Semangat Intelek Egi Imam Lutfi

Sebagai mahasiswa yang sedang menimba ilmu, Egi Imam Lutfi tak lupa menjadi seorang manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya, dengan cara memberikan ilmu yang telah ia dapatkan yakni mengajar mengaji siswa-siswi SD Muhammadiyah di Banguntapan, Bantul.


MATAMEDIA-RI.com – Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan jiwa dan raga mereka untuk membebaskan negeri ini dari penindasan dan eksploitasi penjajahan dengan perlawanan, maka pahlawan masa kini adalah mereka yang berani dan rela mengorbankan waktu, fikiran dan tenaga mereka untuk mengisi dari pada kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pahlawan. Salah satu yang menjadi ladang perjuangan selanjutnya dalam mengisi kemerdekaan ini adalah bagaiman mencerahkan kehidupan masyarakat lewat ilmu dan pendidikan. Sebab dengan begitu, kemerdekaan yang sejati baru akan benar-benar terasa.

Pendidikan bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga-lembaga terkait lainnya, tetapi harusnya menjadi tanggung jawab bersama dan menjadi perhatian bersama. Entah itu tentang pendidikan agama dan lain sebagainya. pemerintah tidak akan mampu menjamin sepenuhnya pendidikan tanpa adanya partisipasi dari masyarakat. Oleh karenya, kesadaran ini harusnya tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat saat sekarang ini. Sehingga tidak cendrung menyalahkan pihak tertentu saja.

Jika kita kembali melihat sejarah, Terjajahnya indonesia sekian abad yang lalu merupakan pelajaran berharga bagi bangsa yang sangat besar ini. Ada banyak hikmah yang dapat diambil dari sejarah itu, terutama tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Kekurangan orang pintar yang dibarengi dengan kurangnya pengamalan agama menjadi penyebab lemahya masyarakat kala itu. Namun dengan adanya beberapa orang cendekia yang agamanya juga kuat, baik itu dari agama islam, kristen, hindu, dan lain-lain, barulah kemudian memberikan hasil yang signifikan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Itulah yang menjadi salah satu alasan para pejuang pendidikan dinegeri ini untuk tetap mengabdikan dirinya dalam mencerdaskan orang-orang sekitarnya.

Orang-orang yang berjibaku dalam perjuangan ini tidak selalu orang tua. Tetapi banyak dari anak muda yang kemudian hatinya terbuka untuk sama-sama membagi ilmunya. Salah satunya adalah Egi. Dia adalah seorang mahasiswa disalah satu Universitas Negeri di Yogyakarta. Nama lengkapya adalah Egi imam lutfi, kelahiran Pulo Jantan tahun 2000. Dia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Sejak SMP, dia banyak belajar ilmu agama. Sehingga ia sadar betul betapa pentingnya mempelajari agama. Karena ilmu agama tidak hanya masalah ghaib saja tetapi jauh lebih dari itu. Inilah yang kemudian membuat dia perihatin terhadap pendidikan, hususnya agama islam. dia melihat anak-anak jaman sekarang itu sangat jauh dari agama. Hidup sangat individualis, serba instan dan sebagainya. Sehingga muncul kehawatiran dalam dirinya akan timbulnya efek yang sangat negatif. Seperti timbulnya konflik antar agama, suku, golongan dan sebagainya. Sebab, memang ciri dari Indonesia itu adalah agamais, dimana agama menjadi landasan moral bangsa Indonesia. Yang memberikan aturan kepada pemeluknya untuk hidup dengan damai. Dia mengumpamakan agama seperti pondasi dalam kehidupan sosial, yang apabila agamanya tidak kuat maka bangunan atau struktur dalam masyarakat juga tidak akan kuat.

Ditengah kesibukannya menjalani kuliah, dia selalu menyempatkan diri untuk membagi ilmunya kepada anak-anak yang ada disekitarnya. Dan memang dia tinggal di sebuah Masjid di Yogyakara, dan disinilah ia banyak mengajari anak-anak membaca Al-quran. Kerena memang prinsip hidupnya adalah “menebar manfaat bagi orang lain.”.

Selain itu, dia juga mengajar mengaji siswa-siswi SD Muhammadiyah di Banguntapan, Bantul. Dimana jarak sekolah tersebut dengan tempat tinggalnnya cukup jauh. Ia menyisihkan waktu disela-sela istirahatnya dari jadwal kuliah dan kewajibannya di Masjid. Semua ini ia lakukan karena ia berharap, lewat ilmu yang dia berikan, nantinya akan dapat bermanfaat di kemudian kelak. Baik bagi diri si anak yang ia ajari tersebut, maupun negara dan bangsa ini nantinya.

Terkadang dari wajahnya terlihat bahwa ia begitu lelah, tetapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap memberikan sedikit dari ilmunya kepada anak-anak. Walau memang ada imbal hasil yang ia terima, tetapi itu bukanlah sesuatu yang menjadi alasannya. Terlebih imbal hasil tersebut tak seberapa dengan lelah dan ilmu yang ia berikan. Bahkan terkadang dia juga mendapat ocehan dari orang lain. Tetapi lagi lagi ia tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menjadi masalah, karena ini memang sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Sebagai mahasiswa yang identik dengan kesibukannya masing-masing, baik organisasi, tugas dan sebagainya. Dia tetap saja tidak meninggalkan usahanya ini. Belum lagi godaan dari teman-teman yang untuk bermain, berkumpul dan bersenang senang bersama. Dia tidak hanyut dalam pergaulan yang kurang mengandung manfaat, pikirannya adalah bagaimana berkontribusi langsung untuk kepentingan orang banyak.

Mengabdi kepada masyarakat adalah sebuah keharusan baginya. Sehingga betapapun banyak kekurangan yang ia miliki, tak sedikit pun mengurangi niatnya yang mulia itu. Dia sadar betul akan resiko yang akan ia hadapi kedepan, namun bayangan akan masa depan jauh lebih jelas dalam fikirannya. Inilah yang membuat ia optimis dengan manfaat perjuangan yang dia lakukan. Meski memang sedikit sekali yang sadar dan menghargai orang-orang yang berjuang dalam bidang pendidikan. Bagi sebagian besar orang, penghargaan dan balas jasa dari seorang pendidik sudah cukup hanya dengan materi semata. Padahal seharusnya jauh dari itu. tetapi baginya itu tak masalah.

Di bukanlah anak seorang yang kaya, dan bukan juga miskin. Tetapi dalam dirinya ada keinginan untuk mandiri dan mulai menebarkan kemanfaaatnnya bagi banyak orang. Meski hasilnya mungkin tak dapat langsung dirasakan, tetapi dimasa mendatang usaha tersebut akan sangat terasa manfaatnya. Terlebih jika anak-anak tersebut sudah dewasa dan mengamalkan apa yang telah mereka peroleh selama belajar, serta mengajarkannya lagi kepada orang lain dan generasi selanjutnya.

Baginya pahlawan itu adalah ibarat gula. Dimana dia memberikan manfaatnya tetapi tidak mengharap dan mendapat pujian dari orang lain. Tetap orang yang ia bantu itulah yang akan mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain. Dan jikalau ada yang menyalahka atau bahkan mencacinya dia terima dengan lapang dada.

Seiring berjalannya waktu, dia berharap akan semakin banyak lagi manfaat yang dapat ia berikan kepada masyarakat luas. Pengabdian yang ia lakukan sekarang merupakan langkah awal untuk perjuangan panjangnya dalam berkontribusi untuk negeri. Dia juga berharap agar kedepan, pemerintah lebih memperhatikan lagi pendidikan agama. Agar nilai nilai dalam suatu agama itu benar benar dapat terjaga dengan baik.

Di era modern ini, kita membutuhkan banyak pahlawan seperti Egi, yang memiliki loyalitas yang tinggi terhadap bangsa dan negara, serta semangat dan tekadnya yang begitu luar bisa. Egi menjadi salah satu contoh betapa negeri ini kaya akan anak muda yang memiliki perhatian yang luar biasa terhadap negerinya. Dari sejak usia muda sudah mulai memikirkan bagaimana nasib bangsanya kedepan, dan memikirkan serta melaksanakan strategi yang harusnya dilakukan.

Anak muda yang memiliki kesadaran akan pentingnya berbagi merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Semoga saja akan lahir banyak anak muda yang perduli dengan bengsa dan negaranya ini. Karena dengan pahlawan-pahlawan muda, kejayaan itu lebih dekat. Sebab, Semangatnya yang masih kuat, fikiran yang cermat, langkah yang cepat, serta pandanngan dan pendengaran yang akurat.

Penulis: Darwin Lubis

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan