Margareta Wahyu Cahyaningsih: Perawat, Pelopor, dan Pelestari Seni di Indonesia

KESENIAN INDONESIA, KALAU TIDAK CINTA GIMANA BISA MELESTARIKANNYA?


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Hallo pembaca Mata Media para Generasi Muda Menginspirasi. Kali ini kita akan menyajikan profil mahasiswi-mahasiswa dengan tema dan rubrik baru kami The Power Of Youth, tapi tidak sembarang mahasiswa-mahasiswi ya, yang akan kita bahas kali ini adalah profil seorang mahasiswi yang berprestasi dibidang tari. Wah, keren ya guys…

Penasaran dengan mahasiswi ini?

Mahasiswi dari Universitas Negeri Yogyakarta jurusan S1 Akuntansi ini adalah seorang mahasiswi yang benar-benar luar biasa, bernama Margareta Wahyu Cahyaningsih. Mahasiswi cantik ini akrab disapa teman-temannya dengan nama Reta. Hmm, sudah cantik, pintar nari, kurang apa coba.

Reta lahir pada tanggal 14 Maret 1998 di Klaten. Reta kecil sudah mulai menari dari umur 5 tahun. Bermula dari ketertarikannya ketika sang Ibu yang merupakan seorang pelatih tari ini mengajar. Reta adalah seorang mahasiswi yang terkenal pantang menyerah dan pekerja keras, dia adalah sosok yang bersahaja dan banyak disukai teman-temannya.

Selain karena hobi, kesukaannya terhadap tari ini juga terus berkembang dengan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungannya yang selalu mendukung apapun yang dilakukannya. Dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang penuh kasih dan kebahagiaan juga membuat karakter Reta terbentuk baik sejak kecil, Reta adalah orang yang tulus jadi tidak heran ya Reta bisa sangat mencintai keseniannya.

Reta juga sadar bahwa kesenian Indonesia itu banyak ragamnya, terutama kesenian di tanah kelahirannya, pulau Jawa. Sayangnya banyak orang, terutama pemudi-pemuda zaman sekarang yang sudah mulai meninggalkan budayanya, terpapar oleh kebudayaan negara lain yang katanya lebih modern. Jadi sebagai seorang mahasiswi dia ingin banget bisa menjadi perawat, pelopor, dan pelestari seni di Indonesia.

Memenangkan banyak lomba seni tidak membuatnya tinggi hati, nyatanya dia tetap dikenal sebagai pribadi yang santun, ramah dan bersahaja. Reta sudah memenangkan banyak kompetisi bahkan sejak dia masih duduk di bangku SD.

Selain mengikuti banyak perlombaan, Reta juga sudah tergabung dalam Ramayana Ballet sejak kelas 2 Sekolah Dasar. Reta juga pernah mengikuti gelaran Solo 24 jam menari dalam peringatan World Dance Day beberapa waktu lalu. Setelah menjadi mahasiswi pun, Duta Seni UNY ini masih aktif mengikuti beberapa perlombaan, seperti Juara Favorit Tari kreasi se-DIY Yogyakarta, Juara 3 tari Duta Seni UNY dan prestasi terbarunya adalah menjadi Juara 1 Tari Peksimida (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) Yogyakarta.

Yuk lihat apa prestasi lengkap Wahyu Cahyaningsih Generasi Muda Menginspirasi yang MATAMEDIA-RI.com temukan:

Sekolah Dasar

  1. Sudah ikut menari Ramayana ballet Prambanan sampai sekarang
  2. Juara 2 tari porseni tingkat kabupaten
  3. Juara 1 lomba geguritan tingkat kecamatan
  4. Juara 3 lomba geguritan tingkat kabupaten
  5. Juara 3 LCC tingkat kabupaten

Sekolah Menengah Pertama

  1. Juara 1 tari gambyong kabupaten klaten
  2. Penari Ramayana ballet Prambanan

Sekolah Menegah Aatas

  1. Juara 2 pemeran pembantu putri Festival Ketoprak Pelajar Kabupaten Klaten
  2. juara umum festival ketoprak pelajar klaten
  3. Juara harapan 3 Tari luyung (lurik payung) kabupaten klaten
  4. Penari Ramayana ballet Prambanan
  5. Penari world dance day ( hari Tari sedunia) penyelanggara ISI Surakarta pengisi dari beberapa wilayah di Indonesia bisa termasuk nasional

KULIAH

  1. Juara Favorit Tari kreasi se-DIY Yogyakarta
  2. Juara 3 tari Duta Seni UNY
  3. Juara 1 Tari Peksimida (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) Yogyakarta
  4. Penari Ramayana ballet Prambanan
  5. Penari Dalam Ajang IRF( Internasional Rain Festival) di Surakarta
  6. Peserta finalis Peksiminas ( Pekan Seni Mahasiswa Nasional) 2018
  7. Penari World Dance Day di ISI Surakarta (Hari Tari sedunia)

Reta, ada nggak si yang berpandangan buruk tentang kamu? “Jelas ada ya, namanya juga hidup bermasyarakat, kadang meski kita udah bermanfaat tetap aja ada yang dibelakang gak senang dan diam-diam sedikit ngujat, tapi ya gpp yang penting kita hidup bermanfaat bagi lingkungan, dan bagi bangsa kita ” jawab Reta, Reta kerap mendapatkan kata-kata buruk, namun dia tidak pernah ambil pusing dengan semua kata-kata itu, bahkan bagi dirinya, hujatan atau kata-kata buruk itu dijadikannya semangat dan evaluasi diri sehingga dia bisa bertumbuh menjadi insan yang yang mencintai kebudayaan bangsanya sendiri

Selain menari, Reta ternyata juga banyak mengikuti organisasi di kampus maupun diluar kampus. Selain menjadi seorang anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY, mengikuti UKM Seni Kamaserta, Ramayana Ballet, Reta juga aktif menyalurkan ilmunya dengan mengajar siswa-siswi Sekolah Dasar. Sudah Organisasi kampus, organisasi masyarakat, dan tak ketinggalan juga organisasi Gereja. Reta sadar bahwa semua nikmat yang dia terima hadirnya dari Tuhan sehingga sebagai rasa terima kasih, Reta menjadi seorang yang aktif didalam organisasi Gereja dan Keagamaan.

Menari iya, Organisasi iya, Agama juga tidak ketinggalan, nggak capek nih? Kalau Reta bilang capek jelas capek lelah, letih, lesu sering menyerang dirinya. Malas kuliah juga beberapa kali menghampiri, tapi Reta menyikapi kemalasan itu dengan cara yang luar biasa. Reta selalu mengingat motivasinya, selalu menjadikan Ibunya dan keluarganya sebagai motivasi dalam kehidupannya.

Reta sangat menyayangi ibunya, Reta menjadikan ibunya sebagai motivasi dalam dirinya melakukan berbagai aktivitas. Tidak hanya ibunya, keluarganya, serta lingkungannya selalu dia jadikan atmosfir motivasi. Sehingga Reta mampu berpikir tetap profesional dan bertanggung jawab dalam segala hal.

“Nari dari kecil terus jadi hobi dan makin hari makin lekat di hati, bukan untuk karier tapi tetap mau melestarikan seni bangsa kita,” begitulah jawaban gadis ini jika ditanya soal menari. Gadis ini lebih memilih menjadi wirausaha dibandingkan menggeluti tari menjadi profesinya, nampak dari dia yang memilih jurusan akuntansi dibandingkan jurusan tari. Dia ingin kuliah bisa menjadi sarana dia mempelajari yang lainnya sedangkan tari sudah dia dapatkan di luar kuliah.

Reta sering berpesan kepada siapapun yang bertanya kepadanya tentang melestarikan budaya, terkadang Reta sendiri merasa sedih dengan keadaan pemudi-pemuda yang lebih mencintai kesenian negara asing ketimbang kesenian bangsanya sendiri. Tidak berhennti disitu banyak orang Indonesia yang lebih suka menggunakan barang-barang ber-merk luar negeri ketimbang merk dalam negeri, padahal hal itu merupakan suatu langkah unutk melestarikan budaya Indonesia.

“Kembali kepada diri kita masing-masing aja, kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikannya dengan cara mengajari menari adek-adek siswa-siswi Sekolah Dasar, memotivasi mereka untuk mencintai kesenian bangsa ini” begitu katanya. Benar juga si, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan dan bangga terhadap kebudayaan di Indonesia.

Kebudayaan disini tidak melulu tentang tarian atau seni lukis, pahat dan sebagainya, karena bagi Reta bahasan itu terlalu sempit. Kebudayaan menurut dia adalah seluruh hal yang ada di Indonesia, seperti norma tingkah lakunya, sopan santunnya, produk-produknya, pola kehidupannya, dan masih banyak lagi. Jadi tidak sulit kan cara untuk melestarikannya, cukup dengan menjalani kehidupan sehari-hari layaknya orang Indonesia juga sudah termasuk kedalam melestarikan budaya Indonesia.

“Harapannya semoga kesinian di indonesia tetap lestari dan anak-anak pada zaman sekarang mau ikut terlibat dalam melestarikan kebudayaan walaupun Cuma mengapresiasi,” terang Reta.

Reta juga menambahkan di akhir wawancara kami bahwasanya, kecintaan terhadap budayanya sendiri sudah bisa dimulai sejak dini, sehingga penting bagi kita semua untuk menanamkan kecintaan itu kepada anak-anak misalkan Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar. Reta juga merasa bahwa kebudayaan harus disosialisasikan kepada anak-anak Indonesia terutama untuk anak-anak yang suda terlalu masuk kedalam dunia gadget, sekali-kali kita bida mengajak mereka untuk bermain diluar dan lebih mengenal lagi tentang budaya di Indonesia.

“Salah satu  cita-citaku ingin membuat sanggar kedepannya,” ungkap Reta penuh bahagia.

Nah itu tadi adalah seputar kehidupan Margareta Wahyu Cahyaningsih bagaimana dia bisa menjadi duta seni untuk lingkungan dan untuk dirinya sendiri. Reta yang selalu bersahaja ini sangat mencintai kebudayaannya namun juga tidak menjadi kaku dalam kehidupannya. Di dalam jiwa Wahyu Cahyaningsih menari sudah terpatri di hati, begitu mencintai tari gerak hidupnya tak akan lepas dari seni, sebagai Perawat, Pelopor, dan Pelestari Seni di Indonesia Raya untuk generasi yang akan datang nanti.

Penulis: Gristyantika Prefy

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan