Festival Melupakan Mantan

MATAMEDIA- RI.com – Untuk di Yogyakarta bulan Februari bukan hanya tentang Valentine Day yang heboh tapi ada sebuah festival yang bertajuk melupakan mantan. Tidak mudah melupakan mantan karna pasti ada kesan-kesan dan festival melupakan mantan ini sudah berjalan tiga tahun.

Yogyakarta, untuk nama kota yang satu ini siapa sih yang tidak tau, setiap orang pasti sudah amat familier dengan nama kota tersebut.  Ketika kita berbicara Yogyakarta tentu kita juga berbicara tentang budaya, selain mendapat julukan sebagai kota yang berbasis budaya  Yogyakarta juga di juluki sebagai kota pariwisata dan kota pelajar. Begitulah pandangan orang-orang secara umum tentang Yogyakarta.

Ada sebuah komunitas yang awalnya hanya didirikan oleh empat orang yang peduli dan sangat ingin melestarikan budaya khususnya budaya Yogyakarta, MKAJ (Manggala Karya Ambuka Jagad).  Awal mula terbentuk MKAJ (Manggala Karya Ambuka Jagad) pada tahun 2015, manggala karya ambuka jagad ini sendiri adalah sengkalan dari bahasa jawa yang jika diartikan ke kalender masehi yaitu “2015” dan arti manggala karya ambuka jagat itu sendiri adalah “berkarya dalam hal apapun untuk membuka wawasan dunia”.

Event yang sudah diadakan oleh MKAJ ini yaitu  “Festival Melupakan Mantan” dari nama event nya saja sudah terbilang unik, tema festival melupakan mantan disini bukan hanya dalam artian untuk melupakan mantan kekasih, tetapi mantan-mantan yang lain.“Sebenarnya awal mula tercetusnya tema festival melupakan mantan ini adalah beranjak dari kegelisahan para penggiat MKAJ, kala itu mereka berpikir kenapa di bulan februari ini hanya ada momen-momen Valentine. Nah kenapa tidak kita bikin event yang benar-benar akrab dengan remaja” ujar Aliya Kamaliya selaku panitia Festival Melupakan Mantan.

Berawal dari dari obrolan ketika nongkrong terciptalah gagasan tentang Festival Melupakan Mantan. “Kita itu kan di jogja, jogja itu orang-orangnya suka dengan tempat-tempat nongkrong dan jalan-jalan. Ketika nongkrong pastilah tidak lepas yang diceritakan itu berkaitan dengan masalalu, karena semua cerita masalalu itu adalah kenangan makanya kita sebut mantan, jadi mantan itu artinya tidak hanya mantan kekasih,” jelas Aliya Kamaliya.

Noveda menambahkan Festival melupakan mantan sebenarnya juga ada kaitannya dengan Valentine Day, karena Valentine itu akrab dengan yang namanya kasih sayang jadi komunitas ini berusaha untuk membuat para pengunjung nantinya betul-betul khusuk untuk merayakan valentine setelah ikut di event festival melupakan mantan ini. Nah sebelum kita masuk ke tanggal 14 untuk merayakan momen Valentine Day ada baiknya kita melibatkan diri di event FMM ini. Mengapa, karena di dalam event ini kita di ajak untuk berusaha melupakan terlebih dahulu kenangan-kenangan yang bersipat menyakitkan supaya nantinya di tanggal 14 kita bisa lebih lega untuk merayakan Valentine Day.

Dalam festival melupakan mantan 2017 ini, penggiat MKAJ mengangkat tema “kesah, nata gatra panguripan” kesah, nata gatra panguripan ini sebagaimana yang telah dituturkan oleh Aliya Kamalia adalah merupakan sengkalan dari bahasa jawa yang bilamana diartikan ke kalender masehi yaitu “2017” dan jika kita terjemahkan ke bahasa Indonesia yaitu “pergi untuk menata kehidupan yang lebih berwarna”. Dipuncak acara ada yang namanya ritual “lampah alit” lampah alit ini jika diartikan secara luas yaitu “ketika kita melangkah, langkah kita yang dibelakang itu pasti punya makna yaitu untuk pelajaran, nah, langkahku yang dibelakang tadi biarlah sebagai bentuk pelajaran bagi generasiku, bukan untuk diteruskan. Jadi semakin maju semakin banyak yang ditinggalkan untuk menjadi hal yang lebih positif,” jelas Aliya Kamaliya yang masih berstatus mahasiswa di MMTC.

“Dari riset selama tiga kali event FMM ini di selenggarakan mayoritas pengunjung yang hadir yaitu dari pihak-pihak yang dirugikan, maksudnya dalam artian orang-orang yang lebih merasa kecewa atupun merasa tersakiti terhadap pasangannya ketika masih menjalani hubungan dan mungkin juga para pendiri MKAJ terdahulu adalah bagian dari segelintiran orang yang merasa kecewa ataupun merasa tersakiti.” ujar dari Noveda selaku panitia.

“Dalam event yang bertemakan festival melupakan mantan yang diselenggarakan oleh penggiat MKAJ ini banyak hal yang dapat membantu, di event ini secara tidak langsung mindset kita di ubah dalam artian pandangan kita terhadap mantan, dari yang semulanya mantan itu adalah obyek yang menjengkelkan langsung berubah menjadi alat bantu sebagai pijakan kita untuk menjadi individu yang lebih bekualitas, bahkan lebih berwarna”, ucap Edo Wardi selaku pengunjung yang berasal dari Magelang.

Komunitas MKAJ ini sudah tiga kali menggelar event bertemakan festival melupakan mantan dan sengkalan-sengkalan bahasa jawa yang di anut pun pasti berbeda setiap tahunnya yang juga memiliki arti berbeda pula. Waktu pertama kali di gelar yaitu di Pojok Benteng Timur pada tanggal 13 Februari 2015, yang kedua di Pendopo Taman Siswa juga pada tanggal 13 Februari hanya saja tahun nya yang berbeda yaitu pada tahun 2016. “Mengapa para penggiat MKAJ memilih lokasi event nya ditempat seperti Pojok Benteng Timur dan Pendopo Taman Siswa, karena mereka selaku penggiat MKAJ sembari untuk mengedukasi pengunjung untuk tahu bahwa tempat-tempat tersebut mempunyai kisah-kisahnya tersendiri” ujar Aliya Kamaliya.

Festival Melupakan Mantan yang ketiga di tahun 2017 ini berlokasi di halaman Kedaulatan Rakyat (KR). Selama tiga tahun Festival Melupakan Mantan sudah hadir untuk barisan para mantan tapi bedanya tidak ikut-ikut seperti diluar negeri. Event ini selalu diadakan setiap tanggal 13 Februari, tujuannya adalah untuk meninggalkan kenangan-kenangan yang berkesan menyakitkan supaya nanti ditanggal 14 Februari bisa lebih lega untuk merayakan Valentine Day. Meninggalkan kenangan bisa anda lakukan dengan membawa barang dari sang mantan terus di tinggalkan di tempat yang sudah siapkan menampung seluruh barang dari mantan. Bisa juga meninggalkan kenangan dengan menulis sebuah tulisan kemudian di pajang di dinding yang sediakan.

Kegiatan penggiat MKAJ sendiri selain menggelar event bertemakan FMM, mereka juga menggelar “Event Bawah Jembatan” event bawah jembatan ini mengangkat tema konflik-konflik jogja, seperti dengan adanya mall, hotel. Jadi masyarakat di jogja tidak mau kalau ada bangunan yang lebih tinggi daripada keraton dan ketika banyak bangunan-bangunan mall dan bangunan hotel di jogja dibangun masyarakat sekitaran protes. “Nah tujuan Event Bawah Jembatan ini yaitu untuk menyadarkan masyarakat sekitar bahwa bangunan-bangunan mall ataupun hotel tersebut juga banyak kegunaannya seperti untuk menyediakan lahan perekonomian bagi masyarakat sekitar, tapi harus disinerik kan lagi sih antara pihak pengembang dan masyarakat sekitar.” tutur Aliya kamaliya.

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan