Potensi Siswa: Menjadi Alat Industri atau Manusia?

Ilustrasi: Pinterest


INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com – Secara garis besar, pendidikan di Indonesia berkiblat pada pendidikan di Barat. Di sana, anak dalam tahap usia berkembang disiapkan untuk menjadi alat, yaitu alat  pemegang role perindustrian. Perindustrian yang mereka jalankan memang berjalan tanpa henti, dan capaiannya terus meningkat setiap tahun. Hal itu memang sudah didesain, agar roda perindustrian di Barat yang sudah berjaya tidak akan berhenti.  Lantas bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Perindustrian di Indonesia masih dalam tahap perkembangan. Untuk apa anak-anak Indonesia sejak dini sudah dipersiapkan layaknya alat? Tepatkah mempersiapkan mereka menjadi alat?

Setiap anak yang memasuki tahap remaja sesungguhnya memiliki potensi yang khas. Jika mendapatkan fasilitas, lingkungan, dan bimbingan yang tepat, maka akan berkembang menjadi kunci kesuksesan dari pemilik potensi tersebut. Ketika orientasi pendidikan mengarahkan agar peserta didik kelak dapat menjadi “alat”, maka anak-anak yang kritis dan kreatif harus belajar sendiri untuk menjadi manusia.

Alat secara harfiah berarti perkakas. Benda yang tidak berjiwa, yang difungsikan sebagai sarana untuk mempermudah manusia mencapai tujuannya masing masing. Dalam konteks ini, posisi manusia yang berakal dan berketerampilan adalah menjadi makhluk yang paling mampu membuat alat. Kemampuan ini adalah tahap yang paling penting untuk perkembangan dan kehidupan manusia. Maka dari itu, untuk mencapai suatu tujuan umum berupa kesejahteraan, berarti manusia harus mampu menciptakan alat untuk mencapai kesejahteraan hidup yang dicita-citakannya.

Masalahnya, bagaimana cara untuk memahami pikiran orang-orang pandai yang menempatkan manusia di dalam sistem pendidikan untuk dipersiapkan menjadi alat?

Menyiapkan siswa untuk menjadi alat pemegang role perindustrian ternyata diam-diam telah jadi keyakinan tersembunyi berbagai sekolah dan para guru. Memang bagus kedengarannya. Tetapi, secara tidak langsung pola pendidikan seperti itu sebenarnya sedang melucuti kemanusiaan para siswa. Namun perlu diketahui bahwa alat hanyalah alat. Benda mati yang tidak perlu berinisiatif, apalagi mengembangkan kreativitas. Inisiatif dan kreativitas hanya dibutuhkan oleh mereka yang berwenang untuk mempergunakan alat. Inisiatif dan kreativitas juga hanya diperlukan bagi mereka yang punya hajat untuk memperalat. Oleh karena itu, untuk menjadi alat, sikap kritis tidak diperlukan karena sikap kritis akan menimbulkan suasana yang kontra produktif. Wajar jika kemampuan berpikir kritis anak kini dimatikan.

Spirit mengarahkan siswa untuk jadi alat membuat setiap guru mendambakan siswa yang mudah diatur dan cerdas. Guru pasti senang terhadap siswa yang cepat menangkap pelajaran yang ia sampaikan dan dapat berhitung dengan cepat dan tepat. Tetapi, kebanyakan guru seringkali lalai akan hal penting yang seharusnya justru ditumbuhkan di dalam diri setiap siswa, yaitu (1) kreativitas, dan (2) berpikir kritis.

Sayangnya, seringkali guru malah tidak menunjukkan apresiasi yang baik kepada anak yang berpikir kritis, jika dibandingkan dengan anak yang pintar berhitung. Anak-anak kreatif seringkali dipandang sebagai anak yang aneh, sementara anak yang pintar berhitung adalah anak-anak idaman guru. Para guru cenderung menyaring siswa dengan filter “mudah diatur.” Filter semacam itu memang sesuai dengan keyakinan tersembunyi yang ditumbuhkan secara diam-diam. Keyakinan itu tanpa terasa telah menjadi hidden paradigm, model, pola, dan metode utama dalam menjalankan sistem pendidikan di Indonesia. Bahkan tak sedikit orang yang merasa bahwa sistem pendidikan yang seperti inilah yang sempurna. Maka, untuk memperoleh privilege atau hak istimewa di sekolah, siswa harus bisa menjadi anak yang penurut dan mudah diatur. Resikonya, sikap anak yang seperti itu secara tidak sadar membunuh potensi kreatif dan daya kritis dalam diri sendiri. Tak heran masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang statis karena miskin pertumbuhan ide kritis dan kreatif dari generasi penerusnya.

Tidak sedikit siswa-siswi yang hanya demi memperoleh privilege tersebut bahkan rela melakukan bunuh diri terhadap potensi kreatif dan daya kritis dalam dirinya. Mereka mengira bahwa paradigma itu akan mencetak generasi yang menciptakan perubahan, generasi yang berani ‘menggebrak’ kondisi yang tidak menguntungkan banyak pihak. Mereka juga secara sadar mengira bahwa generasi inilah yang akan melanjutkan estafet peradaban bangsa, sehingga harus berkarakter penurut. Mereka pikir, jika tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tidak menjadi penurut, mereka akan jadi generasi yang tidak produktif. Padahal justru pola yang seperti inilah yang merusak. Sayangnya sedikitpun tak ada kekhawatiran dan kesadaran bahwa paradigma pendidikan seperti itu kelak akan melahirkan generasi “asal babe senang” yang tidak peduli lingkungan sekitarnya.

Terdapat rumor yang muncul di kalangan siswa di mana-mana, bahwa peraturan yang berlaku di banyak sekolah seringkali cenderung anti-teknologi. Kondisi seperti ini juga menjadi faktor penghambat perkembangan potensi siswa. Misalnya, siswa dilarang menggunakan laptop maupun smartphone. Padahal, kedua alat itu adalah sarana yang justru mempermudah mereka dalam mencari berbagai pengetahuan. Kedua alat itu merupakan sarana penting bagi anak-anak kritis yang sering melontarkan pertanyaan out of the box yang tak terjawab oleh guru. Bagi siswa kritis dan kreatif, larangan itu sungguh membuat galau. Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa orientasi pendidikan diam-diam mengarahkan peserta didik kelak menjadi alat pemegang role perindustrian, mereka pun diam tidak pernah protes. Namun jika kita pikir kembali, larangan itu sangatlah wajar dan masuk akal, karena, bagaimana mungkin calon alat belajar mempergunakan alat? Dikhawatirkan ketika mereka menguasai alat, ke depannya ia tidak dapat diperalat.

Murid-murid yang berpikir kritis merasa banyak guru belum tercerahkan. Mereka juga memandang banyak guru belum menemukan cara yang tepat untuk menghadapi anak-anak kritis. Para guru kewalahan menghadapi, dan memilih menghindari anak tersebut dengan cara mengisolir dan memberi nilai kurang. Oleh karena itu, menjadi siswa kritis harus dapat berhati-hati karena mudah sekali dipandang sebagai anak yang aneh, anak yang cara berpikirnya berbeda dari anak-anak lain. Mungkin, itu karena kelelahan guru menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis. Mereka tak sadar bahwa itu adalah potensi siswa untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kondisi ini menjadi sebab tidak dihargainya anak-anak berpola pikir kritis. Hingga saat ini, kebanyakan guru cenderung mementingkan nilai. Mereka cenderung memandang kesuksesan diukur dari angka-angka, walaupun kadang tak jelas dari mana sumber angka itu. Selalu terjadi, sekolah menerapkan kebijakan bahwa anak yang meraih nilai tinggi menjadi wakil sekolah untuk berbagai lomba di seluruh bidang walaupun siswa tersebut sebetulnya tak punya potensi dalam bidang tersebut. Situasi dan kondisi seperti itu menyebabkan potensi-potensi unik menjadi tak pernah berharga. Tidak dihargainya potensi khas oleh sekolah akan sangat menghambat perkembangan potensi unik siswa.

Akhirnya, keseluruhan ini bermuara pada; dibutuhkan sarana yang luas dalam pembelajaran, dan penghargaan untuk mereka yang kritis. Membuat dikotomi ‘anak yang pintar’ dan ‘anak yang bodoh’ dengan patokan nilai-nilai akademik adalah suatu kesalahan. Kondisi seperti justru membuat potensi non-akademik tak terlihat dan sia-sia. Sesuatu yang tak menguntungkan, tak butuh untuk dipertahankan. Begitu pula sistem pendidikan kita di Indonesia.

Penulis:  Potrika Janno Vitanka

Editor: Virna Natami Putri

Tinggalkan Balasan