakyat dan untuk rakyat. Untuk apa revisi undang-undang, jika kedepannya hanya dijadikan alat untuk membebaskan orang yang merampok hak rakyat. Untuk apa revisi undang-undang yang tak memiliki hambatan, jika masih banyak undang-undang lain yang masih bermasalah dalam penerapannya?

Teruntuk DPR yang seharusnya bertugas mewakili suara-suara kami, yang merupakan kunci dari demokrasi pemerintahan ini. Kami berpendapat bahwa seluruh keributan ini tidak lain adalah hasil dari ulah pemerintah sendiri. Solusi yang terpikir oleh kami para pelajar adalah perbaikan pendidikan, secara keorganisasian dan terutama dalam ranah moral. Fokus kita seharusnya bukan ke arah demo, tetapi membuat pendidikan yang transparan.

View this post on Instagram

Di dalam buku Plato ngecafe bareng Singa Laut karya Thomas Cathcart & Daniel M. Klein ada sebuah #anekdot tentang #Etika. . . Q Ngakak Sich Waktu Selesai Bacanya, Karna Q Merasa Tu Lucukkk Beud dah. HA-HA-HA-HA… Niiich Anekdotnya: Pada suatu pertemuan dosen universitas, tiba-tiba seorang malaikat muncul dan mengatakan kepada dekan fakultas filsafat. "Saya akan memberikan apa pun yang kamu pilih dari tiga anugerah: kebijaksanaan, keindahan, atau sepuluh juta dollar." . . Sang profesor langsung memilih kebijaksanaan. Terjadi suatu kilat, dan sang profesor nampak berubah, tetapi dia tetap duduk di sana, memandangi mejanya. . . Salah satu temannya berbisik, "Katakan sesuatu." Profesor itu mengatakan, "Saya seharusnya memilih uangnya." . . HA-HA-HA-HA. Bagi Yang Udah Baca Karya-karya Plato Pasti Lucuk Yhaaa Khaaannn Pemirsaaahhh.. Inituhhh Uhhh Lucukkan Khaaannn Pemirsaaahhh… 😂😛 #Mardeka100% #RevolusiBelumSelesai #GenerasiMudaMenginspirasi #RepublikIndonesia #IndonesiaRaya #Pemudi #Pemuda #PenyairWanita #Sajak #Puisi #Sastra #SastraIndonesia #CivitasAkademika #SalamMahasiswa #ComprehensiveNewsFeature #Mahasiswi #Mahasiswa #PersMahasiswa #MassaAksi #DemoMahasiswa

A post shared by MATA MEDIA (@matamedia.ri) on

Pendidikan yang tak mengajarkan kami untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pendidikan yang mengajarkan kami untuk taat hukum dan mencintai tanah air dengan segala kekurangannya. Kami sebagai pelajar pun tidak akan bisa merubah masyarakat, karena kami belum memiliki pengaruh yang dapat menggerakkan masyarakat.

Editor: *R.V.N*

 

Tinggalkan Balasan