POBIA: Dari Bali Untuk Indonesia Semangat Bertani

Peserta Innovation Contest 2018  dari Universitas Udayana diketua oleh Ni Kadek Sri Utari membawa gagasan “POBIA” Pendidikan Moral Berbasis Agraris untuk Siswa Sekolah Dasar Dalam Upaya Pengembangan Sumber Daya Lokal Menuju Generasi Emas 2045.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Melihat permasalahan yang ada atas ketidaktertarikan generasi muda masa depan yang sangat tidak tertarik pada pertanian di daerah Denpasar, Bali membuat Ni Kadek Sri Utari mengajak temannya Wayan Gede Gunartha, dan Gede Pandi Eka Yasa melahirkan gagasan “POBIA” Pendidikan Moral Berbasis Agraris untuk Siswa Sekolah Dasar. Ketika dibawa ke Yogyakarta gagasan POBIA meraih juara harapan 3 Innovation Contest 2018 yang diselenggarakan oleh Umum UKMF Penelitian KRISTAL FE UNY.

“Kami ingin mengajarkan pertanian kapada adek-adek terutama Sekolah Dasar. Kami ingin mengenalkan  pertanian sedari usia dini dan nantinya mindset mereka tentang pertanian itu tidak hanya sebatas sawah; hal yang tidak menyenangkan, hal yang tidak menjanjikan. Kami juga mengajarkan mereka menggunakan barang-barang bekas sebagai media tanam, disana juga ada pemanfaatan dari 3 R yakni reuses. Kami bertanya apa itu 3 R 3R (Reuse, Reduce, Recycle) mereka tidak tau dan menjadi sangat miris ketika tanaman padi mereka kurang tau, beras itu dari mana. Ketika kami bawa tanaman padi mereka bilang itu sereh,” terang Ni Kadek Sri Utari komando dari Universitas Udayana ketika mengikuti Innovation Contest 2018.

Ni Kadek Sri Utari yang mengambil program studi Agribisnis Semester 4, Wayan Gede Gunartha Wijaya Agroekoteknologi Semester 2, dan Gede Pandi Eka Yasa Semester 2 Arsitektur Pertanian Universitas Udayana mengajarkan pertanian sedari usia dini. Karena keterbatasan waktu gagasan ini baru mencoba dijalankan di kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 13 Kesiman, Denpasar Timur Bali. “Melihat respon dari kelas 5 gagasan kami ini bisa diterapkan dari kelas 3, 4 dan 5,” tutur Sri.

Konsep pendekatan yang dilakukan Sri dkk terlebih dahulu seperti salam kemudian diberikan materi pertama yang berisi sampah kemudian dikaitkan dengan pertanian. “Apa yang bisa dihasilkan dari sampah tersebut dan kami menjalankan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dan akhirnya kami menampilkan bagaimana prodak-prodak pertanian yang dihasilkan dari barang bekas vertikultur dan hidroponik juga, dan murid-murid kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 13 Kesiman dengan gembira mengolah barang bekas menjadi keterampilan seperti kotak tisu, vas bunga, bingkai foto, dan bunga kertas” ungkap Ni Kadek Sri Utari.

Untuk tugas secara umum mereka bertiga mengajarkan prakteknya terlebih dahulu ke adik-adik. Ni Kadek Sri Utari lebih khusus memberikan penjelasan materi pengantar atau pengenalan mengenai sampah dan kaitannya dengan pertanian. Kemudian materi praktek seperti hidroponik, vertikultur dijelaskan oleh Wayan Gede Gunartha. Ni Kadek Sri Utari dan Gede Pandi Eka Yasa semester 2 melakukan pendampingan pada saat setiap materi diberikan.

Setelah mengikuti “Pendidikan Moral Berbasis Agraris” respon anak-anak Sekolah Dasar Negeri 13 Kesiman, Denpasar Timur Bali mulai mengerti caranya menanam dan mulai tahu pertanian meskipun masih sekedar sawah. Awalnya ketika ditanya siapa yang mau jadi petani? Tidak ada yang mau menjadi petani karena kotor, berbalik arah menyukai petani. “Setelah diajarkan praktek respon riang mereka cukup baik ketika kami bertanya kembali siapa sih yang mau jadi petani? Siapa sih yang mau berguna bagi orang lain untuk menyediakan bahan pangan bangsa dan negara Indonesia hampir sebagian besar 80-90 % mereka bilang mau jadi petani,” kata Sri.

Innovation Contest 2018

POBIA juga mengajarkan kepada anak-anak SD Negeri 13 Kesiman, Denpasar Timur Bali Negeri 13 Kesiman, Denpasar Timur Bali bagaimana mengabdi, bagimana bisa berguna bagi orang lain, cinta lingkungan dan melestarikan pertanian bahwasanya pertanian adalah sektor yang sangat penting bagi sebuah bangsa.

“Bagaimana kami menanamkan pertanian ini sebagai nilai luhur adalah bahwa ketika kita mencintai alam maka alam itu sendiri akan mencintai kita, dan bagaimana kita menghargai hasil yang kita peroleh dari pertanian itu akan menjadi suatu hal yang berguna bagi banyak orang dan kita gak usah malu bahwa kita bercita-cita menjadi petani,” jelas Sri.

Ni Kadek Sri Utari dkk juga bergerak melestarikan dan mengembangkan pertanian didaerah perkotaan. Penggunaan bahan bekas digunakan sebagai media tanam untuk mengurangi sampah non organik tetap mereka gunakan. Setelah itu mereka juga mengajarkan konsep hidroponik karena di daerah perkotaan masih kurang  hidroponik dengan air.

“Karena saya sendiri berasal dari kota Denpasar dan sejauh ini astungkara saya juga mulai merintis bisnis yang saya kembangkan dirumah saya sendiri, masih kecil karena masih diseimbangkan dengan kuliah join sama teman-teman, kita menggunakan konsep pertanian urban farming,” tutur Sri yang memang berasal dari kelurga yang suka dan akrab dengan dunia pertanian.

Tanaman obat, tanaman upakara juga dilestarikan di masing-masing rumah penggagas POBIA. Kedepannya Ni Kadek Sri Utari DKK akan berkerja sama dengan Kelompok Wanita Tani Denpasar Timur, Kelurahan Kesiman yang masih dirintis dan anggotanya kebanyakan ibu-ibu rumah tangga. Kerjasama ini untuk mengenalkan pertanian secara lebih mendalam tidak hanya sekedar bisa menanam tapi juga dari segi ilmu pengetahuan yang ada pada pertanian. “Dari pertanian ini saya harapkan juga bisa mengembangkan jiwa wirausaha pada ibu-ibu lebih jauh lagi di daerah pinggir kota maupun pada area perkotaan,” ungkap Ni Kadek Sri Utari.

Kesan dan Pesan Panitia Innovation Contest (ICON) 2018

Mengabdi, mengaplikasikan, dan berbagi ilmu walaupun masih mahasiswi-mahasiswa menjadi penggerak bagi Ni Kadek Sri Utari, Wayan Gede Gunartha Wijaya Agroekoteknologi, dan Gede Pandi Eka Yasa . Mereka bergerak dari hal kecil dan sederhana, tapi, dapat berguna dan bermanfaat bagi sesama manusia.

Adanya usaha manusia untuk memperbaharui proses produksi yang bersifat “reproduktif” dan “usaha pelestarian/budidaya” merupakan pedoman suatu kegiatan pertanian. Perkembangan setiap masyarakat suatu bangsa secara berkesinambungan bersendi pada ketersediaan suatu sumber pangan yang cukup. Seperti pepatah tua berkata-kata sejak manusia pertama yang ada dunia, dan akan terus melewati lintas waktu kehidupan di dunia, bahwasanya “Logika tidak akan berjalan baik tanpa logistik”.

“POBIA” Pendidikan Moral Berbasis Agraris untuk Siswa Sekolah Dasar Dalam Upaya Pengembangan Sumber Daya Lokal Menuju Generasi Emas 2045 adalah salah satu jalan penting diantara beberapa jalan menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

 

One Comment on “POBIA: Dari Bali Untuk Indonesia Semangat Bertani”

Tinggalkan Balasan