Moslem Fest: Hidupkan Kembali Budaya Islam Di Kalangan Mahasiswa-Mahasiswi

Bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, mahasiswa mulai melek akan adanya budaya tradisional yang dianggap terlalu kuno. Salah satunya adalah mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Ekonomi, Program studi Pendidikan Administrasi Perkantoran (S1). Berawal dari salah satu mata kuliah yang ada, mereka merancang event dan terpilihlah “Moslem Fest” ini sebagai kegiatan yang tepat untuk kembali mengenalkan Kebudayaan Islam yang begitu indah dan menawan.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Sabtu, 1 Desember 2018. Jarum arloji menunjukkan pukul 07.40 menandakan waktu dari segala waktu sebentar lagi tiba. Sedikit kendala dengan komunikasi dan sinyal yang kurang berpihak pada otak. Alhasil Tuhan memberikan jawaban untuk segera menghidupkan mesin kuda berbahan bakar Pertalite itu. Bergegaslah kami, penelisik berita menghadapi hingar bingar mesin roda dua, empat dan roda tak bersenyawa di ramainya Kota Yogyakarta. Kurang lebih arloji memutar jarumya sebanyak 30 menit. Beruntunglah kami belum terlambat.

Gerbang hijau sederhana menyambut kami begitu hangat. Tiga anak manusia menunggu satu lainnya yang katanya sudah data sedari fajar menguap. Annisa, dialah yang kami tunggu. Lengkaplah sudah formasi hari ini. Edy, Intan dan Annisa. Dengan langkah mantap kami di sambut oleh salah satu panitia, yaitu Amali Dwi Novianti, yang memegang divisi kominfo. Kami di arahkan memasuki Masjid Agung Manunggal Bantul,DIY serta mempersilahkan kami duduk diantara kaki dan tangan diatas lantai berkarpet khas masjid. Kami siap mengulas dan mengupas sedikit demi sedikit tentang sebuah acara bertajuk “Moslem Fest” dengan tema “Wonderful Art of Moslem” ini.

Pagi itu, acara dipandu oleh dua orang cakap berbahasa dan berolah kata Aulia Falah Rohdiani dan Rheza Adhiatama. Keduanya merupakan Duta Pendidikan DIY tahun 2018. Mereka kompak mengenakan pakaian batik bermotif (shalawat Nabi/kemeja fatimah) dari salah satu sponsor yaitu Sogan Batik. Panitia tak kalah kompak, para laki laki tangguh menggunakan batik dan perempuan anggun menggunakan tunik bernuansa warna abu abu dan jilbab motif yang sama. Pakaian tersebut yang menunjukkan kekompakan dari sebuah kepanitiaan.

Moeslem Fest: Gerak Sosial Budaya Mahasiswa-Mahasiswi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY

Acara dibuka dengan meriah, dengan dilanjutkan sambutan oleh ketua panitia, Faisal Maulana, sekaligus membuka acara Moslem Fest saat itu. Sambutan yang disampaikan berisikan tujuan dan harapan dari “Moslem Fest”. Diantaranya untuk menjalin silaturahmi dan mempererat ukhuwah Islamiyah, mengenalkan lingkup kehidupan, serta seni budaya keagamaan kepada masyarakat luas, meningkatkan serta mengenalkan seni budaya dan kreativitas pelajar dalam islam, menjadikan masyarakat yang unggul dan kompetitif, dan meminimalisir para remaja agar tidak melakukan tindakan yang negatif, sehingga menjadi pemuda yang berakhlakul karimah. Tepat pukul 10.18 WIB, Moslem Fest resmi di buka dan dilaksanakan.

Pembukaan saat itu tidak hanya semata-mata disambut sebuah prakata ketua panitia. Melainkan ada persembahan Tari Sufi yang berasal dari Turki. Tari ini dibawakan oleh dua mahasiswa dengan jam terbang cukup tinggi dan cukup senior dalam organisasi KMNU yang memiliki wadah tari ini. Yang pertama adalah Asep yang mengenakan pakaian khas tari sufi berwarna putih. Ia bukan dari program studi yang sama dengan panitia lainnya melainkan ia berasal dari program studi Pendidikan Kriya.  Kemudian, dengan pakaian berwarna coklat ada Imad dari Program Studi Olahraga. Mereka mengisi tari sufi ini dengan persiapan selama 1 bulan. Menurut Vini, salah satu pengurus Organisasi KMNU, sebenarnya anggota dari Organisasi KMNU ini banyak yang menikuti kegiatan tari sufi, akan tetapi yang aktif kurang kebih ada 10 orang. Vini beserta pengurus lainnya mantap memilih Asep dan Imad karena alasan yang sangat kuat. “Mereka berdua memiliki jam terbang sudah tinggi dan sudah lanyah, dan untuk teman-teman yang lainnya itu masih dalam tahap belajar jadi masih kurang dan masih perlu dilancarkan lagi” tutur Vini.

Tari sufi itu sangat dinikmati oleh banyak pasang mata yang menyaksikan. Bahkan tak terlewatkan oleh kamera ponsel maupun kamera professional yang digunakan panitia. Dengan sedikit keheranan pembawa acara memastikan salah satu penari sufi tersebut merasakan pusing atau tidak karena tari ini bergerak seperti manusia menciptakan lingkaran dengan sempurna. Tentunya untuk orang awam akan merasa sangat pusing bahkan bisa berpikir beberapa kali untuk mencoba tari ini. Memanglah mereka adalah pemuda dengan kegigihan belajar budaya yang begitu kuat. Dengan nama Allah yang selalu dilantunkan saat menari mereka merasa sangat terlindungi.

Moslem Fest ada beberapa lomba yang dilaksanakan. Lomba Hadroh dan lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Lomba hadroh, dengan peserta sebanyak 12 regu. Masing – masing regu berisikan 10 orang. Untuk lomba mewarnai diikuti oleh sebanyak 22 anak. Ada juga bazar yang terletak tepat di depan pintu masuk masjid.

Lomba pertama yang dilaksanakan adalah lomba Hadroh. Sebelum lomba dimulai, salah satu perwakilan dari regu diminta untuk menghadap panitia dan melakukan check shound. Peserta pertama berasal dari IIQ Annur Ngrukem Bantul dengan nama Isa’adul Ahbaab. Kemudian peserta kedua berasal dari Pondok pesantren Fadlun Minalloh dengan nama grup Tibbil Qulub. Keduanya melantunkan pujian shalawat nabi dengan begitu indah diiringi alat musik yang dimainkan dengan cara di tepuk. Setelah kedua peserta melaksanakan lomba, waktu tidak memungkan untuk dilanjutkan terus karena sudah menunjukkan waktu Dhuhur. Dan, lomba dilanjutkan pukul 13.00 setelah panitia, juri, dan peserta menggunakan waktunya untuk istirahat, sholat dan makan siang.

Peserta lain mulai gerah dan bersemangat untuk menikuti lomba. Salah satunya adalah Grup Al Aifaqad Al Rasul yang berasal dari daerah Sleman tepatnya di Desa Seyegan, dengan didampingi oleh salah satu orang tuanya yaitu Ibu Astri. Mereka mendapatkan nomor undian 08. Mereka sebenarnya merasa minder dikarenakan hanya melakukan persiapan satu hari. Meskipun sudah mengetahui kabar lomba Hadrah ini lebih dari seminggu. Salah satu dari grup yang bernama Putra Pratama mengatakan, bekalnya ya, yang penting yakin. Berawal bismillah. Berakhir Alhamdulillah. Begitu saja. Menang kalah sudah biasa, yang penting pengalamannya. Mereka memang salah satu peserta yang begitu antusias dalam mengikuti lomba hadrah. Sampai-sampai mereka sempat mengisi selingan hadrah ketika ishoma (istirahat, sholat dan makan) berlangsung.

Sebuah grup tentunya tak lepas dari seorang pembimbing. “Alhamdulillah tiap acara bulanan, pengajian, dan Maulid Nabi Hadrah kita di pakai,” begitu kata Bapak Rohim dengan senyum begitu sumringah melihat semangat dari anak didiknya. Beliau merasa bersyukur meskipun anak didiknya baru beberapa kali mengikuti lomba dan lebih sering mengisi acara pengajian di desanya. Beliau merasa senang bisa mengikuti lomba di acara “Moslem Fest” ini.  Menurutnya, akan ada evaluasi lebih dalam terhadap anak didiknya yang telah memeriahkan budaya hadrah. Meskipun anak didiknya bukan berasal dari dunia pesantren melainkan berasal dari para pemuda desa tapi semangat anak didiknya bisa terwujud dengan adanya lomba dan partisipasi mereka dalam mengisi acara pengajian di Majelis Ta’lim.

Ada yang menarik saat itu, sebuah grup berisikan lengkap bidadari syurga. Mengenakan jilbab khas warna perempuan. Merah jambu. Mereka berlatih sebelum datangnya nomor undi 11 untuk unjuk kemampuan. Mereka begitu cantik dan anggun. Setelah ditelisik oleh mata. Rupanya, ada salah seorang peserta dari grup tersebut yang masih begitu belia. Ya, Riza Nur Safitri begitu nama lengkapnya. Siswi kelas dua SMP ini benar–benar bersemangat mengikuti lomba. Ketika ia diberi lontaran satu pertanyaan, begitu indah jawabnya.

“Karena ingin membuktikan bahwa santri putri itu bisa hadrah” begitu katanya. Sebuah jawaban yang sangat membuka mata hati para pembaca dan pendengar. Betapa tertutupnya hati ketika menganggap sebuah kebudayaan tidak memiliki nilai estetika. Bahkan ia berkecimpung di dunia budaya Islam ini ketika SD menskipun dengan sebutan yang berbeda. Benar sekali, Rebana. Lebih sederhana memang akan tetapi ia bersemangat untuk mengenalkan betapa indahnya Islam dengan budayanya. Dengan begitu ketia ia duduk dibangku kelas 1 SMP. Ia memutuskan untuk tetap mengikuti budaya Islam. Demi memperkuat iman dan taqwa kepada Allah Yang Maha Esa. Bara api mutiaranya berada di hati. Ia mengikuti hadrah dikala ia berada di kelas 1 SMP  tersebut hingga saat ini ia mengikuti lomba.

Banyak sekali kesan yang begitu menawan untuknya ketika mengikuti “moeslem Fest, “Bisa dapat banyak teman, bisa dapat ilmu ilmu hadrah”, sungguh luar biasa penuturannya bagi seorang siswi SMP. Tak lupa ia juga berani memberikan harapan besar terhadap kawan sebaya, adik hingga kakak di pondok yang ia tempati saat ini. “Semoga hadrah puti Rabiah Al Adhawiyah masih ada penerusnya, hidup dan terus membanggakan nama Fadhlu Minallah tetapi tidak meninggalkan ngaji,” harapnya.

Cita–citanya begitu mulia. Ingin membawa hadrah kemanapun ia berkelana. Meskipun menurut ia saat itu ia bersama teman satu gup itu belum maksimal ataupun belum mendapatkan sebuah penghargaan berupa piala kebesaran. Menurut Riza Nur Safitri, yang terpenting adalah pengalaman. Dengan pengalaman yang ada maka ia bersama teman-temannya tidak meredam semangat dari sebuah kesalahan atau kurang maksilmalnya sebuah kelompok. Akan tetapi dengan pengalaman itu akan muncul semangat baru dan semangat semakin indah untuk di ukur dalam hati dan pikirannya, demi mewujudkan cita-cita yang begitu mulia.

Alfi Ida Solihati, ketua dalam grup yang berasal dari Pondok Pessantren Fadhlu Minallah, sekaligus ketua dari seorang Riza Nur Safitri. Motivasi ia bersama teman dalam satu atap pondok pesantren ini adalah melatih mental dan cari pengalaman, karena ini baru terbentuk satu tahun. Mereka mulai berlatih untuk persiapan lomba ini selama 1 bulan.

Beralih dari lomba hadrah yang lebih di dominasi remaja dan menuju dewasa. Ada pula lomba untuk ana-anak. Lomba yang di usung saat itu adalah lomba mewarnai. Tentunya sebuah lomba yang menyongsong partisipasi dari anak–anak akan terkesan begitu ramah dengan tingkatan umur. Ketika lomba itu berlangsung, ada 22 peserta lomba. Meski berasal dari umur bermacam warna, mereka tetap antusias mewarnai kertas putih dengan krayon ajaib mereka disertai peralatan pendukung lainnya. Mereka sangat berhati-hati dalam menentukan sebuah goresan keindahan yang akan mereka ciptakan nantinya. Juga mereka tidak datang sendiri akan tetapi ada orang tua yang siap menemani kemanapun buah hatinya menciptakan sebuah keindahan dari karya yang mereka sukai.

Salah satu peserta itu ialah, Bagus Galih. Siswa yang sedang asik duduk di bangku kelas 3 SD ini ditemani oleh ibunya. Ibunda Bagus Gallih merasa senang ketika buah hatinya mengikuti lomba mewarnai. Meskipun ada beberapa kekurangan yang perlu dievaluasi dari lomba. Meskipun ada titik evaluasi yang perlu dilakukan, tapi ia bangga dengan mahasiswa-mahasiswi yang masih peduli dengan anak- anak yang akan memupuk kreativitas.

“Bagus dan positif ini kegiatannya, kebetulan juga bisa mengasah bakat dan kemampuan anak, temanya juga sesuai dengan acara yang di selenggarakan,” begitu kata seorang ibu yang sangat setia menemani buah hatinya. Beliau bersama buah hatinya mempersiapkan meja lipat, alat mewarnai dan salah satu alat tambahan yaitu kemoceng. Beliau menuturkan dengan menggunakan kemoceng itu akan digunakan untuk membersihkan serpihan dari krayon atau pastel yang digunakan. Bahkan beliau menuturkan bahwa bukan hanya kemoceng yang digunakan. Akan tetapi yang lainnya seperti ada kaos tangan,handuk, dan tisu. Kegunaannya untuk membersihkan dan melindungi warna yang sudah digoreskan sebelumnya dan agar warna tidak tercampur.

Tentunya dalam sebuah perlombaan tidak mungkin jika tidak ada juri. Juri saat itu yang menjadi penentu seorang pusat perhatian dengan membawa hadiah didatangkan dari berbagai kalangan. Juri lomba hadrah terdiri dari tiga orang. Bapak Alfan Rasyidi, S.E yang berasal dari Pondok Pesantren Nurul Ummah, Bapak Abdul Karim, M.S.I yang berasal dari Pondok Pesantren Nurul Ummah dan Juga Bapak Syafiq, S.H.I yang berasal dari Pondok AL Munawwir. Juga ada juri lomba mewarnai yaitu Kak Rici dari Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa dengan mengenyam program studi Pendidikan Seni.

Katagori penilaian dari lomba hadrah ini dari segi vokal, musik dan performance. Untuk penilaian itu sendiri satu juri memegang satu katagori. Katagori vokal Bapak Alfan Rasyidi, katagori performance oleh Bapak Abdul Karim, dan katagori musik oleh Bapak Syafiq. Ketiga juri lomba hadrah merasa begitu bangga dan senang ketika ada festival kebudayaan Islam seperti ini. Karena, dengan adanya festival ini akan tumbuh rasa berkeinginan mempelajari dan memiliki hadrah juga memupuk keinginan untuk mensyiarkan agama Islam. Bukan hanya  dari ranah masyarakat desa yang didominasi muslim tapi juga di ranah perguruan tinggi, bahkan lebih baik diprioritaskan untuk yang ada di perguruan tinggi. Untuk membuktikan bahwa hadrah juga bisa masuk di ranah kampus. Selain itu, agar pemuda tidak buta akan agamanya sendiri. Juga tumbuh harapan agar festival hadrah atau semacamnya akan lebih marak dilaksanakan dan lebih berkembang.

Lomba hadrah yang dilaksanakan ini merupakan lomba hadrah klasik atau tradisonal. Tidak dengan dikolaborasi dengan alat–alat modern. Karena dari pihak panitia sudah menentukan lomba klasik, dengan begitu penilaian dirasa lebih fokus dan adil.

Salah satu peserta Hadrah yang tersenyum sumringah setelah mengikuti Moelem Fest

“Agar hadrah itu lebih bersinar di kampus, karena yang marak di kampus itu stand-up comedy dan acara musik yang secara umum,” begitulah sebuah harapan yang disampaikan oleh ketiga juri dengan saling bersambung lidah menemukan titik temu sebuah harapan kepada kebudayaan hadrah masa sekarang.

Juri lomba mewarnai tingkat TK dan SD oleh Kak Rici. Lomba ini dianggap satu tingkat dengan penilaian yang adil. Hasil akhir penilaian yang dipilih adalah juara umum. Kategori penilaian untuk anak-anak yaitu kerapian, kreativitas, kebersihan dan komposisi dalam pewarnaan. Bedanya dari sisi pewarnaan untuk kategori SD dan TK. Ada pewarnaan yang menggambarkan pewarnaan remaja, dewasa dan ciri khas anak-anak. Pewarnaan yang diambil adalah yang sesuai dengan lomba hari itu, yaitu anak-anak. Beliau menyayangkan sedikit mengenai tempat perolombaan mewarnai karena dinilai kurang kondusif. Dengan tempat yang berdampingan dengan, lomba hadrah. Beliau tidak lupa mengatakan bahwa ada hal positif dari kegiatan ini dilaksanakan, “Acara ini bagus, karena menumbuhkan tingkat untuk menggambar atau berkreasi anak-anak dan menumbuhkan rasa ingin berkarya bagi anak-anak”.

Selain adanya lomba, kegiatan “Moslem Fest” ini juga dimeriahkan oleh bazar yang ada didepan masjid. Ada bazar aneka makanan dan minuman juga ada satu stand bazar yang menari yaitu stand pakaian muslimah. Stand tersebut dijaga oleh sepasang suami istri yang antusias dalam berpartisipasi dalam “Moslem Fest”. Stand tersebut bernama Elsi Hijab, yang menyediakan berbagai macam ciput, manset, gamis, masker, cadar dan jilbab tentunya. Dari pukul 06.00 hingga setelah Dhuhur mereka mendapatkan limpahan rezeki dengan terjualnya 2 gamis dan 1 jilbab. “Semoga usaha saya makin lancar dan berkah, aamiin. Bisa berkembang lebih besar lagi. Pesan untuk acara ini, ya saya sadar untuk membuat sebuah event tentu tidak mudah. Tapi, jika ingin membuat sebuah acara dan ada fasilitas bazar lebih diperbanyak sounding acaranya. Agar banyak masa yang tertarik untuk datang dan memeriahkan acara,” kata Bela, pemilik sekaligus pengelola Elsi Hijab bersama dengan suaminya.

Sebuah acara tidak munkin tidak ada persiapan. Persiapan acara sudah berlangsung 2,5 bulan. Pemilihan ketua dipilih dengan cara voting. Faisal Maulana, ketua acara “Moslem Fest” mengatakan, “Tujuan acara ini untuk mengembalikan dan memperkuat budaya Islalm yang sudah ada”. Tujuannya begitu selaras dengan kegiatan yang diselenggarakan.

Kesan dan Pesan Panitia Moeslem Fest

Pihak yang terlibat begitu banyak, yang berkontribusi penuh adalah panitia. Dimana panitia dari awal banting tulang mencari pusat pendanaan sendiri juga dan memutar-mutar kepala mencari cara merealisasikan lomba tersebut. Panitia mencari peserta lomba hadrah dari beberapa pesantren yang diawati dari menyibak wilayah Bantul, melebar ke Yogyakarta dan menuju luar Yogyakarta. Ada juga peserta yang berasal dari Semarang. Pencarian peserta itu merupakan kesulitan yang sedikit menjadi dominasi. Karena acara berbenturan dengan beberapa peserta yang akan menempuh ujian akhir semester.

Panitia “Moslem Fest” ini memang tangguh. Hingga di lontarkan sebuah kebenaran dimana panitia ada yang berlapang dada untuk menginap di lokasi. Untuk finishing tempat ataupun fiksasi peralatan lainnya. Untuk undangan yang diperluaskan mengenai acara ini kepada dosen adalah untuk menghadiri pengajian akbar yang dilaksanakan ketika malam tiba. Suka duka yang didapatkan adalah sebagai mahasiswa-mahasiswi dituntut untuk bisa me-manage diri sendiri, diajarkan untuk bertanggung jawab, bekerjasama, dan berani mengambil resiko dan bertanggung jawab terhadap hal yang telah ditentukan.

Acara puncak “Moslem Fest” ini adalah pengajian akbar yang diisi oleh Habib Sayyidi Baraqabah,Lc dengan materi yang diusung adalah mengenai perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW ketika menegakkan Syariat Islam. Juga beliau memaparkan bahwa pemuda zaman sekarang untuk mencontoh sifat perjuangan Nabi Muhammad SAW yang teguh pendiriannya, pantang menyerah, dan terus berjuang dijalan yang benar sesuai dengan syariat Islam yang ada. Pemuda zaman sekarang haruslah memiliki rasa toleransi yang tingga terhadap saudara sesama musliam. Bukan menjerumuskan seseorang pada kesalahan yang diperbuat. Akan tetapi memberikan jalan keluar yang tepat, yang tidak menggunakan cara melanggar agama dan hukum yang berlaku.

Setelah selesai perlombaan pada hari tersebut tentulah ada pengumuman pemilik sebuah gelar juara. Untuk juara lomba mewarnai dan hadrah terdapat pada daftar berikut :

Lomba mewarnai

Gelar Nama Peserta
JUARA I Abidatul Husnia R
JUARA II Indira Meisya
JUARA III Zavira Risqika
JUARA HARAPAN I Jaya Kusuma
JUARA HARAPAN II Aleesya Cesadhania
JUARA HARAPAN III Afino Zavira

Lomba Hadrah

Gelar Nama Grup
JUARA I Sofwaturrahman
JUARA II Hadrah Azzidna
JUARA III Miya

 

Setiap acara tidak mungkin tidak ada seorang pembina yang mengarahkan. Beliau merupakan sosok yang tidak habis  dalam motivasi. Pembina dari kegiatan ini adalah dosen mata kuliah bernama Ibu Rr. Chusnu Syarifa D.K, M.Si, . Beliau sangat mengapresiasi panitia yang hebat berani unjuk gigi pertama kali membawa spesifikasi religius dalam sebuah event. “Karena ini hal yang baru, apa lagi bagi prodi kami yang menyelenggarakan acara, yang tadi saya bilang spesifik tadi karena khusus di religius. Ini adalah hal yang baik dan saya melihat juga tampilan dari peserta tidak ada yang main-main. Dalam artian mereka sangat serius dan berlatih sungguh-sungguh, dan untuk anak-anaknya ketika lomba mewarnai mereka sangat antusias, itu baik. Orang tua juga mensupport para peserta yang ada” beliau mengungkapkan kesan dengan senyum yang begitu cantik.

“Moslem Fest” ini menurut beliau akan berlanjut ke bagian dua tau berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, tergantung dari mahasiswa-mahasiswi yang menentukan. Ide apa yang akan muncul dari mahasiswa-mahasiswinya tersebut. Jika ada ide mengenai “moslem Fest” mungkin bisa dilakukan. Tapi, biasanya setiap tahun acara akan berbeda, dan beliau berikan hak kepada peserta didiknya untuk menentukan acara apa yang akan di buat nantinya. Harapan yang disampaikan beliau, adalah mahasiswa-mahasiswi dapat mengasah soft skill mereka lobbying, berbisnis, belajar untuk berusaha, sesuai dengan visi dan misi dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Dengan adanya mereka membuat suatu event maka mereka akan berlajar bekerja sama. Mungkin dengan adanya gesekan antar teman itulah yang akan menjadi sebuah titik kedewasaan yang justru akan muncul atau malah memutar kembali ke keegoisan sendiri. Menurut beliau, sebuah kritik yang akan menimbulkan sebuah tekanan itu adalah salah satu cara agar mahasiswa-mahasiswi bisa lebih berusaha. Mahasiswa-mahasiswi yang bisa mewujudkan sebuah event adalah satu sumber semangat menurut beliau. Juga beliau akan dengan senang hati memberikan motivasi terhadap mahasiswa dan mahasiswinya.

Beliau menerapkan pendidikan di kelas tidak hanya teori saja, melainkan praktik dengan cara mewajibkan adanya sebuah diskusi dan pembicaraan setiap minggunya. Agar mahasiswa yang kurang percaya diri dalam berbicara dan berpendapat menjadi bisa dan mulai belajar untuk melatih mental dan percaya dirinya mereka. Setiap event adalah sebuah pembelajaran. Karena event adalah hal penting untuk mengasah kemampuan yang dimililki. Karena, kesulitan sekarang akan menjadikan keindahan dimasa yang akan datang.

Penulis: Apriliani Intan Pertiwi

Editor: *R★.V.★N*

 

 

Tinggalkan Balasan