Membangun Rasa Persaudaraan Dari Berbagai Budaya Bersama UKM Katolik Christophorus UMBY

MATAMEDIA- RI.com – Tanah air kita; Indonesia, merupakan Negara yang sarat akan keanekaragaman, mulai dari agama, suku, bahasa, ras, budaya, dan lain sebagainya. Keanekaragaman tersebut tidak hanya menjadi fakta kehidupan, melainkan telah menjadi identitas kebangsaan yang tumbuh dan berkembang.

Di tambah lagi dengan pondasi yang di miliki bangsa ini, yaitu Pancasila yang di dalamnya tertuang makna-makna keberagaman, dan diperkuat pula dengan cengkraman burung Garuda yang membawa tulisan “Bhineka Tunggal Ika”, yang pasti bangsa ini sudah amat familiar dengan makna, dan fungsi dari Bhineka Tunggal Ika tersebut.

Nyatanya belakangan ini, tepatnya pertengahan tahun 2017 terus bergulir sepanjang tahun, sebuah dominasi, dari berbagai kepentingan dari sekelompok semata, dan klaim kebenaran turut campur dalam mengelola keanekaragaman, mengakibatkan kehidupan sosial bangsa ini gaduh, akibat letupan konflik sosial yang hampir terjadi di berbagai wilayah yang strategis di bangsa ini. Fenomena tersebut pun semakin memperjelas bahwasanya mengelola keanekaragaman atau pluralitas dan multikulturalisme bangsa bukanlah perkara yang mudah.

Beranjak akan hal itu semua, Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik (UKM Katolik) Universitas Mercu Buana Yogyakarta mencoba untuk hadir, dan mengurai “benang-benang kusut” tersebut. ”Membangun Rasa Persaudaraan Dari Berbagai Budaya Bersama Kelahiran Yesus Kristus” merupakan tema yang diangkat UKM Katolik dan juga bagian dari program kerja UKM.

Panitia dari UKM Katolik Christophorus UMBY

Barita Maha Putra Sinaga, selaku pengelola UKM Katolik mengatakan, negara kita Indonesia ini terdiri atas banyaknya keberagaman. Jadi, di dalam semangat Natal ini mencoba untuk mengingatkan lagi bahwa kita ini adalah satu.

Barita Maha Putra Sinaga, ketua generasi pertama dari UKM Katolik Christophorus UMBY.

Kalimat yang terbilang abstrak. Namun, output dari hal inilah yang diperlukan bangsa yang sedari dulu nyatanya telah tergabung dalam keharmonian dalam memperjuangkan sebuah bangsa yang mardeka.

Salah satu penampilan Tari Bidu, tarian tradisional dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tari Bidu merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di masyarakat Belu. Konon, Tarian ini dulunya digunakan oleh masyarakat di sana sebagai media pencarian jodoh bagi para pemuda dan pemudi.

Berlokasi di Auditorium kampus III Universitas Mercu Buana Yogyakarta, acara ini banyak menampilkan pegelaran budaya, dari mulai tari-tarian, alat-alat musik tradisional, dan juga lagu-lagu tradisional, pada Selasa (9/1/2018).

Tarian Persahabatan Masyarakat Papua: Tari yospan. Tari yang merupakan kepanjangan dari yosim pancar ini adalah tarian pergaulan yang sering dibawakan muda-mudi sebagai bentuk persahabatan.

Bangsa kita di topang oleh keberagaman dan kebudayaan dari Sabang sampai Marauke yang membuat bangsa kita kaya raya akan kebudayaan yang berisi nilai-nilai luhur yang seharusnya kian hari kian tumbuh subur.

“Kita harus terus menyatukan, kita harus terus mengingat bahwa kita ini bersaudara satu sama lain, dan kita jangan saling mencurigai satu sama lain. Terlebih penting lagi kita juga harus kembali menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air”, ujar Romo Felix, yang menjadi pembicara di acara tersebut.

Romo Felix sedang memimpin misa

Kristina Andryani, S.Sos., M.I.Kom., selaku undangan yang hadir dan juga sekaligus sebagai kepala program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta menuturkan, secara keseluruhan acara ini baik, dalam arti dari semua peserta dan tamu undangan yang hadir itu dari berbagai daerah. Dari Sabang sampai Merauke hadir di sini, sangat mencerminkan Indonesia yaitu keberagaman.

Keberagaman tersebut seharusnya dikelola sebagai kekayaan, baik negara maupun masyarakat sendiri harus memahami serta menghormati perbedaan. Kita adalah Indonesia, harus kembali pada filosofi Bhinneka Tunggal Ika yang harus menghormati perbedaan suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan perbedaan lainnya. Karena kita satu, Indonesia.

“Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas, tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa”, demikian kata Anies Baswedan, Gubernur Jakarta saat ini.

Ekaristi Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Editor : *R★.V.★N*

One Comment on “Membangun Rasa Persaudaraan Dari Berbagai Budaya Bersama UKM Katolik Christophorus UMBY”

Tinggalkan Balasan