The Guardian

INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com

Diawali dengan malam yang awalnya menyenangkan berubah seketika menjadi malam yang mengerikan. Sebuah meteor menghantam malam yang dihiasi dengan kembang api. Mine dkk berusaha menyelamatkan diri tapi bukan hanya meteor saja sekumpulan makhluk aneh dan mengerikan bermunculan dari tanah dan memangsa semua yang ada disekitar mereka.

Mine yang selalu takut dengan apapun kini harus bisa menaklukkan ketakutannya. Yuki yang satu-satunya memiliki kemampuan beladiri diantara teman-temannya harus melindungi dari berbagai serangan. Lola, Rika, dan Nuri yang pintar menggunakan kepintarannya untuk membuat strategi. Alika dengan keimutannya berhasil membuat hati para lelaki yang menolong mereka. Bagaimana mereka akan bertahan hidup dari serangan makhluk itu? Apakah serangan ini akan terus berlanjut?

 

00. PASAR MALAM

Aku tidak tahu ingin darimana memulainya. Oh, baiklah sekarang aku ingat. Kejadian ini diambil 5 tahun yang lalu sebelum aku berpisah dengannya.

*~*~*

MINE POV

Pagi yang cerah sebelum bertemu dengan teman-teman.

“Mine!” panggilnya.

Oh aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Minestia Alfia, kebanyakan orang memanggilku Tia. Tapi berbeda dengan teman-temanku, mereka lebih suka memanggilku Mine.

“Huh? Yuki… kirain siapa tadi yang manggil. Tumbenan datang pagi ke sekolah?”

“Hehe.”

Ini Yuki, lebih lengkapnya Yukiana Justin.

Kami berjalan di sepanjang koridor sekolah dan masuk ke kelas sambil mengobrol. Ada satu hal yang membuatku tertarik dengan Yuki. Dia memiliki penampilan yang keren, murah senyum, jago masak, tinggi, wibu, dan tomboy. Jika kami sedang jalan berdua dimalam hari banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh kepada kami.

“Mas itu hati-hati kalo jalan sama mbaknya, dijaga loh.”

Apalagi kalo dipasar malam banyak perempuan yang melihatku dengan sinis.

“Itu pacarnya? Huh, gak sesuai sama ceweknya. Jelek.”

“Moga hubungannya langgeng ya. Mbak, Mas.”

Dan yang paling parah lagi. Saat ada orang yang menawarkan sesuatu kepada Yuki.

“Bang, sini-sini. ini ada jual boneka s*x. Siapa tahu pas abang lagi pengen e*a-e*a sama cewek abang pas cewek abang lagi gak ada dirumah.”

Benar-benar kejadian yang memalukan. Tapi yah, mau gimana lagi sikap tomboynya sudah mendarah daging sejak dia kecil. Walaupun banyak kejadian memalukan, tapi ada satu hal yang benar-benar melekat dipikiranku.

Malam itu aku sedang berjalan sendirian karena motorku sedang diperbaiki dan ditinggalkan di bengkel, jadi apa boleh buat.

“Motor rusak, ojek lagi gak ada, serem lagi. Kalau bukan gara-gara antrian belanja tadi pasti gak bakalan pulang kemalaman kayak gini, tapi karena diskonan yah gak papalah.”

Sepanjang jalan aku merasa ada yang mengikutiku dan di depan kulihat dua tiga preman sedang bersenda gurau sambil menikmati miras dan rokoknya. Aku ingin lewat jalan lain, tapi gak ada jalan lagi. Ketika aku akan melewati para preman itu, tiba-tiba saja salah satu preman itu menyentuh bahu kananku.

“Adek manis. Kok, jalannya sendirian. Pacarnya mana? Gahahaha!”

Bau mulut orang mabuk itu membuatku mual. Lalu mereka mengerumuniku, itu membuatku semakin takut dan gemetaran.

“Adek manis, habis belanja ya~?”

Aku tidak tahu mau bertindak apa, bela diri saja tidak tahu. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berpikir.

“Bagi abang isi dompetnya, dong~”

Ketika salah satu dari mereka akan mengambil dompetku, aku langsung menggertak dan memukul wajahnya. Aku berusaha lari dari para orang mesum yang mengejarku, tapi karena tidak hati-hati kakiku tersandung batu dan terjatuh.

“Hehe.. adek gak bisa kemana-mana lagi.”

Yang bisa kulakukan kali ini hanyalah berdoa agar ada seseorang yang lewat dan memberikan pertolongan.

“WOI!”

Para preman itu mengalihkan perhatiannya kepada orang itu. Kini jantungku bisa berdegup sedikit tenang. Para preman itu menghampirinya tanpa memikirkanku. Ini kesempatanku untuk pergi, tapi kakiku sakit sekali.

“Berani benar ya kau bocah.”

“Ehe…”

“Huh, dasar bocah sinting.” Salah satu preman itu memukul orang itu tapi ternyata pukulan itu ditahan.

“Heh… kau yang sinting.” Balasnya sambil memukul wajah preman itu hingga terjatuh pingsan.

BUAK!

“Boss!”

Kini yang tersisa hanyalah para pengikutnya. Kaki mereka gemetaran melihat atasannya terbaring ditanah.

“Hiii…!”

Kini salah satu bawahanya akan memukul orang itu dengan botol kacanya dengan membabibuta.

BUAK!

Preman itu terjatuh ditanah tak sadarkan diri.

“Heh… siapa selanjutnya.” Katanya sambil menyeringai. Kini sisa preman itu kabur ketakutan sambil membawa teman-temannya yang tak sadarkan diri.

“Hoi… kau gak papa?” katanya sambil menghampiriku.

Jujur aku sedikit takut dengan orang ini karena seringainya tadi.

“Um…err….uhh…”

“Apa um…err…uhh? Gak, aku gak nyakitin orang kok. Gak perlu takut lagi.”

“Umm… aku gak papa kok.”

“Yakin?” tanyanya dengan muka datar.

“Iya, aku gak papa!” bentakku.

Ketika aku akan berdiri tiba-tiba saja kakiku terasa sangat sakit, kupaksakan kakiku berjalan dan meninggalkannya. Tapi karena tidak melihat batu di depan kaki yang satunya tersandung batu dan aku jatuh kesakitan sambil memijat salah satu kakiku.

“Tuh kan, jatoh. Makanya kalo orang kasih bantuan di terima.” Ejeknya.

Dengan sedikit kesal kuterima saja bantuannya.

“Ya udah, sini tolong aku!”

“Gak ah, gak jadi.”

“Sini cepetan.”

“Haha, iya iya.”

Dia menggendongku di punggungnya. Baru pertama kali seseorang yang memperlakukanku seperti ini. Bahkan pacar lamaku tidak pernah menggendongku.

“Oh iya, aku Mine. Kalau kau?”

“Yuki.”

“Boleh di panggil abang gak?”

“Boleh, kalo lesbi.”

“Eh, tunggu jadi kau cewek!?”

“Ya iyalah, aku cewek. Kalo cowok gak mungkin rambut aku panjang!”

“Tapi kok datar kayak cowok!?”

“Ya, mana ku tahu! Trus tadi yang kena kepung sama preman, ngapa gak teriak minta tolong?! Untung pas jalan aku lagi satu arah, kalo gak gimanalah nasib kau tadi.” katanya balik.

Dari situlah aku berpikir walaupun dia memiliki sifat yang aneh, tapi menurutku Yuki perhatian sama orang yang ada di sekitarnya. Bahkan kami tidak tahu bahwa akan satu sekolah. Apalagi sekolahnya memperbolehkan siswinya menggunakan celana dan siswanya diperbolehkan berambut panjang asalkan memiliki nilai dan sikap yang baik. Itu semakin mambuatnya tidak diketahui gender yang sebenarnya.

“Yuhu, Mine, Yuki, pagi.”

“Pagi, Nuri.”

“Yang lain kok pada belum datang ya?”

“I don’t know?”

“Mine, Yuki, Nuri, pagi.”

“Oh, Alika dan Rika. Panjang umur baru tadi nanya Nuri. Sekarang tinggal Lola.”

“Aok ya, biasanya orang dah masuk dia baru datang.”

Kami mengobrol sampai masuk kekelas.

BRAK!

Suara pintu itu membuat semua mengalihkan pandangannya.

“Fuhhh…. akhirnya, gak telat.”

“Tumbenan, La. Coba kau nabrak pintu tadi.” Kataku.

“Enak aja. Eh, gimana yang nanti malam tu, jadi gak perginya.” Tanyanya.

“Kemana?”

“Astaga Yuki, masa lupa yang baru kita bicarakan kemarin.” Omel Nuri.

“Masa kau lupa sama yang di berita semalam tu, Yuki.” balas Rika diikuti dengan anggukan Alika.

“Oh, yang komet Halley itu ya? Sori lupa.”

“Nah, tu baru ingat.”

“Iya, nanti kita jadi, kita ngumpul di rumah Yuki dulu, nanti kalau semuanya udah datang di rumah Yuki, kita langsung berangkat ke lapangan yang ada pancurannya.”

“Ok, Nur.”

*~*~*

Ketika sampai di lapangan…

“Ramainya… Yuki nanti kita jalan kesana, yuk.” Ajak Alika sambil memeluk tangan kanan Yuki.

“Err… he… ok, ok.”

“Kita mau kemana dulu nih?” tanya Nuri.

“Kita…. ke…. umm…. sana aja.” Balas Rika sambil menunjuk ke arah permainan lempar bola.

“Kita lomba siapa yang dapat boneka.” Rika memasang muka menantangnya kepada Yuki.

“Heh, ayo…” Balas Yuki, dengan wajah yang sama.

“Entah kenapa aku merasakan aura mengerikan dari mereka berdua.” Kata Yuki.

“Yup…” balas Nuri.

“Kayak ada listrik-listriknya gitu.”

Sesampainya di permainan lempar bola. Bola kastinya telah tersedia di depan mata.

“Kok jadinya serem ya liat mereka berdua.” Kata Nuri.

“Tegang.” Kata Mine.

“Kayak perang.” Kata Lola.

“Yuki! Rika! Semangat.” Teriak Alika.

Yuki mengambil bolanya begitupun Rika dan mereka pun melemparnya. Petugas yang sedang berada di tengah piramida kaleng hampir saja terkena bola dan hampir membuatnya sport jantung. Untung saja Yuki dan Rika berjarak satu piramida.

BRAAK!

Kedua-duanya tinggal tersisa satu kaleng lagi. Sedangkan bolanya tersisa dua lagi.

TUING!

Bola kasti milik Yuki yang terkena papan kini memantul kearah Alika, Mine, Nuri, dan Lola.

WUSH..

“Nyaris.” Kata Nuri. Sedangkan yang lainnya mematung.

“Kayaknya ini sih aku yang menang ya, Ki. Hehe.”

“Coba dulu lah sana, bolamukan sisa dua.”

“Ok.” Ketika Rika melemparnya, bola itu tidak mengenainya karena terlalu tinggi.

“Sekali lagi, Ka.” Balas Yuki.

“Pasti kena ni, yakin jak.”

“Iya iya jak Ka.” Ketika Rika melempar bola, bola itu nyaris mengenai kalengnya.

“Yah, gak dapat. Sekarang kau lagi Ki.”

“Ok.”

BRAK

“Nyehe.. kalenganya jatuh jadi aku yang menang.”

“Um.. iyelah….”

Setelah memainkan permainannya Yuki mendapatka boneka beruang besar berwarna pink. Yuki kebingungan mau memberikan boneka itu kepada siapa, karena dia benci warna pink.

“Kalian duluan jak, nanti aku akan menyusul.”

“Ok, Ki.”

Kami akhirnya meninggalkan Yuki disitu dan menuju komedi putar.

*~*~*

 YUKI POV

Aduh gimana nih, kok jadi bingung ya. Mau kasih bonekanya ke Mine nanti Alika kasian, kasih ke Alika nanti Mine kasian gak dapat boneka. Aduh pusing.

“Bang bonekanya di tukar aja, soalnya tadi ane liat abang pusing gara-gara dua cewek abang.”

“Eh, bisa ditukar?”

“Bisa ditukar jadi dua kok bang.”

“Ok, kalo gitu ditukar aja, tapi warnanya sama ya.”

“Siap bang.”

Lagi-lagi orang lain manggil aku abang, tapi biarin aja biar keren gitu loh. Hehe, terima aja.

“Nih bang.”

“Ok, makasih ya.”

“Iya, bang sama-sama.”

Aku akhirnya mengambil kedua boneka itu dan mencari mereka. Eh, kok, malah nyasar. Ni orang pada kemana, lupa nanya lagi.

Bzztt!!

Uh, ada sms. Oh rupanya mereka ada di dekat pancuran. Ok saatnya terbang menuju mereka. Tapi, ini jam berapa? Katanya kometnya bakalan lewat pas jam 23.45 kan. Ah lupakan, sekarang yang terpenting adalah mencari mereka semua.

Kalau diingat-ingat rasanya pas pertama kali ketemu Mine tu orangnya galaklah, juteklah, kayak bebek lagi. Terus pas ketemu sama yang lainnya tu kayak gimana gitu ya nyimpulkan kata-katanya. Intinya mereka itu orang nya unik-unik semua lah.

Uh itu mereka. Akhirnya ketemu juga.

“Yuki kok lama? Nyasar ya?” Tanya Alika.

“Uhh… hampir.”

“Udahlah gak perlu dipikirin duduk aja disitu tinggal pesan minumannya.”

Baru saja aku akan duduk Alika menghampiriku lagi.

“Yuki, dapat bonekanya lucu.”

“Oh, ini buat Alika satu.” Kataku sambil memberikannya kepada Alika.

“Makasih Yuki.” Alika membalasku dengan senyumannya, begitu juga aku. Aku mengalihkan perhatianku untuk mencari Mine. Oh, ternyata dia sedang duduk sendirian di pinggir pancuran, sedangkan yang lainnya sedang pergi memesan cemilan. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menghampirinya.

“Mine.”

“Huh? Ngapa?”

“Hehe, nih buatmu.” Aku menyodorkan boneka pink itu kepadanya.

“Makasih Yuki.” balasnya.

Cie! Cie! Cie!

Ternyata orang yang melewati pancuran meneriaki kami berdua.

“Moga langgeng ya!”

Wajah kami berdua memerah.

What the fuck! Pikir ku.

*~*~*

MINE POV

Sekarang sudah jam 23.40 dan tinggal 5 menit lagi kometnya lewat. Duh, Yuki ilang kemana lagi. tadi bilang mau cari minum tapi kok gak balik-balik. Nyasar kali ya.

“Hei! Lihat!”

Suara orang yang berada di sekitar membuatku menolehnya.

“Kometnya!”

Mataku terpana melihat banyak komet yang melewati langit malam diikuti dengan tebaran bintang-bintang dilangit.

“Nih, minumnya. Sori telat.”

“Oh, makasih Ki.”

“Ok, kometnya keren ya.”

Kini semua mata melihat kearah komet itu. Seakan-akan langit milik sendiri. Tapi, tiba-tiba saja Yuki mengatakan satu hal yang aneh.

“Kok kayaknya ada yang nyasar ya.” Tanyanya.

“Nyasar? Siapa yang nyasar? Haha.” Aku kira Yuki hanya mengatakan lelucon anehnya, jadi aku menanggapinya dengan tidak serius.

“Aku serius loh. Itu kometnya udah kayak meteor yang ngarah kesini.” Dengan nada datarnya. Aku ingat sesuatu tentang Yuki, jikalau Yuki sudah menggunakan nada datarnya, itu tandanya dia benar-benar serius mengatakan sesuatu. Seperti menantang para preman.

“Ayo kita cari yang lainnya.” Ajak Yuki sambil menarik tanganku dengan paksa.

“Ki, pelan-pelan. Aku hampir jatuh!” tapi Yuki benar-benar tidak mendengarkanku.

Kami akhirnya menemukan mereka di parkiran.

“Gimana kencannya, bang?” goda Nuri dan Lola.

“Eh! Mataku salah liat ato apa ya? Kok kayaknya kometnya ada yang ngarah kesini ya?” kata Rika.

Ternyata yang dikatakan Yuki benar. Salah satu komet itu mengarah kesini. Komet itu terpecah belah karena panasnya dan pecahannya memencar kedaerah sekitar. Semua orang yang ada di lapangan kini berlarian menyelamatkan diri dari komet itu.

BRUAK!! BOOMM!!

Komet itu menghantam gedung pencakar langit yang berada di dekat lapangan. Menyebabkan gedung itu patah dan terjatuh mengarah ke arah kami semua. Dengan sigap kami semua berlari sekencang-kencangnya menjauhi daerah itu. Kami berhasil selamat dari patahan gedung dan puing-puingnya. Tidak hanya satu komet saja yang mengarah kesini, tapi hampir semua komet itu mengarah kesini.

*~*~*

Bersambung…

Penulis: Jeje Angela JJ

Penyelaras Bahasa: Pujilestari

Tinggalkan Balasan