KOMTIF #2 Membangun Karekter  Pemuda Dengan Budaya Di Era Digital

MATAMEDIA- RI.com – Budaya adalah ciri khas. Budaya adalah karakter. Budaya adalah identitas diri. Itulah mengapa budaya harus tetap lestari. Budaya dari segi apapun itu, budaya berkarakter, budaya berbahasa, budaya dalam mengatur tatanan hidup, maupun budaya yang memiliki nilai seni.

Berbeda tempat berbeda budaya. Tidak mengherankan jika ada sedikitnya jutaan budaya di Indonesia, apalagi jika kita melihat di seluruh dunia, mungkin bahkan sampai miliaran.

Zaman kini semakin maju. Kecanggihan teknologi dan alat komunikasi tak bisa dipungkiri kehebatannya. Berbagai media komunikasi yang mudah, murah, cepat dan bersifat global memecah batas ruang dan waktu antar manusia di seluruh penjuru dunia.

Alat komunikasi masa kini seolah mendekatkan yang jauh. Bagaimana tidak? Manusia bisa berkomunikasi satu sama lain dalam waktu yang sama meski jarak diantaranya beribu-ribu mil jauhnya.

Bebas berkomunikasi tanpa batas inilah yang membuat manusia saling terbuka satu sama lain. Membuka wawasan dan pengetahuan. Bertukar informasi dan latar belakang, saling berpengaruh dan terpengaruh. Banyak sekali manfaat yang kita dapatkan tentang kemajuan ini. Budaya kita juga semakin banyak dikenal dan disukai oleh banyak negara. Bangsa ini pun juga semakin dikenal di kancah internasional sebagai negara dengan budaya terbanyak di dunia. Kepariwisataan Indonesia pun meningkat pesat. Banyak destinasi untuk wisatawan asing untuk dikunjungi, sehingga dapat menambah devisa negara. Bahkan banyak  penduduk dari negara lain yang ingin belajar tentang budaya Indonesia.

Namun demikian, segala sesuatu itu pasti memiliki sisi positif dan negatifnya.

Kebebasan dalam bertukar informasi ini pun memiliki kekurangannya, salah satunya yaitu sikap para pelaku sendiri yang kurang bijaksana dalam menyaring budaya global yang dapat diakses dengan mudah.

Tidak sedikit penduduk Indonesia kini yang terobsesi dengan budaya luar, yang sebenarnya itu tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa, karena saking terobsesinya, bahkan mereka sampai hati mulai meninggalkan identitas budayanya sendiri. Nilai luhur bangsa makin luntur. Budaya yang bersifat seni dan penuh filosofi ajaran hidup, mulai dilupakan. Tidak heran jika para sesepuh kita, sering berkata bahwa zaman sekarang dan zaman dulu itu berbeda, ditinjau dari segi kebudayaan.

Jika budaya kita luntur bahkan tinggal sejarah, masihkah bangsa ini memiliki karakter dan identitas?

Banyak upaya yang dilakukan berbagai pihak dan kalangan untuk menanggulangi hal tersebut. Pemerintah, penggiat budaya, dan masih banyak lagi. Dan tidak ketinggalan pula para pemuda pecinta budaya bangsa. Salah satunya ialah, sebuah organisasi bernama KOMMIK (Korps Mahasiswa Manajemen Informasi dan Komunikasi) STMM Yogyakarta.

Organisasi dibawah naungan lembaga STMM Yogyakarta ini turut serta dalam pelestarian budaya Indonesia, dengan menggelar sebuah event bertajuk sekaligus di jadikan tagline yakni “Bangga Berbudaya”. Event nasional yang di gelar pada akhir bulan September 2017, lebih tepatnya tanggal 29-30 ini, mengajak para pemuda untuk mengenali lebih dalam dan melestarikan budaya nenek moyang kita.

Karena kita sebagai generasi muda adalah ujung tombak budaya bangsa agar tetap lestari, maka kita memiliki peran penting dalam melestarikan nilai-nilai luhur bangsa tetap terjaga hingga anak cucu kita kelak.

Misi melestarikan budaya bangsa dalam event nasional ini, KOMMIK STMM Yogyakarta menyelanggarakan sebuah event bernama Komtif (Komunikasi Kreatif). Komtif adalah acara tahunan, acara yang digelar sekali dalam satu tahun. Komtif 2017 merupakan event yang kedua setelah event pertama di tahun 2016. Berbeda dengan Komtif perdana di tahun 2016 yang mengambil tema, Komtif 2017 mengusung tema “Membangun Karekter  Pemuda Dengan Budaya Di Era Digital”.

Adhikari dan Garwita

Komtif 2017 terselenggara selama dua hari. Hari pertama yaitu tanggal 29 September,  merupakan hari pelaksanaan lomba Adhikari dan Garwita.

Nama lomba yang unik bukan?

Apa sebenarnya makna dari Adhikari dan Garwita?

Ternyata nama itu merupakan sebuah akronim. Adhikari maksudnya adu Kreativitas Opini. Sementara Garwita merupakan kepanjangan dari Pagelaran Pariwara Nusantara, dan pesertanya berkelompok.

Adhika lomba penulisan Essay di KOMTIF 2017. Garwita tahun ini mengangkat tema “Budaya Sebagai Jembatan, Ke-Bhineka-an“. Pengungkapan rasa cinta budaya dapat di dalami dengan pengungkapan lewat karya kritis sebuah esay.

Adhikari yang diikuti peserta lomba sebanyak 50 kiriman essay ini memunculkan Syafira Melissa Eka Putri (STMM Yogyakarta) sebagai juara pertama, dengan judul “Andongku Antara Ada dan Tiada”. Kemudian disusul Lintang Ayu Mahalalita (UMY) sebagai runner up  dengan judul “Mempertahankan Keberadaan Becak dan Andong dengan Membuat Terminal Khusus sebagai Obyek Wisata Baru”. Juara III diraih oleh Dimas Ilham Nur Wicaksana (UGM) dengan judul “Legalitas Ojek OL beserta Polemiknya yang  Mencederai”. Terakhir, Satrio Budi Prasojo (STMM Yogyakarta) meraih sebagai juara favorit dengan judul “Andong, Bertahan atau melawan Globalisasi”.

Generasi muda tidak tidak akan jauh dengan penggunaan YouTube dan Instagram sebagai media influence trend. Pemanfaatan penggunaan media dapat di salurkan melalui lomba ILM Kreatif. Lomba-lomba Garwita yang mengangkat tema “Berkarya Melalui Media Bersama Menjaga Budaya Indonesia”, merupakan lomba iklan layanan masyarakat dengan memanfaatkan media youtube dan instagram dalam bentuk video berdurasi selama 1-1,5 menit.  Juara I  diraih sebuah kelompok dengan judul “Lunturnya Kepercayaan Bangsa Indonesia” dari STMM Yogyakarta, kemudian disusul Juara II dengan judul “Teringat” dari STMM Yogya Dan Juara III “Potret Budaya dalam Kameraku” dari STMM Yogyakarta. Tidak ketinggalan pula juara favoritnya ialah  “Warung Burjo” perwakilan STMM Yogyakarta.

Acara di hari selanjutnya, yaitu Talkshow Nasional bertajuk “Membangun Karakter Pemuda Dengan Budaya Di Era Digital” dengan tagline “Bangga Berbudaya terselenggara dengan sangat meriah.

Event ini digelar pada tanggal 30 September di Auditorium Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta yang dimulai pada pukul 09.00 hingga pukul 13.00 dan dihadiri oleh 475 peserta berikut tamu undangan.

Talkshow nasional ini mendatangkan Erix Soekamti, pendiri DOES University, Didik Nini Thowok dan Prof. Dr. Gati Gayatri, M.A, Kepala Pusat Litbang Literasi danProfesi Kementrian Kominfo.

Memasuki ruang auditorium, peserta yang datang disambut ramah oleh para panitia yang mengenakan baju adat Jawa. Dan diantarkan ke bangku yang telah disediakan.

Latar belakang musik yang unik mengalun  riuh dalam ruangan auditorium, perpaduan lagu barat yang di-remix dengan alat musik tradisional Jawa. Dengan mengadopsi konsep dari  variety show, talk show, seminar dan konferensi, dan didukung lightning yang epic, tatanan acara ini memiliki sensasi seolah menonton talkshow TV secara live!

Panggung talkshow memiliki dekorasi yang sangat unik dan ikonik. Ukiran simbol gunung dalam wayang kulit yang berwarna emas melatarbelakangi panggung. Bahkan, terdapat sebuah angkringan di sudut kanan panggung.

Angkringan ini memiliki filosofi tersendiri  terkait dengan budaya. Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi sesama warga dan sebagai simbol egaliter sesama manusia. Angkringan yang juga menjual berbagai makanan dengan harga murah membuatnya menjadi tempat berkumpul masyarakat dari berbagai kelas sosial.

Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai awal acara, berlangsung dengan khidmat. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan paduan suara yang menyanyikan lagu daerah. Selanjutnya, MC acara sekaligus moderator seminar ini, Debra dan Ajeng, memasuki ruangan dengan busana khas adat Jawa.

Guest star pertama yang mengisi acara adalah Didik Nini Thowok, seorang seniman tari yang telah mendunia. Mas Didik, sapaan akrabnya, menyampaikan seminar seolah berbincang dengan MC dan audience. Karena pembawaannya yang ramah, seru, lucu  dan sangat menarik itulah, tak terasa ternyata waktu berlalu dengan sangat cepat.

Kemudian dilanjutkan Prof. Dr. Gati Gayatri, M.A, yang membahas mengenai pengertian budaya, dan bagaimana melestarikannya. Kemudian Guest Star yang hadir terakhir, yaitu Erix Soekamti, memasuki ruangan dengan  disambut riuhnya audiens yang menyerukan nama sang bintang idola.

Talkshow ini kali ini menghadirkan dua bintang tamu sekaligus, yaitu Prof. Dr. Gati Gayatri, M.A, dan Erix Soekamti. Penyampaian ketiga Guest Star ini sangatlah berkesan di hati peserta. Acara talkshow selesai berlanjut ke acara awarding pemenang lomba, lalu perform tarian dayak. Dan sebagai puncak acara, event ini menghadirkan Fera Listiyani bersama puisi yang dia bawakan dengan sangat epic, berhasil membuat audience tercengang.

Dengan melibatkan 70 panitia dari mahasiswa aktif  STMM Yogyakarta, event Komtif 2017 yang diketuai oleh Christon ini terselenggara dengan amat sukses. Panitia sangat bersyukur atas pencapaian yang diraih dengan kerja keras serta kerja sama yang baik.

“Saya sangat appreciate sekali atas kebersamaan dan kerja keras semua panitia penyelenggara. Dan sangat bersyukur dengan semua pihak yang telah mendukung keberhasilannya acara ini,” ungkap Debra, MC acara seminar sekaligus ketua KOMMIK.

Christon selaku ketua panitia juga mengungkapkan hal yang sama. Merasakan suka dan duka yang berkesan selama pra acara. “Kebersamaan kami sangat terasa selama kami berproses sembilan bulan mepersiapkannya,” ujarnya.

Mereka berharap acara ini terus terselenggara setiap tahun kedepannya.

Jika ditanya mengenai budaya Indonesia yang mulai terkikis zaman sekarang, melalui event ini mereka berharap budaya Indonesia tetap lestari dengan memanfaatkan media digital ini sebagai media expose.

Unity in diversity, sehingga rukun dan damailah Indonesia,” ujar Christon.

Semoga budaya bangsa kita tetap lestari selamanya, sampai cucu cicit kita. Sudahkah pembaca memanfaatkan media komunikasi kalian untuk berkontribusi melestarikan budaya kita tercinta? Yuk, mulai lakukan dari sekarang!

Cintai budaya kita, lestarikan selamanya, Komtif 2017 sukses terlaksana, dengan tagline “Bangga Berbudaya” para peserta lomba dan talkshow nasional terlihat diraut muka sepanjang acara, semakin terpesona, bangga akan budaya yang di miliki bangsa Indonesia!

See you Komtif 2018 Bangga Berbudaya

Penulis: Latifah Nur H

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan