Valentine Days 2017

MATAMEDIA- RI.com – 14 Februari selalu di lewati oleh muda-mudi dengan perasaan yang berbunga-bunga. Hari kasih sayang atau lebih di kenal Valentine Day dilalui dengan ritual memberikan coklat, bunga, boneka dan hal-hal manis lain yang bisa menunjukkan perasaan kepada sang kekasih. Tapi apakah kita tau sejarah dari Valentine Day itu? Apa memang seromantis yang biasa dirayakan?

Pada masa Kekaisaran Romawi, bulan Februari adalah bulan terakhir dan terpendek. Awalnya, Februari terdiri dari 30 hari, tetapi ketika Raja Julius Caesar menamai bulan July/ Juli sesuai dengan namanya “Julius”, ia memutuskan untuk membuat bulan juli menjadi 31 hari dan Februari disingkat menjadi 29 hari. Kemudian ketika  Raja Octavius Caesar yang dikenal sebagai Raja Augustus berkuasa,  ia juga menamai salah satu bulan dengan sebutan “Agustus,” yang sesuai dengan namanya sendiri, dan menjadikan bulan Agustus menjadi 31 hari sedangkan bulan februari dipendekkan lagi menjadi 28 hari. Penetapan tanggal itulah yang menjadi patokan hingga sekarang ini. Lalu apa hubungan penentuan jumlah hari dalam bulan februari dengan penentuan tanggal 14 februari sebagai hari valentine?

Bangsa Romawi kuno percaya bahwa setiap bulan memiliki roh yang memiliki kekuatan dan mencapai puncaknya atau puncak kekuasaan di pertengahan bulan. Dimana dihari itu penyihir, ahli nujum (orang sakti), atau peramal melakukan pekerjaan sihir mereka.  Biasanya pertengahan bulan terjadi pada hari ke-15 setiap bulannya. Namun, berbeda pada bulan februari yang pertengahan bulannya jatuh pada tanggal 14, terlebih lagi  pada hari ke-13 menjadi hari libur pagan (penyembah berhala) yang sangat penting dalam Kekaisaran Roma pada masa itu. Sehingga bulan Februari dipandang bulan yang unik dan berlaku Hari Suci tanggal 14 Februari disebut “Lupercalia/ hari serigala.”

Perayaan lupercalia atau hari serigala biasa dilakukan disebuah gua yang disebut “lupercal” dimana pendeta Lupercus akan berpakaian bulu kambing untuk sebuah upacara berdarah. Pendeta Lupercus menyembelih kambing betina dan anjing yang kemudian darahnya akan dilumurkan ditubuh Pendeta Lupercus. Setelah itu dia akan berjalan di sekitar bukit Palatine dengan membawa februa (tali yang terbuat dari kulit kambing). Wanita-wanita akan duduk di sekitar bukit, lalu mereka akan dicambuki dengan tali kulit kambing yang dibawa oleh Pendeta Lupercus supaya wanita-wanita  menjadi subur. Para wanita muda kemudian akan berkumpul di kota dan masing-masing mereka menuliskan nama mereka pada kertas yang disebut “billet.” Pria-pria Roma akan mengambil bilet, dan nama yang tertulis di billet itu akan menjadi pasangannya selama 1 tahun berikutnya (hingga tanggal 14 februari berikutnya).

Pada abad ke 3, pendeta Lupercus digantikan oleh pendeta Valentinians. Valentinians dijuluki “St Valentine ” dengan ketetapan baru mengenai pernikahkan pasangan yang telah jatuh cinta. Namun Kaisar Claudiu yang berkuasa pada masa itu tidak menyukai pernikahan dan melarang adanya pernikahan. Pendeta St Valentine tidak menghiraukannya. Bahkan pendeta St Valentine tetap menikahkan pasangan walaupun secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada suatu malam, pendeta St Valentine tertangkap basah memberkati salah satu pasangan.
Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang pendeta St Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Namun anehnya, ketika ditahan, St. Valentine malah sering dan selalu dikunjungi oleh masyarakat dan masyarakat tetap mendukung pendeta St Valentine dengan cara melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan. Putri penjaga penjara juga mendukungnya. Sang ayah dari gadis itu mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali.

Secara tidak langsung, Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa pendeta St Valentine telah melakukan hal yang benar. Ketika hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari, pendeta St Valentine  menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri penjaga penjara, ia menuliskan sebuah kalimat yang berisi “Cinta dari Valentinemu”. Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini, setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta. Tanggal 14 Februaripun diperingati sebagai hari kasih sayang yang lebih popular dengan sebutan “Hari Valentine” dan perayaan ini berlaku hingga sekarang ini.

Cukup mencengangkan bukan sejarah valentine? Tapi tenang pada zaman modern ini valentine justru mengajarkan agar kita saling menyayangi. Dengan mengasihi maka kita akan dikasihi pula. Di Indonesia sendiri, masyarakat memiliki cara tersendiri dalam merayakan hari special ini, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun,TV,Radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

“Kalau Valentine tahun ini romantis banget ya, awalnya sih di cuekin dari tanggal dua belas sampai tanggal tiga belas eh pas malam-malam tanggal 14nya,  pacar datang kerumah malam-malam pas ujan lebat, cuma naik motor terus bawa bunga, boneka Winnie The Pooh sama coklat,” jelas Rina salah satu mahasiswa universitas ternama Jakarta yang sedang berlibur di Yogyakarta

Tito salah seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas swasta Yogyakarta angkatan 2016 mengungkapkan bahwa Valentine Daynya tahun ini, ia gunakan untuk menyatakan cintanya kepada sang pacar. “Awalnya sih gak kepikiran buat nembak dia pas tanggal 14 Februari tapi karna masukkan teman-teman dia sama teman-temanku jadi akhirnya nembak tanggal 14 dan keterima,” cerita Tito.

Berbeda dengan Rina dan Tito, Ovi yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta ini mengungkapkan kalau Valentine Day tahun ini dilalui dengan biasa saja tanpa kehadiran kekasih “lagi gak kepikiran soal cinta-cintaan, lagi fokus garap skripsi jadi kita ngerayainnya kemarin itu dengan makan-makan sama anak-anak kos aja,” tutur Ovi dengan senyuman bahagia bersama teman-temannya.

Meminjam kutipan dari Kahlil Gibran “cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia ini, karena cinta itu membangkitkan semangat. Hukum-hukum kemanusiaan, dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.”

Penulis:  Khoiriyah Hajar

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan