PAHLAWAN KAMPUS

MATAMEDIA- RI.com – November memang sangat identik dengan yang namanya hari pahlawan, hari dimana saatnya untuk kita (penerus bangsa) menghargai jasa-jasa para pahlawan terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Tugas kita saat ini sebagai penerus bangsa yang merdeka harusnya melakukan perjuangan mulai dari diri kita sendiri. Berjuang mengatasi kebodohan, memerangi kemiskinan, dan berjuang untuk hidup yang lebih baik. Isilah kemerdekaan ini dengan prestasi, karya, dan pengabdian seperti apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan terdahulu.

Mengisi kemerdekaan dengan karya, dan prestasi. Kalimat tersebut yang harus kita implementasikan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti para pemenang di Debat Isu Ekonomi Nasional (DIEN) 2017. Acara yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Komunitas Riset Penulisan dan Penalaran (KRISTAL) Universitas Negri Yogyakarta yang di selenggarakan pada tanggal 20-21 Oktober 2017 di Auditorium Fakultas Ekonomi, Universitas Negri Yogyakarta.

Perjuangan ke-tiga pemenang ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, mulai dari proses pembuatan tulisan ilmiah essay, perjalanan menuju ke UNY di Yogyakarta (tempat pelaksanaan debat), hingga proses debat itu sendiri.

 

Juara 3

Nama                           : Reza Febryantara.

Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor.

Nama                           : Teguh Aryanto.

Perguruan Tinggi  : Institut Pertanian Bogor.

Nama                           : Fajar Bagus Saputra.

Perguruan Tinggi  : Institut Pertanian Bogor.

Dari kiri yang memegang piagam Teguh Aryanto, Reza Febryantara, dan Fajar Bagus Saputra.

Tim IPB 1 yang terdiri dari Reza Febryantara, Teguh Aryanto, dan Fajar Bagus Saputra mengambil jurusan kuliah Teknologi Pertanian, Institud Pertanian Bogor. Masing-masing dari mereka sedang sibuk dengan praktik lapangan, Reza dan Fajar praktik lapangan di Gresik, sedangkan Teguh Aryanto di Bantul. Karena dalam keadaan terpisah membuat tim ini membutuhkan perjuangan dalam proses pembuatan essay, karena lolosnya karya tulis essay inilah yang menjadi syarat untuk bisa mengikuti lomba debat di DIEN 2017.

“Proses mengikuti lomba yang sulit untuk dibayangkan, dari pembuatan essaynya saja kami sudah terpisah-pisah karena dibenturkan dengan kegiatan kampus”, ungkap Fajar Bagus Saputra.

Tim dari IPB 1 ini tidak mempunyai basic ekonomi yang spesifik, tapi harus mengikuti mosi-mosi ekonomi yang diberikan oleh panitia. Hal tersebut tentu akan menjadi sebuah tantangan besar yang harus dilewati oleh tim dari IPB 1.

“Karena kami juga ada kegiatan kampus yang harus kami handle, dan pada saat itu selesainya satu hari sebelum berangkat menuju Yogyakarta, akhirnya kami hanya mempunyai sisa waktu untuk belajar di H-1 sebelum acara DIEN tersebut dimulai. Kita yang sama sekali tidak mempunyai basic ekonomi, mau tidak mau harus belajar dari mosi-mosi yang diberikan tersebut. Belajar di penginapan sampai jam 01:30, itupun mulai belajarnya udah jam 21:00 malam, karena pada hari itu kita juga ada kegiatan kampus”, tutur Teguh Aryanto

Berani mencoba dan tidak takut pada kegagalan membuahkan hasil yang memuaskan bagi tim IPB 2. “Sangat membanggakan dan menyenangkan, karena ini adalah pertama kalinya kami mengikuti lomba debat, dan pertamakali juga menginjakkan kaki di tanah kerajaan Mataram. Alhamdulillah kami membuahkan prestasi juara 3.”, tutup Reza Febryantara.

 

Juara 2

Nama                            : Aulia Nuradyta.

Perguruan Tinggi  : Universitas Negri Yogyakarta.

Nama                           : Muh Afnan.

Perguruan Tinggi  : Universitas Negri Yogyakarta.

Nama                           : Dian Isnawati.

Perguruan Tinggi  : Universitas Negri Yogyakarta.

Dari kiri yang memegang piala Aulia Nuradyta, Dian Isnawati, dan Muh Afnan

Menyandang sebagi tuan rumah di acara Debat Isu Ekonomi Nasianal (DIEN) tahun 2017, tentu ada beban moril  yang diemban oleh tim dari Universitas Negri Yogyakarta (UNY). Perjuangan tim UNY juga tidak kalah menarik dari kedua tim yang juara, dari proses pembuatan essay saja mereka tidak pada satu tempat, Muh Afnan berada di Jawa Timur, Dian di Blora, dan Aaulia sendiri di Yogyakarta, bisa dikatakan proses pembuatan essay mereka dilakukan dengan hubungan jarak jauh dan hanya mengandalkan chat via whatsapp. “Berhubung kami bertiga berada di tiga kota yang berbeda, kami memaksimalkan aplikasi chat dalam merumuskan essay seperti apa yang kami buat, alhamdullilah essay kami lolos,”  Dian Isnawati.

“Hal yang paling menantang di acara DIEN 2017 ini adalah strategi penyeleksian debat yang luar biasa, Karena kita harus lolos seleksi tulisan essay dahulu baru bisa mengikuti debat, dan tim juri yang disajikan oleh panitia sangat variatif, dan berbeda dari lomba-lomba debat lainnya, kalau dilomba-lomba debat yang biasa saya ikuti itu hanya menyajikan dari satu golongan juri saja,”, ungkap Aulia Nuradyta. Di DIEN 2017, inovasi yang panitia lakukan adalah jurinya yang di wakili dari kalangan Praktisi, Akademisi, dan Debaters.

Menyatukan isi pikiran, memahami pribadi satu sama lain merupakan kunci keberhasilan dari tim UNY ini. Gaya berdebat satu sama lain dan perbedaan angkatan pada mereka tidak menjadi halangan untuk terus melangkah menuju babak final. Aulia yang gaya berdebatnya yang selalu menggebu-gebu, sedangkan Afnan yang kalem membuat Dian menjadi penengah diantara mereka. Dian yang selaku senior daripada Afnan dan Aulia, hal tersebut mengharuskan Dian untuk menjadi leader dalam mengikuti DIEN 2017. Pada saat itu Dian Isnawati sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Blora, dan dengan kedewasaannya, ia mampu membagi waktu antara KKN dan mengikuti DIEN 2017, melewati seluruh tahapan yang ada pada DIEN, dan akhirnya mampu mengharumkan almamater mereka di DIEN 2017.

“Bagi kalian semua, jangan takut untuk mengikuti lomba debat, kita jangan memikirkan suatu kekalahan dahulu. Kekalahan itu yasudah, kalian tidak apa-apa dengan kalah, berarti dengan kekalahan tersebut kalian harus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi. Tidak mungkin dalam proses yang kita jalani itu kita akan kalah terus, tentu kita juga akan menemukan titik kemenangan itu sendiri selama kita tidak berhenti untuk terus berusaha,” ungkap Dian memberikan tips dan trik dalam mengikuti lomba debat.

 

Juara 1

Nama                           : Latiful Akbar.

Perguruan tinggi   : Institut Pertanian Bogor.

Nama                            : Apip Nurdin.

Perguruan tinggi   : Institut Pertanian Bogor.

Nama                           : Emir Aulia.

Perguruan tinggi   : Institut Pertanian Bogor.

Emir Aulia, Latiful Akbar, dan Apip Nurdin.

 

Tim dari Institud Pertanian Bogor 2 merupakan tim yang fenomenal, berstatus sebagai waiting list tetapi bisa menyabet juara 1. Perjuangan mereka dalam mencapai hasil juara tersebut sangat patut diapresiasi, karena dari pendanaan pendaftaran saja hingga biaya tiket menuju Yogyakarta menggunakan dana pribadi. Ditambah lagi dengan rute Bus yang ditempuh dari Bogor ke Yogyakarta, harus memutar balik arah ke Jakarta karena alasan menjemput penumpang sehingga harus menghabiskan waktu 18 jam perjalanan, yang normalnya hanya 11 jam dan membuat tim IPB 2 terlambat sampai ke Yogyakarta, karena keterlambatan itulah yang membuat tim IPB 2 tidak mengikuti sesi tekhnikal meeting.

Sampai di Terminal Yogyakarta pada pukul 06:30 pagi, panitia dengan cekatan menjemput.  Pada pukul 07:00 sudah berada di Fakultas Ekonomi Universitas Negri Yogyakarta, sedangkan acara mulainya DIEN adalah pada pukul 07:30. Tim dari IPB 2 hanya menyisakan waktu kurang lebih 30 menit untuk persiapan mandi dan segala macam di toilet Fakultas Ekonomi Universitas Negri Yogyakarta.

“Perjuangan dalam pencarian dan pembuatan mosi yang hanya memanfaatkan waktu selama 30 menit, lalu langsung mengikuti debat hanya dengan membaca sepintas dari mosi yang telah di cari pada sumber internet tersebut”, ungkap Apip Nurdin.

Mosi yang paling berat bagi tim IPB 2 adalah ketika di babak semi final, pada saat itu mosi yang diangkat adalah tentang permasalahan daerah yang ada di Yogyakarta, dan mereka sendiri tidak mengetahui tentang permasalahan tersebut karena baru pertama kali ini juga menemukan permasalahan-permasalahan daerah yang dimunculkan dalam mosi-mosi debat. “pada saat itu lawan dari debat di semi final adalah tim Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, otomatis dari segi geografis mereka lebih mengetahui”, tutur Apip Nurdin.

“Alhamdulillah kami juara, dan Alhamdulillahnya lagi uang hasil juara ini langsung cair,” ungkap Emir.

Mereka sangat mengapresiasi terhadap komposisi juri yang disediakan oleh panitia. Komposisi juri yang betul-betul combain, tidak seperti pada lomba-lomba debat pada umumnya yang hanya menghadirkan dari satu golongan tertentu. “Di DIEN 2017 ini kami baru pertamakali menemukan juri yang setiap chamber dari pelbagai kalangan, antara lain; kalangan Praktisi, Akademisi, dan Debaters. Jadi otomatis penilaian dari juri akan lebih komprehensif sesuai dengan bidang yang mereka geluti,” jelas Apip Nurdin.

“Ada tiga aspek yang perlu dipahami ketika ingin menjadi Debaters yang handal. Pertama, public speakingnya harus bagus. Kedua, critical thingking, harus bisa berpikir kritis karena itulah yang paling penting dan. Ketiga, ikuti metode-metode di dalam debat, karena banyak sekali metode-metode di dalam debat, salah satunya metode Australia-asian dan masih banyak lagi”, ungkap Emir Aulia memberikan tips dan triknya.

Jadi, apakah mereka (para pemenang) ini patut dikatakan sebagai pahlawan kampus?

Semua itu tergantung persepsi pembaca.

Tinggalkan Balasan