“Be Strong Yogyakarta” Bentuk Peduli FE UNY

MATAMEDIA- RI.com – Hujan yang mengguyur Yogyakarta selama tiga hari dari tanggal 26 sampai tanggal 28 November 2017 mengakibatkan bencana alam berupa banjir, pohon roboh di jalanan umum, tanah langsor di beberapa tempat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat, dampak dari Badai Siklon Cempaka adalah terjadi 29 titik banjir di seluruh DIY. Selain itu juga terdapat 68 kejadian pohon tumbang dan 44 lokasi bencana tanah longsor.

Di kulonprogo terjadi longsor di Pedukuhan Ngroto, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo yang memakan dua warga. Tiga orang warga RT 01/RW 01 Jlagran Pringgokusuman Jogja tertimbun longsor di tebing Sungai Winongo kota Yogyakarta. Tak hanya memakan korban bencana alam yang menimpa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, di sisi lain seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, tempat usaha mengalami kerusakan, akses jalan dan jaringan listrik juga terganggu serta kerugian yang tak sedikit dialami oleh masyarakat yang terkena bencana.

“Karena kita tahu di sekitar kita baru terjadi bencana, kita mengajak teman-teman dari Fakultas Ekonomi untuk peduli dan membantu meringankan yang ada di Kedungmiri,” ungkap Mustofa Nur Khalisma selaku ketua BEM FE UNY. Berangkat dari kepedulian tersebut Mustofa dkk dari BEM mengajak berkerja sama dengan 11 ORMAWA untuk menggalang dana di mulai dari rabu (29/11).

“Kita di koordiasikan sama BEM tapi sebelumnya kita udah koordinasi bareng-bareng bersama ketua-ketua Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di FE untuk mendistribusikan pengalangan dana ke HIMA masing-masing,” jelas Fajar Indra Prasetyo Ketua UKMF Penelitian KRISTAL salah satu ORMAWA yang ikut berpartisipasi.

Pada saat hari rabu Mustofa, Sya’baniasri Aisah dan Edo langsung mengecek keadaan Kedung Miri, tapi karena ada dua batu besar dari longsoran tanah yang menghalangi jalan belum bisa memasuki Kedungmiri. Pada sore hari kamis mereka bertiga melalui Departemen Pengabdian Masyarakat mengajak rapat insidental dengan 11 ORMAWA yang terdiri dari HIMA D3, HIMA Akuntasi, Hima Pendidikan Akuntasi, HIMA Pendidikan Administrasi Perkantoran, HIMA Pendidikan Ekonomi, HIMA Manajemen BEM, DPM, UKMF Penelitian KRISTAL, UKMF INSPIRE, UKMF KM AL-FATIH dan menghasilkan gagasan “Be Strong Yogyakarta”.

Donasi yang terkumpul sebesar Rp 6.700.000. Mustofa mengungkapkan, tidak hanya dari mahasiwa FE UNY yang ikut memberikan donasi tetapi dari asrama kedaerahan juga ikut serta dan di salurkan ke 3 titik, antara lain di Gunung Kidul, sebesar Rp 2.700.000 beserta dengan pakaian, di Kulon Progo hasil donasi dari FE D3 UNY wates, dan di titik ketiga Kedungmiri di bagi menjadi tiga tahap.

Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri, Bantul adalah tempat yang sangat indah. Di samping kiri terdapat bukit batu yang sangat asri. Watu Subul dan Watu Mangklek, Watu Lawang yang terdapat air terjun yang mengalir menjadi primadona bagi pelancong. Terdapat 1 Padukuhan yang terdiri dari 6 RT dengan jumlah 250 KK dengan total 1000 penduduk. RT 2 sampai RT 06 berdampingan dengan sungai Oyo yang sangat jernih sebelum musim hujan. Kedungmiri sering menjadi tempat para pelancong dengan sepeda kesayanganya untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah, baik dari sisi kedua bukit yang di belah oleh sungai Oyo yang jernih, menikmati pemandangan sejauh mata memandang dari atas bukit. Tidak hanya itu warga mengungkapkan  dusun mereka kerap di kunjungi turis asing dari Eropa terlebih dari negara Belanda. Para mahasiswa juga sering menjadikan Kedungmiri sebagai tempat dari kegiatan mereka seperti pelatihan leadership.

Sugiyanto selaku pak Dukuh sedang berada di belakang rumahnya yang terkena banjir (Dokumentasi MM)

Sugiyanto selaku pak Dukuh menuturkan di RT 001 1 rumah terkena longsor ringan, RT 002 20 rumah terkena banjir, RT 003 1 rumah terkena banjir, RT 004 20 rumah terkena banjir, RT  005 4 rumah. “Sawah warga seluas 7 hektar terendam banjir dan mesin pemompa air tenaga surya bantuan dari Kementerian Pertanian juga hanyut,” tutur Sugiyanto.

Ngatijan selaku pak RT 002 Ngatijan (Dukumentasi MM).

“Jam 3 sore mulai banjir parah sampai jam 8 malam, di RT 002  rumah warga terendam sampai 2 meter,” jelas Ngatijan. Menurut Ngatajin pada saat musim hujan tahun 1987 Sriharjo sudah sering di landa banjir seminggu dua kali tapi tidak sebesar yang terjadi tahun ini.

Warung mie ayam pak Sugiyanto lenyap hanya meninggalkan bekas semen pada lantai (Dukumentasi MM)

Kebanyakan warga tidak bisa menyelamatkan semua harta bendanya. Salah satu warga menuturkan arang sebagai salah satu pemasukan baginya tidak bisa di selamatkan. Pupuk untuk menyokong pertanian pun tak sempat di amankan terbawa oleh arus banjir. Salah satu fasilitas umum yang terkena adalah Puskesmas, suluruh peralatan hanyut di bawa arus banjir.

Puskesmas yang di terjang air banjir setinggi dua meter (Dokumentasi MM)

Di RT 005 jembatan Jembatan Gantung Selopamioro memiliki panjang 70 meter dibangun sejak 2004 yang menghubungkan dua desa, Selopamioro dan Sriharjo putus di terjang arus banjir sungai Oyo.

Bonadi selaku warga Sriharjo RT 006 menunjuk ke seberang desa yang bernama Selopamioro (Dokumentasi MM)

“Setiap harinya Jembatan ini di jadikan jalanan baku yang sering dilewati anak-anak untuk pergi ke sekolah maupun orang-orang ke pasar antara masyarakat Sriharjo dan Selopamioro” ungkap Bonadi selaku warga Sriharjo RT 006.

Tahap Pertama

Be Strong Yogyakarta yang tahap pertama dilaksanakan pada hari kamis (30/11). Sebanyak 15 orang dari setiap ORMAWA FE yang ikut serta dengan membawa 100 bungkus nasi buat penduduk Dusun Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri, Bantul.

Waktu melihat Kedungmiri sudah terlihat arus banjir yang sangat hebat dan kuat menyapu sisi-sisi sungai. Sawah-sawah warga tersikut dan terendam lumpur, pohon-pohon bertumbangan.

Salah satu lahan pertanian warga yang terkena dampak banjir (Dokumentasi MM)

“Kamis kita kembali ke Kedungmiri, Sriharjo bersama 15 teman-teman gabungan dari 11 ORMAWA, dan ternyata akses jalan sudah terbuka kedua batu besar dari longsoran yang menghalangi jalan sudah berhasil di pinggirkan oleh kepolisian, TNI dan para relawan bencana,” kata Mustofa Nur Khalisma selaku korlap Be Strong Yogyakarta.

Kedua batu yang sempat menghalang akses jalan menuju Sriharjo (Dokumentasi MM)

Menjadi yang pertama bagi Be Strong Yogyakarta menyalurkan bantuan bencana alam bukanlah hal mudah. Akses sepanjang jalan yang masih terendam lumpur banjir melebihi semata kaki. “Sesampai di Kedungmiri Sebagian nasi bungkus untuk sarapan kami dititipkan di post RT 002 dan sebagiannya lagi di bawa dan di bagikan ke warga-warga yang sedang bergotong royong membersihkan jalan dari tumpukan lumpur sampai ke RT 005,” cerita Fajar Indra Prasetyo.

(Dokumentasi MM)

Setelah menyalurkan bantuan Be Strong Yogyakarta melakukan audience secara langsung dengan masyarakat dan bertatap muka langsung dengan pak Dukuh Sugiyanto untuk memastikan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat Kedungmiri, Sriharjo.

Pekarangan rumah warga (Dokumentasi MM)

Kamis sore setelah menyalurkan bantuan tahap pertama BEM FE yang menjadi motor menyatukan 11 ORMAWA yang ada di Fakultas Ekonomi UNY kembali melakukan rapat kedua untuk membahas tahap kedua dari Be Strong Yogyakarta. Hasil rapat pun memutuskan tahap kedua akan dilaksakan pada hari Sabtu.

Tahap Kedua

Sabtu pagi matahari menampakkan dirinya, membuat udara kembali hangat setalah hampir seminggu di penghujung November di gujur hujan dan puncaknya terjadi pada tanggal 26 sampai tanggal 28. Selama 2 hari hujan tak pernah berhenti, hanya curah hujan menurun selama beberapa menit kemudian kembali menggujur dengan sangat derasnya. Sabtu seperti menjadi hari yang diizinkan oleh Sang Semesta untuk bergerak membantu sesama saudara-saudari yang sedang bersusah hati karena sedang dilanda musibah berupa bencana alam, meski sebagian wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta tetap di selimuti awan mendung. Be Strong Yogyakarta berangkat jam 08.00 pagi dari Dekanat Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta menuju Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri Bantul.

Jalan menuju desa Sriharjo (Dokumentasi MM)

Sepanjang jalan terlihat relawan bencana dari beberapa elemen masyarakat sudah ramai bergerak menyalurkan bantuan. Beberapa posko terlihat beberapa almamater yang dikenakan mahasiswa. Jalanan di Kedungmiri, Sriharjo masih terendam banjir.

Posko RT 002 Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri Bantul (Dokumentasi MM)

“Kami membawa 120 nasi bungkus buat sarapan warga, mie instan, beras, solar dan pertalite, deterjen, kebutuhan khusus seperti obat-obatan, pembalut, dll, air mineral, peralatan berupa cangkul, serok, pasir,” ungkap Mustofa.

Penyerahan bantuan yang di wakili oleh Mustofa Nur Khalisma kepada Sugiyanto selaku pak Dukuh (Dokumentasi Be Strong Yogyakarta)

Sesampai di Kedungmiri, Sriharjo, bantuan langsung di serahkan ke pos 2 RT 002. Sugiyanto selaku pak Dukuh menerima langsung bantuan Be Strong Yogyakarta.

Be Strong Yogyakarta membawa 31 mahasiswa yang tergabung dalam 11 ORMAWA maupun mahasiswa Fakultas Ekonomi yang tidak tergabung dalam ORMAWA, 8 dari 31 relawan Be Strong Yogyakarta adalah perempuan. “8 perempuan kami arahkan ke dapur umum untuk membantu memasak, membungkus dan mendistribusikan makanan,” kata Sya’baniasri Aisah.

Dokumentasi Be Strong Yogyakarta.

Menurut Aisah, dalam kondisi-kondisi tertentu peran perempuan dalam bakti sosial tidak kalah penting dan sentral dari kaum laki-laki, tidak hanya sekedar therapist anak-anak untuk menghilangkan trauma tetapi untuk kerapian dalam bakti sosial tersebut seperti pertanggung jawaban, pendataan, dan kerapian dalam pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan.

Gea Octaviani mahasiswa asal Bekasi mengungkapkan, setelah membantu dapur umum, mereka langsung mengajak kenalan anak-anak TK dan SD kemudian bermain bersama. “Perasaan bahagia karena saya bisa silaturahmi dan bermanfaat bagi sesama apalagi kepada meraka yang sedang terkena musibah,” tambah Gea.

Dokumentasi Be Strong Yogyakarta.

23 laki-laki dari Be Strong Yogyakarta langsung meluncur menuju jalanan yang masih di selimuti lumpur, melebur bersama warga dan dari relawan bencana alam yang lain menyingkirkan lumpur. Membantu warga melewati jembatan kecil penghubung jalanan setapak yang putus oleh arus banjir yang menggerus.

Dokumentasi Be Strong Yogyakarta.

Bakti sosial tahap kedua berjalan sampai sore hari. Fajar mengungkapkan perlunya perbaikan kembali sandang, pangan, perbaikan infrastruktur untuk perekonomian masyarakat Sriharjo bisa kembali berjalan. “Pemulihan kondisi perekonomian kita harapkan peran serta donatur atau pemerintah, kalau bisa pun bentuknya gak cuma uang konsumsi tapi uang produksi untuk menyuntikan energi tambahan untuk masyarakat yang sedang terkena bencana alam,” kata Fajar.

Dokumentasi Be Strong Yogyakarta.

“Perlunya perhatian khusus untuk daerah-daerah terpencil yang rawan bencana alam  gak cuma dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tapi seluruh elemen masyarakat dan semua stakeholder yang ada,” Fajar menjelaskan di sela kegiatan membersihkan jalanan dari lumpur.

Dokumentasi Be Strong Yogyakarta.

Fajar Indra Prasetyo menjelaskan, mahasiswa sebagai agent of change sangat perlu terlibat dalam setiap bakti sosial baik dalam bencana alam maupun perubahan yang diperjuangkan untuk tataran masyarakat yang lebih maju. “Sudah ada beberapa mahasiswa di beberapa universitas di Indonesia yang mampu menciptakan alat pendeteksi bancana alam baik longsor maupun banjir tinggal di implementasikan ke daerah-daerah yang rawan bencana,” kata Fajar mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY, semester 7  juga selaku ketua dari UKMF Penelitian KRISTAL.

Kedua mahasiswa sedang membantu seorang ibu melewati jembatan (Dokumentasi MM)

“Di tahap ketiga nanti sekitar 2 minggu dari sekarang kami insyaallah akan membagikan tas dan alat-alat tulis kepada 94 anak sekolah dari TK sampai SMA.” ungkap Mustofa Nur Khalisma di usia senja jabatannya sebagai ketua BEM FE UNY.

(Dokumentasi MM)

Dalam kehidupan banyak sekali makna yang bisa kita petik, maupun menjadi makna itu sendiri yang kita hendak. Tentu dalam hidup menjalani hari pasti akan ada badai, tapi, sebanyak apapun badai, diatas sana tetap akan selalu ada mentari yang menghangatkan dan menyinari bumi.

Tinggalkan Balasan