Narasi dan Indonesia Pemimpin Dunia

INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com – Indonesia adalah negeri yang kaya akan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Dengan kekayaan potensi yang begitu besar dan melimpah, seharusnya Indonesia saat ini telah menjadi pemimpin peradaban dunia dan potensi itulah yang memicu Sukarno berkata “Indonesia adalah macan Asia”. Tetapi, apa yang kita saksikan pada hari ini adalah sebaliknya. Gelar macan asia yang seharusnya melekat pada bangsa ini, seolah hanya utopia dan angan-angan belaka.

Ketidakadilan hak asasi manusia, kebakaran hutan dan kemiskinan yang semakin banyak merupakan sekelumit permasalahan yang dari ke hari membuat ibu pertiwi semakin jauh dari cita-cita dan peradaban.

Padahal di luar sana, dunia sedang menyaksikan pertarungan karya antar negara sedangkan Indonesia, lebih sibuk mengurusi permasalahan dalam negerinya yang dari waktu ke waktu semakin banyak kesemrawutan di sana sini dengan skala besar lagi luas.

Kalau diibaratkan, negeri ini seperti orang lugu yang berdiri di pinggir jalan padahal di depan kita tengah terjadi balapan  yang begitu sengit. Karena itulah, Indonesia harus turut turun ke jalan untuk turut ambil bagian dari balapan ini.

Para pemuda dan pemudi Indonesia sudah saatnya mengeluarkan narasi dan gagasan terbaiknya untuk membangunkan macan yang telah tertidur lama. Para pemuda dan pemudi negeri ini sudah saatnya melangkah berkolaborasi bersama-sama membangun potensi yang ada di negeri ini.

Karena itulah yang diperlukan oleh Indonesia pemimpin dunia bukanlah hanya 1000 pemuda dan pemudi tetapi, 1000 narasi dan gagasan. Karena narasi dan gagasan pemuda dan pemudi adalah ruh suatu bangsa, ia merupakan kunci yang membuka pintu kejayaan dan ia adalah batu bata pertama dalam membangun peradaban.

Jika kita tengok kembali ke belakang, langit-langit sejarah negeri ini telah menjadi saksi bahwa gagasan para pemuda merupakan kunci dalam membuka kemenangan. Tahun 1928, berawal dari kegelisahan atas penindasan kolonial dan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia para pemuda dari seluruh nusantara berkumpul dan merumuskan narasi kemerdekaan yang sangat visioner hingga akhirnya 17 tahun kemudian proklamasi kemerdekaan bergaung di seluruh penjuru nusantara.

Dari sumpah pemuda kita belajar, jika kita ingin mewujudkan Indonesia “Pemimpin Dunia” maka yang harus dilakukan pertama kali adalah menumbuhkan kegelisahan dan rasa cinta di setiap pribadi rakyat terkhusus para pemuda dan pemudi. Karena dari situlah rumusan narasi Indonesia pemimpin dunia tercipta.

Saudara-saudaraku, tahun 2045 Indonesia akan mengalami bonus demografi yaitu, kondisi dimana penduduk yang produktif daripada penduduk yang tidak produktif. Tetapi yang perlu dicatat adalah, bonus demografi akan menjadi anugrah jika masyarakat di suatu negara tersebut benar-benar produktif menghasilkan karya dan akan menjadi bencana jika penduduk negara tersebut tidak produktif menghasilkan karya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden mulai saat ini harus mempunyai gagasan yang jelas mau diarahkan kemana bangsa ini. Komisi Pemberantasan Korupsi yang menjadi macan pemberantasan KERAKUSAN, KEPALSUAN, dan KEGILAAN para politikus dan pejabat negara justru cakar, taringnya malah di amputasi. Oligarki politik yang semakin tersusun rapi memenuhi negara dengan segala ambisis partai dan pribadi, justru menambah permasalahan bangsa dan negara. Cita-cita yang sangat jelas yang ada pada ruh bangsa ini justru berakhir bias.

Rakyat di negeri ini berharap bahwa kekayaan alam yang melimpah ruah adalah anugerah yang dapat mensejahterakan mereka akan tetapi manusia-manusia biadab  merampas semua harapan mereka. Bagaimana tidak? Kesenjangan kesejahteraan begitu menganga, faktanya kekayaan para konglomerat di negeri ini setara dengan kekayaan seluruh warga Indonesia.

Dana pendidikan yang seharusnya menjadi perintis kemajuan pendidikan bangsa malah dimanfaat para pejabat untuk berfoya-foya, membeli mobil baru untuk para Menteri baru Presiden Jokowi.

Rakyat yang seharusnya bersinergi membangun peradaban malah saling benci-membenci akibat termakan hoax untuk mengalihkan perhatian publik pada kebobrokan para pejabat negara.

Jika Presiden mempunya visi dan misi yang jelas dan terhubung cita-cita yang ada pada ruh bangsa ini, maka harusnya bisa menggerakkan rakyat merumuskan suatu narasi besar tentang arah bangsa ini agar tidak terombang ambing dalam percaturan global. Dan, jika itu telah berhasil dilakukan maka lokomotif yang bernama Republik Indonesia ini akan segera keluar dari terowongan yang gelap menuju cahaya kejayaan dan bukan tidak mungkin akan menjadi pemimpin bagi bangsa-bangsa di dunia.

Penulis: Muhammad Fathi

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan