Aksi dan Deklarasi Damai Mahasiswa dan Mahasiswi Se-Indonesia di Yogyakarta

Berangkat dari keresahan apa yang sudah terjadi dan akan apa yang terjadi terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia terhadap pemilu raya IKPMDI melakukan Aksi dan Deklarasi Damai Mahasiswa dan Mahasiswi Se-Indonesia di titik 0 KM Yogyakarta.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Langit mendung di hari sabtu (13/04/2019) tak menghalangi IKPMDI untuk melakukan massa aksi yang bertajuk “Aksi dan Deklarasi Damai Mahasiswa dan Mahasiswi Se-Indonesia di Yogyakarta”. Hampir setengah dari IKPM SENusanatara mengirimkan perwakilannya. Mahasiswa dan mahasiswi menggunakan atribut kebanggaan mereka, korsa dan bendera mereka kenakan dan mereka kibarkan selama massa aksi. Titik kumpul dimulai diparkiran Abu Bakar Ali, start longmarch didepan kantor Gubernur D.I.Y. menuju titik Nol km untuk deklarasi.

Setelah diinfomasikan akan ada wacana IKPMDI untuk menyelenggarakan aksi pemilu damai direspon dengan baik oleh tiap-tiap IKPM yang ada di kota pelajar Yogyakarta. Aksi sudah dikonsilidasikan jauh-jauh hari. Beberapa kali pertemuan dengan ketua-ketua IKPM, dan selama dua hari berturut-turut sebelumnya telah terjadi pertemuan seluruh mahasiswa dan mahasiswi di IKPM – IKPM yang ada di Jogja yang menghasilkan  6 poin yang diserukan:

– Menggelorakan semangat Patriotisme bagi Pemuda Indonesia;

– Turut berperan dalam menjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI;

– Turut berpartisipasi dalam upaya menciptakan Pemilu Damai;

– Aktif dalam Gerakan Melawan Fitnah dan Hoax;

– Menolak Politik Uang

– Siap menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu 2019 dan katakan tidak pada “Golput”

 

Orasi dimulai dari kantor Gubernur D.Y.I tentang Hoax (ujaran kebencian, dan fitnah), golput, dan orasi menolak money politik mengiringi langkah-langkah mahasiswa dan mahasiswi menuju titik Nol km. Warga sekitar maupun turis lokal dan turis asing yang sedang menikmati Malioboro pun memperhatikan apa yang sedang mereka orasikan, bahkan ada yang berselfie ria di depan para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang melakukan massa aksi. Beberapa mahasiswi membagikan stiker dari BAWASLU dengan dua kaliamt huruf kapital  “GUNAKAN HAK PILIHMU JADILAH PEMILIH YANG CERDAS” dan di dalam lingkaran merah dengan tangan simbol stop berwarna merah  bertuliskan “TOLAK POLITIK UANG DAN POLITIK SARA”. Pedagang dan pengunjung Malioboro antusia menerima stiker.

Devi salah satu mahasiswi dari Riau yang sedang berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan Fakultas Ekonomi semester 2 yang sedang menunggu temannya di Malioboro mendengarkan seksama apa yang diorasikan dan mengapresiasi atas massa aksi yang dimotori oleh IKMPDI sebagai bentuk peduli terhadap keadaan bangsa yang terancam terpecah belah oleh karena pilpres 2019.

“Aksi dari teman-teman yang kita lakukan sore hari ini berangkat dari keresahan-keresahan kita semua terutama teman-teman yang tergabung dalam IKPMDI Yogyakarta, karena kita melihat kondisi Indonesia pada saat ini menjelang pemilu 2019 itu banyak kita temui ujaran-ujaran kebencian, fitnah-fitnah, kemudian hoax yang mampu memecah belah kita,” terang Yahya ketua umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia.

 

Yahya mengatakan, dari keresahan mahasiwa dan mahasiswi IKPM yang sedang menimba ilmu di Jogja dengan melihat situasi dan kondisi bangsa ini, mereka mengharapkan baik sebelum dan sesudah pemilu Indonesia tetap dalam keadaan baik-baik saja, tidak rusuh dan sebagainya. Massa aksi ini diharapkan mampu membuat teman-teman di daerah-daerah terpantik untuk melaksanakan aksi serupa ataupun ikut menyuarakan terkait dengan kondisi hari ini yang terjadi di Indonesia.

Setelah aksi, orasi dan deklarasi damai dilakukan MATAMEDIA-RI.com mempunyai kesempatan untuk bertanya secara langsung kepada Yahya ketua umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia mengenai alam demokrasi dan politik hari ini:

 

Menurut pandangan bung apa yang salah di alam demokrasi kita?

Kalau menurut saya di alam demokrasi yang terjadi ataupun yang kita lihat saat ini memang demokrasi kita itu sepertinya terlalu kelewatan, artinya demokrasi Indonesia saat ini bablas, bisa katakan demokrasi liberal atau yang jelasnya demokrasi hari ini tidak sesuai dengan demokrasi yang sesungguhnya. Di sisi lain para elite sekarang berkompetisi, berkontestasi ingin menjatuhkan satu sama lain, karena yang saya pahami hakikat dari kemenangan itu ya kita tidak menjatuhkan lawan kita ataupun kita tidak menjelekkan lawan kita. Maka dari itu kita, saya pun juga melihat demokrasi hari ini dimana salah satu elite ini merasakan kekalahan seakan-akan mereka tidak menerima, seharusnya demokrasi yang saya pahami ketika dalam kompetisi, dalam pertarungan kontestasi itu kita menerima kekalahan ya kita harus menerimanya dengan lapang dada selama memang yang berlangsung itu sesuai dengan aturan yang ada. Lalu seharusnya para elite yang merasakan kekalahan ini harusnya mereka mempersiapkan diri mereka untuk maju ataupun berkompetisi di tahun-tahun berikutnya, tetapi yang saya lihat tahun ini ketika ada elite yang kalah dalam kompetisi ya mereka seakan-akan ingin menggugat dan sebagainya, dicarikan alasan, dicarikan celah untuk mereka bisa memprotes hasil akhir dari kompetisi. Karena demokrasi sesungguhnya adalah ketika kita memang sudah kalah ya kita harus introspeksi diri, kita harus menyiapkan diri kita, kita mengevaluasi diri kita untuk maju ke kompetisi yang akan datang.

Iklim politik kita hari ini benar-benar penuh dengan polusi?

Iya. Saya pikir iya apalagi kondisi saat ini menjelang pemilu ini memang banyak ancaman sana sini yang mengkhawartikan yang memang mampu memecah belah kita antar sesama anak bangsa, karena saya pikir di beberapa sektor tertentu ya proses yang berjalan itu tidak fair, jadi entah kecurangan apa dan sebagainya, lalu informasi di otak-atik, dibolak-balik lalu kemudian membuat masyatakat bingung, makanya disini kita menyuarakan anti hoax itu tadi, kita juga menyuarakan ke masyarakat untuk memilah-milah informasi yang mereka dapatkankan jadi tidak bisa diterima begitu saja. Karena kita pun bisa melihat kondisi dalam konteks pemilu antara kubu 01 dengan 02 memang selalu ingin dicarikan celah untuk mereka bagaimana caranya supaya bisa menjatuhkan lawan dan itulah yang saya secara pribadi tidak sepakat karena hakikat kemenangan itu sendiri tanpa menjatuhkan lawan dan tanpa menjelekkan lawan kita.

Ada berapa poin inti yang disuarakan hari ini?

Sebenarnya ada 6 poin tetapi inti dari keenam poin itu adalah bagaimana kita menggelorakan semangat patriotisme bagi pemuda Indonesia, lalu kemudian bagaimana kita berpartisipasi aktif dalam pemilu damai, lalu kemudian bagaimana kita secara bersama-sama mencegah hoax itu tadi, mencegah ujaran kebencian, melawan fitnah dan segala macam itu dan tentunya teruntuk mahasiswa dan mahasiswi, pemuda, pemudi dan masyarakat Yogyakarta dan masyarakat Indonesia pada umumnya harus berbondong-bondong ke TPS pada tanggal 17 April 2019 mendatang, karena nasib bangsa Indonesia ada di setiap tangan individu.

Apa yang diharapkan baik oleh IKPMDI dan apa yang diharapkan oleh bung secara pribadi untuk alam demokrasi, pemilu, dan pilpres tahun ini?

Secara keorganisasian harapannya seluruh mahasiswa daerah dari Yogyakarta tentunya harus bertindak secara aktif dalam menyambut momentum pemilu 2019 ini, baik sama-sama menyuarakan anti ujaran kebencian, lalu fitnah itu harus kita lawan secara bersama-sama, kemudian hoax itu tadi haru kita cegah secara bersama-sama pula dan tentunya teman-teman mahasiswa daerah yang ada di Yogyakarta yang tergabung dalam IKPMDI harus menggunakan hak pilihnya dalam pemilu 17 April 2019 mendatang karena nasib bangsa kita, nasib Republik Indonesia ini ya ada di tangan kita semua, terutama bagi pemuda karena salah satu gerak dari negara itu sendiri adalah pemuda itu tadi.

Lalu secara pribadi harapannya demokrasi yang berjalan hari ini mampu mengajarkan kita, mampu memberikan kita informasi yang baru artinya, apakah memang kita demokrasi hari ini sudah sesuai dengan yang kita inginkan, lalu apakah demokrasi hari ini sudah sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia pada umumnya, karena kita ketahui karakteristik dari masyarakat Indonesia tentunya sangat beragam, kita bisa melihat dalam satu desa saja pun mungkin ada perbedaan suku, beda kecamatan dan itu dialeknya beda, sukunya beda dan sebagainya. Makanya kita seharusnya membicarakan kembali apakah demokrasi hari ini sudah berjalan seperti sebagimana yang kita inginkan, dan apakah alam demokrasi kita saat ini sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

Bagaimana pandangan bung mengenai politik identitas yang selalu dimainkan?

Memang saya kira untuk politik identitas ini yang pertama ini sangat meresahkan, dan lalu selanjutnya itu mampu memecah belah bangsa karena ini bicara identitas dan kemudian identitas itu digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan. Saya kira itu tidak fear sama sekali. Kerena kita berbicara kemajemukan, keberagaman, tentunya hal-hal yang bersifatnya identitas dari setiap bangsa Indonesia itu tidak bisa kita gunakan sebagai alat atau pun sebagai instrumen untuk melanggengkan keinginan kita, melanggengkan kekuasaan yang kita inginkan, atau pun mensukseskan ataupun memenangkan dalam kompetisi. Saya kira itu tidak bisa kita benarkan sama sekali, karena sudah kita ketahui di Indonesia ini agama ada beberapa, kemudian suku, ras dan lain sebagainya. Apalagi dari segi pemikiran tentunya kita sangat banyak perbedaan. Tetapi, tentunya bukan itu yang menjadi alasan kita untuk terpecah belah satu sama lain. Yang jelasnya saya mengutuk keras yang namanya politik identitas, karena hal itu dapat memecah belah bangsa kita dengan keanekaragaman suku, agama, ras, dsb itu.

Tegasnya bung tidak menginginkan lagi politik identitas ini ada di alam demokrasi?

Saya tidak menginginkan sama sekali, tentunya kita harus berbicara mengenai ataupun mungkin kita mulai berangkat dari alam pikiran kita, entah kita memulai dari mana yang jelasnya persoalan identitas ataupun politik identitas tidak bisa kita gunakan sebagai instrumen untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Intinya saya sangat mengutuk keras dan tidak mengingkan sama sekali politik identitas ini digunakan untuk memecah belah bangsa, untuk menyerang identitas-identitas lain, kemudian mengesampingkan identitas-identitas lain. Misalnya, kita bisa lihat ada yang berpendapat juga bahwasanya agama sudah dipakai atau mungkin sudah dijadikan alat politik untuk menjalankan misi-misinya untuk menjalankan langkah-langkah mereka tempuh untuk memenangkan kompetisi hari ini. Yang jelasnya bukan menjadi persoalan apakah yang terpilih nanti dari 01 atau mungkin 02 yang jelasnya kita harus sama-sama mengawal jalannya demokrasi kita. Karena ketika kita memang fanatik kepada salah satu calon ya saya kira hal itu mampu memecah belah kita. Ketika misalnya yang satu kalah yang duanya menang atau pun mungkin sebaliknya tentunya ketika kita memang jiwa fanatisme itu terlalu besar, terlalu tinggi mampu menyebabkan kerusuhan dimana-mana, kerusuhan di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Saya kira kurang lebihnya begitulah, artinya politik identitas jangan sampaikan dijadikan alat, jangan sampaikan dijadikan instrumen untuk melaksanakan rencana-rencana politik.

Itu pandangan pribadi atau sikap dari IKPMDI?

Pandangan pribadi dan tentunya sebagai salah satu sikap dari teman-teman yang tergabung dalam IKPMDI tentunya kita sangat menolak yang namanya politik identitas, sangat mengutuk yang namanya politik identitas itu tadi karena itu dapat memecah belah bangsa kita, terlebih lagi kita yang kuliah di Jogja yang tergabung ke dalam IKPMDI mahasiswa daerah yang berasal dari Sabang sampai Marauke, tentunya harus menjaga stabilitas dan kondisifitas Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.

*

Yahya Ketua Umum IKPMDI Yogyakarta sedang berorasi

Pada malam IKPMDI melanjutkan dengan Panggung Sastra yang diisi dengan pembacaan puisi. Tanda tangan pemuda, pemudi, dan warga yang berkunjung membubuhkan tanda tangan mereka untuk pemilu damai.

Siapapun yang menang di pemilu raya ini secara adil, jujur, dan sesuai mekanisme kita harus terima. Salah satu pesan yang paling penting yang disampaikan IKPMDI Yogyakarta yang mewakili pemuda, pemudi, pelajar, mahasiswi dan mahasiswa dari seluruh nusantara adalah kami tidak mengingikan perpecahan di bangsa dan negera Republik Indonesia.

Seperti pesan bung Karno: Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat istiadat tertentu, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Marauke.

Dan kami tidak mengingkan perpecahan antar saudara-saudara kami…

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan