Manusia Sebagai Pena

MATAMEDIA-RI.com – Pena disini merupakan sebuah simbol yang memanifestasikan sebuah pewujudan seorang manusia ilmu, manusia intelektual, pelajar, aktivis dan segala perwujudan manusia yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Meskipun dalam penafsiran harfiahnya pena tak lebih dari sekedar alat tulis, atau perwujudan dari aktivitas tulis-menulis dan literasi.

Mata pena merupakan salah satu bagian penting dari anatomi tubuh pena. Bersama tinta pena, dan badan pena, ketiga bagian tersebut saling berkorelasi sebagai sebuah satuan sistem yang memiliki tujuan mengaktualisasikan unsur-unsur yang terkandung di dalam perasaan dan pikiran dan di proses didalamnya sehingga lahirlah beragam bentuk goresan.

Mata pena adalah ujung tombak dari setiap goresan pena, mata pena penghubung antara tinta dan sebuah kertas putih, mata pena sebagai media penyalur antara inisiasi ilmu dan aplikasi tindakan nyata. Jika dipermisalkan mata pena ialah senjata utama atau ujung tombak dari seorang pena, maka mata pena bisa berarti ilmu, tindakan, visi, idealisme, dan hal-hal yang ada kaitannya tentang kapasitas diri.

Sebagai seorang pena sejati, dalam sanubarinya pasti akan terekam keinginan untuk mengembangkan kapasitas diri, menambah khazanah keilmuan, memperkuat daya pikir kritis, selayaknya seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan dan memiliki kemauan kuat terhadap apa yang ia idealkan. Idealisme tersebut merupakan dambaan bagi kita semua untuk para pemuda, pelajar, maupun mahasiswa. Melihat segala macam potensi terkandung dalam diri di era milenial saat ini yang notabene sudah mulai tergerus arus deras globalisasi. Sebagian mereka memilih tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang kurang penting, kurang berfaedah bagi mereka, dan hal-hal yang menyusahkan tapi dianggap menyenangkan. Akibatnya mereka melarikan diri menuju hidup yang penuh dengan kesenangan dengan memanfaatkan berbagai macam bentuk fitur modern yang disuguhkan kepada mereka.

Mata Pena Tajam

Tajamnya mata pena berarti tajamnya kapasitas diri, dalamnya ilmu, kokohnya pondasi pemahaman dan luhurnya budi. Dengan tajamnya mata pena dapat tertorehkan goresan-goresan yang berkualitas, dan terfokus sehingga memberikan kebermanfaatan yang lebih teruntuk lingkungan sekitar. Mengingat realita kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian, ketertutupan, kemunafikan, dan kerusakan dalam diri menjadi tantangan tersendiri sekligus sebuah medan perang dalam mengaktualisasikan fungsi ideal mempertajam mata pena. Dengan kapasitas yang telah di pertajam memeberikan perbekalan di medan perang kehidupan dan mampu memberikan sebuah iktikad diantara semerbak aroma ketidakpastian.

Tajamnya mata meta memberikan sebuah kebahagiaan tersendiri, bagi ia yang ingin terus mempertajam dirinya dalam konteks kecakapan, ilmu pengetahuan, budi, dan lain sebagainya. Pasalnya, bagi mereka para pegiat ilmu, kebahagiaan sejati adalah dengan merdekanya diri terhadap belenggu kebodohan. Lantas mereka akan terus bersenang hati memepertajam diri hingga akhir hanyat.

Menjadi Pena yang tajam saja tidaklah cukup, perlu sebuah kebermanfaatan, tindakan, dan refleksi yang relevan dengan ilmu yang dipelajari. Jangan sampai goresan ketajaman pena kita bertolak belakang dengan amunisi tinta yang telah di persiapkan sedemikian rupa. jika demikian tidak akan terwujud sebagai “Pena Tajam” yang baik. Seperti pendapat Sokrates bahwa, semakin banyaknya ilmu yang dimiliki harus korelatif dengan semakin baiknya amal dan budi. Kenapa begitu? Bukankah banyak orang yang memiliki ketinggian ilmu namun tidak mencerminkan akhlak ataupun prilaku yang bagus?. Menurut Sokrates orang tersebut bukanlah orang yang berilmu, karena jika orang berilmu tetap mencerminkan prilaku yang kurang bagus maka ia sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ilmunya, dan itu akan menghasilkan hidup yang gelisah, hidup yang galau dan hanya orang bodoh yang memilih hidup seperti itu.

“Menjadi Pena Tajam” yang baik saja tidaklah cukup, didalam filsafat akhlak baik saja tidaklah cukup, kegiatan baik perlu memperhatikan hal berikut:

  1. Niat yang Baik

Kebaikan saja tidaklah cukup, perlu dilandasi sebuah niatan yang baik pula, demi mengantarkan kita kepada kebaikan yang sejati. Tindakan yang tidak dilandasi dengan niatan yang baik tidak bisa dikatakan sebagai sebuah tindakan yang baik sepenuhnya.

  1. Proses yang Baik

Tidaklah cukup perihal niat yang baik. Tindakan kebaikan  juga melibatkan proses yang baik pula, baru bisa di katakana sebuah Kebaikan. Seperti kata Imam Al-Ghazali “Mencuci dengan menggunakan air kecing” niatnya baik, kegiatannya baik, namun prosesnya yang tidak baik mengakibatkan kegiatan mencuci tersebut malah menambah benda yang di cuci menjadi lebih kotor.

  1. Hasil yang Baik

Niat baik, Proses baik, namun melahirkan hasil yang kurang baik, pastilah ada yang salah pada tindakan kebaikan tersebut. Salah satu indikasinya mungkin perihal kebijaksanaan. Selama ini kebanyakan dari kita berorientasi hanya kepada sudut pandang kebenaran. contoh; ketika seseorang memanggil orang lain yang memiliki badan yang gemuk dengan sebutan “ndut”, memang secara sudut pandang kebenaran hal itu di benarkan, dibuktikan dengan ukuran tubuh dan berat badannya. Tapi bagaimana dari sudut pandang kebijaksanaan? Pastilah orang tersebut akan tersinggung dengan sebutan itu.

  1. Efek yang Baik

Ketika berniat baik, prosesnya baik, dan hasilnya pun juga baik, namun melahirkan efek yang tidak baik, maka memungkinkan perbuatan tersebut belum utuh sebagai sebuah kebaikan. Efek yang tidak baik dapat berpengaruh kepada berbagai macam hal; dari diri sendiri, lingkungan, masa depan dan lain-lain. Contoh efek kurang baik bagi diri sendiri adalah perasaan sombong, ujub, riya’ dan lain-lain.

Jadi, menjadi seorang pena yang cakap, dengan tinta yang berkualitas, dan mata pena yang telah di pertajam setiap hari seharusnya mampu menggoreskan sebuah produk yang positif dan esensial sesuai dengan fungsi sejati seorang pena. Seperti bermanfaat bagi orang lain, membela kaum tertindas, Tolong menolong sesama manusia dan hal-hal lain yang senafas dengan gerakan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. Jangan semerta-merta ketajaman mata pena yang telah susah payah diasah di pergunakan semata-mata untuk menusuk kulit, menggores dan melukai hati orang lain. Seperti adu domba, penindasan, menghujat, caci-maki dan segala tindak kezaliman lainnya yang sedang sangat banyak terlihat di dua kubu yang sedang kecanduan dan tidak bisa mengendalikan uforia demokrasi. Hal tersebut diibaratkan sebagai pena-pena sombong yang hanya membuat coretan yang merugikan sekitar, menguntungkan bagi diri dan kelompok sendiri dan tidak merefleksikan peran pena sebagai pelukis solusi serta penulis kebenaran.

Pena yang Tumpul

Secara umum pena yang tumpul tak lazim sekali teruntuk kenyamanan penggunaannya, entah karena menghasilkan goresan yang sulit di atur, kurang terfokus, ataupun bisa jadi tak terarah. Ketidaknyamanan tersebut memberikan dampak yang kurang baik dan sulit memberikan hasil goresan yang berkualitas sehingga kapasitas dan kebermanfaatannya tidak optimal.

Manusia yang disimbolkan sebagai pena yang tumpul merupakan model manusia yang bertolak belakang dengan manusia pena yang di pertajam. Jika di uraikan secara rinci, pastinya akan terurai sifat-sifat buruk manusia seperti; lemah, sombong, riya’, serakah, hanya berorentasi pada kenikmatan pribadi dan sebagainya.

Hanya memberikan sebuah penjabaran serta tudingan berbagai macam sifat buruk manusia, saja, merupakan sebuah tindakan kurang substansional yang jamak dilakukan para politikus kita hari ini. Pasalnya, hakikat manusia memilih menumpulkan diri ataupun menajamkan diri juga tak mutlak berasal dari dirinya sendiri. Sehingga  perlu di tilik dari berbagai macam latar belakang, disamping memang menjadi sebuah tabiat manusia memiliki beberapa perangai budi yang kurang baik yang harus diperangi.

Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghîr, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam silsilah Ash-Shâhihah, no. 1496.

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya”

Didalam hadist tersebut kita sebagai manusia dianjurkan untuk berjihad (bersungguh-sungguh) dalam memerangi hawa nafsu kita yang merupakan akar dari pada kerusakan dimuka bumi ini. Seperti halnya perang didalam diri kita melawan ketumpulan terselenggara di setiap harinya hingga akhir hayat. Jangan sampai kekalahan perang besar tersebut menjadikan kita manusia yang tumpul.

Didalam surah Ar-Rum ayat 54 yang artinya:

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.“

Ayat tersebut menjabarkan fase kehidupan manusia. Mulai dari bayi (lemah), dewasa (kuat), hingga tua (lemah). Didalam ayat tersebut tersimbolkam fase-fase kehidupan manusia dengan kuat dan tidak kuatnya, seakan-akan Allah SWT mengingatkan kepada manusia untuk tidak sombong dan mengingat bahwa segala sumber kekuatan adalah Allah SWT, yang memberikan pinjaman kekuatan bagi siapa yang Ia kehendaki.

Menuju keperenungan yang mendalam, akan terlintas pertanyaan sampai tahap manakah kita? Dalam tahapan lemah ataukah kuat? Tentulah diri kita sendiri yang tau persis. Jangan sampai aset yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, kita sia-siakan dengan pemangkasan tumbuhnya kapasitas diri atau dengan penumpulan mata pena kita seperti: dengan menghabiskan masa muda untuk mengkonsumsi narkoba, tauran, malas belajar, menghabiskan waktu dengan games diperangkat smartphone ataupun PC dan segala kegiatan yang menjadikan fase kuat kita berubah menjadi fase yang lemah sebelum waktunya. Sehingga, menjadikan sebuah fase yang berbeda dari biasanya yang sebelumnya lemahàkuatàlemah menjadi lemahàlemahàlemah. Wallahu’alam Bishawab.

Hakikatnya, pena yang tumpul memberikan dampak yang kurang baik untuk diri sendiri dan orang lain, serta lingkungan sekitar. Pena-pena tumpul yang terlanjur terbelenggu kedalam jurang kegelapan dan tidak berdaya akan sebuah kehidupan. Hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk memerdekakan dirinya sendiri dari jerat-jerat yang mengikat. Berperang melawan hawa nafsu, dan merdeka sebagai seorang hamba yang menang dalam berjihad melawan diri sendiri.

Manusia sebagai pena semasih memiliki tinta untuk menggores apa saja, akan sangat teroptimalkan jika tinta yang ditakarkan dipergunakan sebaik-baiknya, memberikan kebermanfaatan dan kemaslahatan untuk lingkungan sekitar sebelum masa habis tinta atau berpulangnya ruh kepada Empunya. Pertajam mata pena, dan senantiasa mencari bagian-bagian diri yang masih tumpul. Tak ada mata pena yang sempurna, yang ada hanya mata pena yang terus berusaha menggores makna bagi sesama manusia.

 “Nuun, demi pena dan apa yang tuliskannya”
(QS:Al-Qalam/1)

 

Penulis: Farhan Taufiqur Rachman

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan