Dialog Kebangsaan POLBANGTAN YoMa: Membangun Generasi Muda Berjiwa Pancasila di Era 4.0

YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Dalam menghadapi era 4.0 dimana perkembangan teknologi sangat begitu pesat sehingga perlunya mahasiswi dan mahasiswa Politeknik Pembanguan Pertanian Yogyakarta-Magelang (YOMA) memahami hakikat berbangsa dan bernegara, untuk membangun jiwa tolerasi beragama antar sesama mahasiswi dan mahasiswa Polbangtan YoMa maupun dalam kehidupan bermasyarakat, membuat pemikiran-pemikiran akan pentingnya menumbuhkan jiwa nasionalisme dan jiwa pancasila di era 4.0 ini. Sangat penting agar mahasiswi dan mahasiswa Polbangatan YoMa tidak hanya memahami dibidang pertanian tapi juga memahami hakikat berbangsa dan bernegara, untuk membangun pemikiran-pemikiran dan konsep pada diri kita ini mampu menghadapi tantangan tantangan di era 4.0 ini. Untuk itulah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengadakan dialog kebangsaan yang dilaksanakan di Ruang Serbaguna Polbangtan Yogyakarta (19/7/19).

Materi yang di ambil yaitu kecerdasan, cara kita berpikir masalah-masalah yang dihadapi, dan tantangan-tantangan generasi muda. Masalah-masalah yang di hadapi di Indonesia kini terutama bersikap toleransi antar umat manusia beragama. Seperti yang kita ketahui di Indonesia sendiri ada enam agama yang diresmikan antara lain Islam, Kristen, Khatolik, Budha, Hindu, Khonghucu. Contoh permasalahan yang terjadi di Indonesia mengenai kasus-kasus agama yakni sikap intoleransi sehingga perlunya peran generasi muda untuk memahmi hakikat bertoleransi itu sendiri.

Selama event tersebut ada beberapa hal yang menarik kita resapi yakni sambutan dari Dr. Rajiman, S.P., M.P. selaku direktur Polbangtan Yogyakarta-Magelang mengungkapkan, “Cara kita menyikapi era 4.0 adalah bagaimana yang harus kita lakukan untuk negara kita ini, seperti yang kita ketahui di Indonesia akhir-akhir ini memiliki masalah-masalah baik politik, sosial, dan toleransi antar beragama”.

Harapan direktur Polbangtan YoMa (Yogyakarta-Magelang) bagaimana mahasiswa-mahasiswi Polbangtan YoMa dapat menghadapi masalah-masalah yang terjadi di Indonesia ini khususnya di bidang pertanian, karena kita adalah kader-kader penerus bangsa di bidang pertanian.

Dies Natalis Polbangtan Yogyakarta-Magelang ke-1: Energy OF Revolustion 4.0

Fachrul sebagai ketua pelaksana dialog mengugkapkan, bahwa persiapan kegiatan dialog ini sesuai dengan latar belakang dari dies natalis Polbangtan YoMa, termasuk dalam kegiatan dies natalis, kemudian mempersiapkan panitia yang sudah dipilih sesuai kemampuan dibidangnya masing-masing.

Dana kegiatan ini dari lembaga serta ada beberapa pihak sponsor yang mendukung di acara dialog kebangsaan ini. “Kemudian kami mempersiapkan narasumber dan moderator, yang kami pilih bapak Dr. Drs.  Andreas Joko Wicoyo, M.S.  dari  Forum Kerukunan Umat Beragama Daerah Istimewa Yogyakarta dan bapak Dr. Heri Santoso dari Pusat Studi Pancasila UGM dan Nikko Fernanda, S.SIP selaku moderator,”  Ujar Fachrul.

Dr. Drs.  Andreas Joko Wicoyo, M.S. sedang memulai dialog kebangsaan.

Dalam kegiatan dialog kebangsaan ini hal yang ingin dicapai adalah agar mahasiswa-mahasiswi Polbangtan dapat memahami isu-isu yang ada di sosial media baik berupa agama, sosial, politik. Supaya tidak dengan mudah percaya dengan isu-isu hoax dan harus memahami dengan cermat serta cerdas mengenai isu isu yang ada saat ini khususnya di Indonesia, kita harus bijaksana dalam menangapinya, dalam bangsa dan bernegara.

Gagasan “Membangun Generasi Muda Berjiwa Pancasila di Era 4.0” dipilih karena melihat dari belakangan ini banyak konflik yang terjadi di Indonesia ini yaitu konflik politik buah hasil dari politik populis dan politik identitas yang dilakukan para politikus selama kurang lebih satu tahun ini, yang membuat rakyat terbelah menjadi dua kutub, memporak porandakan keadaan sosial rakyat, dan mengikis toleransi masyarakat antar beragama. Sehingga diharapkan agar mahasiswa dan mahasiswi dapat menyikapi dengan baik agar tidak mudah terpropokasi.

Potret senyum peserta dialog kebangsaan yang mendapatkan bingkisan setelah bertanya.

Facrul mengatakan, ada berapa kendala yang dirasakan panitia dari kegiatan ini antara lain pencairan dana terlalu lama, perubahan jadwal yang berbenturan dengan wawancara penerimaan mahasiswa baru (PMB). Kemudian adanya juga miss komunikasi antara pihak panitia.

“Harapan dari kegiatan ini kedepannya dapat ditingkatkan lagi kerja samanya antar panitia maupun lembaga dan  terimakasih kepada tim pendukung,  para sponsor yang sudah mensupport kami dari awal sampai akhir. Untuk kedepannya event ini harus di adakan lagi karena sangat penting bagi mahasiswa dalam pembentukan karakter berbangsa dan bernegara,” ungkap Facrul selaku panitia (19/7/19).

Penulis: Pianto Ramadhan

Editor: *R.V.N*

 

Tinggalkan Balasan