GURU, Garda Terdepan Pencetak Penerus Bangsa

Guru, sosok yang dikenal pahlawan tanpa tanda jasa ini merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Bukan hanya sebagai suatu profesi, namun guru juga merupakan suatu pekerjaan bersosial tinggi, dimana seorang guru bekerja demi mencerdaskan anak bangsa.


MATAMEDIA-RI.com – Guru, digugu lan ditiru (dipatuhi dan diikuti) adalah seorang yang merupakan pejuang dalam masa kemerdekaan dewasa ini. Guru adalah sosok pencetak penerus bangsa dan ditangan guru inilah pemimpin-pemimpin bangsa yang besar akan lahir. Dari tangan-tangan ajaib inilah anak-anak bangsa akan dipahat dan dipatri menjadi sebuah ukiran yang bahkan mampu mengguncang dunia.

Terlihat hebat, bukan? Tapi jangan salah. Pekerjaan seorang guru tidaklah semudah yang dipikirkan. Banyak rintangan dan batu terjal yang senantiasa mengguncang perjalanan karier seorang guru.

Banyak guru yang dianggap gagal dan lalai dalam mengerjakan tugasnya karena siswa yang mereka ajar tidak sesuai dengan ekspektasi. Misalkan saja siswa yang mereka ajar menjadi nakal, atau bahkan ilmu yang mereka serap terkadang tidak sesuai dengan apa yang sudah diberikan. Apakah hal tersebut salah guru atau salah siswanya?

Jika kita mengambil kebanyakan kasus diluaran sana, maka guru yang akan disalahkan pertama kali, namun bukankah kita tidak bisa semena-mena menyalahkan guru begitu saja? Kita harus usut dulu sebab mengapa siswa tersebut menjadi demikian. Karena seperti yang sudah kita sadari bahwa pembentuk karakter anak bukan hanya dari sekolah melainkan juga dari rumah, atau dari lingkungan tempat dia bermain.

Guru bukanlah sesosok malaikat yang memiliki kesabaran tanpa batas, bukan pula seorang pendekar yang tetap gagah berdiri walau sudah dibanting berkali-kali, nyatanya guru tak lebih dari seorang manusia biasa yang dalam pekerjaannya juga membutuhkan orang lain untuk bersinergi bersama dalam membentuk karakter bangsa.

Setinggi apapun pendidikan seorang guru, apabila tidak diimbangi dengan kerja sama yang baik dari wali siswa bahkan juga dari negara maka akan membuat pekerjaan guru menjadi lebih berat. Karena guru hanya terbatas bertemu siswa di sekolah. Selain di sekolah, guru jelas membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak pendukung.

Lalu berbeda lagi kasusnya jika siswa tersebut menjadi tidak baik akibat tekanan dari guru. Serba salah memang. Tapi apalah daya, itulah koral-koral terjal yang harus dilalui oleh seorang guru.

Tak jarang guru yang baik dan memiliki metode mengajarnya sendiri malah terkendala oleh suatu yang dinamakan kurikulum. Walaupun bermaksud baik, namun terkadang bagi guru-guru yang harus mengajar di kalangan bawah yang memang memerlukan didikan langkah demi langkah takkan mampu mengikuti kurikulum tersebut. Apalagi jika harus dibandingkan dengan siswa yang berada di perkotaan yang memiliki kecepatan menangkap materi lebih dibandingkan siswa yang ada di pedalaman.

Dengan tuntutan yang terus datang dari orang tua siswa dan pemerintah kerap membuat guru terbeban dan karena beban tersebut membuat kinerja guru menjadi tidak maksimal. Sebagian kecil juga ada yang sampai menyerah, bukan karena kesalahan melainkan karena keadaan.

Lalu bagaimana caranya bisa menjadi guru yang baik dalam era modern seperti ini? Beberapa tips didapatkan dari seorang guru tauladan di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dimana beliau berkata, bahwa dalam mengemban amanah seorang guru atau pendidik, maka kita haruslah meluruskan niat terlebih dahulu. Niat dan doa yang terus berjalan seiring dengan usaha akan mampu membuat seorang guru mampu menjalani seberapa pun berat rintangan yang ada di depan mata.

Selain niat dan doa, seorang guru juga bisa terdorong semangatnya dari dukungan keluarga. Seperti yang kebanyakan kita dengar bahwa dukungan keluarga mampu menjadi pendongkrak semangat guru dalam mengemban tugasnya. Banyak guru yang menjadi suri tauladan karena sikap dan sifat yang dibawanya dari rumah. Budaya-budaya baik itulah yang ditularkan dan diajarkan terhadap anak didiknya demi menciptakan generasi yang lebih baik. Sinergi antar orang tua di rumah dan orang tua di sekolah (Guru) juga merupakan suatu sinergi yang sangat baik untuk kebaikan siswa-siswi yang di didik.

Pemahaman terhadap kurikulum juga menjadi penting bagi seorang guru agar tidak memperlambat kinerjanya. Baiknya seorang guru memahami dan mempelajari betul-betul materi apa saja yang harus diajarkan dan harus dicapai siswa lalu mencari metode yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswanya. Dan pembuat kurikulum pun harus tahu betul apa yang harus dikurikulumkan, harus betul-betul memahami setiap medan yang ada pada Indonesia untuk sesuatu yang ingin dicapai pada kurikulum tersebut.

Selain itu ada hal yang tak kalah penting yaitu dengan memahami medan dimana guru harus mampu beradaptasi dan menempatkan diri sesuai dengan keadaan siswanya. Apabila guru tersebut harus mengajar di kalangan siswa yang lambat memahami materi, maka guru harus mampu menerapkan metode mengajar yang sederhana sehingga siswanya mampu mengikuti materi yang tengah diajarkan. Sebaliknya, apabila guru harus mengajar di kalangan siswa yang cepat menangap materi, guru juga harus mampu mengikuti seberapa cepat siswanya berlari sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan selaras.

Lentera Kasih

Uraian di atas belum komprehensif untuk melukiskan segala tantangan yang dihadapi pada guru, tapi sedikit menambah cakrawala kita terhadap profesi guru. Sedikit sisipin tips diatas untuk mahasiswa-mahasiswi yang bercita-cita menjadi guru yang luhur. Namun semua itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing yang terkadang memiliki cara-cara lain untuk tetap mampu mengemban suatu tugas dengan baik. Bagaimana, masih tertarikkah kalian mahasiswa-mahasiswa Republik Indonesia untuk menjadi guru? Mengemban tugas mulia dalam mencerdaskan anak bangsa, mencetak calon pemimpin dan penerus bangsa yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik dan menjadikan Indonesia lebih mardeka.

Penulis: Gristyantika Prefy

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan