Festival Budaya Purwosari Memperingati Saparan

MATAMEDIA- RI.com – kamis, 16 November 2017 merupakan hari penting bagi masyarakat dusun Purwosari RT 02 RW 04 Noborejo Argomulyo Salatiga. Sebab, pada hari tesebut terdapat serentet peristiwa yang sangat menarik dan penting untuk di simak. Drumblack, kesenian Reog, dengan di sponsori oleh PT. Adira yang terkemas menjadi satu dalam tradisi saparan, yaitu adat yang terkenal di daerah jawa. Saparan adalah suatu acara tasyakuran untuk memperingati atau meneruskan adat istiadat nenek moyang. Dalam saparan ini, masih banyak yang mendefiniskannya. Bisa jadi saparan adalah bentuk rasa syukur, meneruskan adat istiadat peninggalan nenek moyang, dan lain sebagainya. Namun, dalam perbedaan definisi tersebut tidak ada satupun yang menjadi perdebatan sampai sekarang. Walaupun tidak semua masyarakat percaya akan adat istiadat tersebut, namun beberapa orang masih segan untuk melakukan acara saparan itu dan mendapat apresiasi yang sangat tinggi.

Kita hidup dalam aliran sosial yang selalu mengalir cepat dengan waktu yang singkat, hidup atas kepercayaan dan pada dasaran bagaimana cara hidup masing masing orang. Selain semua masyarakat tau akan adat istiadat saparan tersebut, namun, ada beberapa yang seringkali tidak percaya atau punya argumen lain. mereka memilih hanya menjadi penonton dan tidak ikut terlibat. Namun demikian, hal ini tidak jadi masalah besar, karena pada dasarnya. Hidup bermasyarakat di landasi oleh bagaimana kita saling menghargai pendapat dan prinsip yang tidak sejalan dengan kita maupun sebaliknya.

Dalam acara saparan tersebut, terdapat beberapa rentetan acara tradisional seperti arak arakan. Nah, arak arakan sendiri adalah kegiatan bagaimana kita sebagai masyarakat dusun berkeliling membawa gunungan atau jajanan tradisional. Sejenis sayur sayuran, buah buahan, jajanan tradisional dan sejenisnya yang dibawa dan di arak mengelilingi desa. Setelahnya, berhenti di satu tempat, untuk melakukan doa bersama. Saat acara doa bersama berlangsung, anak anak, usia muda sampai golongan tua, ikut andil dan khusyuk dalam menjalankan doa bersama. Serentak, mereka mendoakan arwah nenek moyang dan keselamatan atas masyarakat daerah tersebut kepada Allah SWT.

 

Satu hal yang ditunggu tunggu, yaitu saat doa bersama telah usai. Regunungan atau gunungan yang terdiri dari beberapa makanan pun cepat di terkam habis oleh masyarakat desa. Menurut beberapa definisi dari masyarakat, makanan yang di buat untuk regunungan dan diarak tersebut, menyimpan banyak doa dan banyak menyimpan berkah. Jadi, makanan yang sudah koyak dan terlihat buruk pun habis di ambil oleh masyarakat.

Dalam tradisi arak arakan tersebut, semua tampak berpartisipasi dengan baik. Walaupun dihari itu hujan mengguyur dusun Purwosari , namun tekad tetap kuat untuk melanjutkan agenda yang memang hanya dilakukan satu tahun sekali.

Sungguh, acara tradisional yang tidak pernah dilupakan oleh masyarakatnya. Untuk tetap melestarikan kesenian juga adat istiadat daerah, perlu pertimbangan, kekompakan dan bagaimana cara masyarakat tersebut hidup dengan tidak monoton serta dapat melestarikan berbagai kesenian juga adat istiadatnya. Demikian itu adalah salah satu hal utama yang dapat mendorong indonesia tetap tumbuh dan maju.

Setelah acara arak arakan telah usai, kini satu lagi kesenian khas daerah yang paling di nanti nantikan pun dapat juga tampil pada hari itu. Kesenian budaya yang awalnya berasal dari Jawa Timur kini dapat berkembang pesat di berbagai pusat daerah. Termasuk Jawa Tengah, tepatnya di daerah dusun Brajan Purwosari Poborejo Argomulyo. Kesenian Reog Krido Turonggo Sari namanya. Salah satu kesenian yang berdiri dan akan terus berkembang di berbagai titik lewat perfomnya yang sangat menggelegar. Memang benar, berdiri di tanah indonesia adalah suatu wujud rasa syukur atas hidup kita. Bagaimana tidak, berbagai kesenian juga pertunjukannya seringkali terlihat mengesankan.

Dengan instrumen musik yang bergenre ala kekinian, terciptalah suatu irama yang mampu menyita khalayak ramai. Perpaduan antara gamelan, gong, kendang, drum dan sejenisnya dapat menciptakan suatu kesenian reog yang tidak kalah monoton atas ketradisionalnya. Agar keseniannya tidak selalu terlihat biasa saja dan membosankan, anggota kesenian Reog Krido Turonggo Sari menciptakan sebuah instruman yang super keren. Terbukti, masyarakat yang marak seringkali tercolong perhatiannya.

Selain musik dan nada, dandanan atau make up adalah hal yang perlu di perhatikan. Kita harus tau bahwa tiap tiap acara pasti ada berbagai seksi yang memegang kendali. Ada pembagian tim yang menghandle panggung, properti, kepanitiaan, dan make up atau dandanan sendiri. Dengan menggunakan make up yang sederhana tapi berkualitas, tim Krido Turonggo dapat menciptakan suatu kesenian yang sangat menarik perhatian. Berikut adalah beberapa contoh make up yang Mata Media ambil.

Bagian yang cukup menyita perhatian adalah di gerakan kesenian reog sendiri. Reog tercipta dari berbagai gerakan.  Dalam masing masing gerakan tentu tidak tercipta dengan sembarangan. Ada salah satu contoh dalam kesenian reog yaitu dengan judul keprajuritan. Dengan dandanan yang sama, serta menggunakan properti seperti kuda lumping, pedang dan lainnya, munculah sebuah gerakan ala seorang prajurit. Dalam reog keprajuritan tersebut terdapat makna yang dapat diambil, seperti kepahlawanan sebagai contohnya. Bagaimana para pahlawan saat menghadapi pertempuran untuk memerdekaan Indonesia. Tidak bisa di bayangkan, kini hal tersebut menjadi sebuah pertunjukan kesenian yang dapat di perpadukan.

Dalam kesenian reog sendiri terbagi menjadi beberapa bagian atau gerakan. Yakni, kesenian keprajuritan, topeng ireng, buto edan dan masih banyak lagi. Dandanan juga kostumnya hampir sama dan sepadan, namun atributnya jelas beda. Menggunakan pedang, wayang kulit, topeng dan yang paling utama adalah kuda lumping yang beraneka ragam jenisnya.

Satu hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari ritme, gerakan, kekompakan, aktif dan berpower sangat dibutuhkan dalam melakukan kesenian reog tersebut. Kebanyakan, yang mengikuti tradisi ini adalah laki laki. Namun, seiring berkembangnya zaman, mulai dari segelintir wanita pun dapat mengikutinya. Tidak disangka, para pemain topeng ireng pada kesenian reog tersebut terdiri atas banyak wanita muda yang mampu mengeksplor dirinya dengan pertunjukan yang luar biasa.

Hal penting dan paling di tunggu tunggukan pemirsa adalah saat pemain Reog tersebut mencapai pada titik acara ditiap bagiannya. Kesurupan adalah hal yang paling di tunggu tunggu. Kesurupan yaitu keadaan saat jiwa kita terisikan oleh mahluk halus yang memang sengaja di undang untuk melengkapi acara kesenian Reog tersebut. Dalam hal ini, tidak sembarang orang bisa memanggil mahluk tersebut untuk datang, hadir dan ikut serta berpartisipasi untuk meramaikan acara saparan dengan kesenian Reog. Seseorang yang mampu mengundang juga mengembalikan mahluk tersebut di sebut dengan pawang Reog. Pawang Reog biasanya terdiri dari bapak bapak usia tua yang memang sudah benar benar terbiasa melakukan pemanggilan pemanggilan terhadap sesuatu yang dipercaya tidak terlalu bahaya.

Di dusun Purwosari sendiri mempunyai satu pawang Reog yang memang sudah sepuh. Ia bernama mbah Suradi yang dulunya adalah ketua dari kesenian Reog Krido Turonggo Sari. Akan tetapi, usia yang kini telah menua, beliau di gantikan oleh salah satu warga purwosari juga, yaitu bapak Tiyo. Walaupun berganti ketua dan bertukar organisasi, kesenian Reog Krido Turonggo Sari masih mengisahkan banyak sekali hal hal yang dapat di kenang. Seperti dapat menghibur juga melestarikan kebudayaan yang memang sudah ada sejak dulu, dengan cara memodifikasi kesenian tersebut agar tidak selalu monoton dan dapat selalu di ingat di hati masyarakat.

Selain kekompakan, alat, properti dan sejenisnya yang dapat menyita ketertarikan masyarakat, ternyata dibalik dandanan juga kostum tradisional tersebut banyak menyimpan hal yang memang patut untuk diutarakan. Selain para pemain yang gapyak (ramah), mereka juga mempunyai paras menawan dan berwibawa. Salah besar apabila orang orang yang mampu mengikuti adat atau kesenian tradisional dibilang tidak berkelas atau ndeso. Justru merekalah yang akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa indonesia. Sangat berbeda dengan pemuda pemudi yang hanya mengikuti gaya kebarat baratan, kekinian, dan tidak bisa membanggakan juga ikut andil dalam melestarikan kebudayaan milik bangsanya sendiri.

Kesimpulannya ialah, pada saat itu (16 November 2017) dusun purwosari rt 03 rw 04 terdapat serentet peristiwa tradisional, melalui arak arakan dan kesenian Reog yang mampu menyita perhatian masyarakat. Tidak hanya masyarakat daerah saja, namun masyarakat luar ikut andil dalam acara tersebut. Sungguh, di tiap tiap daerah pada bangsa ini memiliki masing masing kisah yang mengesankan, yaitu bagaimana cara masyarakatnya menciptakan juga memperlihatkan kepada kita semua, bagaimana wujud cinta tanah air juga bagaimana cara berpartisipasi terhadap bangsa ini melalui beragam tindakan pertunjukan kebudayaan.

Ayo jangan pandang budaya barat saja. Kita punya yang lebih keren dari mereka !!!

(Lilis Setyowati)

Tinggalkan Balasan