Tantangan dan Peluang Technopreneurship bagi Kaum Muda

Ajak Tingkatkan Inspirasi Kewirausahaan, GIPSI Formapsi 2018 Mengadakan Seminar Nasional.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Terampil, Kompeten, dan Profesional. Itulah makna yang ingin disampaikan dalam serangkaian acara GIPSI Formapsi 2018 guna mengembangkan penguasaan IPTEK dalam menghadapi persaingan Global di dunia kerja. Seminar Nasional menjadi pembukaan sekaligus penyambutan bagi perwakilan peserta yang mengikuti kompetisi GIPSI dengan mengusung tema “Prospek Technopreneurship dalam Menghadapi Bonus Demografi”. Tema ini dihadirkan untuk memberikan motivasi bagi kaum muda untuk menghadapi era revolusi industri yang semakin dinamis.

Ratusan mahasiswa dengan aneka warna almamater berbeda memasuki gedung Digital Library pada pukul 07.30 WIB bersiap untuk meng-upgrade kemampuan dan pengetahuan dalam bidang technopreneur dari berbagai ahli.

“Era ke depan kita akan menghadapi bonus demografi dalam persaingan global. Sehingga generasi produktif di Indonesia harus dipersiapkan segala sesuatunya sehingga tidak mudah diserang negara lain pada era Bonus Demografi, salah satunya dengan memaksimalkan usaha dalam technopreneurship,” Ujar Kirana Anggi Pradana selaku SIE acara di Digital Library UNY (8/9).

Kirana mengatakan, berwirausaha dalam technopreneur dapat membantu pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan walaupun tidak ada tempat kerja secara nyata namun dapat meningkatkan perekenomian masyarakat melalui sebuah situs. Diharapkan dengan adanya seminar ini dapat membuat mahasiswa terinspirasi untuk membangun semangat kewirausahaan terutama dalam bidang technopreneur secara nyata. Antusiasme mahasiswa juga sangat tinggi terbukti dengan penuhnya kursi yang mencapai target maksimal. Hal ini membuktikan bahwa technopreneur sangat berelasi dengan passion anak muda di jaman millenial.

“Memilih seminar nasional dengan tema technopreneurship agar mahasiswa mampu mengoptimalisasikan kemampuan dalam bidang IT bukan hanya sekadar pengetahuan IT saja, namun dijadikan sebagai bekal keahlian sebagai seorang wirausaha, karena kita tahu bahwa nantinya akan banyak pekerjaan khususnya dalam bidang perkantoran akan mulai digantikan oleh teknologi,” Tambah Kirana.

Inspirasi kewirausahaan sangat penting dijadikan sebagai bekal mentalitas dalam memulai sebuah usaha. GIPSI menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan pembicara  yang sudah ahli dalam bidangnya, diantaranya Nova Suparmanto seorang Konsultan Technopreneurship, Agung Dwi Hartanto Koordinator Tirto Yogyakarta, dan Cahyo Bayu Ceo & Founder Morning Star Indonesia yang masih berusia muda dengan latar belakang kesuksesan yang bisa menjadi influencer bagi kaum muda yang antusias mendengarkan berbagai motivasi dan ilmu pengetahuan yang disampaikan.

Selain itu, seminar nasional GIPSI tahun ini cukup unik dengan hadirnya pembicara Patrick Houyoux selaku President Director PT. Sydeco yang membuat sensasi Seminar Nasional GIPSI terasa seperti berada dalam Seminar Internasional.

Dalam bidang Jurnalistik Agung Dwi Hartanto menjelaskan bagaimana implementasi technopreneur untuk seorang jurnalis. Bagaimana pengolahan isu technopreneur yang banyak dikonsumsi oleh kalangan mahasiswa. Dari sudut pandang ini maka peserta yang hadir menjadi lebih luas mengetahui tentang implikasi dari technopreneur itu sendiri.

“Technopreneur tidak selalu tentang teknologi yang tinggi tapi sebisa mungkin teknologi yang tepat guna. Dapat digunakan secara pas, bisa memberikan manfaat, dan memudahkan proses usaha itu sudah dikatakan sebagai technopreneur,” Ucap Nova Suparmanto.

Selengkapnya Nova menjelaskan, revolusi industri mengharuskan kaum muda mampu bertindak dinamis, bersiap mengikuti dan paham alur kemajuan teknologi sampai mengaplikasikan secara maksimal. Serta mau ikut terlibat dalam proses kreatif di dunia technopreneur dengan ide-ide start-up yang sederhana namun sudah mulai menerapkan teknologi baik untuk pemasaran, managemen maupun kontribusinya dalam tahap kreasi.

Sharing motivasi technopreneur juga hadir dalam seminar ini. Cahyo Bayu mengatakan, setiap orang memiliki panggilan jiwa dan harus fokus dalam satu bidang untuk menciptakan satu mahakarya. Berani berkarya menjadi salah satu kunci kesuksesan di era sekarang. Menjadi entrepreneur bukan hanya milik anak ekonomi tetapi hak dan kesempatan bagi setiap orang di semua bidang.

“Ketika sudah menciptakan masterpiece, kesuksesan akan hadir dengan sendirinya. Salah satunya dengan menjadi technopreneur,” Tambah Cahyo.

Keseruan Seminar GIPSI dihadiri oleh 320 peserta yang diikuti oleh berbagai lintas Universitas dari dalam maupun luar kota dengan mengirimkan beberapa delegasi untuk mengikuti berbagai serangkaian acara dan juga perlombaan. Terlihat warna-warni jenis almamater peserta meramaikan Gedung Digital Library hingga pukul 14.00 WIB. Tentunya setelah acara seminar selesai mereka keluar dengan optimisme dan bekal ilmu technopreneur untuk segera mengaplikasikan di dunia nyata dan bersaing dalam industri kreatif era digital.

“Fun banget acaranya, karena selain di Jogja lomba yang dihadirkan juga banyak. Tema seminar juga menarik membahas revolusi industri sampai technopreneur karena hal seperti itu sangat penting untuk  diperbincangan oleh anak muda” Ungkap Bilqis Dafa Insani Al-Jannah salah satu delegasi GIPSI dari UI.

Tidak kalah seru dengan seminar nasional, hari ke dua diisi oleh lomba seputar Kompetensi Administrasi Perkantoran. Salah satu terunik dari perlombaan GIPSI  adalah Simulasi Perkantoran yang baru dihadirkan di tahun ini. Hal ini tentunya akan sangat menantang bagi mahasiswa. Bersaing dalam perlombaan sah-sah saja, namun harus tetap memegang tujuan utama dalam acara GIPSI yaitu menjalin kerjasama serta mempererat silaturahmi antar mahasiswa Perkantoran Seluruh Indonesia. Akan menjadi tantangan yang seru dan mengasyikan tentunya!

Penulis: Wiwin Winarni

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan