Gerak Aksi Aliansi SenJa (Sentani Jayapura) Untuk Sentani Jayapura

Melihat dan mendengar bahwasanya tanah kelahiran mereka telah terjadi bencana alam, Aliansi SenJa yang diisi oleh mahasiswi dan mahasiswa Sentani, Jayapura yang sedang berkuliah di kota pelajar Yogyakarta di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, UGM, UNY, UKDW, STIE YKPN, Universitas Sanata Dharma, UAD, dan Universitas AMIKOM Yogyakarta melakukan gerak aksi penggalangan dana Untuk Sentani Jayapura.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Berawal dari kegemaran Khylan Suratinoyo bersama teman-temannya nongkrong bersama terbentuklah Aliansi SenJa (Sentani Jayapura). Khylan sang penggagas sedang menimba ilmu pengetahuan Psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Theo mahasiswa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta jurusan Perminyakan membuat whatsapp grup sebagai sarana komunikasi bersama.

Khylan Suratinoyo dilahirkan dari rahim seorang ibu keturunan Jawa, lahir dan besar di Sentani, Jayapura. Sedangkan Ayah Kyland berasal dari Manado. “Kedua orang tua saya menikah di Palu, itupun dijodohkan oleh teman-teman mereka sesama Organisasi Pelajar Islam Indonesia, karena mereka berdua aktivis dan tidak pacaran, sesampainya di Palu mereka langsung dinikahkan dan sudah dibuatkan acara disana. Sesudah menikah baru ayah ikut ke Papua karena ibu saya sudah PNS di Papua. 1 tahun setelah menikah lahirlah saya di Papua” cerita Kyland dengan wajah sumringah.

Meski pendatang kecintaan Khylan akan tanah kelahirannya telah tumbuh dan berkembang semenjak dia tumbuh dan berkembang menghirup udara segar dan besar di Sentani. Keindahan alam Sentani, Jayapura menjadi salah satu kecintaan Khylan. Indahnya pantai Papua dengan laut berwarna biru sangat ramah untuk berenang dan menyelam menikmati keindahan bawah laut. Pantai Harlem, Amai, Base G, Hamadi masuk daftar keindahan Khylan. Tidak lupa juga keindahan daripada Danau Love dan bukit Teletubbies yang mempunyai sunset timur yang sangat indah bagi para penikmat senja.

“Keindahan alam disana itu sangat indah, bisa disebut sebagai surga kecil di dunia itu di Papua,” ungkap Khylan.

Solidaritas yang kuat ditengah masyarakat ikut membentuk watak Khylan. “Kekompakkan dari teman-teman Papua sangat erat, satu susah semua turun, satu terkena masalah semua bantu, itulah yang membuat saya dan teman-teman selalu merasa susah untuk meninggalkan Papua” jelasnya.

Aliansi SenJa diisi oleh mahasiswi dan mahasiswa Sentani Jayapura yang sedang berkuliah di kota pelajar Yogyakarta. Universitas Mercu Buana Yogyakarta, UGM, UNY, UKDW, STIE YKPN, Universitas Sanata Dharma, UAD, dan Universitas AMIKOM Yogyakarta merupakan sederat universitas tempat mereka menimba ilmu. Dua minggu setelah Khylan Suratinoyo mengumpulkan teman-temannya untuk sebuah gagasan yang bernama Aliansi SenJa, terjadi banjir bandang di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu malam  (16/3/2019).

Mendapatkan kabar dari keluarga melalui sambungan telfon bahwasanya telah tejadi bencana alam, Khylan kaget tidak menyangka bahwa telah terjadi bencana besar ditanah kelahirannya. Diceritakan di Sentani telah digujur hujan terus selama beberapa hari tidak berhenti. Munculnya banjir dari BTN Sosial yang memang curah air hujan mengalir terus kebawah. Pada puncaknya jam 1 malam waktu setempat terjadilah banjir bandang yang menerjang pemukiman masyarakat di kaki gunung Gunung Cyclop, Jayapura, Papua. Media nasional menuliskan (24/03/19) korban jiwa yang terdata meninggal telah mencapai 105.

“Sedih, kaget, tidak menyangka Sentani akan terkena sebesar itu karena selama ini aman-aman saja da selama ini tidak ada bencana-bencana seperti itu, makanya pas dengar kabar seperti itu kita terheran-heran tanah kelahiran kita bisa terkena sebesar itu,” kata Khylan.

Minggu pagi Khylan langsung melakukan koordinasi di grup whatsapp menggerakkan teman-teman Aliansi SenJa untuk menggalang dana di titik 0 KM maliboro. Pada saat itu belum semua mahasiswi dan mahasiswa dari Sentani masuk kedalam grup. Karena awalnya lingkup Aliansi SenJa baru dimaksudkan untuk nongkrong bercengkrama bersama sesama mahasiswi dan mahasiswa asal Sentani. “Adanya bencana Banjir Bandang dan kami bergerak menggalang dana akhirnya kita invite teman-teman mahasiswi dan mahasiswa perantau dari Sentani dan terkumpullah semua hampir 100 orang dengan kita di dalam grup” jelas Khylan ketika diwawancarai sedang menggalang dana hari ke enam di lampu merah Jl. Jendral Sudirman samping Gramedia.

Aliansi Sentani Jayapura diisi oleh mahasiswi dan mahasiswa pendatang yang lahir dan tumbuh berkembang besar di Sentani. Karena sudah banyak yang bergabung dalam forum Aliansi SenJa dan setiap mahasiswi dan mahasiswa dari Sentani merasa senang adanya perkumpulan, Khylan Suratinoyo sebagai penggagas dan penggerak bersama kawan-kawannya berencana menjadikan Aliansi SenJa (Sentani Jayapura) sebagai komunitas.

“Kenapa saya ingin membentuk komunitas Sentani Jogja karena dengan adanya bencana-bencana seperti ini, tidak hanya mungkin kami punya kota yang terkena banjir tapi entah nanti di kota-kota lain kami mewakili Sentani Jayapura bisa ikut serta dalam aksi-aksi sosial,” terang Khylan.

Titik 0 KM Malioboro menjadi tempat hari pertama aksi galang dana, dimulai pada hari minggu (17/03/2019) dari jam 15.00 WIB sampai jam 21.00 WIB malam. Banyaknya kepala tak menghalangi mereka untuk menggalang dana. Atribut yang dibawa adalah foto-foto keadaan Sentani setelah diterjang banjir bandang di tempel ke karton. Pas turun ke jalan sudah ada gabungan dari mahasiswi dan mahasiswa Papua yang menggalang dana dan bergabunglah dengan aliansi Sentani Jayapura bersama-sama menggalang dana. Aksi galang dana Aliansi SenJa dilakukan secara secara berurut dari hari minggu, senin, selasa, rabu, kamis dan terakhir di hari Sabtu.

Hari senin merupakan aksi galang dana kedua Aliansi SenJa harus berhadapan dengan musim hujan. Rata-rata 40 orang setiap hari, dan di bagi di dua titik, 0 KM dan di lampu merah Gramedia Jl. Jendral Sudirman. Dimulai pada jam 4 sore sampai jam 6 sore. Sempat berhenti karena hujan turun. Setelah satu jam hujan turun akhirnya berhenti pada pukul 7 malam. Setelah selama satu jam turun ke jalan hujan kembali turun. Melihat gelagat hujan terus turun hari kedua aksi galang dana selesai pada jam 8 malam.

Meski sedang menimba ilmu pengetahuan di tanah rantau Khylan dan kawan-kawan tidak terhambat untuk terus menggalang dana. Setelah perkuliahan selesai, aksi galang dana hari ketiga dan keempat pun dimulai dari jam 3 sore sampai 9 malam. Hari jum’at menjadi hari istirahat bagi Aliansi SenJa.

“Kita semua sama rasa, sama-sama cape, sama-sama susah, jadi kita hanya bisa memeluk, teman-temannya kita, keluarga kita dari jauh sana dengan melakukan aksi penggalangan dana seperti ini,” terang Khylan.

Pada tanggal 21 Maret Muhammad Dior yang kuliah di UAD jurusan Psikologi yang juga bagian dari Aliansi SenJa berangkat langsung menuju Sentani dengan membawa susu, minyak kayu putih, selimut, sabun, pempers dan pembalut.

M Dior sampai pada tanggal 22.

Sesampai disana siang dan malam bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kyland menceritakan, pada tanggal 23 dari relawan dan sahabatnya yang selamat membantu untuk membawa barang-barang untuk dikasih ke pelosok-pelosok yang belum terkena bantuan dari pemerintah.

Hari terakhir galang dana Aliansi SenJa dimulai pada sabtu jam 4 sore. Rencana untuk hari terakhir setelah selesai di lampu merah samping Gramedia akan lanjut ke titik 0 KM. Hujan mengguyur ketika magrib menyapa. Aliansi SenJa berteduh di gedung Gramedia. Satu persatu teman mereka datang membawa alat musik untuk lanjut mengamen untuk memaksimalkan hari terakhir penggalangan dana. Ketika hujan sedikit reda masih ada mahasiswa tetap turun membawa kardus untuk mengetuk pintu hati masyarakat yang ingin membantu Sentani melalui uang yang disumbangkan. Hujan semakin malam semakin deras dan tidak menunjukkan akan reda tertahanlah mereka disana. Aksi galang dana dengan mengamen di 0 KM Malioboro pun terpaksa tidak bisa dilakukan.

Gerak Aksi Aliansi SenJa (Sentani Jayapura) Untuk Sentani Jayapura telah berhasil mengumpulkan dana yang tekumpul mencapai Rp 18.029.000,00 dan akan dikasihkan ke Aksi Tanggap. Mereka yang turun langsung ke jalan mengungkapkan, sangat berterimakasih kepada masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah menyisihkan penghasilan mereka untuk membantu tanah kelahiran Aliansi SenJa.

Khylan Suratinoyo sang penggagas dan penggerak Aliansi SenJa.

“Saya harap pemerintah bisa turun ke daerah-daerah terpencil yang memang kami relawan tidak bisa untuk menjangkau kesana, saya minta juga untuk pemerintah lebih simpati dan empati buat saudara-saudaranya kita disana dan mereka memang membutuhkan kita, sedikit pun sangat berarti bagi mereka, karena dengar-dengar dari sana yang di daerah-daerah terpencil yang memang jalannya sudah tidak bisa di akses, mereka disana belum mendapat bantuan, jadi mungkin bisa dari pemerintah bisa kirimkan bantuan buat ke daerah-daerah yang memang belum terjangkau, bukan daerah pada posko-posko yang memang sudah full dengan barang-barang maka semua jadi tertumpuk, padahal kita sama-sama tahu ada daerah-daerah terpencil yang disana belum menerima bantuan,” ungkap Khylan Suratinoyo kepada MATAMEDIA-RI.com pada malam minggu ketika menggalang dana hari terakhir.

Penulis:*R★.V.★N*

Editor:*R★.V.★N*

 

Tinggalkan Balasan