Si Pemimpi dari Belahan Kota Sejuta Bunga

Menuju peringatan Hari Pahlawan Nasional, aku menuliskan perjalanan ibuku untuk menuju manusia yang berprofesi luhur sebagai pahlawan, baik bagi keluargaku, dan tentunya bagi adik-adik kecil nan lucu calon penopang bangsa dan negara Republik Indonesia di Sekolah Dasar Negeri Gondangrejo kelas 1B , Kec. Windusari, Kab. Magelang.


MATAMEDIA-RI.com – Rambut hitam bergelombang, tubuh standar, dan mulai mengenakan hijab secara pasti dan istiqamah ketika manikah. Perkanalkanlah, bidadari cantik dari sudut terpencil kota sejuta bunga. Ibuku, Siti Haryani begitu nama lengkapnya. Berasal dari keluarga sederhana yang mengutamakan pendidikan. Ketika kecil ia sangat suka dengan hal–hal berbau sekolah. Sampai-sampai ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, setelah pulang  sekolah ia masih sekolah lagi. Bukan sekolah formal, akan tetapi bermain sekolah-sekolahan. Dimana ia menjadi seorang guru dan kawannya menjadi murid. Sudah kenal dengan mental baja dari kecil rupanya.

Mungkin kalau dilihat sekarang sudah tidak ada lagi pemandangan begini. Para putra-putri bangsa yang begitu mencintai pendidikan. Hingga sejak kecil sudah bermimpi membawakan sebuah pelajaran yang akan membawanya ke jalan lurus milik Tuhan. Ketika belasan tahun, ia semakin gigih dalam belajar. Mulai dari melewati sungai, hutan bahkan melewati anjing hutan yang lalu lalang. Jarak sekolah yang cukup jauh, penerangan belum canggih, bahkan jalan masih benar-benar jalan setapak. Mungkin jika itu aku, lebih baik aku di rumah karena ketakutan. Atau, aku meminta ibu dan ayahku mengantarkan ke sekolah dan membiarkan nafkah dan uang sekolah menjadi tunggakan di tiap semester.

Pemandangan mengerikan selalu di depan mata tiap pagi dan menuju sore ketika ia mengenyam bangku menengah pertama. Banyak faktor kebutuhan yang harus di capai. Terutama ilmu yang menyelamatkan hidupnya dari riuhnya masyarakat pedesaan yang dianggap masih berpikir tradisonal. Mulai dari sekolah yang normal saja, hingga menikah dengan tetangga sendiri. Atau bahkan, selesai sekolah siap untuk di pinang dan mendapatkan kata ‘sah’ dari wali dan penghulu. Meskipun pemikiran masih terlalu pendek untuk menghadapi dunia dewasa. Berbeda dengan ia yang memang benar-benar cinta ilmu sejak kecil.

Perjalanannya menuju tepat menimba ilmu dan bertukar pikiran memanglah menantang. Tapi semangatnya tak pernah padam. Berangkat dan pulang dengan restu orang tua. Berangkat dan pulang dengan doa-doa yang berselimut di bibir dan hatinya. Diujung jalan setapak pasti ada yang menunggunya tiba. Bukan hanya 1 orang tapi 3-5 orang. Bersama-sama menuju sekolah menengah yang dengan keadaan layaknya sekolah kampung. Sekolah sederhana yang mempunyai cinta dalam menciptakan ilmu berguna.

Singkat cerita, setelah sekolah menengah pertamanya selesai, ia melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. SPG, bukan pegawai toko. Tapi, SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Dimana lulusan dari SPG ini lebih mudah untuk menjadi guru secara utuh. Siti Haryani si pengejar mimpi ini tak pernah tipis mental. Apapun ia siap melakukannya. Termasuk tinggal jauh dari orang tua karena jarak rumah dengan sekolah kurang lebih 40-45 menit, itu saja jika mengendarai motor. Jika berjalan? Bayangkanlah seberapa jauh. Tak ada orang tua yang tega anaknya berjalan jauh pagi sore dengan keadaan yang masih kurang cahaya.

Bukan main hebatnya. Sudah mengejar mimpi dengan sepenuh jiwa. Bahkan sambil berkerja pun malu tak di kenal olehnya. Meskipun hanya sebagai penjaga warung makan, tapi uang yang di dapatkan bisa meringankan orang tua dalam uang saku. Bukan juga masalah uang. Yang didapatkan adalah pengalaman. Terutama dalam hal memasak. Bahkan selain itu mendapat keahlian dadakan. Sebagai pemotong ayam yang cepat dan bersih. Perempuan tangguh sudah siap menjadi lebih tangguh.

Perjuangan hidup belum berakhir, bulan 8 tahun 1987. Ia menikah dengan seorang prajurit yang tak kalah tangguh perjuangannya. Mereka bertemu dengan ketidaksengajaan yang menumbuhkan rasa dan kesetiaan. Kesulitan demi kesulitan muncul. Rumah sederhana, bahkan uang yang pas-pasan. Tahun kedua pernikahan tanda jabang bayi yang menyusup terlihat. Saat itu keadaannya sang prajurit sedang mengemban tanggung jawab sebagai lurah di desa sebrang. Menuju pertengahan tahun 1989, lahirlah bayi laki-laki yang begitu menawan. Berangsur-angsur tumbuh menjadi laki-laki cerdas hingga membuat bangga banyak mata manusia.

Tahun demi tahun berlalu, ijazah Ibu Siti Haryani belum juga mendapatkan amanah mengajar. Hingga suatu saat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat, ia merasa terselamatkan. Ia merasa dijemput oleh impian lamanya yang terpendam. Pengangkatan guru bantu, termasuk si pemimpi ini. Sujud syukur tidak lepas dari sehelai sajadah bergambarkan Ka’bah. Dengan berita itulah, si pemimpi keinginannya bertambah. Ingin bisa mengendarai motor katanya.

Perlahan tapi pasti, dengan penuh kesabaran sang suami mendampingi. Mengajari dengan sepenuh hati. Hingga suatu hari, diajaklah si pemimpi ini menuju desa yang begitu jauh dari pertapaan hujan. Jalannya berkelok tajam, menjulang tinggi dan turun begitu curam. Menuju gang tikus di kanan jalan, si pemimpi ini berkata “Aku tak sudi jika harus melalui jalan ini suatu saat nanti”. Kata itu terucap ketika ia merasa takut dan tak yakin melalui jalannya. Memang benar begitu mengerikan. Jalanan belum teraspal kokoh, masih utuh tanah berdebu, samping kiri jurang menuju sungai, samping kanan tebing rendah dengan sawah hijau diatasnya.

Kurang dari tiga bulan, surat sudah menghampiri rumah kecilnya. Ketika di baca, sontak jantungnya mengempis. Daerah yang awalnya menjadi jalan yang paling tidak mau di lalui justru akan di lalui di setiap harinya. Ia mendapatkan amanah membenahi pemikiran generasi baru di SD Negeri Gondangrejo, Kec. Windusari, Kab. Magelang. Jarak tempun dari rumah ke sekolah 20km. Kali ini memang jalannya sudah cukup baik. Tapi lihatlah jalanan saat ia awal menempuhnya. Bahkan, pernah ketika anak keduanya sekolah di TK dan berangkatnya bersamaan jembatan utama menuju sekolah putus, dan harus melewati jembatan yang terbuat dari anyaman bambu sederhana. Belum berhenti disitu wahai pembaca ulung, anak yang erat memeluknya di belakang tubuh hangat itu terkadang mengantuk hingga motor yang dikendarai sedikit goyang. Terkadang pengendara lain yang santun memberi tanda akan mendahului saja sambil berteriak, ”Bu, anaknya ngantuk”. Begitu cepat di raihnya tangan sang buah hati agar memeluk tubuhnya. Semakin kemari kedua anaknya semakin besar, anak pertamanya menjadi langganan pencium aspal jalan raya. Tapi katanya tak apa agar tangguh dan tahu arti tanggung jawab dan amanah. Anak keduanya masuk sekolah dasar berbasis Islami agar tahu cara mengaji yang benar.

Wahai pembaca ulung, setiap bulan ada saja rintangan yang di hadapi. Ketika itu, pagi pukul 06.15 W.I.B si pemimpi ini berangkat dengan penuh semangat menuju tempat mengajarnya. Tak sengaja sekumpulan kerbau yang akan menuju sawah terlepas. Sontak si pemimpi ini kaget, stang motornya di lepaskan hingga ia jatuh tersungkur di aspal. Memang tidak ada yang parah lukanya. Tapi ini salah satu tantangan mental di tiap paginya. Selalu ada kerbau nakal yang lepas. Atau pembajak sawah yang memilih untuk memilin tembakau bukan mengatur jalan kerbau.

Ketika musim hujan tiba, jalan utama menuju sekolah tempat mengajar belum lagi tertutup aspal yang kokoh. Mau tidak mau, sepatunya yang sudah dibersihkan harus kotor karena lumpur. Bahkan tak jarang terpeleset karena tanahnya licin dan berair. Beruntung masyarakat di desa kecil itu selalu menjaga di sana. Jadi pasti ada yang menolong dan menawarkan bantuan. Tapi, begitulah namanya orang bernyali tinggi, takkan menyerah karena sebuah kondisi, tak akan menyerah sebelum merasakan adrenalinnya sendiri.

Kemudian, jembatan akses utama masuk ke sekolah tempatnya mengajar sedang di bangun. Ada petunjuk arah yang menunjukkan jalan lain. Jalannya bisa dikatakan akan membuat sambil mengelus dada. Bisa menangis darah jika bukan manusia tangguh yang melewatinya. Jalan setapak dengan samping kiri tebing dan samping kanan makam menjadi  gerbang masuk jalan tikus pertama. Jalan itu juga belum teraspal hitam. Justru dihadapkan dengan dua pohon randu di awal jalan. Sungguh bergetar rasanya seluruh tubuh ketika aku mencoba masuk melalui jalan itu. Setelah gerbang dilaluinya, akan mendapatkan sapaan pagi begitu menawan dari salah satu bagian nusantara. Hamparan hijau dan kuning padi di sawah. Tapi wahai pembaca yang budiman, ini bukan anugerah bagi pengecut yang sok berani melewati jalannya. Telalu lama melirik dan menikmati panorama sama saja dengan siap mandi lumpur di sawah bersama belut dan lintah. Beruntungnya ketika itu bukanlah musim penghujan. Jika saja itu musim penghujan, bagaimana? Satu langkah pun tak berani berkutik ketika gelap dan deras disertai angin ataupun kilat. Hanya pasrah pada Tuhan kapan akan reda atau kapan akan di tiup nyawa dari kerangka.

Lagi, jalan baru ditemukan untuk keselamatan yang lebih terjamin. Memotong jalan dan waktu kurang lebih lima menit lamanya. Jalannya lebih dekat memang. Pemandangannya pun sangatlah bagus. Tapi, jalannya sempit, hanya beralaskan tanah dilapisi batuan-batuan kecil, banyak tanjakan dan jalan yang menurun. Bahkan ada tikungan tajam yang membuat kaget para pengendara. Tikungan tajam itu bukan datar, tapi tikungan tajam pada tanjakan. Dari bawah hanya berkesempatan memberi suara klakson dan dari atas pun sama. Jika terlambat, habislah sudah pasti akan terjadi perang antar kuda besi. Pernah terjadi satu kali, terjatuh tanpa lawan olehnya. Kakinya terpeleset kerikil dan pasir bangunan. Terdengar keras gesekan kuda besi dengan jalan desa apa lagi di jalan tanjakan. Masyarakat desa turun tangan mengulurkan bantuan. Keadaan jalanannya memang benar-benar melewati tengah garis kampung kecil. Masyarakatnya sangat ramah dan mengenali ciri pengajar yang lewat disana. Termasuk Ibu Siti Haryani, ibu tangguhku ini. Masyarakat pun tak enggan untuk meminta bantuan kepadanya. Ada satu keluarga yang mempunyai anak dan bersekolah di TK Pertiwi sekitaran sekolah. Dengan senang hati diberilah tumpangan untuk si kecil yang manis dan pintar.

Dan masih ada lagi yang paling mengerikan. Jalan utama menuju sekolah memang sudah di aspal sesuai standar. Tapi jangan heran ketika musim hujan tiba. Hujan lebat seharian bisa mengakibatkan tebing disana longsor. Tanah lembeknya mengalir begitu deras. Jalan utama tertutup tanah lembek dan licin. Bahu jalan berlawanan arah tak kuat menahan beban kendaraan. Aspal dan tebing jalannya amblas separuh jalan. Tiap pagi harus mengantri hampir satu jam penuh untuk sistem buka tutup jalan. Jika tidak akan ada korban yang masuk jurang pembatas. Baju bersih pasti jadi kotor sebelum sehari di pakai di sekolah. Begitulah keadaan jalan desa yang berada di bawah pegunungan.

2007 merupakan tahun pengangkatan si pemimpi ini. Setelah menikmati jerih payah keringat dan bahagia ia mendapatkan ujian begitu menyayat hati. Tepat pada tahun 2009 Bulan November. Jagoannya yang sudah siap menjadi prajurit mengikuti jejak sang komandan di keluarganya mengucapkan kata perpisahan dengan sangat pilu. Yogyakarta, kota istimewa dan kota kenangan. Tepat sekali bagi si pemimpi julukan kota ini. Istimewa karena banyak hal menarik di dalamnya dan kenangan di titik perempatan Janti saksi perenggut nyawa jagoan kecilnya. Entah harus bagaimana saat itu cara bangkitnya. Sebelum nyawanya terenggut, jagoannya adalah penjaga rumah yang mempunyai firasat terkuat di keluarga. Kurang lebih satu atau dua tahun ketika Bulan ramadhan, percobaan pencurian dilakukan bertubi-tubi. Ia adalah saksi pendengar besi di paksa untuk dicabut. Kayu di paksa di dongkel. Hingga percobaan ketiga, ketika jagoannya sudah siap mengemban sebagai prajurit pulang pukul 00.00 WIB. Dengan firasat sang adik yang tak karuan saat itu ikut kembali kerumah karena ingin cepat bertemu si jagoan. Aura dan bau menyengat sudah asing pada tubuh empat orang penghuni rumah ini. Hingga pukul 03.00 si pemimpi bangun. Mata memerah dan di tahan sekuat tenaga untuk tenang. Mengetuk pintu kamar si jagoan. Ternyata, tamu tak di undang memakan semua harta keluarga. Ibarat hidup hampir mati tapi masih di tagih janji.

Setelah terlepas dari itu semua dan masih menyisakan luka batin sesungguhnya. Tapi, hidup harus tetap berjalan bagaimanapun keadaannya. Rencana Tuhan lebih indah dari yang di bayangan manusia. Tenaga pendidik yang masih bergolongan II/a dan sederajat. Mendapatkan kesempatan untuk melegalkan diri sebagai sarjana. Dengan menempuh kuliah dari Universitas Terbuka yang pembelajarannya dilakukan tiap sabtu dan minggu. Mau tidak mau keluarga menjadi taruhan. Harusnya bisa berkumpul untuk sekedar bersih-bersih rumah bersama. Tapi, harus di tinggalkan untuk mendapatkan kelayakan dan legalnya seorang pengajar.

Pengetahuan tentang teknologi masa kini yang kurang menjadi salah satu hambatan dan tantangan baru. Anak keduanya yang sudah bisa mengoperasikan komputer laptop harus mau mengajarkan cara bagaimana membuka microsoft word dan aplikasi lainnya. Banyak catatan kecil yang dibuat olehnya. Katanya agar tidak mudah lupa dan bisa dibawa kemana saja. Terkadang, tugas kuliahnya juga melebur atau di bantu oleh orang lain yang lebih paham. Hingga saat akan kelulusan, banyak sekali modul tertumpuk. Banyak bahan ketikan dan data berserakan harus dirapikan. Beruntung kawan si pemimpi ini berbaik hati dan ikhlas meringankan beban. Tugas akhir selesai, wisuda di depan mata. Sayangnya ketika wisuda, anak kedua dan suaminya tak bisa hadir. Karena hari wisuda bukanlah hari libur.

Kembali lagi ia kepertapaan tempat penimba ilmu berkumpul. Banyak pertanyaan terlontar dari anak didiknya. “Ibu dari mana?” begitu katanya. Jawabnya singkat dan padat bahwa ia ada rapat kemarin, dan tidak bisa hadir di kelas. Mulai lah lagi ulah anak didiknya seperti biasa yang ada di kelas. Mulai dari anak bandel. Anak yang meminta untuk ibunya selalu mendampingi di kelas. Siswa yang jahil dan siswi yang cengeng. Beberapa murid yang kurang bersih. Murid yang belum sarapan dan memilih jajan sebelum jam belajar di mulai. Pertanyaan wali siswa mengenai seragam sekolah yang belum lunas. Dan masih banyak lagi. Maklumilah para pembaca, ini SD dalam desa bukan kota seperti kalian. Jalan mereka sama dengan jalan yang dilalui si pemimpi. Maklumi juga, mereka adalah siswa kelas 1 SD yang harus benar benar diperhatikan dari nol. Benar-benar diajarkan bagaimana cara memegang pensil, menulis, membaca dan lainnya.

Bukan main sabar yang di pertaruhkan. Siswa kadang enggan membaca buku yang dijadikan acuan. Padahal si pemimpi ini sudah merangkai berbagai macam cara. Seperti stempel bintang untuk siswa yang lancar membaca dan menulis. Tapi ada saja yang belum mau, bahkan menginginkan untuk tinggal di kelas 1 saja bersama si pemimpi. Bagaimana tidak nyaman di kelas si pemimpi di kelas 1B?. Kelas yang selalu di rapihkan dan di bersihakn ketika pulang sekolah oleh si pemimpi sendiri. Barang yang tertinggal milik siswanya di simpan rapi. Jika ada siswa yang kurang sopan cara menegurnya pun tegas sebenarnya hanya saja orang tua mereka lebih percaya bahwa seorang guru tak akan tega membiarkan muridnya bodoh, tak tahu tata krama, tak tahu bagaimana rapi dan tanggung jawab tentang hal kecil dan besar sekalipun.

Bagitulah singkat cerita yang ada dari si pemimpi. Jika pembaca ingin lebih mengenalnya, bisa kalian temui di Sekolah Dasar Negeri Gondangrejo kelas 1B , Kec. Windusari, Kab. Magelang. Ia akan bersenang hati menerima tamu yang datang dengan sopan dan bertujuan baik. Ia bukan manusia sombong dan angkuh. Ia manusia dengan ribuan lapis kesabaran dan kerendahhan hati. Ia bidadari cantik dari hati, pemikiran dan wajahnya yang penuh dengan senyum kegembiraan.

Ribuan doa yang di panjatkan menjadikan mimpi bukan lagi angan atau sekedar mimpi belaka. Usaha tidak lagi sia-sia. Sejuta kata mutiara turun atas syukur gemilangnya. Sang suami memberi wejangan “Bantulah anak didikmu, kalau ia tak punya pensil, belikan. Kalau tak punya uang saku, berilah secukupnya. Sayangi anak didikmu seperti kamu menyayangi anakmu sendiri. Semakin sering kamu membantu orang lain, semakin sering pula kamu mendapatkan pertolongan dari orang lain”.

Wahai pembaca muda, hargailah seorang guru. Jangan jadikan alasan ketegasan guru menjadi sasaran penganiayaan. Jangan pula biarkan anak tumbuh di lingkungan buruk. Sebagai orang tua haruslah mendampingi anak belajar. Guru adalah orang tua kedua, bukan orang tua utama. Orang tua utama adalah pengaruh utama sikap seorang anak. Jika anak melaporkan kejadian buruk di sekolah, selidikilah dahulu bagaimana kebenarannya. Jangan asal mengambil keputusan. Ingat, tanpa guru kalian juga tak belajar dengan lebih mudah. Dan wahai pembaca ulung, jika kalian adalah seorang guru, amanahlah terhadap apa yang harus kalian lakukan. Jangan semena–mena mengatur anak didikmu. Bersabarlah, maka mutiara akan bersinar di depan mata.

Penulis: Apriliani Intan Pertiwi

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan