KOMTIF 2018: Kembangkan Ketrampilan dan Skill Bidang Komunikasi di Era Industri 4.0

Generasi Muda sudah siapkah menyambut revolusi industri 4.0?


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Era digital menuntut kita menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif guna membangkitkan  semangat “Skill 4.0”. Implementasi industri 4.0 sangat berkaitan erat dengan transformasi digital yang sudah dilakukan oleh beberapa  negara maju. Nah, saat ini Indonesia sedang bersiap-siap menggencarkan skill 4.0 untuk diaplikasikan oleh generasi muda kreatif agar tidak tertinggal oleh negara-negara lain. Terlepas dari kemudahan serta dampak akan hadirnya revolusi industri 4.0 ini, sudah siapkah kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya?

Saat ini pertukaran data pada sektor industri akan dikendalikan oleh teknologi komputer dan robotik. Perkembangan perangkat telekomunikasi dan multimedia dapat dimanfaatkan sebagai peluang pengembangan industri konten terutama sektor industri kreatif. Revolusi industri 4.0 harus bisa dimengerti, dipelajari dan diantisipasi agar mampu bersaing dan memberikan peluang besar bagi kemajuan ekonomi dan bangsa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, KOMTIF mengadakan acara yang berbasis pengetahuan guna memberikan informasi kepada kaum muda bahwa saat ini tantangan terbesar kita adalah menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu juga adanya pengembangan skill dan ketrampilan yang diaplikasikan dalam serangkaian acara KOMTIF dengan menyelenggarakan berbagai kompetisi bidang komunikasi yang keren.

KOMTIF merupakan akronim dari “Komunikasi Kreatif” yang merupakan sebuah nama kegiatan salah satu program kerja tahunan yang sudah diadakan sejak tahun 2016 dan 2017. Nah, untuk ke tiga kalinya di tahun 2018 ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajamen Informasi dan Komunikasi (MIK) yaitu Korps Mahasiswa Manajamen Informasi dan Komunikasi “KOMMIK” menyelanggarakan KOMTIF 2018.

Segenap panitia “KOMTIF 2018” akhirnya bernapas lega setelah sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan acara dari 12-13 Oktober 2018 dengan tema “Strategi Inovatif dalam Persaingan Industri 4.0”. Topik “Industri 4.0” memang menarik untuk diperbincangkan di era millenial, terutama generasi saat ini sangat dekat dengan digitalisasi yang semakin maju pesat. KOMTIF sendiri memiliki tujuan mendasar untuk mengembangkan skill dan ketrampilan di bidang komunikasi era 4.0 guna menstimulasi generasi muda agar mampu berkreasi dan berproduksi secara kreatif dalam berkarya.

Suksesnya KOMTIF tahun sebelumnya telah mengangkat tema “Membangun Karakter Pemuda dengan Budaya di Era Digital” menjadi medium pembelajaran untuk terulangnya kesuksesan di KOMTIF 2018. Komtif 2016, memiliki rangkaian acara berupa Seminar Nasional yang dimeriahkan oleh Erix Soekamti dan Didi Nini Thowok telah berhasil memboyong sebanyak 400 peserta. Berbeda dengan tahun ini, tahun sebelumnya Komtif hanya menyelenggarakan dua kompetisi nasional yaitu ADIKARI dan GARWITA yang diikuti oleh 150 peserta nasional.

“Kami ingin menstimulasi dan menyadarkan mahasiswa-mahasiswi di Indonesia bahwa saat ini kita sangat dekat dengan revolusi industri yang ke 4. Untuk itu kita harus siap meningkatkan skill dan pengetahuan mengenai revolusi industri untuk mau terlibat dalam persaingan global,” Ungkap Akmal selaku ketua pelaksana KOMTIF 2018 saat ditemui di Student Center MMTC.

Acara Komtif sendiri memiliki tiga perlombaan yaitu GARWITA (Pagelaran Pariwara Nusantara) yang merupakan lomba video campaign. Dari perlombaan ini, mahasiswa harus mampu memvisualisasikan ide melalui new media digital. Kompetisi ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa berkarya di bidang videografi. Bentuk karya yang dihasilkan merupakan campaign yang berisikan isu sesua dengan tema “revolusi 4.0”

Selain harus pandai dalam menyampaikan ide kreatif melalui visual. Generasi muda juga dituntut mampu menyampaikan ide kreatif melalui tulisan lho. Hal itulah yang menjadikan Komtif untuk menyelenggarakan kompetisi bertajuk ADIKARI (Adu Kreatif Opini) yang merupakan lomba di bidang kepenulisan karya ilmiah dalam bentuk essay. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas menulis, daya pikir kritis, analitis dan solutif sebagai awal mula peningkatan daya produktif dalam berkarya ilmiah bagi mahasiswa.

Selanjutnya kompetisi seru diisi oleh ANGKASA (Ajang Strategi Komunikasi Kreatif) yang merupakan kompetisi membuat proposal program PR (Public Relation) yang kreatif. Dalam lomba ini peserta berperan sebagai PR Consultant yang menentukan strategi dan media komunikasi PR yang efektif. Nah, untuk peserta yang lolos akan melaju ke tahap seleksi proposal yang akan masuk ke tahap presentasi. Sangat seru perlombaan ini, karena dapat menguji kemampuan dalam bentuk lisan dengan penyampaian yang kreatif dan inovatif.

“Uniknya dari pelombaan KOMTIF tahun ini, merupakan bentuk gagasan untuk mewakili  pengembangan skill guna menghadapi revolusi industri 4.0 yaitu skill visual, lisan maupun tulisan. Generasi muda harus cakap dalam memenuhi standar tersebut agar tidak tertinggal dalam transformasi digital era sekarang,” Lanjut Akmal.

Untuk menginvasi informasi mengenai KOMTIF 2018 kepada mahasiswa, panitia telah melaksanakan roadshow ke kampus-kampus lain. Antusiasme yang hadir dari mahasiswa juga sangat baik untuk berkontribusi dengan hadirnya KOMTIF tahun 2018. Terutama karena tema yang dihadirkan sangat segar untuk diketahui oleh kalangan muda. Selain mengadakan perlombaan kece bidang komunikasi, komtif juga hadir dengan adanya Talkshow dengan bintang tamu yang ahli dalam bidangnya untuk memberikan motivasi revolusi digital. Acara ini pun gratis sehingga menambah minat bagi kaum muda untuk berikut serta.

Akmal berharap dengan adanya KOMTIF 2018 dapat memberikan wawasan kepada masyarakat luas bahwa di dalam revolusi industri ini sangat membutuhkan inovasi-inovasi dalam dunia digital serta mau memanfaatkannya untuk kemajuan terutama sektor perekonomian. Sejatinya kesadaran untuk mau berinovasi memang sulit karena kita sudah terbiasa dengan pragmatis akan kemajuan teknologi sehingga menjadikan masyarakat nyaman hanya sekadar sebagai konsumen saja.

“Kalau kita tetap stagnan maka kita hanya akan menjadi konsumen karena seharusnya dengan banyaknya generasi muda di Indonesia, harus bisa menjadi inovator agar kita bisa menguasai hadirnya revolusi industri 4.0,” Tutup Akmal.

Penulis: Wiwin Winarni

Editor: Wiwin Winarni

Tinggalkan Balasan