Gerak Pikiran dan Hati MMU-KBM-UST

MMU-KBM-UST sebagai lembaga tertinggi yang menaungi seluruh lembaga organisasi mahasiswa-mahasiswi yang ada pada Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta melakukan gerakan hasil dari alam pikiran dan hati nurani untuk menangkal  paham Radikalisme dan Narkoba di kalangan civitas akademica.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Taman siswa merupakan salah satu lembaga pendidikan yang didirikan langsung oleh menteri pendidikan pertama  yaitu Ki Hadjar Dewantara. Tamansiswa berdiri pada tahun 1922, sedangkan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (UST) berdiri pada tahun 1955.

UST merupakan kampus kebangsaan sehingga dalam proses pembelajaran mahasiswa Taman Siswa diajarkan untuk saling menghargai antar sesama anak bangsa sebagai bentuk mewujudkan kedamaian antar sesama mahasiswa-mahasiswi di lingkup kampus.

UST memiliki satu lembaga organisasi seperti halnya dimiliki kampus yang lain yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), namun di UST lembaga mahasiswa bernama Majelis Mahasiswa Universitas Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (MMU-KBM-UST), yang  merupakan salah satu lembaga organisasi tertinggi yang menaungi seluruh organisasi kemahasiswaan di UST.

Salah satu program kerja MMU-KBM-UST yaitu seminar nasional dan talkshow. Yang dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2018, bertempat digedung Wanitatama Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengangkat tema “Mencegah Maraknya Paham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa”. Seminar ini mendatangkan narasumber AKBP. Sinungwati, SH., M.I.P dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Talkshow dilaksanakan setelah kegiatan seminar selesai dengan mengangkat tema “Mencegah Bahaya Narkoba Sebagai Upaya  Bela Negara Bagi Generasi Bangsa” dengan narasumber BRIGJEN.Pol.Drs.Triwarno Atmojo selaku Kepala BNNP Daerah Istimewa Yogyakarta.

Talkshow membahas tentang bahaya narkoba. Selain Korupsi, Narkoba merupakan musuh terbesar bangsa dan negara yang saat ini marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya kawula muda. Dalam kamus besar bahasa Indonesia narkoba atau narkotika adalah obat yang dapat menenangkan syaraf, menghilangkan rasa sakit, menimbulkan rasa takut atau merangsang. Sehingga orang yang mengkonsumsi narkoba biasanya kehilangan kesadaran dan bisa menimbulkan hal yang merugikan diri sendiri.

Talkshow diadakan dengan tujuan untuk menyadarkan kepada generasi bangsa, agar ikut serta membantu pemerintah dalam memberantas narkoba. Karena sesungguhnya narkoba bukan hanya musuh pemerintah melainkan musuh bersama-sama sebagai sebuah kesatuan bangsa dan negara.

“Mahasiswa-mahasiswi angkatan 2018 ini kami berikan bekal muatan pengetahuan terkait narkoba sehingga dengan talkshow ini memberikan pemahaman kepada mereka jangan menggunakan narkoba karena narkoba hanya memberikan dampak negatif bagi diri kita sendiri,” jelas Komarudin Souwakil Presiden Mahasiswa UST ketika ditemui oleh MATAMEDIA-RI.com.

Terkait pengangkatan tema seminar dan talkshow melalui rapat pengurus harian Majelis Mahasiswa Universitas Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (MMU-KBM-UST).  Di dalam rapat tersebut dibahas suatu kegiatan yang mana sudah dicanangkan pada saat rapat kerja pengurus MMU-KBM-UST tahun 2018. Timbul perdebatan positif antara sesama pengurus mengenai tema yang ingin diangkat, ada yang mengusulkan tentang politik sesuai dengan tren 2019, ada juga yang mengusulkan persoalan pendidikan.

Pada jalannya rapat ada pengurus dari divisi eksternal yang mengusulkan untuk melakukan suatu kegiatan yang menyinggung persoalan Radikalisme dan Narkoba. Dengan beberapa alasan dan pertimbangan bahwa soal Radikalisme bukan lagi hal yang baru, tetapi isu yang berkelanjutan terus, setali tiga uang dengan isu narkoba. Akhirnya diputuskan MMU-KBM-UST mengadakan suatu kegiatan seminar nasional dan talkshow dengan tema “Mencegah Maraknya Paham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa” untuk seminar dan untuk talkshow mengangkat tema “Mencegah Bahaya Narkoba Sebagai Upaya  Bela Negara Bagi Generasi Bangsa”.

Setelah tema diputuskan MMU-KBM-UST melakukan kunjungan ke Polda D.IY untuk melakukan aundience. Respon dari Polda DIY sengat positif terkait gagasan yang diutarakan. Setelah dari sana MMU-KBM-UST lanjut bersilahturahmi ke Badan Narkotika Narkoba Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setali tiga uang dengan Polda D.I.Y respon yang positif juga diberikan oleh BNN Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dari kedua lembaga ini di respon secara positif bahwa hari ini bukan hanya Polda dan BNN saja yang berupaya untuk memberantas tapi peran serta mahasiswa-mahasiswi dan peran serta masyarakat untuk bersama-sama menangkal Radikalisme maupun Narkoba di kalangan mahasiswa,” kata Komarudin Souwakil.

Radikalisme memang bukan isu yang baru tapi isu yang bisa menjadi tren dikalangan masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa-mahasiswi Republik Indonesia. Tentu saja di beberapa tahun belakangan ini semakin terlihat jelas. Berangkat dari itu pengurus badan harian MMU-KBM-UST mengadakan kegiatan seminar nasional dan talkshow untuk memberikan satu wawasan yang mengedukasi kepada mahasiswa-mahasiswi baru UST angkatan 2018 tentang bahaya radikalisme. Kegiatan seminar nasional dan talkshow di hadiri oleh 85%  mahasiwa-mahasiswiUST dan 15% dari kampus luar UST.

“Harapan kami memberikan kontribusi yang positif sehingga adik-adik kami mahasiswa-mahasiswi baru ini tidak mudah terjebak oleh paham-paham radikalisme yang mana hari ini kelompok-kelompok yang tujuannya adalah ingin mengganti ideologi Pancasila marak sekali terjadi melalui media sosial yang mereka mainkan,” terang Komarudin Souwakil yang sedang menimba ilmu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Komarudin Souwakil  menerangkan, tujuan dari diadakan dua kegiatan ini untuk memberikan pemahaman bahwa mahasiswa-mahasiwi membaca harus berbagai macam refensi bukan hanya satu referensi saja yang dijadikan acuan sehingga teman-teman mahasiswa-mahasiswi tidak melakukan hal-hal merugikan diri sendiri seperti merekrut diri sendiri untuk bergabung dalam kelompok-kelompok radikalisme yang ingin mengganti ideologi Pancasila.

Peran mahasiswa-mahasiswi hari ini sangat penting, mahasiswa-mahasiswi sebagai agen perubahan dimana konstelasi politik hari ini, maupun bicara radikalisme dan narkoba pada hari ini seharusnya mahasiswa-mahasiswi sebagai ujung tombak untuk memberikan kedamaian antar sesama anak bangsa di negara ini. Mahasiswa-mahasiswi harus ikut mensosialisasikan bahaya radikalisme dan narkoba yang sebenarnya marak di Jogja.

Komarudin Souwakil mengatakan, Tamansiswa sebagai kampus kebangsaan, mahasiswa-mahasiswinya diajarkan untuk saling menghargai antar sesama anak bangsa baik suku, agama dan lain sebagainya, sebagai salah satu bentuk menghindari paham radikalisme.

Komarudin Souwakil mewakili teman-teman MMU-KBM-UST juga menyoroti pergerakan hari ini dan mengecam dan menolak keras tindakan-tindakan kontak fisik dalam penyampaian aspirasi. “Penyampaian aspirasi sudah tertuang di dalam UU No 9 Tahun 1998. Ketika kami menyampaikan aspirasi murni adalah gerakan kami sendiri, berdasarkan kajian kami sendiri tanpa ada ditunggangi pihak mana pun, bahkan menyiapkan diri untuk melakukan tindakan anarkis tidak ada sama sekali, jadi gerakan murni untuk menyampaikan aspirasi tanpa ada kekerasan,” kata Komarudin Souwakil.

Selain dengan seminar dan talkshow untuk menangkal paham radikalisme tumbuh berkembang di civitas akademica MMU-KBM-UST melakukan sosialisasi kepada seluruh ketua-ketua HMJ, ketua-ketua fakultas untuk mensosialisasikan kepada teman-teman mahasiswa-mahasiswi bahwa bentuk penyampaian aspirasi dengan baik dan benar sesuai dengan UU No 9 Tahun 1998 bukan dengan mengambil senjata terus berperang dengan pihak penegak hukum. Kegiatan diskusi di internal kelembagaan UST diadakan seminggu satu kali, dari tingkatan paling bawah, BEM Fakultas dan BEM Universitas saling bergantian menyelenggarakan diskusi.

“Dengan adanya diskusi kami memberikan pemahaman kepada teman-teman mahasiswa-mahasiswi yang mungkin suatu saat akan terjun langsung untuk menyampaikan aspirasi,” tutur Komarudin Souwakil.

Selain itu Komarudin Souwakil berharap, mahasiswa-mahasiswi hari ini banyak membaca buku, bukan hanya kuliah-kampus-kost tapi budaya literasi perlu dikembangkan sehingga tidak mudah terjebak oleh paham-paham yang menjerumuskan pada hal-hal yang merugikan diri kita sendiri, seperti radikalisme.

Di era digital mengenai ilmu pengetahuan kebanyakan mahasiswa-mahasiswi milinial zaman NOW mengadopsi pemikiran dan pemahaman dari Google. Di era kemajuan teknologi sekarang kebanyakan orang semakin banyak menyukai hal-hal yang praktis, belajar agama melalui ustadz Google di dunia maya bukan ustadz nyata yang hidup di dunia nyata, yang ada interaksi sosial dan pembelajaran secara langsung sebagai sesama manusia yang mempunyai pikiran dan hati nurani.

Komarudin Souwakil mengungkapkan, mengadopsi pemikiran dan pemahaman dari Google perlu dihindari, karena apa yang ada pada google belum murni hasil dari sebuah riset tetapi bisa saja pendapat orang, bisa saja salah bisa benar. “Harapan saya mahasiswa-mahasiswi hari ini lebih membaca pada banyak buku bukan hanya pada media sosial,” jelas Komarudin Souwakil.

Bagi Komarudin Souwakil buku adalah sumber ilmu pengetahuan, yang mana yang tadinya kita tidak tahu menjadi tahu dengan baik. Tugas kita sebagai mahasiswa bukan hanya belajar persoalan jurusan kita atau akademik saja tetapi juga harus belajar di luar jurusan ataupun akademik yang sedang di tempuh, sehingga hari ini kita sebagai generasi bangsa berbicara persoalan apapun kita bisa terkonek walaupun kita bukan ahli dibidangnya tetapi kita bisa terkoneksi pada apa yang menjadi persoalan bangsa pada hari ini.

“Pengetahuan apapun perlu kita pelajari, karena itu berdampak positif untuk kemajuan bangsa dan negara khususnya orang-orang di sekitar kita,” ungkap Komarudin Souwakil.

Terkait dengan kegiatan yang sudah dilakukan oleh MMU-KBM-UST adalah studi banding, bakti sosial, latihan kepemimpinan mahasiswa-mahasiswi Universitas, sekolah HAM. Kegiatan selanjutnya yeng telah digagas dan akan dilakukan dalam waktu dekat ialah Sekolah Kepemimpinan yang mana fokusnya akan memberikan bekal terhadap lembaga teman-teman mahasiswa-mahasiswi tentang kepemimpinan. Dalam kegiatan Sekolah Kepemimpinan akan dipelajari juga tentang menajemen konflik, metode persidangan, analisis sosial, dan akan diisi materi-materi penunjang kepada para pimpinan lemabaga mahasiswa.

MMU-KBM-UST juga mengarahkan fokus kepada budaya berangkat dari banyak generasi milinial zaman NOW baik pelajar, maupun mahasiswa-mahasiswi Republik Indonesia yang sudah banyak meninggalkan dan tidak mempeduilikan kebudayaannya sendiri, lebih cendrung ke kebudayaan barat atau kebudayaan negara tetangga. Tetap ada anak-anak dari bangsa ini  yang mencintai kebudayaan bangsanya tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Animo yang lebih besar mengarah kepada budaya-budaya asing yang telah menyerang beberapa tahun ini.

Gagasan yang memperhatikan kebudayan Indonesia Raya sudah di susun dengan rapi dan diberi nama “Gebyar Budaya”. Dengan konsep menampilkan tarian-tarian daerah yang mana melalui kegiatan ini MMU-KBM-UST memperkenalkan tarian dari masing-masing daerah yang ada di seluruh pelosok Indonesia dan akan dilaksanakan pada awal desember.

“Dengan ada kegiatan Gebyar Budaya nanti kami harap kami bisa memberikan kepercayan diri terhadap generasi bangsa mencintai budaya bangsa kita senidri itu lebih penting dari pada mencintai budaya negara-negara luar,” kata Komarudin Souwakil.

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan