Pandangan Kajian Strategis IKPMDI Terhadap Realitas Bangsa Menjelang Pemilu Raya 17 April 2019.

Semoga jawaban Asrizal dan Rianda Agusti dari pertanyaan yang MATAMEDIA-RI.com ajukan terhadap realitas bangsa menjelang Pemilu Raya tidak akan kita temukan lagi di tahun-tahun mendatang. Semoga para politikus kita benar-benar akan berpihak kepada rakyat, bukan berpihak kepada golongan mereka saja, semoga democracy tidak lagi dijalankan oleh orang-orang crazy, tetapi oleh orang-orang yang memiliki AKAL BUDI, dalam arti orang-orang berakal sehat nan tulus itu sejatinya memang berpihak kepada seluruh rakyat. Semoga kita dipimpin oleh pemimpin yang memang ingin memimpin bangsa dan negara Republik Indonesia ini semata hanya karena untuk kesejahteraan seluruh rakyat, hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan hanya untuk menciptakan keadilan sosial yang merata untuk seluruh rakyat.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Berawal dari keresahan dan kegelisahan yang ada akibat iklim politik dan segala macam polusi di alam demokrasi menjelang pemilu raya 17 April 2019, IKPMDI untuk melakukan massa aksi yang bertajuk “Aksi dan Deklarasi Damai Mahasiswa dan Mahasiswi Se-Indonesia di Yogyakarta”.

Aksi dan Deklarasi Damai Mahasiswa dan Mahasiswi Se-Indonesia di Yogyakarta

MATAMEDIA-RI.com mewawancarai Kajian Strategis IKPMDI terhadap realitas bangsa menjelang Pemilu Raya 17 April 2019 yang diwakili oleh Asrizal dan Rianda Agusti:

Menurut pandangan kalian berdua keresahan seperti apa yang kalian rasakan di Pilpres 2019 ini?

Keresahannya hampir yang kami tuangkan dalam deklarasi, diantaranya: kita lihatkan propaganda, kampanya hitam, berita bohong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya semakin masif terjadi, jadi satu hal yang tidak mungkin menjadi embrio akan ada perpecahan didalam kehidupan sosial bermasyarakat. Hal itu yang justru mengakibatkan masyakakat mulai apatis, karena kebingungan terhadap informasi yang disampaikan oleh media-media itu. Lewat aksi seperti ini kami ingin menggelorakan semangat bahwa yang namanya berita bohong harus kita lawan secara bersama-sama untuk mengatisipasi terjadinya perpecahan di dalam kehidupan bermasyarkat. Apalagi itu politik identitas; agama, ras, dan lain sebagainya. Jadi satu yang tidak bisa kita tampikkan di masyarkat ini ada polarisasi politik yang dilatarbelakangi dari identitas masing-masing. Identitas ini mendukung pileg yang dari ini, calon yang dari ini dan itu. Semuanya di saring melalui seleksi identitas itu tadi. Itu menjadi momok yang sangat menakutkan, menjadi ancaman untuk kesatuan dan keutuhan negara kita.

Asrizal Fakultas Hukum UAD Yogyakarta.

*

Kalau keresahan dari saya lebih ke orientasi politik saat ini yang dihadapi masyarakat itu beranggapan jika salah satu paslon atau calon legislatif naik dalam kegiatan pileg ini masyarakat berpandangan bahwasanya para calon-calon itu memiliki banyak uang, finansialnya cukup sehingga orientasi berpikir masyarakat bahwasanya saat ini ketika ada calon mereka menadahkan tangan untuk meminta uang, seperti itu. Jadi hadirnya kita disini untuk menolak budaya politik uang (money politic) sehingga untuk kelak ketika anak cucu kita terjun di dunia politik tidak ada lagi politik uang. Karena keresahan yang dirasakan oleh beberapa caleg yang pernah kita temui dan mereka menemui kita beranggapan bahwasanya kok masyarakat kita ini orientasi berpikirnya kok uang, uang, dan uang terus. Sehingga ketika ada caleg yang memang dia memiliki gagasan-gagasan yang penting, bagus, ketika dia tidak di dukung finansial yang kuat kadang kala dia tidak bisa menang seperti itu. Untuk sekarang ini ada dua kemungkinan yaitu pengusaha yang menjadi seorang politikus karena memang finansialnya baik sehingga dia mampu untuk membeli suara-suara masyarakat. Itu saja yang menjadi keresahan bagi saya yaitu money politic yang saat ini sangat masif. Apalagi kemaren ada berita persiapan dana dari salah satu calon legislatif nah itu membuat hati kecil kita ini sangat resah. Jadi harapannya dengan kegiatan-kegiatan kita menyampaikan suara-suara dari pemuda yang ada di Jogja, kita menolak yang namanya politik uang.

Amplop dan kalau bahasa orang kampungnya itu salam tempel. Jadi suara itu bisa dibeli dengan Rp 50.000 selama 5 tahun dan kemungkinan besar ketika salah satu legislatif itu jadi (menang) atau presiden jadi kita tidak bisa menafikan bahwasanya mereka harus mengembalikan modal. Ujung-ujungnya budaya korupsi marajalela.

Rianda Agusti Pertanian Instiper.

*

Kritik kalian berdua terhadap politikus hari ini dan kritikan terhadap alam demokrasi?

Jika kita lihat konstelasi politik akhir-akhir ini yang menjadi kritikan bagi kita semua dalam hal para calon-calon ini bukan kemudian berkompetisi program tapi justru saling mendeskreditkan satu sama lain. Jadi seharusnya yang dikehendaki masyarakat itu adalah mereka memilih berdasarkan rasionalitas, menjatuhkan pilihan berdasarkan pada kualitas program yang ditawarkan. Seharusnya para calon-calon yang berkompetisi dalam percaturan politik mendorong program-program yang memang dirasa mengakomodir kepentingan dan kebutuhan para masyarakat, sehingga tingkat partisipasi masyarakan dalam hal itu akan meningkat dan otomatis akan menegasikan politik uang dan lain sebagainya. Para calon ini harus berkompetisi program seharusnya, bukan justru saling menghina satu sama lainnya, itu sangat tidak apik. Kemudian itu justru merusak citra demokrasi. Citra demokrasi menjadi rusak sehingga demokrasi kita menjadi semrawut dan keblinger. Karena apa? Karena kualitas-kualitas para pemimpinnya yang tadinya mereka tingkat elektabilitas naik bukan karena program yang rasional, yang memang ingin membawa Indonesia pada kejayaan, kesejahteraan tapi justru mereka mendapatkan elektabilitas itu naik dengan usaha-usaha yang tidak benar, seperti money politik, berita bohong (hoax), menyerang satu sama lain, menunjukkan bahwa dialah yang paling suci, kemudian dipolarisasi oleh politik identitas, menunjukkan ketaatan bahwa dia sangat agamais dan lain sebagainya.

Harapannya, seharusnya penegasannya jika ingin berkontestasi maka kontestasilah secara sehat. Yang dibutuhkan oleh rakyat itu adalah program bukan janji-janji semata.

Hal yang paling penting itu adalah tingkat partisipasi publik, dalam demokrasi itu dimana kebebasan berpendapat, kebebasan dalam menyatakan pendapat dimuka umum itu harus di akomodir oleh negara karena bagaimana pun itu adalah hak asasi warga negara, seharusnya tidak dibatasi tetapi kalau kita lihat, dan saya juga pernah dengan teman-teman mahasiswa mengalami begitu sangat dipersulit hanya untuk mengajukan informasi bahwa kami akan akan membuat mimbar bebas dikampus. Kemudian tindakan diluar refresif aparat kepolisian sangat tidak manusiawi dan itu tentu merusak citra kita berdemokrasi.

Harapannya demokrasi kedepan adalah demokrasi yang sehat, demokrasi dimana tingkat partisipasi publiknya tinggi, kemudian publik dalam menyampaikan pendapat aspirasi tidak dibatasi oleh undang-undang MD3 dan sejenisnya dengan alasan ada dalil hukum dan sebagainya. Justru kebanyakan dalil hukum yang dipakai itu justru mengekang kebebasan publik. Seharusnya ini yang disoroti oleh para elite jika ingin menata demokrasi agar leboh demokratis maka berikan ruang yang sebesar-besarnya kepada publik untuk dapat mengekspresikan diri, mengeksplorasikan ekspresinya dialam ruang-ruang yang terbuka lebar.

Dan itu bisa membantu mahasiswa dan mahasiswi tidak apatis?

Itu hal-hal yang paling pokok yang saya rasa untuk meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa atau pemuda dengan diberikan ruang-ruang yang terbuka tanpa dikekang untuk menyampaikan aspirasinya dimuka umum itu justru mendorong partisipasi aktif para pemuda dan mahasiswa untuk berdemokrasi lebih sehat lagi.

Asrizal Fakultas Hukum UAD Yogyakarta.

*

Kritik saya kepada calon legislatif khususnya terlebih yang sudah pernah menjabat dan mancalonkan diri lagi harapannya jangan bersifat terlalu elitis. Ketika masyarakat ingin bertemu selalu saja ada kendala, padahal kita tahu fungsi legislatif itu mendengarkan apirasi masyarakat. Disitu mereka ya harus lebih intens berkomunikasi dengan masyarakat bukan hanya saat kampanye saja mereka intens, tetapi ketika mereka sudah menjabat ya harapannya mereka tidak bersikap elitis. Kadang kala ketika kita sebagai mahasiswa ingin bertemu dengan bisa kita bilang bapak kita di pemerintahan, tetapi mereka bersikap elitis sehingga kita untuk bertemu bertatap muka saja tidak bisa.

Membuat masyarakat itu cerdas dengan gagasan-gagasan yang baru jangan dengan gagasan-gagasan yang sudah tidak sexy lagi, biasanya kita lihat baliho dengan kata-kata monoton, visi dan misi ketika mencalonkan legislatif itu seperti apa, aspirasi yang ingin dibawa itu kadang kala tidak sesuai dengan masalah-masalah masyarakat yang dihadapi.

Rianda Agusti (paling kanan) sedang mengkondisikan barisan untuk melakukan longmarch menuju titik 0 km Malioboro.

Yang ketiga para peserta yang incumbent kadang kala mereka kekuasaan mereka itu sebagai daya jual untuk politik. Salah satu contoh yang bisa saya ambil itu ketika saya jalan-jalan di masyarakat itu ada adalah satu incumbent dia membantu pembangunan tempat ibadah tetapi itu hanya setengah, dan itu dibantu di akhir-akhir priodenya sehingga dia berkampanye lagi. “dengan teman-teman atau masyarakat yang mendukung saya akan membantu sepenuhnya, ini baru mampu saya bantu setengah” kan seperti itu lucu. Ya kalau mau bantu bantu sekalian, kalau gak, gak sekali jangan hal itu di politisasi.

Itu saja krtitik saya terhadap para politikus hari ini. Ketika mereka sudah menjabat mereka sangat elite sekali, susah untuk masyarakat bertemu. Padahal yang menggaji mereka itu masyarakat, yang memilih mereka itu masyarakat, tau-taunya mereka sangat elite sekali. Harapannya kedepan mereka itu menjadi pengdengar yang baik terhadap apa yang ingin disampaikan masyarakat.

Itu di daerah mana?

Kebetulan saya berasal dari kalimantan Barat disana saya pernah jalan-jalan waktu liburan saya coba karena saya seorang akademisi saya mendengarkan keluh kesah masyarakat, ya itu sikap politikus yang elitis sekali, susah untuk ditemui, malah mereka itu ketika musim-musimnya kampanye baru bisa ditemui dan anggaran-anggaran aspirasi itu dilakukan untuk kampanye dengan mencantumkan nama dia, politik simbollah bisa kita bilang. Padahal itu khusus untuk masyarakat diaku-akuin seperti itu. Karena memang saya saat ini lagi mencoba untuk terjun langsung ke akar rumput atau masyarakat mendengarkan keluh kesah karena kemungkinan besar 2024 keatas itu masa-masanya kita, dari saat inilah kita mencoba mendengarkan mereka. Tanggapan dan respon masyarakat ya seperti itu politikus sangat elitis sekali, sangat elite sekali sehingga susah untuk ditemuin. Itu keadaan sosial yang saya temukan. Di Jogja juga saya coba cerita-cerita sama masyarakatnya ya, gak cuma di Kalimantan Barat saya rasa di seluruh Indonesia, pasti itu ketika sudah punya jabatan dia bersikap arogan dan elite. Jadi tidak bisa munafik ketika dia punya jabatan cakar-cakar dia sangat tajam, bahasa-bahasa dia sangat tajam, sehingga masyarakat yang memang pengen berbicara dengan mereka susah untuk ditemui.

Rianda Agusti Pertanian Instiper.

*

Menurut pandangan kalangan sebagai akademisi politikus itu harus seperti apa karakternya? Apakah harus punya banyak uang atau orang-orang yang betul menguasai medan permasalahan dalam artian dia paham, mempunyai jiwa pemimpin sebagai poltikus seperti faunding father kita seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, Muhammat Natsir dll, menurut kalian pandangan kalangan sekarang itu seperti apa politikus yang ingin kalian temukan?

Kalau dari saya yang pertama itu ketika kita atau orang ingin menjadi seorang politikus hal yang paling pertama untuk disiapkan itu ta memang mental dan jiwanya. Kedua finansial, kenapa saya bilang seperti itu? Karena saat ini kita tidak bisa memunafikkan bahwasanya pergerakan memang harus ada sokong ada seperti itu. Ketika seorang politikus yang tidak kuat finansialnya ketika dia sudah masuk ke dalam sistem dia akan dimatikan langkahnya dengan finansial tersebut, maka muncullah korupsi. Karena kita tidak bisa memunafikkan idealisme itu memang bisa dipertahankan tetapi ada bahasanya idealisme itu hancur karena sesuatu hal, salah satunya yang saya bilang tadi finansial. Karena ketika kita tidak kuat finansial ketika terjun langsung kita akan direcokkin dengan hal-hal kebutuhan pokok baik diri kita sendiri, keluarga seperti itu.

Jadi yang paling pertama itu ya persiapkan finansial dulu, ketika finansial sudah matang dia bergerak pun tidak akan ada intervensi, ketika finansialnya tidak matang ya dia bergerak pasti akan banyak intervensi. Salah satu contoh yang bisa saya ambil ketika kita mencalonkan eksekutif ataupun legislatif ketika kita tidak ada finansial untuk bergerak ada beberapa pengusaha yang membatu finansial kita ya pasti kita akan merasakan yang namanya politik balas budi. Ketika ada hal seperti itu mau gak mau kita bakal nurut ketika dengan orang yang memberikan finansial kita tersebut. Jadi harapan saya ketika teman-teman atau semuanya ingin menjadi politikus yang paling pertama itu persiapkan finansial, mental sehingga kita menjadi seorang public figure menjadi seorang politikus sejatinya mereka tidak akan bisa di intervensi oleh pihak mana pun.

Rianda Agusti Pertanian Instiper.

*

Kalau saya menjadi politikus itu adalah komitmen keberpihakkan. Komitmen keberpihakkan kepada siapa? Komitmen keberpihakkan kepada konstituen, komitmen keberpihakkan kepada rakyat yang telah memilihnya, kalau pun nanti dia benar-benar dipilih oleh rakyat. Tapi, sebelum itu dia harus benar-benar menunjukkan komitmen keberpihakkan kepada rakyat, benar-benar menjadi corong aspirasi rakyat, mejadi jembatan yang nantinya akan menyambung aspirasi- aspirasi rakyat, kemudian dilanjutkan dalam penentuan kebijakkan. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh rakyat kan seperti itu, karakter- karakter politikus seperti itu. Karakter- karakter politikus yang mau membuka matanya melihat kehidupan sosial di dalam lingkungan masyarakat, yang mau membuka telinganya untuk mendengar kegelisahan- kegelisahan dan keresahan-keresahan yang dialami masyarakat. Jadi sensitivitas dan responsibilitas itu yang paling penting, karakter- karakter itu harus dimiliki oleh seorang politikus, tanpa itu politikus bukan apa-apa, yang dia perjuangkan bukan kepentingan rakyat tapi hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. Maka itu yang paling tadi keberpihakkan kepada rakyat.

Asrizal (sebelah kiri memegang toa) sedang berorasi sembari melangkah menuju titik 0 km Malioboro untuk deklarasi pemilu damai.

Demokrasi kan untuk rakyat, subtansi demokrasi kan untuk rakyat bukan untuk segelintir orang, bukan segelintir golongan saja. Jadi kalau kita lihat akhir-akhir ini kan demokrasi hanya dikendalikan orang, segelintir golongan, sumberdaya alam itu dikuasi oleh segelintir orang saja, lalu rakyat dapat apa? Ampasnya saja rakyat tidak mendapatkan. Jadi sering saya katakan satu-satunya hak kita menikmati hak sebagai warga negara di Indonesia ini adalah melalui momentum pemilihan di bilik kotak suara mencoblos, satu-satunya yang kita nikmati hanya itu, hal-hal lain itu begitu sangat untuk kita rasakan kenikmattannya. Maka itu sesuai dengan deklarasi kami tadi, kami sangat menekannkan lebih-lebih kepada pemuda dan pemudi untuk benar-benar memanfaatkan hak politiknya, supaya kita benar-benar dapat berpartisipasi aktif untuk mewujudkn demokrasi yang benar-benar dikehendaki oleh para faunding father dan demokrasi yang benar-benar diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Asrizal Fakultas Hukum UAD Yogyakarta.

*

Semoga jawaban Asrizal dan Rianda Agusti dari pertanyaan yang MATAMEDIA-RI.com ajukan terhadap realitas bangsa menjelang Pemilu Raya tidak akan kita temukan lagi di tahun-tahun mendatang. Semoga para politikus kita benar-benar akan berpihak kepada rakyat, bukan berpihak kepada golongan mereka saja, semoga democracy tidak lagi dijalankan oleh orang-orang crazy, tetapi oleh orang-orang yang memiliki AKAL BUDI, dalam arti orang-orang berakal sehat nan tulus itu sejatinya memang berpihak kepada seluruh rakyat. Semoga kita dipimpin oleh pemimpin yang memang ingin memimpin bangsa dan negara Republik Indonesia ini semata hanya karena untuk kesejahteraan seluruh rakyat, hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan hanya untuk menciptakan keadilan sosial yang merata untuk seluruh rakyat.

Aminnn…

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan