Banjir Jakarta: Kurang Sinergi dan Banyaknya Menabur Narasi

Potret keluarga kecil korban banjir Ibu Kota mengungsi menggunakan perahu karet.

(ANTARA FOTO Muhammad Bagus Khoirunas)


INDONESIA RAYA, MATAMEDIA-RI.com

Tanah air kembali berduka, perayaan tahun baru yang seharusnya dipenuhi oleh teriakan suka cita dan harapan berubah menjadi tangisan penderitaan. Bencana banjir yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2020 telah menjadi penutup akhir tahun yang menyedihkan bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Banjir yang menenggelamkan hampir seluruh wilayah Jabodetabek ini telah menelan banyak kerugian. Update BNPB Pada tanggal 04 January 2020 pukul 20:39 WIB mencatat, 60 jiwa meninggal, 173.050 orang mengungsi dan 2 orang dinyatakan hilang.

Tidak hanya itu, banjir yang tercatat sebagai banjir terbesar sejak tahun 1621 ini juga mengakibatkan kerusakan material yang sangat parah dan saking parahnya, kerugian material yang diakibatkan banjir bandang ini dapat membangun 19.381 desa di Indonesia.

Masyarakat mulai mengarahkan pandangannya kepada sang gubernur Anies Baswedan atas musibah ini. Anies dianggap gagal dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu di ibu kota. Kekecewaan masyarakat atas kinerja pemprov DKI Jakarta meluas dan menganggap bahwa Anies merupakan gubernur yang tak becus mengurus masyarakatnya.

Melihat korban dan besarnya kerugian sah dan masuk akal Anies Baswedan di katakan gubernur DKI Jakarta yang tidak becus dalam tugasnya.  Padahal semua orang sudah tahu, dan tiap tahun menyaksikan bahwasanya Jakarta adalah Ibu Kota langganan bencana banjir di setiap musim hujan. Secara teknologi yang di miliki Pemerintah dan ilmu pengetahuan Kita yang semakin persisi harusnya bisa di prediksi kapan, seberapa besar dan seberapa lama curah hujan yang turun ke bumi yang dapat berubah menjadi bencana hidrometeorologi khususnya banjir di Ibu Kota.

Tetapi, apakah Anies merupakan satu-satunya orang yang tidak becus dalam mengelola Ibu Kota dan yang bertanggung jawab atas kejadian ini?

Jawabannya adalah tidak.

Masyarakat Indonesia terkhusus warga Jakarta mengetahui bahwa salah satu permasalahan terbesar yang dihadapi ibu kota adalah banjir. Dari tahun ke tahun, persoalan banjir mepersolan persoalan fundamental yang harus dihadapi para pemimpin ibu kota. Berbagai kebijakan diterapkan dari menurunkan pasukan oranye ke sungai-sungai hingga naturalisasi sungai dikerjakan. Akan tetapi, banjir masih saja menerjang Jakarta.

Pertanyaannya kenapa ini bisa terjadi?

Jawabannya adalah kurangnya sinergi Pemerintah DKI  dengan masyarakat maupun dengan Pemerintah Pusat yang hanya bisa banyak menaburkan wacana. Jika kita telisik lebih dalam, setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam menangani banjir kurang tersosialisasikan kepada masyarakat. Akibatnya, banyak masyarakat salah kaprah menanggapi kebijakan pemprov DKI dan akibatnya kebijakan yang seharusnya menjadi penenang hati rakyat malah menjadi penghancur hati masyarakat.

Bukan hanya itu saja, kurangnya sosialisasi dan sinergitas ini, mengakibatkan kesadaran masyarakat untuk peduli membantu pemerintah dan ini dibuktikan dengan masih banyaknya warga yang membuang sampah di sungai. Di samping itu lahan-lahan hijau di Jakarta berubah menjadi lahan parkir.

Permasalahan kedua yang menjadi masalah adalah berubah-ubahnya kebijakan dalam mengatasi banjir seirama dengan terpilihnya gubernur baru  menggantikan gubernur yang lama dalam memimpin DKI Jakarta, sangat seirama dengan berubahnya ilkim politik, yang membuat Ibu Kota hanya menjadi sebuah kota yang harus di kuasai oleh partai politik demi kepentingan jangka panjang, yaitu merebut dan menguasai Istana Negara dari lawan politik yang sedang berkuasa. Sedangkan banjir hanya menjadi masalah yang tidak harus mendapatkan fokus yang besar secara terus menerus. Jika mendapatkan fokus yang besar maka solusinya harus dari Pemerintah DKI Jakarta yang sedang berkuasa, sehingga dapat menambah poin untuk maju sebagai Presiden Republik Indonesia di pilpres 2024 mendatang.

selain itu, terlalu seringnya pemerintah DKI Jakarta yang di pimpin Anies Baswedan menaburkan wacana kepada masyarakat. Dari Pilgub sampai saat ini, terus membuat narasi yang seolah-olah terang seperti matahari tapi pada hakikatnya adalah nol. Narasi yang diciptakan hanya dibuat sebagai alat pendukung dan pelindung para penguasa. Persis, kembar, serupa seperti segala ucapan dari mulut Presiden Joko Widodo kepada rakyat Indonesia yang berbuah ilusi.

Saudara-saudaraku yang terkena banjir, bencana memang memberi masalah akan tetapi juga menawarkan banyak hikmah yang terdapat di dalamnya. Bencana itu memang pahit akan tetapi bukankah selama ini yang pahit-pahit begitu digemari di kafe-kafe? Karena itulah, bencana yang menimpa ibu kota merupakan kesempatan bagi generasi muda untuk mengambil hikmah yang amat banyak.

Generasi muda dapat belajar, bahwa masyarakat tidak perlu indahnya narasi dan bagusnya ide, tapi masyarakat perlu kerja nyata dari pemerintah. Generasi muda bisa melihat, bahwa jabatan setinggi apapun tidak akan menyelesaikan permasalahan tetapi kedekatan hati dengan rakyat merupakan kunci menciptkan sinergitas. Dan tentunya keberpihakkan kepada rakyat bukan kepada para Oligarki Partai . Terakhir, kita sebagai generasi muda harus peduli atas bencana ini agar dapat memformulasikan kebijakan yang lebih baik di masa mendatang.

Penulis: Muhammad Fathi

Editor: *R.V.N*

 

Tinggalkan Balasan