Jiwa Pahlawan Dalam Diri Seorang Jurnalis

Pahlawan adalah orang yang rela dengan ikhlas mengurangi kenyamanannya demi kemanfaatan orang lain. Dimana jurnalis sebagai penyambung lidah masyarakat, penghubung antara pemerintahan dan masyarakat, mereka rela panas-panasan ditengah terik matahari. Rela hujan-hujanan. Rela menantang bahaya. Rela menahan haus dan lapar. Rela membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rela begadang demi menyelesaikan berita yang akan dibaca pembaca ke-esokan harinya.


MATAMEDIA-RI.com –Jurnalis adalah sebutan untuk orang yang meliput peristiwa dan menuliskannya di media massa baik cetak maupun online. Jurnalis atau yang biasa disebut wartawan menurut UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers didefinisikan sebagai “Orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”.

Jurnalis dalam melaksanakan tugasnya sering kali terbentur dengan rasa kemanusiaan. Hal itu merupakan suatu hal yang wajar. Rasa kemanusiaan merupakan panggilan jiwa yang timbul secara alami ketika melihat suatu peristiwa. Ditemukannya beragam data dan fakta dilapangan, membuat hati nurani jurnalis terketuk.

Beragam ekspresi dan tindakan dari seorang junalis acap kali keluar secara spontan. Sebagai respon atas apa yang dilihat dan dirasakannya. Respon tersebut ada yang berdampak positif, ada pula yang negatif bagi diri seorang junalis. Dalam keberpihakkannya jurnalis kerap memihak pada  mereka yang lemah, butuh bantuan, dan benar.

Beragamnya resiko yang harus dihadapi seorang jurnalis, membuat jurnalis  adalah pekerjaan yang tidak mudah. Ketakutan pasti pernah dihadapi setiap jurnalis. Mulai dari liputan didaerah rawan bencana hingga daerah rawan konflik. Kegugupan juga turut mewarnai perjalanan karier seorang jurnalis, terutama saat pertama kali liputan.

Jurnalis bukanlah pekerjaan yang mudah maka selayaknya mendapatkan perlindungan keamanan dari pihak yang berwajib. Bukan malah dihalang-halangi oleh pihak yang berwajib didalam melakukan kerja-kerja jurnalisme. Pernah atau malah sering adanya berita jurnalis yang mendapat perlakuan kekerasan dari oknum aparat. Namun kasusnya sering kali menguap tanpa ada kejelasan, akankah terulang kembali?

Pahlawan tanpa tanda jasa adalah gelar yang diberikan untuk guru. Sudah saatnya jurnalis juga diberi gelar sebagai pahlawan. Dimana jurnalis sebagai penyambung lidah masyarakat, penghubung antara pemerintahan dan masyarakat. Dengan tugasnya yang tidak mudah dan penuh bahaya.

Bahaya dapat datang kapan saja, contohnya jika dalam peristiwa kerusuhan, seorang jurnalis bisa saja ikut melerai. Namun resikonya bisa dipukuli, diseret, ditendang, oleh massa yang menganggapnya bagian dari kelompok yang berseberangan.

Tidak sampai disitu disaat panggilan jiwa untuk menolong sesama timbul. Jurnalis bisa saja membantu mereka yang butuh pertolongan. Sebab hati mereka tergerak, untuk memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan.

Munculnya perasaan dilema. Dilema berkenaan dengan; Apakah memerankan diri sebagai jurnalis? atau ikut menolong korban? atau pilih kedua-duanya?  Dari sini pemikiran seorang jurnalis diuji.

Jurnalis merupakan suatu profesi yang tidak mudah. Dimana mereka harus berani: berani ke lokasi, berani bertanya, berani menghadapi resiko terburuk yang mungkin terjadi, dan keberanian yang lain. Keberanian seorang jurnalis harus sudah ditanamkan sejak dalam pikiran.

Disaat meliput / mencari berita jurnalis haruslah mendapat perlindungan. Perlindungannya berupa diberikan payung hukum serta kepedulian dari masyarakat. Sehingga berdampak positif pada kasus kekerasan terhadap jurnalis berkurang tiap tahunnya.

Disahkannya UU Pers No. 40 tahun 1999 menjadi kabar baik dalam ke jurnalismean di Indonesia. UU yang disahkan pada 23 September 1999, di Jakarta ini mengatur terkait prinsip dan hak-hak penyelenggaraan pers di Indonesia.

Diantaranya pasal 4 ayat 1 UU pers, menyebutkan kemerdekaan pers dijamin oleh hak asasi warga negara. Selanjutnya pada ayat 3 dijelaskan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan, gagasan dan informasi.

Seorang jurnalis memang harus sering membaca agar mempunyai bertambah ragam gagasan dalam tulisannya. Penguasaan ragam kosa kata juga perlu. Sehingga tulisannya enak dibaca dan dapat dimengerti oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak heran jika jurnalis dianggap sebagai pekerjaan yang penuh daya ke-intelektualitasan.

Pekerjaan dengan banyak pengetahuan. Banyak pengetahuan baru bila menjadi seorang jurnalis. Bertambahnya kenalan, link, serta relasi yang semakin luas. Seorang jurnalis (wartawan) dituntut mempunyai keahlian dalam menulis. Keahlian dalam menyampaikan tulisannya. Keahlian dalam membahasakan/mengolah kembali apa yang disampaikan narasumber. Tanpa keluar dari apa yang disampaikan oleh narasumber.

Menulis membutuhkan banyak komponen agar tulisan enak dibaca. Mulai dari bahasa yang baku, penggunaan kata penghubung dan tanda baca yang tepat. Kepadatan informasi dari narasumber utama. Disaat tulisan sampai ke pembaca menjadi enak dibaca, mengalir, dan mudah dipahami. Setiap jurnalis adalah pahlawan.

Pahlawan adalah orang yang rela dengan ikhlas mengurangi kenyamanannya demi kemanfaatan orang lain. Mereka rela panas-panasan ditengah terik matahari. Rela hujan-hujanan. Rela menantang bahaya. Rela menahan haus dan lapar. Rela membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rela begadang demi menyelesaikan berita yang akan dibaca pembaca ke-esokan harinya.

Pengorbanan yang sebegitu banyaknya menjadikan jurnalis (wartawan) adalah orang yang selayaknya mendapat predikat sebagai pahlawan dari pemerintah dan masyarakat. Hidup jurnalis, hidup kedamaian, hidup rakyat Indonesia.

Penulis: Akhmad Faridhoh

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan