Geliat Semangat Menulis Ala Elisa

Kebiasaan membaca dan menulis khususnya di kalangan pemudi-pemuda, harus dilakukan sejak dini. Karena membaca dan menulis adalah salah satu cara untuk mengasah pikiran kita. Membaca dan menulis juga salah satu cara bagi kita untuk menaiki tangga kesuksesan.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com –Seorang perempuan bernama Elisa, sering dipanggil Lisa lahir di Kendal, 9 oktober 1990. Percaya bahwa manusia hidup harus mempunyai mimpi dan menjadi pemimpi yang memiliki banyak hobi dan cita-cita. Elisa adalah seorang manusia pekerja keras, seorang pemburu peluang dan kesempatan. Seorang yang total dalam mengerjakan pekerjaan dan bertanggung jawab. Seorang yang tidak banyak memberikan janji tetapi memberikan bukti dalam bekerja. Seorang yang produktif dan konsisten dalam bekerja. Seorang penikmat pekerjaan yang dikerjakan. Seorang pembelajar, jujur dan supel.

Lisa adalah anak ketiga dari 2 bersaudara (Anak terakhir) dari Jamari (ayah) dan Salbiyah (ibu). Lulus kuliah Universitas 45 Yogyakarta, Pendidikan S1 Psikologi. Selain dunia jurnalistik Lisa juga memiliki hobi berkebun dan memotret. Bacaan favoritnya adalah Edensor.

Menurut Lisa dunia penulisan jaman sekarang kalau untuk pemuda-pemudi, banyak yang kurang minat dan sadar menulis. Pemudi-pemuda sekarang banyak yang “ingin” menulis tapi belum memiliki greget action menulis dan hanya ingin seperti penulis-penulis terkenal. “Memang bagus pemikiran seperti itu sebagai stimulus kepada pemudi-pemuda agar suka menulis. Tetapi yang harus dipahami terlebih dulu adalah esensinya,” kata Lisa.

“Harus ada kesadaran dan mengenali dirinya sendiri. Dia nulis karena apa atau untuk apa. Kalau nulisnya karena biar keren, beken dan “wah” itu motivasinya lemah, dan pasti kalau bosen atau terkendala sedikit aja, langsung malas nggak nulis lagi. Sebaliknya, kalau dia sudah tahu tujuan karena passion, sesulit apapun, dia akan tetap menulis,” terang Lisa.

Ada beberapa tips yang dibagikan oleh Lisa agar anak muda gemar menulis. Tipsnya, bayangkan dan pikirkan banyak manfaat. “Kalau dulu aku nulis karena setelah nulis aku merasa bahagia, hasil tulisan yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah, ilmu bermanfaat, dikenal banyak orang itu bonus dan tentunya diluar pekerjaan kantoran, kita punya keterampilan tambahan yang bisa digunakan untuk menambah penghasilan tambahan di luar kerja kantoran,”  ungkapnya.

Dengan banyaknya agenda kegiatan, Lisa memanajemen waktu dengan jitu. Dia mendisiplinkan diri dan membuat deadline pribadi. Di saat Lisa bekerja, fokus jam kerjanya digunakan untuk menyelesaikan semua pekerjaan kantor. Kalau jam istirahat kantor, bisa dia gunakan untuk mengerjakan yang lain. Pulang kerja Lisa khususkan menulis buku. Senin-jumat malam untuk menulis buku sampai pukul 21.00. Hari sabtu dan minggu ia khusus mengerjakan tabloid BIAS dan liputan-liputan atau pemotretan BIAS.

Awal mula Lisa terjun ke dunia kepenulisan saat masuk kelas 2 SMP dimana saat itu muncul rasa ingin belajar dengan senang untuk membaca. Pada waktu Lisa duduk di bangku SD, Lisa termasuk anak yang memiliki tipe gangguan dalam proses belajar atau kesulitan belajar dalam hal menulis dan membaca. Saat kelas 3, Lisa pernah sampai tinggal kelas, karena kesulitan dalam belajar. Dari kejadian ini, Lisa juga menjadi korban bullying. Dari segi ekonomi pun, setiap hari saat Lisa sekolah diberi uang saku hanya sedikit karena jarak sekolah dengan rumah yang tergolong dekat.

“Aku memilih untuk ke perpustakaan dan membaca buku penerjemahan dari luar negeri, inti dari buku yang aku baca tentang proses menulis. Dari menulis kita bisa mendapatkan kebahagiaan, kepuasan, dan bahkan uang,” cerita Lisa.

Mulailah keinginan Lisa ingin bisa membeli komputer. Lisa tidak hanya diam, menunggu uang jatuh dari langit yang tak tahu kapan turunnya. Lisa memutuskan untuk menulis puisi-puisi yang dikirim ke KR, KACA. Sampai kelas 3 smp, belum ada tulisan yang dimuat. “Uang saku yang aku kumpulin, aku gunain buat ke rental untuk ngeprint. Sebenarnya uang yang aku kumpulin untuk hal-hal seperti itu yang bisa mendukung dan lebih bermanfaat. Saat SMK semester 2 aku masih terus nulis,” Jelas Lisa.

Satu tahun menulis dan masih nulis di KACA ketika itu puisinya baru bisa dimuat. Orangtua awalnya tidak mendukung Lisa untuk menjadi penulis. Setelah puisi pertamanya dimuat, Lisa pulang dari sekolah langsung berlari dan memberitahu ibunya kalau tulisannya dimuat. “Akhirnya orangtuaku mengatakan kalau kamu mau lanjutin aja. Aku mulai terjun ke dunia penulis dari KACA KR 2008 dikontrak selama 3 bulan, ikut Tabloid BIAS tahun 2009 karena puisi dan cerpenku yang selalu dimuat setiap edisinya,” lanjutnya.

Perjuangan yang paling berkesan bagi Lisa adalah pada saat Lisa mengikuti Lomba di UMY yaitu Lomba Cerpen tingkat Provinsi. Pada waktu itu sekolahan Lisa sama sekali tidak menyuruh siswanya untuk mengikuti lomba tersebut. Tapi Lisa tertarik ingin mengikuti lomba itu. Lisa bertekad untuk mengurus semuanya dengan sendiri, apa-apa serba sendiri, pembayaran sendiri, bahkan pengiriman naskah ke UMY pun sendiri.

Pengiriman naskah Lisa kumpulkan, dengan menaiki bis. Padahal sebelumnya Lisa mengaku bahwa belum pernah naik bis. Pengalaman pertama bagi Lisa untuk naik bis dan menjadi pengalaman pertama yang pahit tapi berbuah manis. Pada waktu itu Lisa mengirim naskah dari sekolahannya pukul 12 siang ke UMY dengan modal berani, dan nekad. Saat naik bis, Lisa diturunkan di perempatan gamping dan dari perempatan itu Lisa berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh jika ditempuh dengan melangkahkan kaki hanya untuk mengumpulkan naskah. Sampai UMY sudah pukul 3 sore. Pulang kerumah pun energi pada tubuh Lisasudah  cukup terkuras dan perjalanan pulangnya cukup memakan waktu yang panjang, sesampai di rumahnya azan maghrib pun sudah berkumandang.

Lisa dihubungi oleh pihak panitia untuk datang saat pengumuman. “Saat aku sampai UMY, aku merasa orang asing begitu sampai disana. Kasihan banget, kayak anak kucing yang diguyur air. Mulai dari SMA-SMA bantul mereka semua didampingi oleh guru-gurunya dan orangtua. Sedangkan aku cuman sendirian disana, nggak ada nemenin. Duduk sendiri, di bagian belakang,” ujarnya.

Waktu pengumuman dibacakan dari urutan yang paling rendah sampai atas. Yang ada dipikiran Lisa suatu hal yang mustahil, kalau ia mendapatkan juara 1. Rasa pesimis pun muncul dipikiran Lisa. Waktu pengumuman juara 1, Lisa terdiam. Terdiamnya Lisa dikarenakan mungkin ia salah dengar. Rasa tidak percaya masih muncul, sampai-sampai dari pihak panitia mengatakan apabila dipanggil sampai 3x tidak maju, maka akan hangus. Lisa pun maju untuk menerima  hadiah. Gelisah, kuatir, dan berpikir sampai dalam lah yang dirasakan Lisa saat itu.

“Aku bingung pulangnya naik bis, sedangkan aku bawa piala, bawa uang binaan 1,5 juta. Pialanya pun ukurannya besar, dalam bis penuh dengan banyak orang. Tapi aku tetap berpikir positif dan selamat sampai rumah dengan penuh senyuman sumringah,” kenang Lisa pada waktu itu.

Uang yang Lisa dapatkan digunakannya untuk bayaran sekolah, karena biaya sekolahannya pada waktu itu belum dibayar. Ekonomi keluarga yang bener-bener memprihatinkan membuat Lisa semakin sadar bahwa ia harus lebih giat lagi. Walau dulu orangtua memang tidak mendukung Lisa, orangtuanya mengatakan jangan terlalu tinggi nanti malah menyesal dan malah sedih. Namun, semua itu Lisa kembalikan pada dirinya sendiri bagaimana cara untuk menyakinkan pada orangtuanya bahwa Lisa mampu. Lisa pun terus membaca dan menulis dalam proses hidupnya. Satu persatu tangga kesuksesan dinaikinya.

Berikut Prestasi yang telah dibuktikan oleh Elisa Penulis Generasi Muda yang Menginspirasi :

2016 : Ikatan Duta Museum.
2015 : Bergabung di Sahabat Pena Nusantara (SPN), di regional Jogja sebagai sekertaris.
2014 : Meraih penghargaan Perak dalam ajang The International Award for Young People (IAYP-Indonesia).
2014 : Seminar Nasional Call For Papers bertemakan “Konvergensi Teknologi dan Budaya, Ciptakan Pendidik Profesioonal dan Berakhlak Mulia”
2013 : 13 mahasiswa berprestasi tingkat Kopertis V.
2012 : Mendapatkan Perunggu dalam ajang The International Award for Young People (IAYP-Indonesia).
2010 : Juara ke-3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Pelajar Tingakat Kabupaten Bantul (IPNU-IPPNU).
2010 : Juara ke-1 Lomba Menulis Cerpen Antar SMA, Tingakt Propinsi DIY. (UMY).
2009 : Juara ke-3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Pelajar, Tingakt DIY (Kedaulatan Rakyat).
2009 : Pemenang 10 Cerpen Terbaik Lomba Menulis Cerpen Antar Pelajar dengan tema Se-kotamadya DIY (Radio Megaswara).

Karir:

  • 2008  Reporter [KACA : Kedaulatan Rakyat]
  • 2009-2017  Reporter Tabloid BIAS
  • 2010-2013 Operator rental & fotocopi [Nurcom]
  • 2011-2018 Penulis [Re! Media Service]

Karir Menulis

  • 2012 Penulis PT Jegeg Bagus Tours & Travel
  • 2012 Magang Energy Center
  • 2013 Koordinator Menulis [ku45iana
  • 2014 Asisten Produser/Penulis [Studio Lautan Animasi]
  • 2015 Penulis Lepas  Majalah Adiluhung
  • 2015   [Marketing Online] PT. Galangpress Publisher]
  • 2015-2018 Sekertaris Redaksi [Tabloid BIAS]
  • 2016 Ghost Writter Buku Ajar]                 [Penerbit Episentrum]
  • 2016  Contant Writer [Penerbit Deepublish]
  • 2017 Staf Internet Marketing [Penerbit Deepublish]
  • 2018: Juni-Agst [Contant writer [Penerbit Bentang]

Ada juga buku-buku yang telah diciptakan oleh Elisa:

  • Quantum Ramadhan (kompilasi : 2015)
  • Bisnis menjual ide usha (2015)
  • Bosan Menjadi Karyawan : Hobi Sebagai Bisnis Sampingan (2015)
  • 11 Cara Sukses Bisnis Makanan Tradisional (2015)
  • Pintar Calistung, 2016
  • Budidaya Itik (proses antri cetak)
  • Bertani Tanaman Hidroponik (2017)
  • Being Your Self (Proses Editing di Penerbit)
  • 4 judul buku yang lain sebagai gosh writer

Elisa mengatakan dengan penuh semangat bahwa yang menjadi  kuncinya adalah membuat jadwal dan disiplin dengan jadwal yang dibuat, kemudian kenali passion diri, lebih baik langsung fokus pada passion diri. Buktikan, survive diri, maka orangtua pasti mendukung.

“Kegagalan itu harus, belajar dari kegagalan itu wajib. Karena hidup terlihat sporadis tetapi sebenarnya tersistematis. Tak ada yang kebetulan. Kesuksesan dan keberhasilan itu diciptakan. Tak ada kata gagal jika kegagalan itu dijadikan sebagai media belajar,” terang Lisa.

Penulis: Cicilia Rosa

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan