Persma Jangan Hanya Nulis Status di fb

MATAMEDIA- RI.com – John Naisbitt dalam bukunya Megatrends 2000 meramalkan bahwa ke depan masyarakat industri akan berubah menjadi masyarakat informasi. Atau artinya, media cetak semakin ditinggalkan masyarakat dan beralih ke media online yang mengandalkan kecepatan informasi. Kini apa yang dulu hanya bisa dilakukan oleh media cetak, namun kini bisa dilakukan oleh media online bahkan lebih cepat.

 

Saya merasakan kurun waktu 3-4 tahun belakang ini, memang ada yang berbeda, terutama jika dibandingkan sekitar 2 dekade lalu. Saat ini, yang disebut media komunitas bukan lagi semacam bulletin atau media bacaan lainnya yang berbentuk kertas. Media komunitas sekarang berganti menjadi chat, wa, line, instagram, dan sebagainya. Bahkan rapat redaksi tidak perlu kehadiran namun cukup menggunakan wa.

Tidak heran, media komunitas ataupun media warga tidak begitu familiar lagi di kalangan masyarakat pengguna gadget. Pun dengan dunia pers mahasiswa yang semain tidak dikenal lagi produk-produk jurnalistiknya. Benarkah media online menjadi penyebab utama mahasiswa malas belajar menulis formal? Jikapun ada yang belajar melalui pelatihan, hanya sekadar ingin tahu saja (syukur-syukur dapat sertifikat).

Bila ada pun yang kemudian terlibat dalam kerja-kerja jurnalistik, maka dapat dipastikan tidak berlangsung lama. Hanya angin-anginan dan lama-lama terkena seleksi alam, gugur satu-persatu. Hal ini saya rasakan di setiap komunitas yang pernah mendapat pelatihan, entah itu komunitas guru-guru di sekolah, komunitas BKM penerima manfaat PNPM Mandiri, komunitas karang taruna maupun mahasiswa.

Saya jadi teringat bagaimana dulu saat mahasiswa mencoba membuat media sendiri (conblock). Media dibuat dengan segala keterbatasan, mulai dari mengetik naskah dengan mesin ketik manual, me-layout dengan menempel potongan kolom demi kolom, menggandakan dengan mesin fotocopy, hingga mempublikasikan dengan menyebarkan langsung. Ini dilakukan karena keterbatasan media cetak yang ada.

Ada rasa bangga dan puas saat melihat media bikinan sendiri, apalagi jika benar-benar dibaca banyak orang. Sementara itu pers mahasiswa yang tergabung dalam lembaga pers mahasiswa resmi (LPM) juga masih memiliki idealisme yang tinggi. Komitmen, pengabdian dan dedikasi yang sungguh-sungguh dalam menegakkan dunia jurnalistik di kampus. Base camp persma kampus tidak pernah sepi, selalu ada kegiatan terutama diskusi.

Persma dulu tidak bergantung kepada pendanaan kampus, dengan itu mereka bisa lebih independen mengelola kontennya. Bahkan jika di sebuah kampus belum memiliki produk jurnalistiknya, secara solidaritas mahasiswa dari kampus lain dengan senang hati membantu terbitnya produk persma tersebut (sampai harus “bantingan” jika perlu). Mengapa? Karena media produk persma dianggap penting sebagai alat perjuangan mahasiswa.

Mereka menulis dan menyampaikan tidak hanya isu-isu penting sekitar kampus, namun juga isu nasional. Mereka menyuarakan apa yag dirasakan mahasiswa juga masyarakat umumnya. Mereka akan ditertawakan jika menulis artikel yang ………. (istilahnya sekarang “lebay”). Mereka tidak masalah majalah dibredel pihak kampus, mereka memang protes tapi tidak meratap dan hanya berdiam diri, melainkan membuat majalah baru.

Kini, sekretariat persma banyak sepi, punggawanya hanya beberapa saja, jarang ada kegiatan non redaksional, terbitan majalah semakin berkurang, jika pun terbit maka kontennya seperti kehilangan ruh. Banyak yang menuduh bahwa majalah kampus terbit hanya karena sudah ada anggarannya dan memang hanya untuk menghabiskan anggaran. Di sisi lain, ada mahasiswa yang memiliki potensi menulis dan berpikiran kritis, dipinggirkan.

Tidak banyak kiriman naskah opini dari mahasiswa yang bisa dimuat di majalah kampus. Terbanyak kiriman berupa naskah cerpen, puisi dan liputan dari kegiatan-kegiatan karitatif kampus. Tidak ada lagi “perang” pemikiran, ide dan gagasan, tidak ada liputan isu-isu besar yang membahas persoalan-persoalan bangsa. Tidak ada analisa yang tajam, kritis namun tetap berkaedah akademik. Mengapa semua berubah?

Dengan media online, setiap orang bisa membuat medianya sendiri, mengisi dan menulis sesuai dengan keinginan sendiri, bahkan terkadang bisa menabrak kaedah-kaedah penulisan sebagai sebuah produk jurnalistik. Dulu dikenal dengan istilah adanya selebaran gelap, dan sekarang menjadi berita hoax yang tidak dapat dipertaggungjawabkan sumber dan kebenaran isinya. Bedanya medsos dengan media cetak adalah soal pertanggungjawaban terhadap isi.

Setiap orang dapat menulis apapun di publik online, tanpa peduli apakah yang dituliskan tersebut dibutuhkan pembaca atau tidak. Tidak peduli bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. Di dunia online cukup dengan menulis pendek, tanpa perlu sesuai dengan aturan dalam penulisan, bahasanya pun tidak perlu baku yang dapat dipahami dengan benar oleh pembaca. Sesungguhnya netizen menulis untuk dirinya sendiri, namun bisa dibaca publik.

Memang setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Namun hiruk-pikuk kemajuan teknologi harusnya tidak mematikan jurnalistik di kampus, menghilangan semangat jurnalisme dari jiwa-jiwa mahasiswa, melainkan justru memudahkan. Memudahkan mengakses informasi, memudahkan produksi (mengirim naskah, mengedit, me-layout dan mencetak), dan memudahkan untuk publikasi (lebih cepat juga luas jangkauan pembacanya).

Pers mahasiswa tidak sekadar pelengkap UKM yang ada di kampus, juga bukan pula sekadar berisi hal-hal yang tidak penting. Kembalikan budaya menulis yang baik dan benar serta kritis. Kembalikan ruh jurnalisme dalam diri mahasiswa di kampus-kampus. Karena tugas utama pers mahasiswa adalah memberi pencerahan sekaligus penyadaran kepada mahasiswa dan masyarakat umumnya.

Penulis:  Agung Wibawanto

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan