Moeslem Fest: Gerak Sosial Budaya Mahasiswa-Mahasiswi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY

Berangkat dari mata kuliah manajemen event di semester 3 mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ekonomi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY mengadakan sebuah event yang bernama “Moeslem Fest”, dengan mengangkat tema “Wonderful Art of Moeslim” yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2018 di Masjid Agung Manunggal Bantul, DIY.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Pada awalnya satu kelas di dalam mata kuliah manajemen event di bagi menjadi 5 kelompok oleh Rr Chusnu Syarifa Diah Kusuma, S.A.B., M,Si selaku dosen. Tiap kelompok memberikan gagasan, ide untuk membuat event apa, lalu dipresentasikan di depan kelas. Setelah dipresentasikan terpilihlah gagasan dari kelompok Kurniasari sebagai event yang paling bagus untuk diselenggarakan menjadi sebuah event.

Kurniasari selaku salah satu penggagas Moeslem Fest mengatakan, memilih gagasan tersebut berangkat dari kurangnya event keagamaan yang ada pada Fakultas Ekonomi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY. “Di ADP itu dari dulu event yang ada cuma ada workshop dan lomba-lomba aja, jadi kami membuat sesuatu event yang baru yaitu Moeslem Fest,” jelas Kurnia yang juga menjabat sebagai Sekretaris HIMA PADP.

Setelah terpilih sebagai gagasan yang diselenggarakan menjadi sebuah event mahasiswa-mahasiswi yang baru menginjak semester tiga ini bersepakat menamakan diri menjadi “King Organizer”. Sebanyak 20 mahasiswa-mahasiswi ini melakukan rundingan-rundingan untuk mensempurnakan gagasan dan menamakannya “Moeslem Fest”. Keduapuluh mahasiswa-mahasiswi ini lalu saling bersinergi kesana-kemari berjibaku sebagai panitia untuk mensukseskan Moeslem Fest.

Moeslem Fest mengangkat tema “Wonderful Art of Moeslim” yang bertujuan untuk mengenalkan kembali masyarakat khususnya para pelajar dizaman now bahwasanya di dalam agama Islam kaya akan seni yang perlu dilestarikan. “Kami ingin menunjukan kepada generasi milinial Islam mempunyai banyak kesenian yang menarik seperti Hadroh, kaligarafi, Pengajian, akan ada stan-stan keislaman, dan kami ingin melestarikan seni-seni tersebut pada anak muda zaman now,” terang Kurnia.

Vilyani Rustika Sari selaku sie acara menambahkan, kegiatan  “Moeslem Fest” ialah salah satu upaya dari mereka agar kesenian Islam tidak terputus, bisa turun-temurun atau malah bisa dikembangkan lagi dan bisa dikenalkan lebih luas lagi ke mayarakat luas terkhusus pada generasi milenial.

Tujuan mulia selanjutnya yang ada pada “Moeslem Fest” dan yang ada pada tema “Wonderful Art of Moeslim” seperti yang diungkapkan oleh Putantri Cahyaning Negari selaku kominfo, adalah untuk menghindarkan para pemuda-pemudi (pelajar) agar generasi muda terhindar dari hal-hal negative seperti pergaulan bebas, narkoba, bahkan perpecahan antar anak muda karena iklim politik yang semakin meruncing tajam mendekati pilpres 2019.

“Moeslem Fest” berangkat dari kebudayaan Islam yang sudah ada, seperti Hadroh, Kaligrafi dan seni-seni Islam yang lain. Dari beberapa kebudayaan dan seni yang ada pada Islam tersebut beberapa lomba telah disusun. Tetapi, karena peserta tidak mencapai target akhirnya beberapa lomba kesenian Islam dihapus dan hanya ada lomba Hadroh dan mewarnai. Meskipun jauh hari mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ekonomi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY yang tergabung dalam “King Organizer” sudah melakukan survei ke 15 pesantren yang ada pada daerah Bantul.

Tidak hanya survei tetapi panitia juga melakukan sosialisasi dan memberikan surat undangan untuk berpartisipasi mengikuti kegiatan “Moeslem Fest”. “Dari survei dan sosialisasi kami itu masih sedikit yang mengikuti kegiatan kami alhasil kami terpaksa menghapus beberapa lomba kesenian Islam yang ada pada Moeslem Fest”, ungkap Putantri.

Di dalam “Moeslem Fest” hanya akan diadakan kompetisi Hadroh tingkat SMA dan lomba mewarnai untuk tingkat TK sampai SD. Untuk peserta Hadroh sudah terdaftar dari Semarang, Purworejo, Bantul, Sleman, dan Jogja. Peseta lomba Hadroh mencapai 25 grup, satu grup lomba Hadroh terdiri dari 10. Sedangkan untuk lomba mewarnai telah terkumpul 40 peserta.

Di dalam kompetisi yang ada pada pada gagasan “Moeslem Fest” terkandung nilai edukasi kepada peserta. Seperti yang dikatakan oleh Putantri, melalui Hadroh yang menyanyikan beberapa lagu dari Sholawat Nabi Muhammad  SAW. Melalui Sholawat dan melalui musik karena anak muda biasanya cendrung suka dengan musik sehingga diharapkan seni Hadroh tidak akan terkikis oleh kemajuan zaman.

Diadakannya lomba yang ada pada “Moeslem Fest” ini bertujuan agar masyarakat khususnya pemudi-pemuda (pelajar) dapat mengekspresikan bakat dalam seni Islam untuk diapresiasi dan memupuk rasa percaya diri dalam menunjukan kemampuannya. Harapan lainnya bahwa dengan adanya kegiatan tersebut dapat membuahkan hasil yang positif khususnya bagi generasi pemudi-pemuda.

Moslem Fest: Hidupkan Kembali Budaya Islam Di Kalangan Mahasiswa-Mahasiswi

“Moeslem Fest” menjalin silaturahmi dari semua kalangan, dari anak kecil, remaja sampai dewasa. Dari anak kecil melalui lomba mewarnai yang ikuti anak-anak kecil TK-SD dan orang tua yang mendampingi. Dari kalangan remaja diwakili oleh dari lomba Hadroh. Dari lomba Hadroh para peserta tidak hanya bisa bersilaturahmi tetapi bisa sharing-sharing sesama grup Hadroh tentang pengalaman dan kesan yang telah didapatkan. Dari kalangan dewasa dari yaitu dari kalangan-kalangan warga yang akan mengikuti pengajian. “Dari kalangan peserta dan warga yang mengikuti pengajian bisa dibilang ini silaturahmi antar kalangan yang ada pada masyarakat,” ujar Putantri.

“Moeslem Fest” akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018 di Masjid Agung Manunggal Bantul, DIY. Kegiatan akan dimulai pada pagi hari dan akan diisi oleh kesenian Islam yang telah disapkan panitia dan stand-stand kewirausahaan, dari mulai makanan dan fashion yang sesuai untuk dikenakan para wanita akhir zaman. Pada malam hari akan diisi pengajian akbar bersama Habib Sayyidi Baraqbah, Lc dari Majelis An Nuur Bantul.

Kesan dan Pesan Panitia Moeslem Fest

“Moeslem Fest” adalah event langka yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswi. Bukan langka karena jauh dari kampusnya saja, tetapi esensi dan kelengkapan sebuah tujuan yang berhubungan dengan suatu keadaan sosial budaya yang pada masyarakat sekarang. Kita tidak bisa memungkiri bahwasanya iklim yang dibawa oleh pilpres 2019 dan sepanjang tahun 2018 ini tidaklah menyejukkan masyarakat.

“Moeslem Fest” bisa dikatakan sebagai gerak sosial budaya yang muncul karena kebanyakan event-event yang digagas selama ini oleh mahasiswa-mahasiswi dengan balutan modernisme yang hanya berorientasi pada piala atau prestasi, atau hanya skala nasional yang ikuti oleh universitas-universitas antar pulau saja, tetapi, melupakan, tidak melihat kehidupan dari kekayaan dunia batin yang ada pada manusia.

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan