The Guardian

The Guardian


INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com

Akibat dari serangan meteor itu kini orang-orang berusaha menyelamatkan diri, begitupun dengan Mine dkk. Tapi berkat ingatan game survival, Yuki meminta teman-temannya untuk mengikutinya. Tujuan mereka sekarang adalah mencari markas kepolisian atau kantor polisi, karena Yuki beranggapan di sana ada barang yang sangat mereka butuhkan.

Saat dalam perjalanan tiba-tiba mereka mendapatkan serangan misterius yang membuat seekor monster mencari mereka.

1. TRAGEDI

YUKI POV

Kok kayak berasa di dunia anime gitu ya. Kena kejadian lalu kayak gini lagi, hadeh. Tapi ini bagaikan imajinasi liar yang sering kau khayalkan. Eh tunggu dulu, pisau-pisau aku aman gak ya. Oh, aman, syukurlah. Aku hampir lupa kalau dibalik jaket kuning favoritku ada pisau cadangan.

BRUAK!! BOOM!!

Ini sih udah jadi hujan komet. Tapi kok keren ya.

“Woi bego! awas!” teriak Lola.

Bak!

“Oi Ki, kau ngak apa-apa?” tanya Lola. Sialan rupanya aku nabrak tiang listrik.

“Yuki!” mereka kini menghampiriku.

Ini mimpi atau nyata? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Kalau nyata baguslah (dunia yang kuinginkan).

“Kau gak papa?” tanya Mine. Aku hanya memegang kepalaku.

Tiba-tiba dari atas sebuah mayat terjatuh menghantam mobil tepat di hadapan Alika.

Brak!

“Hii!” Alika histeris melihat mayat orang itu.

“Hoi… i…ini… darah…?” tanya Rika dengan ketakutan.

“Sekarang kita utamakan mencari tempat aman.” Kataku sambil berdiri dan melanjutkan perjalanan. Kini aku dapat melihat wajah ketakutan mereka semua. Aku tahu bahwa mungkin ini pertama kalinya mereka melihat mayat tepat didepan mata mereka. Aku tahu bagaimana rasanya, tapi bagiku ini pemandangan yang sudah biasa. Karena aku sudah sering melihat mayat.

Kini semua orang lalu lalang menggunakan kendaraanya demi menyelamatkan diri dan keluarganya.

“Hei, lihat!” kataku sambil menunjuk kearah supermarket.

“Kita bisa mengambil makanan sebagai suplai kita selama beberapa hari. Yah, intinya sampai bencana ini selesai.” Lalu dengan cepat kami masuk ke sana dan melihat banyak orang mengambil makanan.

“Kita harus mendapatkan makanan itu sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kehabisan, sebaiknya kita berpencar saja.”

Kami berusaha secepat mungkin untuk mengambil makanan itu agar tidak diambil orang lain. Aku menggunakan jaketku sebagai tempat tampung makanan, sarung tangan, dan obat-obatan. Yah, siapa tahu nanti diperlukan. Setelah mengambil suplai, aku dengan cepat mencari tas ransel untuk meyimpan persediaan, begitupun yang lainnya. Sesak, perebutan dan bentrokan bahkan ada yang membawa benda tajam dan sejata api demi suplai dan keselamatan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain.

“Dapat!”

Setelah berdesakkan mengambil barang-barang ini mengingatkanku ketika mengantar Alika berbelanja dengan banjir diskon.

“Akhirnya!”

Akhirnya, aku mendapatkan tasnya. Aku mengambil sesuai dengan jumlah kami. ketika aku keluar supermarket, aku melihat mereka sudah menungguku diluar.

“Akhirnya, Yuki keluar.” Kata Nuri.

“Akhirnya dan akhirnya lagi.”

“Lu ngapain, La. Sehat?”

“Sori, telat. Nih tas ransel buat simpan barang-barang kalian.”

Tak terasa kami berada di supermarket itu sangat lama, sampai matahari sudah terbit. Kini kami melanjutkan perjalanan kami dan tujuan utama adalah mencari tempat yang aman.

“Kita ke kantor atau gak ke markas polisi.” Kataku memberikan ide kepada mereka.

“Ngapain kita kesana, mau masuk penjara yang ada di kantor buat tempat amannya?” kata Rika yang menganggapku bercanda.

“Kalian dua ngomong apaan, dah. Dengar ya kalian itu tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar seperti yang ada di EYD. Apalagi Yuki.” Terang Lola.

“Lah, kok aku?”

“UDAH UDAH! Kalian ini, udah tahu lagi ada bencana sempat-sempatnya kalian main-main kayak gitu!”

“Katanya mau cari tempat aman?  Lalu ini mau ketempat polisi, yah ngak mungkin lagi ada polisi di sana.” balas Nuri

BTOOM!! GRAA!!!

Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan dan geraman yang sangat besar dan seketika tanah bergerak gemetar.

“Sembunyi!” teriakku seakan-akan tahu apa yang akan datang tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa. Biasalah gunakan insting.

Kami bersembunyi secara terpisah di balik bangunan dan reruntuhan. Satu lagi yang membuatku bertanya. Kemana para polisi dan petugas keamanan lainnya? Sejak tadi kami tidak melihat para polisi maupun tentara.

BUM! BUM!

Itu terdengar seperti langkah kaki yang besar. Aku sedikit mengintip keluar dan melihat. Aku melihat makhluk besar berkaki empat yang aneh. Tubuhnya berwarna hitam bergaris biru, dipenuhi sisik dan banyak tanduk dikepalanya beserta taring gigi yang besar. Di tanduknya tertancap beberapa mayat manusia dan di mulunya di penuhi dengan darah.

Dia datang mendekat, aku dengan cepat menyembunyikan kepalaku.

“Hiks.”

Suara tangis siapa itu. Terdengar familiar. Aku lalu mencari sumber suara itu di reruntuhan. Itu suara tangisan Mine. Dia berusaha menutup mulutnya. Dia ketakutan hebat. Aku akhirnya mendekatinya dengan perlahan sambil megawasi monster itu.

“Hei.” Bisikku padanya.

“Hiks… Yuki.” matanya mengeluarkan banyak air mata. Aku duduk bersembunyi di sampingnya.

“Tenanglah. Aku ada di sini.” kataku lalu dia dengan cepat memelukku. Shit! Aku ngak pernah di peluk kayak gini! Ini membuatku canggung, dia merendam wajahnya padaku.

“Yuki.”

“Uh”

“Aku takut.”

Aku tidak tahu harus berkata apa selain menjaganya. Jujur aku kira tadi anak kecil yang nangis.

GRrr!

Suara ini. Monster itu berada di sekitar sini. Mine semakin erat memelukku dan melihat keatas.

“A…hmmpph!”

Aku dengan cepat menutup mulutnya. Aku tahu monster itu ada diatas kepala kami berdua. Aku melihat keatas dan melihat kepala monster itu. Dia tidak melihat kami yang berada di bawahnya. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari bagian yang terbuka di bawah lehernya.

Masih tetap diam. Lalu monster itu pergi meninggalkan kami berdua. Aku melepaskan tanganku pada mulut Mine.

“Fuhhh….akhirnya monster itu pergi.” Bisikku. Kami sedikit menghela nafas lega. Tapi, tiba-tiba saja ada seseorang yang melemparkan suatu benda di tepat didepan mata kami.

“Itu flasbang!” dengan cepat aku melindungi Mine dengan mendorong tubuhnya menjauh dari alat itu.

DOOM!

Suara flashbang itu memekakkan telinga kami berdua. Untungnya saja tidak ada cedera di tubuh kami.

“Yuki! Yuki!” panggil Mine. “Hei kau tidak apa-apa!?” dia sedikit berteriak karena suara itu masih sedikit menggema di kepala.

“Aku tidak apa-apa.” Kataku sambil memegang salah satu telingaku.

“Syukurlah…. hiks…” dia hampir menangis. Lagi.

“Hei, hei sudahlah jangan cengeng. Kita harus pergi secepatnya sebelum monster itu datang. Suara tadi bisa saja memancingnya kemari. Kita juga tidak tau dimana semua teman kita bersembunyi, bisa jadi mereka telah meninggalkan kita berdua disini.” Ni anak nangis mulu dah.

Tapi sudah terlambat. Ketika kami berdiri, monster itu sudah berada di belakang kami.

HMPH! GRAA!!!

Monster itu mengaum dengan keras. Persetan kampureto dengan orang yang melemparkan flashbang tadi. Orang itu mungkin menggunakan kami berdua sebagai umpan.

“Mundur perlahan-lahan jangan buat gerakan yang mengagetkan.” Bisikku. Kami terus mundur dengan sangat berhati-hati karena salah satu langkah saja nyawa sudah menjadi taruhannya. Aku memasukkan tangan kananku kedalam jaket untuk mengambil salah satu pisau yang berukuran sedang untuk berjaga-jaga apabila ada serangan langsung.

Monster itu masih memperhatikan kami, dia tidak pergi mencari mangsa lainnya. Ini benar-benar gawat. Tiba-tiba saja ada yang melempar flashbang itu lagi.

BTOOM!!!

GRAA!!

Flashbang itu hampir membunuh kami karena tepat berada di tengah, tapi ini adalah kesempatan untuk melarikan diri dari monster itu. Aku dengan cepat menarik tangan Mine dan berlari menjauh dari monster itu secepat mungkin. Aku benar-benar muak, aku ingin memenggal kepalanya dan menarik seluruh organ tubuh orang yang terus melemparkan flashbang ke arah kami.

“Hah… hah…” nafas Mine kini sudah tersenggal-senggal. Dia sudah sangat kelelahan.

Bruk!

Mine terjatuh pingsan karena tidak terbiasa berlari dengan beban berat di punggungnya.

“Hei! Mine! Sadarlah!” ketika aku akan menggendongnya, monster tadi berlari mengarah ke arah sini. “Fucking shit!” aku dengan cepat menurunkan Mine dan ranselku. Tidak ada cara lain lagi selain melawan balik monster itu.

Aku mengeluarkan pisau ku yang satu lagi, kali ini pisau yang berukuran sedikit panjang dari yang sudah ada di tangan kiriku. Aku berlari maju dan mengambil ancang-ancang. Monster itu semakin mendekat dengan cepat begitupun aku yang mengubah kuda-kuda.

GRRRAAAA!!!!

Dia mengarahkan tanduk-tanduknya ke arah ku. Aku menghindar dengan cepat dan ketika aku merobek kulitnya pisauku hancur karena kulit kerasnya. Secepatnya aku mengambil pisauku yang satu lagi. Tapi monster itu membelokkan badannya, sontak ekor panjangnya menerjang dan melemparku ke reruntuhan.

“AAAKKHH!!!” aku berusaha bangun lagi, monster itu melihatku, seperti dugaanku monster itu memang mengincarku. Walaupun Mine berada di sana, dia tidak memangsanya. Tapi apa yang dia incar dari ku?

“Uhuk!” aku terbatuk hingga darah keluar dari mulutku. Tapi ini masih permulaan, aku belum mau tangan dan sarung tanganku kotor karena darahku sendiri.

Kini monster itu berlari kearah ku, ini waktunya melakukan perlawanan balik. Tapi dimana titik kelemahannya? Aku berlari kearahnya, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama sekali lagi. Dia terus menerus menyerangku dengan brutal, begitupun aku yang terus menerus berusaha menghindar dan mencari titik lemahnya.

BRUAK!!

Lagi-lagi tubuhku terhempas reruntuhan oleh monster itu. Kepalaku mengeluarkan darah sehingga menutupi pengelihatan kiriku.

GRAAA!!!

Monster itu mengangkat kedua kaki depannya. Hei tunggu dulu. Bagian leher dan perutnya terlihat berbeda. Tidak ada kulit keras seperti yang dibagian tubuh lainnya. Ini kesempatanku untuk membunuhnya.

Monster itu berlari begitu pula aku dan dengan cepat aku menuju bagian lehernya. Dan..!

CRAASH!!

Kepala monster itu hampir terpenggal dan dia terjatuh lemas. Secara perlahan dia mati karena kehabisan darah.

“Owh… akhirnya aku membunuhnya. Ehehe…. Yes. Monster pertamaku!”

MINE POV

“Mine!” Suara ini…. samar-samar…

“Mine bangun!”

Aku akhirnya terbangun dan melihat Nuri dan yang lainnya berada di sampingku.

“Huwa! Kami kira kau sama Yuki mati gara-gara monster seram itu.” tangis Rika.

“Kau tahu, kami benar-benar khawatir dengan kalian berdua.” Kata Nuri.

Mereka semua benar-benar mengkhawatirkan kami berdua. Tapi, dimana Yuki?

“Eh, anu, Yuki mana?” tanya ku.

“Oh, Yuki lagi bersihkan jaketnya di luar sekalian patroli.” Jawab Lola.

“Ugghh…” aku memegang kepalaku yang masih sedikit sakit.

“Kau lapar?” kata Alika sambil menawarkan sebungkus roti dan air mineral.

“Makasih, Al.” Balasku dengan tersenyum.

Aku tidak sadar bahwa aku tertidur hingga malam hari.

“Oh ya, kalian kok bisa nemuin aku sama Yuki?” tanyaku.

“Oh itu, kami tu pas Yuki bilang buat sembunyi. Itu tuh si manusia jahanam malah lari ketempat lain, jauh lagi. Apa gak buat kami berempat ni ngejar dia tu.” Cerita Nuri sambil menunjuk kearah Lola.

“Eh, pas kami ketemu kalian. Si Yuki gendong kau terus dari sampai ketemu sama kami.” lanjut Rika.

“Tapi kau tau gak, pas kami ngeliat Yuki gendong kau. Hampir semua badannya mandi darah. Apa gak kaget ketakutan kami ngeliatnya.” Kata Alika

“Alika hampir pingsan liat Yuki kayak gitu.” Sambung Nuri

“Kayaknya itu si Yuki habis ngelawan monster yang tadi dia minta kita buat sembunyi. Iya gak?”

“Tapi dari mana ya dia tahu kalo ada monster?” tanya ku.

“Kau tahu lah anak wibu pikirannya ke imajinasi liar semua.” Jawab Nuri sambil melihat ke arah Lola.

“Huh?”

“Ya ya benar juga. Anak wibu imajinasi nya liar semua.” Kata Rika.

Kami hanya mengangguk. Aku juga tidak tahu bahwa di akan menghadapi monster itu.

Kami terus bercerita. Walau hanya di temani api unggun kecil sebagai penerang kami dan rumah tua besar yang telah ditinggalkan.

Kriet…

Suara pintu.

Tap… tap… tap…

“Mine!” katanya. Aku langsung terbangun dan memeluknya.

“Kau gak papa kan Ki?” tanya ku.

“Uhuh..” jawabnya dengan nada datar.

“Min?”

“Ya?”

“Bisa lepasin gak, soalnya aku gak suka di peluk.”

“Eh, sori.” Aku dengan cepat melepaskan pelukanku.

“Jadi gimana Ki?” tanya lainnya.

“Oh, aman. Cuma pokoknya salah satu dari kita ni harus ada yang gak tidur. Cuma buat jaga-jaga doang. Aku tadi abis naik keatas gedung lihatnya.”

“Gila, sampai ke atas gedung.” Kata Lola.

“Ehe… mumpung pas lagi situasi kayak ginikan, yah mau gimana lagi. Lagian sekarang itu gunakan pengalaman dalam game sama otot.”

“Ya tapi buat sekarang susah juga loh buat berpikir.”

“Untung aja aku sering main game yang kek beginian. Makanya aku tahu.”

“Nyesel aku ngak main game.”

“Menyehehehe…. sekarang orang bodoh yang berkuasa. Orang pintar kayak kau ngak bakalan ngerti dunia game.”

“Tapi pengalaman dalam anime juga ada kok. Kek Two Piece, BTEOM, BuruXBuru. Itulah gunanya nonton anime.”

“Tapi bukannya kau ngincar adegan nyauoi nya ya?”

“Nyauoi?”

“Yaoi.”

“Of course.”

“Dan hanya orang bodoh yang percaya kalian berdua.” Sambung Nuri.

Sebelum tidur. Yuki mengajukan diri untuk berjaga di malam ini.

“Yah selain aku yang bisa bela diri siapa lagi yang bisa nyelamatin kalian?” katanya sebelum melakukan hompimpa.

Kini semuanya sudah tertidur pulas karena kelelahan. Aku berusaha menutup mataku, tapi tidak bisa. Aku benar-benar gelisah karena tidak bisa tidur.

“Ahh…!” aku terbangun dan duduk karena kesal tidak dapat tidur seperti yang lainnya.

“Eh? Yuki?” aku tidak melihatnya disini. “Uh… kemana lagi dia.”

Aku terbangun dan berjalan mencarinya di seisi rumah dengan bantuan senter kecil.

“Gelap.” Aku berjalan dengan sedikit ketakutan karena aku tidak pernah berada di ruangan gelap seperti ini. Ruangan yang hanya di terangi oleh cahaya bulan purnama, ditambah dengan suara-suara aneh semakin membuatku takut.

“Yuki…” aku memanggilnya dengan pelan. Karena apabila aku memanggilnya dengan keras itu akan memancing para monster dan memakan kami semua.

“Ki…” ketika aku sampai di dapur aku melihat Yuki dari jendela. Ia sedang berada di luar. Sendirian.

Aku ingin menghampirinya tapi aku mengurungkan niatku.

“Kalau kau mau ke sini, sini aja.”

Eh!? Kok dia bisa tahu kalau aku ada di sini? Padahal dia tidak melihatku karena dia membelakangiku. Yah, apa boleh buat. Aku pergi keluar dan duduk dengannya.

“Kok, kau bisa tahu bah kalo aku lagi ada di dapur?”

“Dari sinar senternya.”

“Uhhh…”

“Kau gak tidur, ha?”

“Aku cuma gak bisa tidur. Jadi aku nyari kamu.”

“Huuh… whatever.”

“Btw, ngapain kau di luar Ki. Ngak takut gitu dengan hantu?”

“Ngak cuma mau nyari jangkrik buat snack.”

Ni anak, lain yang ditanya lain yang di jawab.

Pembicaraanku terhenti karena melihat perban di kedua tangannya dan di kepalanya. Bukan hanya itu di lengan dan kakinya terdapat banyak bekas luka.

“Ada apa?” tanyanya.

“Eh… ngak… ngak papa. Um.. itu.. sori ya, yang tadi. Gara-gara aku, kau sampai luka kayak gini. Aku gak tahu bakalan kayak gini jadinya.” Aku hampir meneteskan air mataku lagi.

“Fuuhh… kau ini benar-benar cengeng ya.”

“Aku gak cengeng!” bantah ku.

“Tapi kok matanya berair tu?”

“Ngak kok, tadi mataku barusan kemasukan kerikil.”

“Nyatanya matamu aja kecil kok bisa kemasukan kerikil.”

“UUmmmpphh… Dasar.”

“Haha udah jangan ngambek lagi. Iya sori-sori. Haha.”

Aku tidak ingin Yuki mengetahuiku menangis. Aku harus bisa mengganti topik pembicaraan. Tapi rasanya canggung kalau bicara gayak gini.

“Eh, jaketmu mana Ki?”

“Basah, abis ngebersihkan sisa darah tadi.”

“Darah? Darah siapa?”

“Masa lupa kejadian tadi, memangnya mereka Nuri ndak ada cerita sama kau? Abis kau bangun dari pingsan tadi?”

“Oh, iya aku baru ingat. Sori lupa.”

“Tapi untung juga sih kau pingsan. Soalnya baru aja liat darah dikit kau udah teriak histeris sampai pingsan. Gak mungkin kan kau pingsan dua kali.”

Aku ingat beberapa kejadian waktu itu jari telunjuk Lola terkena jarum jahit hingga mengeluarkan darah. Walaupun hanya sedikit itu sudah membuatku ketakutan. Memang sih, aku punya ketakutan terhadap darah.

“Terus aku mau nanya kok kau gak takut sama darah atau orang jahat gitu sama monster tadi?”

“Ehe, rahasia. Kalau yang itu yah, aku cuma mau coba-coba dari hasil latihan aku selama 9 tahun aja.”

“Uh, kau latihan selama 9 tahun! Jadi kau udah jadi apa sekarang?”

“Jadi alien.”

“Iihhh… Yuki aku serius.”

“Ehehe, iya iya aku cuma latihan gitu-gitu doang dari film terus niruin gerakannya buat jadi bekal nanti.

“Keren.”

“Siapa dulu, namanya juga Yuki, heh.”

“Dasar.”

“Udah sana tidur, lagian aku mau keliling lagi. Jaga-jaga.”

“Ikut.”

“Ngak.”

“Yaudahlah aku pergi tidur dulu. hati-hati.”

“Ya.”

Aku pergi meninggalkannya sendirian disana. Jujur sebenarnya aku ingin membantunya tapi yah, dia memaksa agar tidak mengikutinya. Ya ya aku tahu karena aku lemah.

Tapi setidaknya mulai sekarang aku akan berusaha membantu yang lainnya juga sebisa mungkin. Karena aku tidak ingin merepotkan yang lainnya juga.

Bersambung…

Penulis: Jeje Angela JJ

Penyelaras Bahasa: Pujilestari

Tinggalkan Balasan