Jejak Rampak

Di puncak acara “Jejak Rampak” salah satu acara diputarnya sebuah video flash back beberapa momen dari persiapan hingga acara penutupan. Beberapa panitia tersentuh, haru gembira meliputi rona mata, para panitia yang sudah menarik tema dan konsep dari alam pikiran dan lubuk hati menarik kesan dan makna selama mereka menimba ilmu dan berproses di STIKOM Yogyakarta, meninggalkan jejak yang kelak akan mereka kenang “Jejak Rampak”.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Hari sabtu (13/10/18) menjadi hari yang paling ditunggu oleh para panitia “Jejak Rampak” yang terdiri dari Advertising, Broadcasting, dan Public Relations Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta. Bagaimana tidak angkatan 2015 STIKOM Yogyakarta yang akan di wisuda pada tanggal 27 Oktober nanti sangat bersemangat, gembira meski repot dalam event terakhir mereka sebagai mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta. Jogja National Museum (JNM) yang didalam gedung di dominasi dengan warna putih yang sudah di setting sebagaimana konsep dan tema mereka dan meninggalkan jejak yang bernama “Jejak Rampak”.

Gelar Karya STIKOM Yogyakarta 2018 menampilkan karya-karya berupa Instalasi, Fotografi, Short Movie, Video Clip, Company Profile, ILM dan Print Ads. Di dua ruangan di jadikan galeri karya­-karya fotografi sudah di pajang dengan rapi. Di satu ruangan disebelah kanan ruangan yang di pajang karya-karya fotografi bersebelahan dengan ruangan yang memamerkan karya-karya desain poster. Foto-foto dan desain poster sedari awal hingga terakhir mereka berkarya sebagai mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta sudah dinikmati para pengunjung dari berbagai kalangan.

Di awal malam minggu satu-persatu mahasiswa-mahasiswi datang memasuki Jogja National Museum. Tidak hanya kawula muda yang datang, tetapi juga terlihat beberapa keluarga yang datang bersama suami, anak dan istri. Melihat satu persatu karya fotografi yang di pamerkan di dalam dua ruangan. Menjelang makin naiknya malam makin banyak kawula muda yang datang memenuhi setiap ruangan yang sedang memamerkan karya-karya Advertising, Broadcasting, dan Public Relations.

Mewakili teman-teman pemaris Thesa Alfiant Ketua II dari Prodi Advertising menjelaskan, dari ruang di awal pintu masuk yang berisikan karya-karya fotografi si pameris ingin menceritakan pengalaman-pengalaman mereka ketika mengeksplorasi suatu ruang dan waktu, suatu wilayah yang sedang mereka pijaki, mereka mengabadikan suatu perjalanan itu dengan membawa pulang karya, menyimpan suasana yang benar-benar mereka rasakan sangat menarik dan pada akhrinya mereka ambil gambarnya lalu dipamerkan di dalam gelar karya “Jejak Rampak”.

Dokumentasi PDD Jejak Rampak.

Melati Styowati salah satu mahasiswi dari Universitas Respati Yogyakarta yang datang menikmati pameran “Jejak Rampak” mengatakan, panangkapan momen dari berbagai tempat, dan dari latarbelakang kebudayaan yakni pertunjukan kesenian yang ada di Indonesia sudah sangat bagus. Melati Styowati yang suka melukis dan menggambar sejak SMK datang bersama keempat temannya juga ikut menyaksikan video clip yang di putar di “Jejak Rampak” sangat menikmati apa yang disajikan oleh para panitia. “Video clip yang di putar aku suka, udah bagus banget antara harmonisasi musik dan konsep video clipnya sudah selaras,” ujar Melati Styowati. Setelah para pengunjung “Jejak Rampak” menikmati pameran di dalam gedung JNM diluar gedung sudah ada panggung tempat diakannya screening.

Awal masuk dan pulang para pengunjung masuk kembali ke ruangan yang dijadikan galeri  untuk mengabadikan momen dengan berselfie ria. Yang menjadi primadona untuk berfoto adalah salah satu galeri dimana diisi oleh sepatu-sepatu panitia yang digantung. Bagi para panitia sepatu ini bukan sembarang sepatu, melainkan sepatu yang mempunyai nilai historis. Nilai historis pada sepatu yang mereka gantung telah membuat jejak historis bagi angkatan 2015 dari jurusan Advertising, Broadcasting, dan Public Relations STIKOM Yogyakarta sejak awal mereka berproses ketika kuliah, ke sana-kemari membuat karya, ke satu daerah terpencil dari sebuah program yang membawa nama kampus, ketemu tiap relasi antar kampus meninggalkan jejak yang berarti bekas dari sebuah tapak kaki, nyata mewakili sejarah dari si pencipta karya masing-masing individu.

Dokumentasi MATAMEDIA-RI.COM

“Aku mencintai dan menyayangi sebuah proses, pahit ataupun manisnya yang harus aku jalani itu sesuatu yang sangat menyenangkan ketika aku harus membuat desain, lalu aku harus dihina atau dicaci oleh orang yang mungkin berpengalaman yang lebih pro, menurutku itu sebagai sebuah proses, proses dimana aku harus mendapatkan benturan untuk aku bisa lebih baik lagi dalam menciptakan karya dan lebih maksimal lagi kedepannya,” ungkap Thesa Alfiant Ketua II dari Prodi Advertising.

Raut kegembiraan jelas terlihat dari air muka Thesa Alfiant. Kesan yang dimilikinya selama berkuliah di STIKOM Yogyakarta ialah kebersamaan dan mempunyai banyak teman yang peduli akan kehadirannya dalam berkarya. Tiap karya yang dibuat Thesa Alfiant selalu di apresiasi dengan krtikan-kritikan yang membangun. “Mereka mau gak hanya sebatas teman yang memuji, oh dia bikin karya udah bagus, tetapi mereka mau memberikan “hinaan”, karena yang dibutuhkan bukan sekedar pujian, kita malah butuh “hinaan”, kita butuh koreksi dari koreksi itu kita bisa lebih baik lagi kedepannya,” kata Thesa Alfiant.

Thesa Alfiant merasa senang karena dari setiap karya yang diciptakannya bisa dipamerkan  runtutan karya yang dibuat selama beberapa tahun ke belakang dipamerkan dan dinikmati para pengunjung. Bagi Thesa dan kawan-kawannya setiap karya pasti mempunyai cerita dan historinya masing-masing dan semua karya itu dipamerkan secara urutan pertahunnya. “Aku bisa menceritakan historinya secara urutan pertahunnya. Di mana aku ada perkembangan atau ada perubahan dari gaya-gaya desain atau mungkin gayaku dalam membuat karya jelas akan terasa berubahnya. Di situ aku senang kalau ada orang mengkoreksi atau memahami peubahan karakter atau warna,” Ungkap Thesa.

Secara pribadi Thesa Alfiant bahkan tidak menyangka bahwanya proses yang telah dijalaninya telah mengalami banyak perubahan. Dari mulai gaya desain yang fun, warna-warna primer yang cerah hingga beralih ke warna elegan. “Mungkin ini yang dinamakn histori, pembelajaran yang aku terima, yang aku terapkan, yang terus aku siratkan kedalam sebuah karya. Seperti itu sih yang aku senang dan bangga belajar dan kuliah di STIKOM Yogyakarta,” terang Thesa Alfiant.

Hari pertama “Jejak Rampak” disisi dengan upacara pembukaan, live Perfomance, workshop dan pra event, workshop Dare Speak In Public dari Magdalena Bheti Krisindawati, S.I. Kom dari Trainer di Ethos Event dan Presenter TVRI Jogja. Teaser semua karya disajikan kepada para pengunjung dari berbagai kalangan. Sambutan Akhmad Bayu Wibowo selaku Ketua Panitia dari Prodi Broadcasting, lalu berlanjut ke bedah karya advertising, screening karya sesi I, game, quiz, doorprize,  dan  live musik menjadi alarm tanda berakhir “Jejak Rampak” di hari pertama.

JEJAK RAMPAK: Gelar Karya Mahasiswa-Mahasiswi Lulusan 2018 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Yogyakarta

Di hari pertama Thesa Alfiant memberikan pesan kepada orang-orang yang senang dalam berkarya, “jangan pernah jadi orang minder, jangan pernah jadi orang lemah ketika ada yang menghina atau menghujat kita, karena hujatan dari orang-orang itu gak sepenuhnya menjatuhkan kita, tapi, itu malah bisa jadi api yang membakar semangat kita menjadi sepercik api yang mampu membakar semangat yang ada di dalam diri kita sebenarnya, kita bisa show off dengan lebih bergairah lagi dalam membuat karya karena bara yang sudah ada dalam tubuh kita udah disulut dengan hal-hal tersebut,”.

Di hari kedua “Jejak Rampak” dimulai pukul 09.15-10.00 WIB dengan screening video-feature & video clip. Setelah itu workshop yang menjadi primadona yakni Advertising dari Rama Kertamukti, S. Sos., M.Sn dosen advertising UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan workshop BC-The Power Of Broadcasting dari Arya Tangkas S.PT., M.I.Kom seorang dosen dan praktisi komunikasi (advertising, broadcasting, dan public relations). Mahasiswa-mahasiswi angkatan 2016, 2017, 2018, STIKOM Yogyakarta dan dari kampus lain jurusan Ilmu Komunikasi juga ikut membanjiri ruangan workshop sampai ada beberapa mahasiswa yang tidak kebagian kursi karena animo yang begitu tinggi kepada advertising dan broadcasting.

“Kesan saya sendiri setelah mengikuti workshop di hari kedua sih khususnya yang dibawakan oleh mas Arya Tangkas, kesannya itu sangat baik. Mata saya jadi terbuka lebih lebar lagi mengenai Broadcasting. Cara penyampaian mas Arya yang mengangkat tema The Power Of Broadcasting dapat banget,” kata Zev mahasiswa STIKOM Yogyakarta angkatan 2018.

Selama siang hari setelah ISHOMA para pengunjung “Jejak Rampak” di suguhi screening karya, dua hiburan dari band Up For It dan PSM STIKOM Yogyakarta yang memberikan suasana riang nan gembira dan screening karya sampai adzan menggema lalu para panitia menuju masjid untuk sholat menundukkan kepala kepada-Nya.

Dokumentasi PDD Jejak Rampak

Malam mulai menyelimuti Jogja National Museum, satu persatu mahasiswa-mahasiswi berdatangan untuk menikmati setiap karya dari mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta dari jurusan Advertising, Broadcasting, dan Public Relations.

Hadanilla Ilma Faradies mahasiswi Public Relations Universitas Ahmad Dahlan angkatan 2015 dan temannya Dewi Mahanani jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2015 salah dua dari mahasiswa dan mahasiswi yang datang di hari kedua “Jejak Rampak”.

“Foto-foto hasil karya mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta bagus-bagus, bisa membuktikan kerja keras selama mereka berkarya, selama masa perkuliahannya ada hasil yang dipamerkan, trailer “Jejak Rampak” bagus, film dokumenternya oke, ini kan acara tahunan bisa memamerkan hasil karya mereka selama mereka kuliah, bagus menurut saya” kata Hadanilla Ilma Faradies.

Hadanilla Ilma Faradies merasakan makna yang begitu mendalam ketika melihat sepatu yang digantung yang sampai hari kedua tetap menjadi spot foto primadona. “Tadi aku tanya sama mas Bayu tentang sepatu yang di gantung, ternyata maknanya dalam banget menurut saya, karena sepatu yang digantung merupakan sepatu-sepatu yang mereka pakai selama mereka kuliah, jadi kayak saksi bisu mereka, jadi langsung dipamerkan disitu entah itu sepatu yang udah gak dipakai, sepatu yang masih di pakai pun, aku gak kepikiran kok bisa ada karya kayak gtu nunjukin sepatu yang digantung tapi maknanya dalam banget,” ungkap Hadanilla Ilma Faradies.

Ketua STIKOM Yogyakarta R Sumantri Raharjo Msi juga hadi menikmati karya-karya Advertising, Broadcasting, dan Public Relations angkatan 2015 yang akan di wisuda tanggal 27 Oktober 2018. (Dokumentasi PDD Jejak Rampak)

“Setelah melihat-lihat pameran dan acara “Jejak Rampak” kita bisa melihat kerja keras mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta dari pertama sampai mau diwisuda,” kata Hadanilla Ilma Faradies menarik sebuah makna.

“Menurut saya dari event Jejak Rampak ini udah bagus banget over all dari galeri-galeri yang ditampilkan udah bagus banget dari hasil-hasil karya tiap mahasiwa-mahasiwi kurang lebih tiga tahun kuliah itu udah membuktikan tiap karyanya ada perubahan dari awal dia kuliah sampai dia menampilkan karya disini. Terus ya film-film yang mereka buat itu menurut saya udah bagus,” kata Dewi Mahanani

Event “Jejak Rampak” (Gekar Karya) menurut Dewi Mahanani, merupakan event dan ajang kreatif, yang bisa membuat mahasiswa tidak cuman kuliah-kuliah saja tanpa ada hasil setelah lulus kuliah, tetapi ada hasil yang bisa mereka banggakan ke luar, ke orang tua tentunya, ke dosen-dosen mereka. “Jadi menurut saya event “Jejak Rampak” ini bisa jadi motivasi mereka (mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta) dalam kuliahnya selain untuk ngerjain yang lain-lain. Maksud saya motivasi gimana mereka bisa nantinya ketika sudah mau lulus itu bisa menampilkan karyanya yang terbaik di “Jejak Rampak”,” jelas Dewi Mahanani.

Dewi Mahanani menarik makna yang ada di “Jejak Rampak” soal kreativitas mahasiswa-mahasiswi STIKOM Yogyakarta dalam berkarya. Dimana harus memiliki karya-karya yang berbeda-beda dari semua teman-temannya dan hasil-hasil yang benar-benar bisa membawa mereka yang nantinya benar-benar akan terjun ke lapangan dunia kerja setelah lulus.

“Saya pribadi selaku Ketua I perwakilan dari Broadcasting memaknai Gelar Karya ini adalah yang saya dapatkan ialah kebersamaan. Kebersamaan yang belum pernah kita dapatkan, mungkin kita pernah dapatkan kebersamaan ini di awal masuk kuliah di semester I abis itu kita pisah ke 3 jurusan yang kita ambil, yang kita pelajari, yang kita tekuni, terus kita bisa di satukan lagi dalam satu pemeran Gelar Karya “Jejak Rampak” di tahun 2018 ini,” terang Akhmad Bayu Wibowo.

Di puncak acara “Jejak Rampak” salah satu acara diputarnya sebuah video flash back beberapa momen dari persiapan hingga acara penutupan. Beberapa panitia tersentuh, haru gembira meliputi rona mata, para panitia yang sudah menarik tema dan konsep dari alam pikiran dan lubuk hati menarik kesan dan makna selama mereka menimba ilmu dan berproses di STIKOM Yogyakarta, meninggalkan jejak yang kelak akan mereka kenang “Jejak Rampak”.

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan